Senin, 23 Mei 2016

Jangan Ada Lagi Sandiwara Sapi

Rencana impor sapi indukan sebanyak 25.000 ekor menyisakan dilema bagi pemerintah. Satu sisi pemerintah ingin impor melalui jalur lelang sesuai aturan yang berlaku. Di sisi lain skema penunjukan langsung dinilai lebih tepat.

"Tapi, kita tahu, skema lelang hanyalah sandiwara belaka. Seolah formalitas, padahal yang menangnya sudah ditentukan terlebih dahulu," ujar Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Muladono Bashar di Bogor akhir pekan lalu.

Pernyataan Muladno tersebut tentu bukan isapan jempol belaka. Dia berkaca pada pengadaan sapi indukan tahun-tahun sebelumnya yang dianggap menjadi permainan segelintir pihak untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya melalui lelang.

Memang, saat ini, berdasarkan pengakuan Muladno, pemerintah telah menetapkan skema lelang untuk impor sapi indukan tersebut. Bahkan sudah ada 6 calon pemenang. Masalahnya, peserta yang lolos tahap lelang tersebut bukan berasal dari perusahaan bonafit. Pendek kata, kredibilitas dan profesionalitas calon pemenang lelang dipertanyakan.

Dia khawatir, perusahaan peserta lelang tersebut setelah ditetapkan sebagai pemenang ujung-ujungnya menggunakan jasa perusahaan berpengalaman untuk mendatangkan sapi impor ke Indonesia.

"Nah nanti di situ ada tata niaga lagi. Perusahaan yang menang memakai jasa perusahaan berpengalaman yang biasa tangani sapi dan tentu harga akan semakin mahal."

Muladno tak ingin permainan tersebut terus terjadi di pemerintahan saat ini. Artinya, dia mengisyarakatkan jika pun lelang impor sapi indukan sudah mengerucutkan 6 calon pemenang, pihaknya akan mengupayakan agar skemanya diubah menjadi penunjukan langsung.

Pihaknya sudah mengajukan ke Kemenko agar impor sapi indukan sebaiknya dilakukan penunjukan langsung. Tentunya nanti dipilih perusahaan yang benar-benar kredibel dan profesional.

"Tinggal menunggu Pak Jokowi apakah nanti jadi penunjukan langsung," ujarnya.

Muladno juga mengisyaratkan bahwa Jokowi akan menyetujui untuk mengambil langkah penunjukan langsung siapa yang akan mendatangkan sapi dari Australia tersebut.

Pasalnya, pemerintah saat ini cukup concern memberantas permainan-permainan yang tidak sesuai dan berpotensi merugikan negara. Hitung-hitungan Kementerian Pertanian, total anggaran untuk pengadaan 25.000 sapi indukan Brahman Cross mencapai Rp700 miliar.

Pemerintah, lanjutnya, tentu tidak ingin menggelontorkan uang sebanyak itu berujung percuma. Dia ingin pengadaan sapi indukan tahun ini lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang dinilai banyak terjadi 'sandiwara'.

Dari segi teknis, setelah sapi tiba di Indonesia, sapi-sapi tersebut selanjutnya dibawa ke tempat instalasi hewan selama sebulan. Dia ta kinging sapi langsung didistribusikan langsung ke para peternak yang akan mengelola. Di samping itu, pemerintah akan melatih para peternak terkait bagaimana mengurus sapi agar bisa beradaptasi dan diurus serta beranak pinak dengan baik.

"Pokoknya kami ingin mengatur sapi ini nanti secara ketat agar semuanya berjalan baik, termasuk soal ketersediaan pakan. Nah ini yang harus dimatangkan lebih dalam," ujarnya.

Sementara itu, Pengurus Besar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) Rochadi Tawaf tak mau ikut campur terkait skema apa yang akan dilakukan pemerintah soal pengadaan sapi indukan tersebut.

Dia tak ingin memikirkan apakah nantinya pemerintah meneruskan skema lelang atau penunjukan langsung siapa importir sapi indukan dengan nilai ratusan miliar itu.

Tawaf mencatat, pemerintah harus serius menindaklanjuti distribusi dan pemeliharaan setelah sapi tiba di Indonesia. Dia mengimbau agar 25.000 sapi indukan tersebut nantinya dikelola oleh BUMN yang menangani khusus soal persapian.

"Setelah jinak baru didistribusikan ke peternak untuk diurus. Kalau langsung diserahkan peternak rakyat, nanti tidak bakalan bener, bisa-bisa nanti sapi-sapinya pada mati," ujarnya.

Namun, berbeda dengan pandangan Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Teguh Boediyana. Dia menilai rencana pengadaan sapi indukan dari Australia tidak akan berhasil sama sekali.

Pemerintah dinilai tidak akan bisa mengambil pelajaran tahun-tahun sebelumnya yang kerap gagal mengelola sapi indukan. Bahkan dia mengkritik pemerintah untuk menghentikan program tersebut karena dinilai hanya memborosokan uang negara semata.

"Dari awal kami sudah ingatkan lebih baik pemerintah fokus membiayai bagaimana caranya menekan sapi betina produktif yang setiap tahunnya dipotong sampai sejuta ekor," ujarnya.

Teguh sadar betul, rencana penambahan populasi sapi indukan tersebut tidak akan berjalan efektif. Logikanya, kata dia, para peternak rakyat yang nantinya dibebankan mengurus sapi tidak akan kuat mengurus sapi dalam jumlah banyak.

Selain itu, ketersediaan pakan harian dianggap sulit dilakukan oleh peternak rakyat sehingga kesehatan sapi akan menjadi hambatan dalam pembibitan.

"Saya berani taruhan, lihat saja kalau program impor sapi indukan ini jadi, tidak akan berjalan lancar kalau melihat pengalaman yang sudah-sudah," ujarnya.

Apalagi, kata dia, saat ini kuota impor sapi indukan mencapai 25.000 atau lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Belum lagi, lanjutnya, daerah yang mampu memelihara sapi dalam jumlah banyak hanya bisa dilakukan Jawa Timur dan Jawa Tengah saja.

Dia beralasan mengapa pemerintah seharusnya fokus menekan pemotongan sapi betina produktif dibandingkan impor sapi indukan. Dalam catatannya, ketersediaan sapi betina dan jantan pada 2011 mencapai 14,5 juta ekor. Adapun, pada 2013 mencapai 12,5 juta ekor.

"Ini kan stoknya terus berkurang karena setiap tahun berkurang. Nah, tahun ini jumlah sapi yang ada tidak mungkin lebih dari 12,5 juta ekor karena pemotongan sapi produktif yang kian masif," katanya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Muhammad Yamin menyetujui rencana impor sapi indukan oleh pemerintah dan menekan pemotongan sapi produktif seperti yang ditegaskan kalangan pengusaha sapi.

Menurutnya, keduanya sama-sama bisa menambah jumlah ketersediaan sapi yang selama ini terus mengerucut. Sehingga, kata dia, ke depan Indonesia bisa swasembada daging seperti yang diharapkan pemerintah.

"Apa yang diungkapkan pengusaha sapi soal pemerintah harus menekan jumlah pemotongan sapi produktif itu baik. Dan rencana impor 25.000 sapi indukan juga baik untuk menutupi sapi-sapi produktif yang dipotong tersebut," ujarnya.

Label:

Sabtu, 23 April 2016

Menguak Kematian Nurdin Priatna

Tak ada yang lebih mengagetkan warga Kampung Cijambe, Desa Sukaresmi, Kecamataan Cisaat, Kabupaten Sukabumi pada Sabtu (25/4/2015) sore, pekan lalu, selain menerima kenyataan pahit saat salah satu warganya, Nurdin Priatna, tewas tak terduga.

Nurdin pria berusia 27 tahun yang bekerja di salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Pasar Pucung, Cilodong, Kota Depok itu disangka menggondol duit Rp56 juta di tempatnya bekerja.

Polisi menangkap Nurdin pada Rabu (23/4/2015) dari hasil rekaman CCTV di SPBU tersebut. Sang adik, Drajat Permana, yang juga bekerja di SPBU itu menyaksikan penangkapan kakaknya itu.

Penangkapan Nurdin oleh kepolisian sektor Sukmajaya Kota Depok mulanya tak membuat heboh keluarga. Namun, setelah Kamis  (24/4/2015) malam keadaan mendadak berubah. Pihak keluarga memperoleh informasi bahwa Nurdin kejang-kejang dengan kondisi kritis di Rumah Sakit Polri Kramat Jati Jakarta.

Keluarga Nurdin, yakni Jaja Sujana--sang ayah, Drajat Permana, dan kerabat lainnya langsung meluncur mendatangi rumah sakit. Mereka penasaran apa yang telah terjadi pada Nurdin. Tante Nurdin, yakni Iis Hasanah, menyusul keesokan harinya.

"Saya ke rumah sakit itu sekitar subuh," ujarnya saat dikonfirmasi Bisnis.com. "Sesampainya di rumah sakit kami tidak langsung menemui Nurdin. Kepolisian melarang kami. Siangnya baru kami temui."

Batin Iis bertanya-tanya. Nurdin, sang keponakan bisa tak sadarkan diri secepat itu. Kondisi Nurdin saat ditemui keluarga masih bisa bernafas. Tetapi, menurut keterangan dokter yang dia terima, kondisi kesadarannya sangat rendah.

"Dia seperti koma," ujarnya.

Pada Jumat pagi, pihak keluarga Nurdin terus mendampingi. Mereka menjaga dari luar ruangan tempat Nurdin berbaring. "Kami menjaga dari ruang tunggu," paparnya.

Belakangan Iis heran. Perlakuan Nurdin dengan pasien lainnya di rumah sakit itu berbeda. Pasien lain diperbolehkan didampingi keluarga oleh pihak rumah sakit. Sementara itu, keluarga Nurdin kebanyakan menjaga di ruang tunggu.

"Jadi sampai dia meninggal pun kami tak tahu. Kami heran kenapa waktu masa kritis pihak rumah sakit tidak memberi tahu kami," ujarnya.

Nurdin, pada Sabtu pagi ditemukan tewas. Pihak keluarga pun tak tahu persis pukul berapa Nurdin menghembuskan nafas. Iis, bahkan menemukan Nurdin sudah diikat ketika pihak keluarga masuk ke ruangan Nurdin.

Pihak keluarga mulai menemukan kejanggalan. Mereka masih tak percaya bahwa penyebab kematian Nurdin disebabkan kecelakaan. Polisi mengklaim Nurdin terjatuh saat hendak melarikan diri.

Tangis dan kesedihan pun pecah seketika. Jaja Sujana, sang ayah yang bekerja sebagai tukang bangunan itu harus merelakan anak keduanya itu berpulang selamanya.

Sekitar pukul 11.00 WIB, pada Sabtu itu, jenazah Nurdin dibawa ke Kampung Cijambe. Nurdin tiba di kediamannya di Sukabumi sekitar pukul 16.00 WIB. "Sekitar habis beduk Ashar," kata Iis.

Warga Kampung Cijambe yang sudah tahu kedatangan jenazah Nurdin saat itu sudah berkumpul. Nurdin diantar oleh empat polisi, pihak rumah sakit dan keluarga yang sebelumnya datang ke Jakarta. Total ada tiga mobil saat pengantaran jenazah itu.

Keempat polisi yang mengantar jenazah Nurdin sempat menjadi bulan-bulanan warga Kampung Cijambe. Mereka menduga kematian pria yang hobi main play station itu bukan disebabkan oleh jatuh seperti yang dikatakan pihak kepolisian.

"Ieu mah lain labuh tapi diteunggelan [ini bukan terjatuh, tapi akibat dipukuli]," teriak warga seperti ditirukan Iis. "Duruk-duruk weh tuman [bakar-baka saja biar kapok]," teriak warga lain.

Gerimis jatuh perlahan sore itu. Amuk warga Kampung Cijambe berhasil bisa dicegah. "Untung kita bisa menahan amarah," kata Iis.

Keempat polisi yang belakang diketahui ketika mengantarkan Nurdin saat itu antara lain Akhirianto, M.Rusli, Napirullah, dan Aris. Warga juga, kata Iis, geram dengan ulah keempat polisi itu yang mengantarkan jenazah dengan tangan kosong. Pasalnya, tak ada surat pengantar hasil otopsi pada tubuh korban.

Iis mengatakan kepolisian juga sebelumnya menyuruh pihak keluarga untuk menandatangani kesepakatan bahwa keluarga tidak akan menuntut untuk melakukan otopsi atau visum pada korban.

Sejumlah kejanggalan yang dilakukan kepolisian menjadikan ketidakpercayaan bahwa Nurdin mati akibat terjatuh. "Kalau memang terjatuh, masa ada bekas lecet, lebam dan bolong-bolong ditubuhnya," kata Iis.

Eti Sumiati, kaka Nurdin juga mengaku kesal dengan kematian Nurdin yang dinilai janggal itu. Eti menuturkan sebelum Nurdin tewas, dia pernah berbicara melalui telpon dengan Nurdin. Obrolan antara Eti dan Nurdin menggunakan ponsel milik temannya yang juga pekerja SPBU.

"Dia mengatakan bahwa dia tidak mengambil uang itu," ujarnya. "Itu saja pembicaraan saya dengan Nurdin. Karena tiba-tiba ponselnya ditutup."

Kepala Polsek Sukmajaya Polresta Depok Agus Widodo menegaskan bahwa Nurdin tewas akibat terjatuh saat sedang menjalani pengembangan kasus pencurian yang dilakukannya. Agus mengungkapkan Nurdin mencoba kabur saat tangannya diborgol. Dia kemudian terjatuh dan kepalanya terbentur.

Pihak kepolisian kata dia, langsung menyampaikan kepada pihak keluarga terkait kondisi Nurdin yang terluka sehingga harus menjalani perawatan dan operasi di rumah sakit saat itu. Dia menjelaskan sedetil mungkin kejadian dan kemungkinan yang akan terjadi. "Keluarga juga sudah menerima," tuturnya.

Dia menuturkan hasil rekam medis dari rumah sakit akan keluar Senin (27/4/2015). Hasilnya bisa dilihat kesimpulan rekam medis Nurdin. Dia juga menegaskan bahwa Nurdin meninggal karena terdapat luka di bagian kepalanya.

Kapolresta Depok Komisaris Besar Ahmad Subarkah mengatakan dirinya akan tegas memberikan sanksi pada anggotanya apabila terbukti terlibat dalam kasus kematian Nurdin Priatna tersebut.

"Kami sudah memintai keterangan pada Kapolseknya dan beberapa penyidik. Tapi hingga saat ini belum ada kesalahan ditemukan. Kalau ada pasti dikasih sanksi," ujarnya di Balaikota Depok, Senin (27/4/2015).

Menurut Ahmad, saat dirinya menanyakan pada saksi dan Kapolsek Sukmajaya, Komisaris Agus Widodo, dia menegaskan bahwa Nurdin tewas akibat terjatuh saat berusaha kabur di kawasan Cilodong Depok dengan kondisi tangan terborgol. Kemudian dia jatuh terguling dan kepalanya membentur benda keras.

Ahmad Subarkah menuturkan dirinya tidak bisa berkomentar lebih jauh lantaran kasus tersebut masih dalam penyelidikan dan menunggu hasil rumah sakit tempat Nurdin diotopsi.

"Menurut keterangan juga dikabarkan Nurdin memiliki riwayat penyakit di kepala. Jadi dia tewas bukan saat di dalam tahanan," paparnya.

Kecurigaan keluarga Nurdin belum habis. Sambil menunggu hasil visum, pihak keluarga berinisiatif membawa kasus tewasnya Nurdin ke ranah hukum dengan melaporkan Kapolsek Sukmajaya Kompol Agus Widodo dan jajarannya ke Propam.

"Kami tunggu hasil visumnya dulu seperti apa," kata Iis.

"Saya kasihan sama keluarga korban yang juga kakak saya. Ibu Nurdin lagi sakit. Dia punya penyakit Jantung. Sekarang saja biaya tahlilan hasil urunan para keluarga," ujarnya.

Namun, kendati keluarga masih menunggu kejelasan dan keadilan atas kasus kematian Nurdin. Keluarga tidak mau membiarkan jenazah dibiarkan begitu saja. Nurdin pada Minggu (26/4/2015) disemayamkan di lokasi yang tak jauh dari rumahnya di Kampung Cijambe, RT 8/RW 4, Desa Sukaresmi, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi.

"Tapi kami semua yakin, Nurdin tidak bersalah. Kami saja belum melihat apakah benar Nurdin mencuri uang itu. Kasus ini pun belum selesai," pungkas Iis.

*Sumber: Bisnis.com

Label:

Senin, 05 Oktober 2015

Menikmati Konser Anatomia Do Grunge



Komunitas pecinta musik Grunge dan Negative Creep Clothing menggelar konser Anatomia Do Grunge di Rossi Cafe Fatmawati Jakarta, Minggu (4/10) hingga larut malam.

Beberapa band Grunge dari berbagai daerah yang tampil antara lain Jangan Syirik, Mati Muda, Sugar Kane, Marigold, Kamar Busuk, Sociology, The Kill, The All Innocent, Wajik, Syndrome Noise, The Northside, Cacat Mental, Backdoor, Toilet Sounds, Shockbreaker dan Coburn.

Ratusan penggemar musik Grunge sudah memenuhi area Rossi sejak siang dengan pakaian kucel khas celana jeans robek, belel, kaus oblong dan kemeja flanel.

Mereka tampak asik menghayati tembang-tembang yang dimainkan band-band yang tampil. Ruangan yang tak begitu luas itu pun gaduh dengan teriakan.

Menjelang malam, band asal Bandung, The All Innocent (T.A.I) tampil setelah Marigold, The Northside dan Cacat Mental. Band T.A.I yang sudah dibentuk sejak 1997 itu menggeber empat lagu yang membuat para pecinta Grunge tak hentinya bergoyang.

Penampian T.A.I memang salah satu yang ditunggu oleh para pecinta Grunge. Gaya manggung sang vokalis, Achill yang liar dan tak mau diam seolah mengisyaratkan ekspresi dan emosi bermusiknya.

Apalagi saat membesut tembang Trilogika yang dimainkan cukup unik dengan menggunakan dua bass sekaligus. Penonton tak mau beranjak dan terus moshing atau head bang sambil berloncatan di atas panggung.

Konser Anatomia Do Grunge memang semacam ajang reuni para penggemar musik Grunge yang dipelopori oleh band-band asal Seattle Amerika, seperti Nirvana, Pearl Jam, Sonic Youth dan lainnya.

Pengaruh musik Grunge itu hadir ke Indonesia era 90-an dan memunculkan event-event dari band Grunge lokal Indonesia baik di Bandung, Jakarta dan daerah lain.

Salah satu band Grunge bentukan era 90-an adalah Shocbreaker yang juga ditunggu-tunggu. Empat lagu yang dimainkan cukup mengobati rindu para penggemarnya. Apalagi saat mereka memainkan tembang Cewe An***G. Hampir seisi ruangan Rossi Cafe bernyanyi bersama.

Semakin malam, konser semakin memanas. Terlebih giliran band-band yang tampil cukup membuat heboh ratusan pecinta Grunge. Giliran band Backdoor memainkan lagu-lagu andalannya.

Muhammad Abdul Qodir alias Dul, vokalis Backdoor langsung menggeber Come AS You Are milik Nirvana. Dul yang juga anak musisi Ahmad Dhani ini diacungi jempol oleh para pecinta Grunge. Dia dianggap sebagai salah satu ikon Grunge Indonesia yang cukup diperhitungkan.

Penampilan Backdoor yang juga memainkan empat lagu semakin menambah suasana konser memanas. Kerumunan ratusan pecinta Grunge menghadirkan moshing yang tak teratur tetapi tetap damai.

Di sela-sela penampilannya, Dul meminta para pecinta Grunge tetap menjaga kekompakan. "Saya minta semuanya solid ya," ujarnya sambil langsung memainkan tembang penutup dari Nirvana, Negative Creep.

Tak berhenti di situ, puncak konser Anatomia Do Grunge dimeriahkan oleh Coburn, band yang tengah naik daun. Empat lagu yang dimainkan Coburn membuat ruangan tak berhenti berteriak mengikuti tembang yang dinyanyikan satu persatu.

Adapun, band penutup konser Grunge tersebut adalah Toilet Sounds. Band ini sudah berkarya sejak 1998 lalu. Band yang digawangi tiga orang ini cukup membuktikan banhwa Grunge akan tetap hidup dan terus akan meregenerasi.

Label:

Rabu, 23 September 2015

Para Gurandil Pongkor

Usai sudah nasib para penambang emas liar milik PT Antam (Persero) Tbk. yang berlokasi di Pongkor, Kampung Ciguha, Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor.

Pada akhir pekan lalu, perusahaan bersama aparat kepolisian dan Satpol PP berhasil menutup 241 lubang dan membongkar 1.126 bangunan pengolahan emas gelundung serta 125 tangki pengolahan emas ilegal.

Keberadaan para penambang liar atau sering disebut gurandil di Pongkor sudah dilakukan sejak Antam beroperasi pada 1994. Pada 1998, jumlah para gurandil semakin bertambah dan massif baik dari kegiatan penambang maupun pengolahnya.

Dampak sosial pun terjadi akibat makin merebaknya para gurandil itu. Tingkat keamanan di kawasan lokasi penambangan rapuh. Salah satunya terjadi pembakaran kantor administrasi Antam pada unit bisnis pertambangan emas (UBPE) Pongkor.

"Pembakaran itu mengakibatkan berhentinya operasi perusahaan selama 10 hari saat itu. Pembakaran kantor administrasi Antam di Pongkor terjadi pada Desember 1998. Hanya berselang 3 bulan setelah kerusuhan di Jakarta saat itu," ujar Tri Hartono, Sekretaris Perusahaan PT Antam (Persero) Tbk., pada Bisnis, Selasa (22/9).

Penambangan liar di wilayah Kecamatan Nanggung sejak saat itu berjalan secara sistematis dan terstruktur. Issue illegal mining di wilayah Pongkor tersebut kerap dijadikan penelitian baik oleh institusi pendidikan maupun lembaga penelitian.

Dalam banyak jurnal ilmiah disebutkan bahwa penambangan liar di Pongkor melibatkan banyak pihak diantaranya adalah pemilik modal yakni penyandang dana pembuat lubang dan pengolahan gelundung dan tangki, preman, oknum penjaga lubang, tukang pahat, tukang pikul, pemilik pengolahan gelundung dan tangki, hingga penadah hasil emas tersebut.

Perputaran uang dari hasil bisnis penambangan liar pun cukup besar. Hal itu terlihat dari barang bukti yang diamankan Polres Bogor saat penutupan lokasi penambangan liar tersebut. "Dari penadah saja mencapai Rp400 juta," katanya.

Menurut Tri, keberadaan gurandil semakin sistemik dan memengaruhi struktur sosial dan budaya di masyarakat. Terlebih, jika terdapat gurandil yang tertangkap oleh kepolisian setempat, mereka melakukan demonstrasi menuntut agar para gurandil dibebaskan.

Tri mengatakan penegakan hukum tidak terjadi di wilayah Kecamatan Nanggung, seiring pada bisnis emas liar tersebut diduga dikuasai oleh kartel-kartel pemilik lubang dan pemilik pengolahan illegal. "Namun itu sulit untuk dibuktikan. Kami menyerahkan sepenuhnya kepada Kepolisian."

Dampak dari penambangan liar lain adalah pencemaran lingkungan yang massif oleh para gurandil. Mereka menggunakan merkuri untuk mengolah emas, tetapi sebagian gurandil juga mengolah hasil galiannya menggunakan tangki sianida.

"Keduanya tidak diolah limbahnya, tapi langsung dibuang ke lingkungan yakni di persawahan maupun ke sungai Cikaniki," paparnya.

Menariknya, para gurandil yang mengincar emas di lokasi tambang Antam tersebut bukan masyarakat asli Kampung Ciguha, Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, tetapi banyak warga pendatang.

Akibatnya, seringkali terjadi konflik horizontal antara warga asli dan pendatang. Dampak penambangan liar bagi Antam secara teknis memengaruhi operasional penambangan.

Para gurandil dalam aksinya mampu menembus operasi produksi di bawah tanah dan kemudian melakukan pencurian ore yang memengaruhi siklus produksi tambang dalam.

Selain berpengaruh pada potensi kerawanan kekuatan batuan, keberadaan para gurandil itu menghambat proses peledakan dalam satu shift kerja perseroan.

Tri menjelaskan peledakan adalah salah satu bagian dalam proses penambangan bawah tanah cut and fill. Jika hal tersebut terjadi, dilakukan strategi khusus agar target penambangan tetap tercapai.

Antam sendiri, kata dia, tidak dapat menghitung secara spesifik kandungan dari lubang-lubang ilegal tersebut. Karena sebagian lubang penambangan liar mampu menembus lokasi operasi produksi.

"Sebagian lain tidak menembus dan para gurandil membuat lubang yang tidak memenuhi ketentuan keselamatan kerja karena itu tidak safety untuk dimasuki," katanya.

Produksi utama emas Antam sejatinya berasal dari dua wilayah antara lain tambang bawah tanah Pongkor, Bogor dan Cibaliung, Banten. Realisasi produksi ore di Antam UBPE Pongkor pada 2014 mencapai sebesar 382.000 WMT dan realisasi produksi emas (Au) sebesar 1,6 ton.

Tri mengakui pada dasarnya Antam tidak dapat menghitung selisih produksi yang dihasilkan para gurandil dan Antam sendiri. Namun berdasarkan keterangan petugas Kepolisian Resor Bogor kepada para gurandil saat melakukan penertiban, satu tangki pengolahan emas mampu menampung kapasitas 300 karung/beban ore dengan rerata berat 30 kg/karung.

Para gurandil itu, kata Tri, tidak menggunakan penghitungan teknis ekstraksi sianidasinya. Mereka, lanjutnya hanya menggunakan catatan pengalaman para gurandil lain dalam mengolah hasil galian.

Dia memberi contoh, 30 kg sianida untuk satu tangki dan seterusnya. Sementara satu tangki berkapasitas 300 karung tersebut mengekstraksi emas selama 24 jam dan mampu menghasilkan lebih kurang satu kg emas.

“Tentu data tersebut perlu diteliti lebih lanjut, tapi inilah data yang dihimpun melalui wawancara dengan para penambang liar oleh kepolisian," paparnya.

Saat ini Antam memiliki tujuh tunnel produksi tetapi yang aktif ada empat tunnel yakni tunnel MHL500, dua tunnel Gudang Handak, dan tunnel L600. Adapun, Ijin Usaha Pertambangan (IUP) ANTAM UBPE Pongkor sampai dengan 2021.

Tri menjelaskan target produksi emas dari tambang Pongkor Bogor dan Cibaliung Banten pada tahun ini hampir sama dengan target produksi pada 2014, yaitu di level sekitar 2,5 ton. Namun untuk penjualan emas pada 2015, pihaknya akan meningkatkan target dibanding tahun lalu di level 10 ton emas.

Perseroan, kata dia tahu betul apa yang harus dilakukan setelah penutupan lokasi tambang liar yang disebut-sebut merugikan lebih dari Rp1 triliun itu. Salah satunya Antam akan bekerjasama dengan seluruh pemangku kepentingan sesuai dengan kebutuhan kampung Ciguha, Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor.

Masyarakat asli Kampung Ciguha sendiri saat ini berjumlah sekitar 170 kepala keluarga. Jauh lebih sedikit dibandingkan dengan pendatang. Dengan demikian pihaknya berkomitmen memperhatikan seluruh aspek baik lingkungan, ekonomi dan sosial budaya.

"Persoalan penting dalam mencegah kembali munculnya para penambang liar adalah memerhatikan masyarakat yang dulu bergantung pada aktivitas penambangan liar melalui suatu program alih daya."

Menurutnya, konsesi bersama dinilai penting terwujud agar para gurandil tidak kembali. Jika para gurandil tidak beraktivitas, dipastikan lingkungan setempat dapat terjaga.

Perseroan juga, kata dia, mengharapkan penerapan program penanganan ilegal mining di Pongkor akan menjadi contoh penanganan penambangan liar di seluruh Indonesia.

Kapolres Bogor, AKBP Suyudi Ario Seto saat menggelar rapat dengan Bupati Bogor Nurhayanti, Senin (21/9) ihwal perkembangan penertiban penambang liar di kawasan Antam akan menindaklanjuti hasil tersebut.

Suyudi menjelaskan para otal gurandil akan dikenakan hukuman sesuai pasal 161 Undang-Undang No. 4/2009 tentang pertambangan mineral dan batu bara dan Undang-Undang No. 32/2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sanksi pidana.

Dia mengklaim hingga akhir Agustus lalu pihaknya berhasil menangkap beberapa pelaku penambang liar. Menurutnya, penanganan penertiban PT Antam tidak bisa dilakukan secara parsial oleh salah satu pihak, melainkan melibatkan seluruh stakeholder.

Sementara itu, Bupati Bogor Nurhayanti mengaku khawatir terkait kawasan Pongkor sebagai kawasan aneka tambang yang dihuni oleh para gurandil yang membahayakan keselamatan dan lingkungan.

Pihaknya berencana akan membentuk tim bersama beberapa instansi, terutama terkait masalah alih profesi para gurandil yang sudah ditertibkan. Musababnya dari 100% gurandil, sekitar 30% adalah masyarakat Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor.

“Kami akan lakukan upaya tindak lanjut dengan penuh kehati-hatian, agar penertiban ini tidak berdampak negatif terhadap warga masyarakat sekitar. Kami ingin penertiban ini justru bisa memberikan manfaat untuk masyarakat terutama di wilayah Kecamatan Nanggung,” paparnya.

Sumber: Bisnis.com

Label:

Senin, 12 Mei 2014

Icip-icip Kelezatan Rempah Kita

Iringan musik Kolintang Agape, sebuah kelompok yang biasa bermain di acara-acara kegerejaan terdengar ritmis saat pembukaan restoran Rempah Kita di Plaza Indonesia Jakarta, Kamis (10/4). Betapa tidak, lagu-lagu khas daerah macam Si Patokaan, Ina Ni Keke, Lisoi, Anging Mamiri, Waktu Hujan Sore dan lagu lainnya mengalun indah.

Tentunya, lagu-lagu tersebut menambah semarak tatkala pengunjung menyantap aneka menu makanan. Suasana pun terasa khidmat menambah kelezatan masakan serasa lebih Indonesia sesuai menu-menu yang disajikan.

Restoran Rempah Kita berlokasi di mal Plaza Indonesia Jakarta. Sebelumnya, restoran tersebut bernama Lada Merah. Manajemen mengubah nama lantaran pemilihan nama Rempah Kita lebih mewakili Indonesia. "Karena semua menu yang ditawarkan khas masakan Nusantara," papar Michael Irawan, Chef Manager Rempah Kita.

Dengan demikian, pengunjung dimanjakan oleh lebih dari seratus menu masakan khas Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dan pulau-pulau di Nusantara lainnya. Dari ribuan masakan khas Indonesia, Rempah Kita menyeleksi menu-menu khusus yang sudah terdengar akrab untuk dijadikan masakan andalan.

Masakan Padang, siomay Bandung, woku, soto Lamongan, gudeg Yogyakarta, dan menu lainnya merupakan sebagian dari masakan yang disediakan Rempah Kita. Siomay Bandung hasil racikan Rempah Kita misalnya, diklaim sebagai siomay terenak dibandingkan dengan siomay produksi lain.

Dari semua menu Nusantara tersebut, kelebihan dan keunggulannya terdapat pada cara penyajian, proses memasak dan bumbu-bumbu racikan khas Rempah Kita. Setiap menu disajikan dengan unsur kearifan lokal Indonesia, seperti halnya dekorasi dan desain interior restoran. Selain untuk menambah kekhasan Nusantara, pemilihan desain interior juga membuat kenyamanan tersendiri bagi pelanggan.

Untuk menikmati masakan khas Rempah Kita, Anda tidak perlu merogoh kocek mahal. Cukup dengan Rp35.000-Rp85.000, masakan yang dipesan sudah bisa mengenyangkan perut. nasi rempah kita ayam, misalnya dibanderol seharga Rp55.000. Salah satu menu andalan ini terdiri dari ayam goreng, pepes telor asin, udang goreng, sambal dan lalapan segar.

Beberapa menu lain yang bisa membuat ketagihan antara lain seperti nasi Padang dendeng balado, nasi uduk Jakarta empal, nasi timbel pasundan, mie ayam Bangka, soto mie Bogor dan aneka menu lainnya.

Bahan-bahan yang diracik untuk disajikan terhadap pelanggan dihasilkan dari sumber produksi berkualitas. Untuk itu, Rempah Kita menghadirkan sumber daya manusia yang sudah berpengalaman di bidang masak-memasak. Maka jangan heran, jika menu utama hingga camilan diproduksi sendiri tidak menggunakan bantuan tenaga lain.

Camilan macam keripik singkong, kentang goreng, kroket, risolles, lumpia, pempek dan lainnya dibikin sendiri dengan racikan bumbu khas Remoah Kita. "Jangan khawatir bahwa semua camilan bukan dibeli dari pasar, tetapi kami bikin sendiri," ujarnya.

Sementara, untuk aneka minuman, Rempah Kita menyajikan berbagai menu unik yang biasa dinikmati. Sebut saja es kopyor, cendol, es campur Jakarta, dan es tropis yang bisa mengusir rasa dahaga. Kesemua jenis minuman tersebut dibanderol seharga Rp10.000-Rp45.000.

Lily Tanti, salah satu pemilik Rempah Kita mengatakan pihaknya tengah gencar berpromosi mengenalkan restoran khas masakan Nusantara tersebut. Rencananya, pada pertengahan bulan ini, Rempah Kita membuka promo all you can eat seharga Rp150.000 untuk per hari.

“Jadi pelanggan untuk sehari tersebut bisa menikmati semua makanan sesukanya. Setelah makan misalnya, Anda bisa jalan-jalan, nonton, belanja kemudian setelah lapar, kembali lagi ke sini, makan lagi,” ujarnya.

Konsep restoran berdekorasi gaya 1960-an tersebut rencananya juga akan menampilkan live music dengan pillihan musik khas Nusantara seperti halnya permainan yang ditampilkan Kolintang Agape pada pembukaan restoran. “Intinya, kami ingin mengangkat semua unsur Nusantara di restoran Rempah Kita ini,” paparnya.

*Bisnis Indonesia Weekend

Label:

Jpret

Namanya Jpret. Sejak lahir, menginjak masa anak-anak, remaja hingga dewasa, tetap saja dia dipanggil Jpret. Lelaki miskin berambut panjang itu ngoceh sendiri membicarakan hiruk pikuk suasana politik di Indonesia. Sesekali para lawan mainnya menimpali. Namun sesungguhnya dia sedang ngomong sendiri dalam pertunjukan monolog Jpret dari Teaeter Mandiri yang digelar di Teater Salihara Jakarta, Minggu (13/4).

Monolog  Jpret dikemas dengan tata panggung sederhana. Sebuah layar terbuat dari kain terbentang. Di tengah layar sengaja dibuat bolong sebagai ilustrasi layar televisi. Satu kursi, kotak suara, toilet, meja makan dan remote control adalah artistik yang terpajang di arena pertunjukan. Monolog tersebut mengangkat sebuah kisah pahit-manis demokrasi dalam pemilihan umum di Indonesia.

Jpret antusias untuk memberikan hak suaranya memilih calon anggota legislatif (caleg). Seperti diketahui, pada masa kampanye, kebanyakan para caleg memajang foto untuk dikenal publik di beberapa medium. Tiang listrik, pohon, benteng, angkutan kota dan sarana lainnya merupakan ajang promosi wajah-wajah para caleg. Terkadang wajah-wajah mereka, para caleg itu tampil di beberapa media dengan wajah yang sama, mengumbar senyum seolah mereka berperilaku baik dan manis.

Adalah Putu Wijaya, penulis naskah dan sutradara Jpret yang sebelumnya naskah tersebut diberi judul Kroco. Kroco merupakan sebuah naskah untuk dilakonkan pada ulang tahun seorang aktor legendaris, Amoroso Katamsi yang ke-70 tahun. Naskah tersebut dibuat pada 1999 menjelang pemilu. Namun, karena beberapa alasan, naskah Jpret tidak jadi dipentaskan. Dan, bisa terlaksana tahun ini bertepatan dengan Pemilu 2014.

Monolog Jpret dimainkan oleh Bambang Iswantoro, Alung Seroja, Lela Lubis, Dwi Hastuti, Ucok Hutagalung, dan Gandung Bondowoso dari Teater Mandiri. Jpret merupakan pementasan terakhir dari rangkaian ulang tahun Putu Wijaya yang ke-70. Naskah Bila Malam Bertambah Malam dan Hah sendiri ditampilkan pada 11-12 April 2014.

Pada pementasan Jpret, cara penyutradaraan Putu Wijaya tampak terlihat jelas. Unsur realisme, humor, kritis bahkan absurd menjadi satu kesatuan yang utuh. Kita bisa melihat sendiri bagaimana Jpret bisa berbicara langsung dengan presenter televisi yang sesungguhnya berada pada dunia yang berbeda. Tetapi itulah Putu Wijaya, dia kerap mengobrak-abrik estetika dalam sebuah karya.

Pemakaian bahasa yang menggedor daya kejut penonton menjadi ciri khas lain dalam menyampaikan pesannya. Politik misalnya, dia sebutkan secara tidak langsung sebagai praktik menyengsarakan rakyat. Bukan sebaliknya, memberikan kesejahteraan yang pantas.

Alur pementasan Jpret tidak bisa ditebak. Teror mental yang sudah lama digaungkan Putu diam-diam menyelip di beberapa percakapan antara Jpret, presenter televisi, para caleg dan seorang nenek tua, yang dalam pementasan tersebut menjadi nenek tiri Jpret.

Salah satu kritik pedas untuk menyindir Pemilu di Indonesia adalah ketika sang nenek dan Jpret didatangi para calon Presiden. Mereka menanyakan berbagai kebutuhan rakyat jika mereka terpilih jadi Presiden. Padahal sebagai pemimpin, seharusnya tahu keinginan rakyat, bukan sok peduli dan terjun ke lapangan.

Adegan ketika Jpret mencoblos, disuap, dan dibunuh merupakan cerminan perilaku politik kotor yang terjadi di Indonesia. Siapa yang banyak uang, di situlah politik berkuasa. Kita bisa saksikan, bagaimana ketika seorang berada di tempat pemilihan suara (TPS) seperti Jpret didatangi para caleg untuk memilih mereka sendiri. Di sini, Putu dalam panyutradaraannya ingin menekankan bahwa cara-cara kotor tersebut betul-betul terjadi.

Monolog Jpret memang cukup berhasil menggiring penonton menertawakan kondisi politik yang ada di Indonesia. Dari segi cerita dan pesan, Putu memang piawai menghadirkan dengan bahasa ungkap yang lugas. Namun, sekadar catatan, masalah teknis pada pementasan Jpret ini sangat disayangkan.

Permainan cahaya, musik pengiring, jeda antar adegan tampak terlihat kurang persiapan dan latihan yang matang. Kalau boleh disebut, persiapan Teater Mandiri untuk pementasan Jpret kurang maksimal. Sehingga, penyorotan cahaya ketika setiap aktor dan aktris yang masuk ke arena teater kerap terlihat lambat. Beruntung, beberapa kekurangan tersebut bisa ditutupi dengan aksi-aksi improvisasi para aktor.

*Bisnis Indonesia Weekend

Label:

Traversing Cultures

Sebuah boneka barbie menyerupai seorang perempuan tampak berdiri tegak. Boneka itu hasil modifikasi dua seniman asal Yogyakarta R. Bonar alias Otong dan Fahla F. Lotan alias Dila. Wajah boneka terlihat garang lantaran dipenuhi kaki-kaki tarantula.

Menggunakan dinamo, boneka dinamakan Mother Wisdom itu berputar. Pengunjung pada pembukaan pameran Traversing Cultures di Galeri Indonesia Kaya Jakarta pada 8 April 2014  hanyut terbawa putaran indah sang boneka. Konon, putaran tersebut memiliki filosofi tersendiri.

Dila dan Otong mengatakan inspirasi pembuatan boneka yang kini memiliki nilai seni itu datang dari Dewi Sri sebagai salah satu legenda perempuan di Jawa. Dewi Sri dinilai sebagai sosok bijaksana. Dia banyak menaburkan aura positif ke setiap orang. "Putaran boneka Mother Wisdom sendiri sebagai filosofi hidup perempuan untuk terus menebarkan kebaikan," papar Dila.

Dila dan Otong merupakan seniman asal Yogyakarta tergabung dalam Thedeo MixBlood. Keduanya adalah kelompok seni yang terlibat dalam berbagai eksperimen seni rupa. Thedeo MixBlood banyak menghasilkan karya-karya eksperimen dan hiperbolis untuk mengungkapkan sebuah karya di hadapan khalayak.

Pada pameran digelar 8-30 April 2014 ini, mereka menampilkan 6 karya seni rupa gabungan antara mainan anak dan hasil imajinasi menggunakan objek-objek modern. Mainan diambil dari koleksi pribadi dan hasil pengumpulan dari beberapa kerabat untuk dijadikan bahan seni yang bernilai tinggi.

Ciri khas Thedeo MixBlood bisa terlihat dari daya liar imajinasi sang seniman. Pada karya The Big Mission misalnya. Boneka Donal Bebek sebagai dasar mainan disulap menjadi sebuah karya seni berupa monster yang biasa dimainkan atau dimiliki kalangan anak-anak. Baik Dila maupun Otong tampak gemar memainkan instrumen dan aksesori lain menjadi gubahan karya yang elegan.

Namun demikian, penambahan barang-barang tidak terpakai pun tidak luput untuk mereka manfaatkan. Penggunaan kain pel misalnya, berhasil padukan pada celah-celah kosong untuk membuat warna karya terkesan unik dan menarik dipandang mata. Meskipun, pada dasarnya, boneka Donal Bebek masih menjadi objek utama dalam karya tersebut.

Thedeo MixBlood juga tidak sungkan berimajinasi lebih liar mengubah sebuah mobil mainan menjadi karya seni yang sangat historis. Karya tersebut bisa dilihat pada Buraq Transformation. Otong mengibaratkan Buraq, sebagai kendaraan Nabi Muhammad ketika diangkat oleh Tuhan ke langit lapis tujuh. "Kami andaikan kendaraan Nabi saat itu lebih canggih dari kendaraan saat ini," papar Otong.

Pada karya berjudul Dasamuka, mereka menghadirkan beberapa tokoh seperti Angry Bird, Joker dan pahlawan-pahwalan kartun yang kerap tayang dilayar kaca anak-anak. Karya tersebut digabungkan menjadi sebuah ksatria berpenampilan menyeramkan sambil memegang sebuah senjata.

Sementara pada karya The Rising of the Guardian, lagi-lagi Thedeo MixBlood menampilkan bahan-bahan kain pel untuk menambah aksen warna. Tema karya yang diusung mereka tetap mengedepankan kisah-kisah kepahlawanan yang berkarakter kuat. Maklum, keduanya mengaku sama-sama pecinta mainan sejak kecil.

Pameran Traversing Culture tersebut menyoroti lintas batas antara beragam nilai budaya seperti tradisional dan moderen. "Untuk itu kami hadirkan budaya lokal seperti mitos Dewi Sri yang pada beberapa karya lain mengedepankan tokoh hero yang akrab di berbagai kalangan," papar Dila.

Sejak berkesenian bersama-sama pada 2009, keduanya kerap memamerkan karya di beberapa tempat. Mereka juga mengklaim menciptakan karya bukan sekadar untuk merayakan dan mengembangkan hobi. Namun, tak jarang beberapa kolektor jatih cinta terhadap karya-karya Thedeo MixBlood. “Kebanyakan kolektor kami berasal dari luar,” ujar otong.

*Bisnis Indonesia Weekend

Label:

Menghajar Menu Restoran Hyde

Kawasan Kemang, Jakarta Selatan dikenal sebagai salah satu pusat gaya hidup warga Jakarta. Di Kemang, terdapat beberapa tempat yang bisa dijadikan sebagai ajang pertunjukan, galeri, restoran, kafe, bar dan lainnya. Tidak heran jika banyak investor membuka usaha di kawasan Kemang. Selain menjanjikan, Kemang memang menjadi kawasan yang terus hidup.

Bicara soal restoran, Kemang memang gudangnya. Hampir di setiap titik, tempat makan berjejer dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Masing-masing restoran memiliki konsep tersendiri guna menggaet calon pelanggan. Tak terkecuali restoran Hyde yang berlokasi di Jl. Taman Kemang 1A No. 8, Kemang Jakarta Selatan.

Memasuki Hyde, Anda akan terpukau dengan suasana restoran yang mengusung konsep go green. Restoran sekaligus bar tersebut berdiri pada akhir 2013 yang menawarkan suasana interior yang artistik.

Aneka macam bunga berwarna-warni menggantung di atap restoran akan menyambut Anda yang bisa menggugah selera makan menjadi bertamabah. Selain menggantung di atap, bunga-bunga indah juga menempel di segala penjuru dinding. Pemilihan meja makan yang elegan dibuat khusus untuk memanjakan pelanggan. Sehingga, interior restoran ini akan membawa Anda serasa menikmati pemandangan alam hijau nan asri.

Di Hyde, pelanggan juga akan dimanjakan oleh aneka musik dan penampilan disk jockey (DJ). Alunan musik yang menghentak dari mulai R&B, jazz hingga musik klasik akan menemani Anda menyantap menu-menu yang disajikan.

Pada akhir Maret lalu. Hyde menggelar acara perdananya Bubbly Brunch. Sebelum menikmati makan siang, pengunjung disuguhi aneka menu spesial yang tidak akan pernah didapatkan di restoran lain. Menu Scrambled Eggs on Toast menjadi salah satu jawara pada Bubbly Brunch tersebut.

Menu ini terdiri dari daging sapi yang disajikan secara tipis, mushroom, telor dadar, tomat dan sosis. Sebelum menyantap makan siang, menu ini memang cocok untuk sekadar mengganjal perut kosong Anda setelah sebelumnya menyantap sarapan. Apalagi paduan untuk menu ini sangat cocok dengan minuman House Pouring Sparkling Wine. Setelah melahap daging dan mushroom, tentu wine yang ditawarkan mampu menetralisir rasa yang melekat dilidah.

Untuk menu reguler, Hyde juga menawarkan aneka makanan yang banyak disukai lidah Indonesia. Spaghetti Aglio merupakan satu dari menu spesial di Hyde. Ditaburi cabai merah yang segar, spaghetti ini memberikan rasa ‘menantang’. Apalagi, taburan udang yang menggoda membuat masakan ini tidak boleh terlewatkan untuk disantap. Dijamin, mi kenyal pada spaghetti ini akan membuat Anda ketagihan.

Bagi Anda penyuka burger, tenang saja. Di restoran ini, segala macam menu hampir semuanya tersedia. Cukup menunggu sejenak sambil menikmati suasana tempat yang membuat betah, Anda akan disuguhi Hyde The Cheese Burger. Inilah salah satu burger dikemas semi tradisional yang tampak indah terlihat.

Dipadu dengan kentang goreng, telor setengah matang dan sayuran di atas talenan, penyajian burger tentunya terkesan unik dan membuat Anda penasaran. Lalu bagaimana cara menikmati burger ini? Monggo, sesuai selera Anda, mau mencicipi kentang terlebih dahulu atau langsung melahap burgernya silahkan. Yang jelas, kelezatan menu ini tidak akan mengecewakan Anda.

Selain itu, aneka seafood juga tersedia. Anda bisa memesan Herb Crusted Salmon yang berisi ikan salmon, kentang dan kacang Prancis yang digoreng dicampur dengan lemon. Ada juga Seafood Vol Au Vent yang terbuat dari roti kering dicampur udang, tomat, bawang hijau dan tambahan wine putih. Racikan menu makanan ini tentu akan memberikan rasa yang tidak akan terlupakan di lidah.

Dan jangan lupa, aneka minuman yang disajikan pun cukup beragam. Mulai dari Virgin Berry Kiss, Berry the Kiss Mocktail, Sour Samurai, Floating Avocado hingga Flavored Ice Tea dan aneka cocktail lainnya. Harga yang ditawarkan kesemua menu mulai Rp35.000-Rp1 juta. Uniknya lagi, di restoran Hyde menyajikan menu makanan untuk anak-anak seperti Junior Fish & Chips hingga Chicken Cordon Bleu yang merupakan sajian mini khusus untuk disantap kalangan anak-anak.

Label:

Menikmati Kelezatan Ayam Goreng Kyochon

Berkunjung ke Gandaria City Mal di kawasan Jakarta Selatan tidak cukup hanya untuk berbelanja saja. Atau hanya sekadar nongkrong, jalan-jalan cuci mata dan nonton. Namun, ada banyak hal yang bisa dinikmati. Salah satunya wisata kuliner.

Menyantap seafood atau fast food? Ah, itu mah sudah biasa. Di Gancit, begitu orang biasa menyebut, tepatnya di Mainstreet Level UG Unit MU29-30 kini hadir restoran khusus yang menyajikan aneka ayam goreng. Kyochon namanya. Restoran asal Korea yang berdiri sejak 1991 itu baru saja membuka outlet terbarunya di Gancit.

Ingrid Firmansyah, Chief Executive PT Kyochon Indonesia mengatakan konsep restoran Kyochon memang berbeda dibandingkan dengan restoran serupa yang kini menjamur di Indonesia. "Konsep kita bukan fast food," paparnya. "Ayam yang disajikan melalui proses dan tahapan berbeda. Jadi wajar saja jika pelayannya agak sedikit lama. Namun kualitas tetap terjamin."

Menu Kyochon Original Series misalnya. Ayam goreng ini terutama Original Wings kaya akan aroma bawang putih spesial. Dagingnya empuk dilapisi dengan tepung yang renyah dan saus kedelai yang lezat. Anda bisa memilih paha, dada dan sayap dengan cita rasa yang ditawarkan Kyochon.

Kyochon pada tahun ini sudah memiliki tiga outlet antara lain di Pacific Place Level 4 Unit 57-69, Kota Kasablanka di Food Society UG unit FSU10B dan tentunya di Gandaria City yang ukurannya lebih luas hingga bisa menampung 100 pelanggan. Rencananya, hingga akhir tahun, Kyochon akan membuka 10 outlet.

Outlet Kyochon di Gandaria City terbilang mudah dijangkau. Lokasi bangunannya yang masih baru cocok bagi Anda untuk menyantap sekadar makan siang atau ngemil. Selain disajikan sebagai lauk, ayam Kyochon nikmat sebagai makanan camilan. "Tetapi tetap saja yang namanya orang Indonesia tidak pernah lepas dari nasi. Makanya pelanggan yang berkunjung biasanya kebanyakan makan sama nasi," papar Inggrid.

Kyochon juga menawarkan aneka macam nasi seperti Galbi Chicken Steak dengan nasi goreng Kimchi dan Grilled Skewers Rice. Tak lupa, menu pelengkap lain yang bisa dilahap yaitu Chicken Salad, Rice Cake Soup dan Kimchi Soup. Coba juga Anda cicipi ayam goreng Red Series. Jenis ayam ini disajikan khusus oleh Kyochon dengan rasa pedas dari cabe merah segar asal Korea.

Rada pedas yang menyerap di seluruh daging akan membuat lidah ketagihan. Cabe merah yang tertuang dalam Red Series ini pas dan bikin segar. Menu ini cocok bagi Anda penyuka makanan yang pedas-pedas. Namun, tentunya belum lengkap jika menu-menu yang disantap tidak segera dinetralisir oleh minuman yang disediakan macam wine, bir, hingga minuman bersoda.

Semua menu yang ditawarkan di Kyochon akan dimasak setelah pelanggan melakukan pemesanan. Inilah cirri khas yang dikembangkan Kyochon. Proses memasak dengan metode benar dan teruji menjadikan aneka menu ayam goreng tetap terawatt kelezatannya. Maka tidak heran, jika di Korea dan beberapa negara termasuk Indonesia, Kyochon menjadi salah satu tempat favorit kawula muda untuk menikmati kelezatan ayam goreng renyah tersebut.

Lalu menu apa lagi yang ditawarkan restoran yang sempat menyabet The Best Chicken Wing oleh BBC New York ini? Ini dia, Honey Series yang tak akan Anda dapatkan di restoran selain Kyochon. Menu spesial khususnya Red Wings bisa dinikmati dengan saus madu yang manis. Untuk tampilan ayam jenis ini, Anda akan terbuai dengen kerenyahan krispinya. Selain lembut, tepung untuk ayam goreng Honey Series ini sangat lezat untuk dinikmati.

Terakhir, yang tidak boleh Anda lewatkan adalah Salsal Series. Menu Soy Salsal Salad adalah dada ayam yang dikemas mungil-mungil ini diproduksi khusus kaya akan protein. Sajian dan tampilannya tampak indah dengan dibubuhkannya jeruk nipis. Hehingga aroma asamnya akan terasa kuat menusuk hidung. Namun, kerenyahannya lagi-lagi sangat pas terutama ketika Anda mencoba pada gigitan pertama.

Label:

Lukisan Bertolak dari yang Ada

Tidak ada yang bisa menghentikan kreatifitas seorang Putu Wijaya. Meskipun dihantam penyakit kelainan pembuluh darah pada akhir 2012 lalu, yang menyebabkan tangan kirinya tidak bisa bergerak, Putu masih menghasilkan karya-karya baik cerpen, esai hingga lukisan.

Pada Kamis malam (3/4) di Bentara Budaya Jakarta, Putu bersama anak lelakinya, Taksu Wijaya membacakan cerpen favoritnya, Merdeka dengan penuh atraktif. Meskipun tampil sambil duduk di kursi, semangat Putu masih terpancar dan menggebu-gebu. Demikian aksi Putu ketika membuka pameran lukisannya Bertolak Dari yang Ada 3-12 April 2014.

Sejatinya, Putu dikenal sebagai sastrawan, dramawan dan aktor panggung yang memiliki karakter khas. Karya-karyanya disebut sebagai pembaru kesusastraan Indonesia. Si peneror mental itu diam-diam memiliki aktvitas yang kini dilakoninya secara intens: melukis.

Dunia lukis sebetulnya bukan hal baru bagi Putu. Dia sempat belajar di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta selama setahun. Kini, kegiatan melukisnya tengah digarap kembali. Terbukti, 27 dari 40 lukisan yang diproduksinya tengah dipamerkan yang membuat sebagian kalangan cukup apresiatif dengan kehadiran karya lukisan Putu.

Salah satu lukisannya berjudul Jangan Sentuh Kami (100 x 100 cm, cat minyak di atas kanvas, 1974) hadir menghiasi pameran. Jika dibandingkan dengan karya-karya terbarunya, lukisan Putu ini akan tampak berbeda baik dari cara pemilihan warna, tema hingga isi lukisan.

Mungkin karena sudah terlihat tua, warna pada lukisan ini tampak usang. Namun, dari sini bisa terlihat bagaimana karakter lukisan awal Putu. Karyanya memberikan identitas sendiri dibandingkan dengan lukisan yang dihasilkannya pada masa berkeseniannya kini—Putu seolah asik bermain dengan warna cerah dan glamor dalam beberapa goresan di atas kanvasnya.

Memasuki 1998, Putu tampaknya sudah mulai menemukan objek dan tema lukisan. Dia mulai menggoreskan kuasnya dengan memilih tema pohon. Di sinilah relevansi antara karya sastra dan lukisnya terlihat. Bertolak Dari yang Ada, sesuai tema yang diusung pameran bisa dipahami sebagai ‘ideologi’ Putu dalam berkarya. Pada lukisan Cinta Tak Kenal Henti (60 x 70 cm, cat minyak di atas kanvas, 1990) Putu melukis pohon terbalik. Akar pohon yang seharusnya di bawah, dia jadikan di atas sebagai potret kondisi kekisruhan pada masa itu.

Pada 2000, karakter lukisan bertema pohon yang dihasilkan Putu tampak jelas. Lukisan Walau Angin Bertiup Kencang (60 x 70 cm, cat minyak di atas kanvas, 2000), menandakan Putu sudah menemukan bentuk objek lukisannya tersebut. Jika pada 1998 lukisannya masih mencari celah dan warna, pada lukisan ini, Putu sudah berani bereksplorasi dengan warna.

Hingga pada periode penyakit menyerang tubuhnya, pada 2012 itu, lukisannya sudah benar-benar berkarakter: pohon, warna dan garis yang cenderung ekspresif. "Lukisan saya kebanyakan menggambarkan tentang pohon. Tetapi saya mencoba keluar dari estetika yang ada. Saya melukis pohon tidak dengan warna yang seharusnya. Saya melukis daun dengan warna biru atau warna lainnya yang tidak melulu hijau," paparnya.

Meskipun tampak mendobrak estetika yang ada, namun lukisan-lukisan yang dipamerkan Putu setidaknya sejalan dengan apa yang dianutnya. Lukisan Matahari dan Pohon Kehidupan (120 x 90 cm, akrilik di atas kanvas, 2012) serta Wajah Kota yang Terbelah (120 x 90 cm, akrilik di atas kanvas, 2014) misalnya sangat terlihat tidak mencerminkan pohon pada umumnya. Tetapi, di sinilah sebenar-benarnya dunia Putu Wijaya yang tak mau sama dengan yang lain.

Kekhasan Putu, sekali lagi tidak bisa dilepaskan dengan cara berkesenian melalui sastra yang meneror mental. Maka menjadi wajar jika kurator pameran Ipong Purnama Sidhi mengatakan bahwa lukisan Putu diibaratkan seolah-olah pria kelahiran Bali itu sedang menata panggung teater. Bedanya, Putu tidak memainkan gerak, cahaya dan kata, tetapi lebih agresif bermain dengan warna dan garis.

Pada tafsiran Ipong, hasil karya lukis Putu merupakan memori yang terekam dalam otaknya. Terlebih, kreatifitas Putu pada lukisan semakin produktif ketika sakit menimpanya. Di situlah, lanjut Ipong, tangan kanan Putu dimaksimalkan untuk melukis dengan semangat dan daya imajinasi yang kuat.

"Apa yang dilukis Putu ketika berkesenian baik di teater atau pun dalam menulis karya sastra disimpan baik-baik di otaknya. Kemdian dia menjadikan objek gambar yang dipindahkan di atas kanvas," paparnya.

Namun, Ipong menegaskan bahwa pada lukisan tersebut, Putu tengah mencari kepuasan. Dia menilai Putu tidak sedang mencari pasar atau hal-hal yang lebih dari sekadar lukisan. Tetapi tidak menutup kemungkinan, pada pembukaan pameran yang dihadiri oleh para kolektor, seniman dan budayawan itu bakal menjadikan babak baru dalam kehidupan berkesenian Putu Wijaya. Pasar seni lukis sepertinya bakal hinggap kepada pendiri Teaeter Mandiri itu. Selamat ulang tahun Putu Wijaya.

Label:

Pancaroba

Seorang perempuan berpakaian seksi tampak meningkirkan rok mini merahnya dengan wajah penuh sinis. Mengenakan sepatu hak tinggi berwarna hijau dan tank top putih, kehadiran sosok perempuan berambut panjang itu menjadi sebuah pertanyaan.

Pertanyaan apa gerangan yang ingin dihadirkan pelukis Irul Hidayat dalam lukisannya berjudul Pancaroba Kepemimpinan pada medium akrilik di atas kanvas, berukuran 150 x 400 cm, 2014? Tampaknya, lukisan yang dipamerkan di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki Jakarta bertajuk Pancaroba-Pancaroba pada 18-29 Maret itu mengandung makna yang dalam.

Coba simak, selain perempuan seksi, sosok wajah para presiden negara Indonesia itu digoreskan dengan indah dan penuh satir. Mulai dari samping kiri, Irul menampilkan Presiden Indonesia pertama Soekarno disusul Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid (Gusdur), Megawati hingga presiden saat ini Susilo Bambang Yudhoyono.

Wajah mereka dibubuhkan warna sesuai karakter ideologi partai yang diusung mulai dari merah, kuning, hijau hingga biru langit. Tentu saja, Irul tampak merelevansikan kondisi tahun ini yang disebut tahun pemilu sebagai masa pancaroba sebuah kepemimpinan. Sesuai judul lukisan, Irul ingin menyampaikan pesan dalam lukisannya bahwa masa peralihan kepemimpinan saat ini menjadi sangat urgent untuk kepentingan semua warga negara.

Jika merujuk pada penanda pakaian yang dipakai perempuan seksi itu, maka secara tidak langsung akan berkaitan pada lambang negara Indonesia yakni merah putih. Artinya, pesan yang ingin disampaikan Irul pada lukisan tersebut sudah cukup jelas bahwa rakyat tengah was-was menyambut lahirnya pemimpin baru. Hal tersebut juga didukung oleh hadirnya penanda-penanda lain seperti lambaian tangan yang seolah mengharapkan sebuah pertolongan.

Pada pameran yang diikuti oleh komunitas Garis Cakrawala ini, para seniman memposisikan diri dan memberikan pandangan bahwa seni dihadirkan untuk mengkritik sebuah kebijakan pemerintah.  Komunitas tersebut lahir dan tumbuh di Kota Solo. Anggota Garis Cakrawala pada awalnya terdiri dari para mahasiswa Seni Murni ISI Surakarta. Saat ini, Komunitas Garis Cakrawala bergerak pada seni rupa moderen dan kontemporer.

Menyimak beberapa lukisan dari pelukis Hendra Purnama melalui lukisannya Ketika Negara Menghargai Rakyatnya, nuansa kerakyatan akan terasa kuat bagaimana lukisan bermedium minyak di atas kanvas, 135 x 135, 2011 itu cukup memberikan sebuah sindiran pedas.

Lagi-lagi, simbol kenegaraan dalam hal ini lambang negara Garuda menjadi pusat dari objek lukisannya. Mari simak bagaimana Hendra menempatkan posisi burung Garuda yang lebih besar sebagai tafsiran atas sebuah kepemimpinan dibandingkan burung-burung kecil yang berterbangan. Burung-burung kecil dan beberapa sosok manusia tersebut menjadi isyarat adanya saling harga menghargai antara pemimpin dan rakyatnya.

Pancaroba-Pancaroba, seperti tema dalam pameran ini juga menyoroti bagaimana sebuah budaya dipahami dan disikapi oleh sosok seorang pemimpin dalam sebuah negara. Pandangan tersebut sekiranya akan berdampak terhadap perkembangan sebuah budaya yang dijunjung.

Dalam catatan Hendra Himawan, kurator pameran mengatakan hilangnya nilai spiritualitas dalam kebudayaan pop digambarkan pada salah satu lukisan karya Indra Kamesyawara. Lukisan bertajuk Ungodless (akrilik di atas kanvas, 150 x 100 cm, 2014) berbicara tentang kesunyian, kesendirian yang tergambar pada sosok figur menyerupai manusia berkepala burung.

“Simbol-simbol seperti babi, ekor ikan terpotong menjadi presentasi akan nilai-nilai kemanusiaan yang tersekat. Terbelah oleh keadaan dan wacana-wacana bohong yang abai esensi,” paparnya.


Label:

Sudita Nashar

Jika ada seorang tukang ojek yang pandai melukis, jawabannya pasti dialamatkan kepada Sudita Nashar. Dengan bangga dan percaya diri Sudita Nashar yang juga putra dari salah seorang pelukis besar, Nashar menamakan dirinya sebagai Ojek Berkarya.

Pria berusia 52 tahun ini menggelar pameran tunggalnya di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki Jakarta pada 20-28 Maret 2014. Tema yang diangkat pada pameran Sudita Nashar adalah gitar. Sebanyak 25 lukisan yang dipamerkan mengambil unsur gitar yang ditafsirkan secara bebas yang tampak menarik untuk dinikmati.

Di tangan Sudita Nashar, gitar bukan lagi berfungsi sekadar alat yang mampu menghasilkan bunyi atau suara. Dia memposisikan gitar sebagai objek lukisannya menjadi metafora realitas dan fenomena yang terjadi. Pada lukisan Dialog Menuju Kemunafikan (cat minyak di atas kanvas, 125 x 145 cm, 2013), Sudita menggoreskan tiga buah gitar tanpa senar dan kepala gitar.

Gitar itu disusunya dalam segitiga berbentuk piramida berwarna putih yang menjadi latar belakang lukisan. Sementara, senar-senar tersebut yang berbentuk garis merah dia simpan seolah terpisah dari gitar yang seharusnya terpasang pada tiga gitar tersebut. Jika dicermati, pada lukisan ini dia ingin mencoba bermain dalam warna.

Bisa dilihat, warna kuning, merah, hijau, biru dan putih tampak menghiasi lukisan tersebut. Artinya, pada lukisan Dialog Menuju Kemunafikan, Sudita Nashar ingin mengaitkan wacana politik yang kerap kali tak seirama dengan apa yang dilakukan oleh para politisi. Penggunaan objek gitar pada lukisan ini setidaknya, membawa Sudita untuk menyampaikan sindirannya terhadap hiruk pikuk perpolitikan yang terjadi di Indonesia.

Simbol yang digunakan pada warna-warna lukisan tersebut mengacu pada karakter dan warna partai politik yang tengah bertarung di pemilihan umum. Dengan demikian, kiranya Sudita Nashar telah mafhum bahwa kemunafikan yang mengacu pada lukisan tersebut tercipta berdasarkan gagasan atau ingatannya terhadap janji-janji para politisi.

Pada lukisan lainnya, Sudita Nashar juga mencoba mengembalikan makna gitar. Atau setidaknya, alat musik yang menggunakan senar ini memiliki fungsi utama yakni menghasilkan sebuah harmoni yang indah untuk didengar. Namun, lagi-lagi, Sudita masih menggunakan metafora gitar untuk membentuk imaji visual lainnya.

Lukisan berjudul Penyatuan Harmoni (cat minyak di atas kanvas, 140 x 140 cm, 2013) misalnya, Sudita menggambarkan lima batang gitar tanpa tubuh. Kelima gitar tersebut berdiri tegak yang seolah menghadap sebuah surau atau tempat ibadah. Batang-batang gitar tersebut juga memiliki warna beragam.

Di sinilah, Sudita ingin menyampaikan pesan bahwa refresentasi gitar ditujukan kepada aktivitas masyrakat Indonesia. Lukisan tersebut menunjukan sebagaimana orang melakukan sembahyang. Pada lukisan ini juga, Sudita mencoba mengaitkan relasi kelompok masyarakat satu agama yang memiliki fanatisme yang berbeda. Kelompok masyarakat tersebut tampak harmonis satu sama lain ketika berada dalam satu tempat ibadah.

Artinya, beberapa penanda seperti gitar, senar dan sebuah surau menjadi penting sebagai bentuk relasi estetika yang dihadirkan Sudita Nashar. Sang pelukis tentu saja sadar, fenomena sosial yang terjadi di masyarakat kerap diributkan oleh ormas Islam dan percekcokan satu sama lain. Namun, pada lukisan Penyatuan Harmoni ini, Sudita seolah mengajak semuanya  untuk saling rukun dan damai.

Menyimak sejumlah karya yang dipamerkan, Sudita Nashar tampaknya merupakan salah satu pelukis yang akrab merenungkan kehidupan. Dia bisa saja menggoreskan kanvasnya dan berbicara tentang apa yang tengah terjadi di sekitarnya. Bukan urusan dunia saja, dalam beberapa karyanya, Sudita mengisahkan tentang pengalaman batiniahnya selaku manusia yang percaya terhadap ajal dan kematian.

Lukisan bertema kemurungan tersebut bisa dilihat pada Perempatan Maut (cat minyak di atas kanvas, 145 x 145, cm), Matahari Tenggelam (cat minyak di atas kanvas, 140 x 140 cm, 2011) dan Menuju Angan-Angan (cat minyak di atas kanvas, 145 x 145, cm). Pada lukisan tersebut, Nashar dengan apik membentuk perumpamaan gitarnya masing-masing sebagai jalan yang berliku, jalan lurus menuju cahaya dan jalan menuju ke atas—kepada Sang Pencipta.

Maka tidak heran, dari kesemua lukisan yang menggunakan objek bertema gitar, Sudita menjadikan gitar sebagai barang seni yang tidak hanya menghasilkan bunyi. Akan tetapi, gitar menurut pandangan Sudita adalah ruang yang mewujud, estetis dan sebagai karya yang indah bagi penikmat seni seperti halnya suara gitar.

*Bisnis Indonesia Weekend

Label:

Pameran Jakarta Contemporary Art Space

Lantai 2 Kantor Pos Indonesia di kawasan Kota Tua Jakarta itu dipenuhi beragam karya seni rupa. Ratusan wajan belah, pecah dan bolong disulap menjadi sebuah karya seni. Salah satunya instalasi berjudul Answering My Own Wave karya Teguh Ostentrik. Instalasi seni tersebut tak lagi berwujud wajan sebagaimana fungsi aslinya.

Teguh menyulap wajan-wajan itu menjadi sebuah suguhan yang menyerupai gelombang ombak laut. Wajan, sebagaimana diketahui adalah produk sosial masyarakat yang digunakan untuk memasak. Kehadiran wajan yang awalnya berasal dari Cina itu telah menyebar ke penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Gagasan Teguh dalam melahirkan instalasi dari wajan ini dihadirkan sebagai penghormatan atas peralatan masak yang kerap diremehkan. Wajan jarang dimunculkan atau dibicarakan kecuali hanya di dunia masak, dapur dan kuliner. Dengan gagasan tersebut, Teguh ingin memunculkan paradigma baru dalam berkesenian. Artinya, medium yang diciptakan tak melulu dihasilkan dari barang atau komoditas yang banyak digunakan seniman lain.

Karya instalasi ini juga sekaligus dijadikan sebagai pengingat bahwa metafora yang dihadirkan adalah untuk menghargai hal-hal kecil yang sebenarnya berharga. Dengan demikian, sejauh mungkin wajan dalam instalasi ini mencoba menjauh dari pemaknaan sebagai alat masak. Namun, pengunjung dibebaskan untuk menafsir seleluasa mungkin.

Selain karya Teguh Ostentrik, dalam pameran pembukaan Jakarta Contemporary Art Space (JCAS) ini juga menghadirkan para seniman kontemporer lain. Dengan total 46 seniman, karya-karya yang dihadirkan baik melalui lukisan dan instalasi memiliki benang merah yaitu semangat Fatahillah, Kota Tua Jakarta. Pameran berlangsung dari 13 Maret hingga 13 September 2014.

Berbeda dengan Teguh, instalasi Made Wianta, seniman asal Bali memamerkan karyanya berjudul Air Pollution. Sebuah karya dari tumpukan beragam knalpot motor yang dilas menyerupai gunung sebagai wujud kritikan pedas terhadap kondisi lingkungan.

Baik Teguh maupun Made, dalam pameran ini mengedepankan medium yang jarang digagas seniman lain. Merujuk pada karya seni kontemporer, medium yang dihadirkan para seniman memberikan pemaknaan jauh dari fungsi utama atas medium itu sendiri. Artinya, batas-batas makna pada medium tersebut bukan lagi bicara ihwal tafsir yang utuh, tetapi kehadiran makna lainlah yang dengan sendirinya berbicara tafsiran baru.

Seni rupa kontemporer, sebagaimana yang dilakukan seniman Tisna Sanjaya pada kesempatan yang sama berhasil mengkombinasikan dua gagasan seni lukis dan seni tradisional Reak yang menarik. Tidak kurang dari satu jam, Tisna menghasilkan lukisannya berjudul Hudang (Bangun) yang merujuk pada eksistensi seni tradisional itu sendiri.

Pada proses melukisnya, Tisna jauh berbeda dibandingkan dengan peserta seniman lain. Tisna melukis on the spot pada empat kanvas yang masing-masing berbicara soal seni tradisi. Gagasan yang ada dibenaknya ketika melukis diiringi irama kesenian tradisional Reak mewujud dalam empat kanvas tersebut. “Lukisan ini berbicara tentang semangat untuk membangkitkan kembali seni tradisional yang selama ini seolah tidur dan jarang diminati masyarakat moderen,” paparnya.

Lain Tisna, lain juga dengan seniman Angki Purbandono. Seniman yang mengaku pendatang baru ini menghadirkan karyanya berjudul Taxi Lover. Angki menyusun 52 potret aneka macam taksi berukuran 27 x 52 cm dan 4 potret taksi berukuran 57 x 107 cm. Konsep berkesenian Angki cukup unik. Dia menyusun potret-potret tersebut dalam light box sehingga potret yang dihasilkan tampak menarik untuk disimak.

Gagasan dan tema karya Angki tampak fokus memilih suasana, interior dan sisi unik taksi yang mengaspal di Jakarta. Dia memposisikan sebagai penumpang yang kemudian memotret kondisi Jakarta di dalam taksi. Di tangan Angki, ide tersebut justru menjadi seni yang unik dan patut diapresiasi. Dengan penyusunan potret-potret tersebut secara rapi. Warna-warni Jakarta dari sudut taksi terlihat menarik.

Sementara, seniman Mella Jaarsma mencoba menampilkan karya berjudul Surat Terakhir. Medium yang dihadirkan Mella antara lain pakaian, kayu, kaca, gelas untuk menyerupai sosok manusia. Cermin kaca yang dijadikan kepala manusia itu, dalam pandangan Mella justru menjadi titik menarik dalam karyanya.

Karya yang disuguhkan Mella mencoba mengaitkan dengan Kantor Pos, di mana dia sedang melaksanakan pameran. Surat Terakhir hadir dengan mengacu pada gagasan gedung bersejarah itu yang tengah memasuki tahap baru. Dengan tujuan, menemukan cara lain untuk mengirim pesan melalui seni.

Sebagaimana diketahui, kawasan Kota Tua termasuk Kantor Pos merupakan bangunan hasil masa Belanda. Dengan karya yang diciptakan, empat pakaian bercorak putih yang digantungkan itu kerap digunakan oleh para elit kaum Belanda. “Saya terinspirasi oleh lokasi ini. Kantor Pos ini menjadi pusat komunikasi untuk waktu yang sangat lama, saat surat memegang peran dalam komunikasi antara Indonesia dan Belanda,” paparnya.

Pelukis Agus Suwage menampilkan lukisan berjudul Belajar Pada Alam (oil on canvas, 150 x 200 cm, 2013). Lukisan itu berbicara sebuah pemandangan laut yang dikombinasikan dengan metafora buku di tengahnya. Beberapa kata Rawatlah dan Jagalah dalam lukisan tersebut merupakan ajakan dari Agus untuk memelihara alam sebagai nafas bagi manusia.

*Bisnis Indonesia Weekend

Label:

Demonstran

Teater Koma mementaskan lakon Demonstran karya sutradara Nano Riantiarno di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta pada 1-15 Maret 2014. Lakon Demonstran berkisah ihwal pencarian identitas mantan aktivis bernama Topan yang kelak sudah mapan atas hasil jerih payahnya turun ke jalan selama 20 tahun.

Tokoh Topan diperankan Budi Ros. Semenara Bunga, istrinya dimainkan oleh Cornelia Agatha. Keduanya menikah dan berumah tangga. Bunga sangat setia terhadap Topan selama berjuang menjadi demonstran. Kondisi ekonomi Topan dan Bunga sudah mapan setelah menjadi saudagar sukses dan terkenal. Topan tidak mau lagi demonstrasi karena menganggap sudah tak ada lagi yang dia cari.

Beberapa kawan anak buah seperjuangannya, Niken, Wiluta dan Jiran masih bersemangat berdemonstrasi. Beberapa kali mereka membujuk Topan untuk turun ke jalan. Namun, Topan menolak bahkan menyuruh mereka mencari sosok demosntran baru. Padahal, sosok Topan setiap tahunnya diperingati sebagai seorang pahlawan. Sampai-sampai, seorang Pejabat-T membuatkannya Patung Topan sebagai penghormatan. Topan dianggap berjasa telah menumbangkan rezim otoriter 20 tahun silam.

Kondisi berubah. Bunga, sang istri Topan yang dekat dengan Pejabat-T menjadi titik balik seorang Topan untuk kembali turun ke jalan. Dia merasa hasil yang telah diraupnya itu tidak berarti apa-apa. Niat busuk Pejabat-T yang ingin menjadi presiden menjadikan Topan sebagai tumbal. Di tangan ajudan Pejabat-T bernama Bujok, Topan tewas terkena timah panas di kepalanya.

Lakon Demonstrans ditulis Nano Riantiarno pada 1989. Awalnya lakon ini berjudul Topan, Sang Demonstran. Namun nano mengubahnya menjadi Demonstran saja. Lakon Demonstran mengandung satir, kritik dan sindiran yang pedas. Kisahnya sangat relevan dengan kondisi dan fenomena yang terjadi di Indonesia.

Bukan Teater Koma nananya jika setia lakon yang dipentaskan tidak keras mengkritik. Bahkan hal yang tak terpikirkan misalnya, ketika Topan diwawancarai para jurnalis yang mendorongnya maju sebagai calon pemimpin. Usai Topan diwawancara, para jurnalis tersebut dibagi hadiah dan amplop berisi uang. Cerminan tersebut cukup menyentil fenoman media di Indonesia.

Namun itu tak seberapa, dalam Demonstran, beberapa adegan malah lebih banyak lagi menyindir situasi politik dan ekonomi Indonesia. Kecurangan, korupsi, kolusi dan nepotisme nampak hadir menghiasi sepanjang pementasan lakon. Konon, upaya sindirian dan kritikan pedas sudah menjadi ciri khas Teater Koma.

Lakon yang diproduksi ke-132 ini berdurasi sekitar 180 menit. Tata panggung yang cukup wah memberikan kesan tersendiri terhadap penonton. Improvisasi tim artistik cukup berhasil menata tata letak yang dibutuhkan. Sehingga, pertunjukan berjalan tanpa gangguan pandangan penonton.

Lakon Demonstran juga mampu mengatur waktu dan jeda beberapa adegan. Pemilihan adegan serius dan humor sebagai pemanis lakon berhasil membuat sebagian penonton betah untuk menuntaskan lakon hingga usai. Sayangnya, dalam Demonstran, Teater Koma sepertinya masih belum percaya diri menampilkan tokoh utama yang diperankan oleh generasi muda.

Dalam Demonstran, bisa dilihat para aktor muda sebagian besar diposisikan sebagai pemeran pembantu. Sementara beberapa aktor senior dipercaya menjadi pemeran uatama. Tentu saja, sebagai teater yang fenomenal dan masih kuat bertahan, Teater Koma punya asalan sendiri memilih siapa aktor utama. Namun, sebagian penonton tentu saja ingin menyaksikan bagaimana sepak terjang para aktor pendatang baru. Bukan hanya menyajikan para aktor senior yang sudah diakui keaktorannya.

Label:

Mengakrabi Garis dan Warna Lukisan Sahat Simatupang

Dua anak kecil itu berkunjung ke Graha Cipta II, Taman Ismail Marzuki Jakarta pekan lalu. Mereka datang bersama orangtuanya. Dengan wajah kebingungan, salah satu dari sang anak itu menatap lukisan karya Sahat Simatupang berjudul Wajahnya (cat minyak di atas kanvas, 80x100 cm, 2012). “Yang ini judulnya Wajahnya,” kata sang anak sambil menunjuk lukisan.

Jika dilihat sekilas, lukisan Wajahnya tampak seperti corat-coret semrawut. Warna merah, hijau, kuning, biru, hitam tampak tergores kuat. Namun, Sahat tentunya bukan semata-mata menggoreskan garis dan pada lukisannya. Jika dicermati lebih detail, corat-coret itu membentuk sebuah wajah. Mata, hidung dan bibir terlihat tertutup seolah telah terdistorsi garis dan bentuk-bentuk lain yang menyatu.

Sahat, dalam Pameran Tunggal Lukisan Sahat Simatupang yang berlangsung pada 4-14 Maret 2014 itu memang dikenal sebagai generasi pelukis abstrak. Kerapkali, Sahat melukis dengan bentuk yang 'tak jelas' tetapi tetap memiliki makna terkandung. Pada lukisan berjudul Irama (cat minyak di atas kanvas, 70x90, 2012). Sahat melukis dengan menghadirkan sosok manusia yang tengah saling berjabat tangan dalam sebuah putaran.

Pada lukisan ini Sahat membuat garis menyerupai bentuk tubuh manusia. Tubuh-tubuh itu bersatu sama lain dengan jumlah delapan tubuh manusia. Garis-garis subjek manusia pada goresannya memang tidak terlalu tebal. Ketebalan garis justru digoreskan sebagai unsur latar belakang lukisan ini. Artinya, Sahat menonjolkan latar belakang warna merah dan kuning untuk memunculkan garis manusia tadi yang hanya berwarna putih dan hitam.

Pada lukisan Merokok (cat minyak di atas Kanvas, 35x35 cm, 2002). Sahat cukup apik menggoreskan garisnya pada wajah seorang perempuan yang tengah menghisap rokok. Lukisan ini hanya membubuhkan warna hijau tua dan krem. Tetapi komposisinya cukup pas sehingga memberi kesan garis wajah perempuan tersebut seolah menampilkan wajah seseorang yang sempurna.

Pada lukisan Bermain Dengan Malam 2 (cat minyak di atas kanvas, 75x150 cm, 2014). Sahat lebih ekstrem membubuhkan lukisan abstraknya. Berbekal dari karya-karya sebelumnya, Sahat sepertinya telah menemukan pengalaman batin baru dalam memainkan warna. Lukisan ini bisa menjadi salah satu buktinya. Dia menggabungkan komposisi warna kuning, putih, merah, cokelat dan hitam.

Eksperimen warna juga bisa dilihat pada lukisan Bermain Dengan Malam 1 (cat minyak di atas kanvas, 75x150 cm, 2014). Dominasi warna hijau tua dan muda tampak lebih kuat. Sehingga pada lukisan ini Sahat seolah ingin tampil atau muncul dengan warna yang segar, tidak cenderung kelam dan gotik seperti pada karya-karya sebelumnya. Kedua lukisan Bermain Dengan Malam sendiri bercerita tentang kehidupan malam yang penuh dengan warna-warni, baik sebagai simbol, metafora atau fenomena yang nyata terjadi di dunia.

Kecintaannya terhadap garis juga diperlihatkan pada lukisan berjudul Wanita Garis Putih (cat minyak di atas kanvas, 60x80 cm, 2003). Lukisan berusia lebih dari 10 tahun ini dipenuhi oleh warna merah, kuning dan kombinasi warna biru dan hijau. Sementara, garis yang membentuk seorang perempuan tengah duduk menyamping hanya menggoreskan warna putih saja.

Inilah dalam pandangan Prisade, seorang karib Sahat Simatupang melalui catatan kuratorialnya menyebutkan keakraban Sahat tidak bisa dipisahkan dengan garis. “Garis yang dihidupkan secara terus menerus [pada karya-karya Sahat Simatupang] bisa juga dikatakan bahwa garis itu tidak lain adalah dari garis hidup dirinya sendiri,” katanya.

Dari beberapa lukisan yang dipamerkan, tampak sekali evolusi garis yang digoreskan Sahat. Jika pada era 2000-an Sahat lebih memilih menggoreskan garis tipis, maka setelah pada 2010-2014, garis-garis pada lukisan Sahat yang cenderung abstrak itu lebih tebal dengan pemilihan warna yang kaya pula.

Prisade menambahkan, kendati lukisan Sahat beraliran abstrak dengan garis-garis yang membentuk banyak tema itu, Sahat masih memposisikan diri sebagai pelukis yang konsisten dengan prinsipnya. “Jadi, ketika melukis, Sahat tidak melukis dengan suatu pikiran yang kosong dan perasaan yang buta,” paparnya.

*Bisnis Indonesia Weekend

Label:

Masakan Cina

Berkunjung ke Lotte Shopping Avenue, Ciputra World I, Jakarta, rasanya tak afdol jika tidak mampir ke restoran Modern Asian Diner (MAD) yang berada di lantai 4. Restoran ini tidak hanya menyajikan beragam menu makanan. Namun, pengunjung akan dimanjakan dengan arsitektur yang unik dan elegan.

Tak percaya? Cobalah lihat sekeliling restoran. Mata Anda akan langsung dibuat kagum dengan konsep desain bangunan MAD ini. Pemilihan warna cat, dekorasi hingga ornamen yang tertera di MAD akan membuat betah dan nyaman. Anda tak perlu repot menunggu hidangan yang dipesan. Tinggal duduk dan menikmati pemandangan kota di balik jendela, pelayan akan mengantarkan menu pesanan tak sampai 20 menit.

Menu yang ditawarkan sebagai hidangan pembuka tentu sangat menggugah selera. Truffle Dumpling, Cream Crab Croquet dan Spicy Salmon Spring Roll adalah appetizer yang patut dicoba. Dihidangkan dengan alas yang unik, Anda akan buru-buru melahap terlebih dahulu Truffle Dumpling yang kenyal dan kaya akan rasa. Isinya, tentu saja aneka sayuran sebagai pemancing selera makan.

Lalu iciplah Cream Crab Croquet. Meski berukuran mini, makanan yang lebih dikenal dengan keroket ini mempunyai tekstur yang enak dipandang mata. Rasanya pun sangat lezat dan empuk. Tepung dan saus dalam hidangan ini terasa pas untuk lidah orang Indonesia, meskipun MAD sendiri dikenal sebagai Chinese food.

Untuk menu Spicy Salmon Spring Roll, Anda akan mencium sedikit wangi yang khas. Menu ini juga berisi sayuran dari bahan berkualitas. Salmon yang dihancurkan hingga rata ini bahkan tidak tercium bau amis. Teksturnya sederhana dengan tambahan mentimun yang dipotong bulat dan tampak segar.

Nah, setelah melahap semua menu pembuka, minuman Strawberry Shortcake yang juga disediakan MAD akan segera menetralisir makanan yang dilahap tadi. Dalam gelas bulat yang cantik, bentuk minuman ini tampak kemerahan. Aroma strawberry tercium. Rasa asam yang segar membuat lidah ingin terus menyeruput hingga habis.

Keunggulan di restoran MAD ini membuat pengunjung merasakan kehebatan kuliner berkelas. Sentuhan kulinari timur yang sarat akan eksotisme rasa serta kombinasi kuliner barat tampak terasa. Namun, bedanya di restoran MAD ini, Anda akan disuguhkan dengan suasana modern dan santai.

Menu yang disajikan tentunya merupakan menu pilihan. Wagyu Beef Claypot Rice adalah salah satunya. Menu ini akan membuat Anda ketagihan dengan berisi truffle oil dan telur onsen yang memikat pandangan mata. Cara penyajian menu utama ini terlihat cantik. Potongan-potongan beef ditempatkan tepat diatas nasi. Sementara telur olsen ditumpuk di tengah.

Daging pada menu ini sangat empuk dan Anda tidak akan sama sekali menemukan daging yang liat. Rasa dagingnya gurih dan lezat. Lalu, cobalah rasakan aroma dari nasinya yang lembut dengan lumuran truffle oil yang membuat bentuk nasi ini tampak menggugah. Dan yang terpenting, sausnya terasa pas sehingga, rasa beef dan nasinya tidak hilang.

Maka, kiranya ungkapan Johan Handojo, salah satu pemilik MAD benar. Dia mengatakan, restoran MAD berdiri bukan hanya sebagai tempat untuk makan dan mengenyangkan perut semata. MAD yang dibangun oleh Tung Lok Restaurant Ltd, grup restoran di Singapura ini bahkan bisa disebut sebagai destinasi gaya hidup kaum urban Jakarta.

Restoran MAD sendiri memiliki kapasitas 200 kursi dengan tampilan open concept kitchen and bar. Restoran MAD juga mengklaim sebagai restoran yang memiliki robotic kitchen di Indonesia. “Tentunya kehadiran MAD diharapkan mampu bersinergi dengan kebutuhan kuliner dan gaya hidup masyarakat saat ini,” paparnya.

Johan menambahkan, selain MAD, Tung Lok Restaurant juga sekaligus meresmikan My Humble House yang juga berlokasi di Lotte Shopping Avenue lantai 5, Ciputra World Jakarta. Restoran ini memiliki luas 700 meter dengan kapasitas 200 kursi. Interior My Humble House dirancang sangat artistik berbahan kayu dan bebatuan. Restoran ini dibuka untuk weekdays pada pukul 11.00-23.30. Sementara untuk weekends dan public holiday buka pada 10.00-23.00.

*Bisnis Indonesia Weekend

Label:

Artefak dari Bentara Budaya

Patung terbuat dari kayu itu tegak berdiri. Warnanya cokelat dengan tubuh telanjang. Kedua tangannya mengapit sebuah kaki patung lain. Patung ini diukir oleh orang-orang suku Asmat. Tradisi mengukir di Asmat lahir dari upacara keagamaan yang dianut.

Suku Asmat masih mempertahankan kepercayaan terhadap nenek moyang. Di beberapa wilayah di Asmat bahkan terdapat upacara pengorbanan pemotongan kepala manusia dan kanibalisme untuk menenangkan arwah nenek moyang. Maka, dalam sosok-sosok patung ukiran tersebut konon terdapat roh nenek moyang.

Ragam dan bentuk seni ukir suku Asmat memang didominasi oleh warna kecokelatan. Hal tersebut merujuk pada seni tradisi sebagai pengabdian baik kepada ruh leluhur atau kepercayaan lain. Seni ukir patung Asmat dianggap memiliki kekuatan gaib. Sehingga keanekaragaman seni di Asmat terus dilestarikan.

Patung-patung itu terkumpul dalam Pameran Keramik & Kayu di Bentara Budaya Jakarta yang berlangsung pada 27 Februari - 9 Maret 2014. Sebanyak 90 koleksi yang juga milik Bentara Budaya tersebut dipamerkan kepada khalayak. Keramik koleksi tersebut merupakan hasil perintisan, perburuan dan pengumpulan oleh PK Ojong, salah satu pendiri Kompas Gramedia yang mencapai lebih dari 1.000 koleksi.

Coba tengok Baju Shaman misalnya. Baju ini biasanya dikenakan ketika upacara oleh seorang dukun di suku Asmat. Sepintas, kita akan langsung teringat akan orang-orangan sawah jika melihat wujud Baju Shaman ini. Baju tersebut terbuat dari rumput kering, kulit kayu, daun pandan hutan yang dikeringkan serta diberi ornamen kerang-kerang dan tanduk rusa.

Kemudian, beberapa senjata asal Asmat juga tak lupa dipamerkan. Tombak, misalnya yang terbuat dari kayu dengan ujungnya yang tajam dilengkapi penutup terbuat dari paruh burung atau kuku burung kasuari. Mata tombak Asmat ini memiliki gerigi yang beragam. Bentuknya ada yang polos tetapi tajam. Senjata ini digunakan oleh orang asmat sebagai alat untuk mempertahankan hidup.

Sementara, koleksi keramik yang dimiliki Bentara Budaya berusia beragam mulai dari abad ke-10. Beberapa keramik berwarna biru dan putih terlihat berjejer di sudut kanan Bentara Budaya. Keramik ini diperkirakan dibuat pada abad ke-18 hingga 19 dari Dinasti Ching. Keramik-keramik ini berfungsi sebagai tempat duduk berbentuk segi enam dan bulat.

Bentara Budaya juga memiliki beberapa guci pada masa Dinasti Tang yang bertipe Guangdong pada Abad ke-8 hingga 9. Pada masa tersebut koleksi-koleksi dibuat dengan bentuk sederhana, tanpa hiasan atau masih berbentuk kasar kekuningan yang tidak merata. Guci tersebut konon banyak ditemukan di Jawa Tengah.

Dua buah guci berukuran sedang terlihat sudah mulai rusak terutama di bagian mulut guci bagian atas. Di badan guci pun terlihat mengelupas sehingga warnanya kelihatan agak pudar. Sementara, koleksi jenis Tempayan pada masa Dinasti Yuan abad 12-14 masih tampak orisinal tanpa polesan warna. Beberapa Tempayan berbentuk botol itu diduga telah digunakan untuk air raksa pada masanya.

Ipong Purnamasidhi, Kurator Bentara Budaya Jakarta dalam catatan kuratorialnya mengatakan dengan digelarnya pameran tersebut, Bentara Budaya Jakarta mencoba tidak membatasi diri dengan rentang waktu, jenis bahan dan muasal kehadiran keramik yang dikoleksi sejak 1980-an tersebut.

Menurutnya, justru Pameran Keramik & Benda Kayu, menghadirkan keanekaragaman keramik dari sisi bentuk. Beberapa bentuk koleksi bisa dilihat dari gerabah berbentuk celengan, cetakan kue, guci botol, gentong, guci hingga piring yang diperkirakan berasal dari dinasti Cina.

Sementara, koleksi benda-benda yang berasal dari Asmat diperoleh juga pada 1980-an. Pihaknya mengakui, sejak pengoleksian dilakukan, artefak bersejarah tersebut disimpan di ruang khusus Bentara Budaya dan jarang dipublikasikan ke khalayak luas. “Maka, melalui keragaman bentuk dan historik ini, kami ingin berbagi dengan khalayak tentang keunikan koleksi Bentara Budaya Jakarta,” ujarnya.

Label:

Sajian Lezat di Restoran 1001 Hotel

Berkunjunglah ke 1001 Hotel di Jalan Kunir 7, Jakarta Barat. Selain didaulat sebagai tempat istirahat, hotel ini menyajikan 'surga dunia' tersendiri. Tempat karaoke, club dan restoran adalah fasilitas yang recommended untuk disinggahi. Khusus club, yang diberi nama Colosseum itu tampak megah dengan lampu-lampu yang khusus didatangkan dari Ibiza

Konsep bangunan restoran 1001 Hotel tampak unik. Pencahayaannya pas. Meja makannya bersih dan elegan. Dinding tembok penuh dengan ornamen seni yang enak dipandang. Dan paling penting, menu-menu yang disajikan bisa membuat lidah terus bergoyang tak henti-henti.

Saya merasakan sendiri menu Soto Tangkar. Menu ini merupakan salah satu dari ratusan menu yang ditawarkan. Dagingnya begitu empuk. Kuahnya wangi, gurih, dan kental. Apalagi irisan kentang, kikil dan urat dalam Soto Tangkar terus membuat saya tak henti mengunyah sambil menyeruput kuahnya.

Eits... Tunggu dulu. Untuk memesan Soto Tangkar, saya hanya duduk manis selama 10 menit. Setelah itu, sang pelayan dengan sigap menyuguhkannya di meja. Untuk menikmati menu ini, sang koki merekomendasikan dengan minum teh manis hangat saja.

Ah, saya penasaran mengapa daging Soto Tangkarnya begitu empuk dan memanjakan lidah. “Khusus daging Soto Tangkar, kami merebusnya selama tiga jam. Ini yang membuat dagingnya tidak liat dan pas untuk disantap,” kata Sakino Salim, sang koki andal 1001 Hotel.

Ini baru hanya satu menu. Tak lama berselang, sang pelayan menyajikan beberapa menu lainnya. Beef Teriyaki. Ya, ini menu yang terdiri dari daging sapi, nasi, sayuran dan kuah yang terpisah. Pertama, saya mencicipi kuahnya terlebih dahulu. Dan, wow... Lezatnya minta ampun. Apalagi, untuk menambah nikmatnya menyantap menu ini, sesekali saya melahap menu lain yang disajikan, yakni Fried Bean Curd atau tahu goreng yang menggugah selera. Ditambah, sajian saus tomatnya yang asam dan bikin ketagihan.

Oh ya, menu yang paling diburu dari restoran ini adalah Shabu-Shabu. Arie Darmadji, pengelola 1001 Hotel mengatakan, pasar terbesar restoran ini adalah dari berbagai kalangan. Shabu-Shabu menjadi incaran baik tamu hotel ataupun pengunjung club dan karaoke. “Bedanya Shabu-Shabu di sini ada saos kacang ditambah dengan sambel seafood. Hanya di restoran ini saja menu tersebut bisa dinikmati. Kami mengkombinasikan style dari Thailand dan Japanese,” paparnya.

Dia mengatakan, menu lain yang ditawarkan tentu saja mulai dari tradisional hingga Chinese food yang siap untuk dilahap. Anda mungkin belum akrab dengan menu Nasi Goreng Siram Udang dan Oyong. Menu ini juga salah satu yang unik dari restoran 1001 Hotel.

Nasi goreng ini sengaja disiram kuah yang gurih. Irisan udang dan oyong membuat tekstur dan tampilan menu ini semakin greget untuk disantap. Konon, kata sang koki, menu ini cocok untuk dinikmati dan bisa meredam kala pengunjung kelelahan seusai clubbing.

Namun, mari lupakan sejenak. Ada menu lain lagi yang patut dilibas: Ayam Goreng Cah Pedas. Hmm... Menu ini memang lezat bukan main. Enaknya benar-benar nagih. Jika diibaratkan, menu ini cocok ketika Anda tengah santai atau nonton televisi. Goreng ayam yang terpotong kecil-kecil, membuat Anda seolah tengah ngemil kacang, karena sebelum habis, Anda tak akan berhenti mengunyah.

Menu lain yang tak boleh dilupakan juga adalah Sop Buntut Goreng Sambel Bali. menu ini tak kalah lezatnya dengan yang lain. Sakino menambahkan, selama beberapa pekan ini, dia juga tengah mempromosikan menu Paket Bubur. Isinya tentu saja bubur, ceker ayam, tahu asin, telur asin ala Singapura, dan ayam kampung rebus.

“Untuk menu paket yang spesial ini, saya anjurkan agar menikmatinya pada sekitar pukul 02.00 - 03.00 pagi. Karena ketika disantap pagi, Paket Bubur ini benar-benar terasa lezat,” paparnya. 

Paket menu ini harganya terjangkau. Cukup mengeluarkan Rp500.000, Paket Bubur bisa dinikmati untuk 8 orang. Sementara untuk paket 6 orang hanya merogoh kocek Rp400.000. Dan 2-3 orang cukup Rp300.000. Untuk minuman dan cuci mulut, Anda bisa memilih aneka jus, es krim, pisang goreng keju dan lainnya. Selamat menikmati indahnya surga dunia di 1001 Hotel.

*Bisnis Indonesia Weekend

Label:

Unjuk Gigi Para Pelukis ISI

Lukisan Sejuta Anak Ayam terpajang paling depan di Gallery Kemang 58, Jakarta Selatan. Lukisan bercat minyak di atas kanvas dibuat pada 2014 itu tampak kasar dan khas. Bagi sebagian pecinta lukisan, karya berukuran 35x35 cm itu mudah ditebak. Pembuatnya tentu saja dialamatkan kepada Djoko Pekik. Seniman asal Yogyakarta yang dikenal sebagai pelukis satu miliar.

Bergeser ke sudut lain, tiga lukisan Soetopo berjudul Petan, Kerokan, dan Pasar Burung tampak khas terlihat. Tema-tema kerakyatan masih akrab pada goresan kuas Soetopo. Ketiga lukisan itu dibuat pada 2013 dengan ukuran 35x35 cm. Kesemua lukisan berkisah tentang kehidupan sehari-hari warga kampung.

Djoko Pekik dan Soetopo memang biasa dikenal sebagai pelukis bermedium kanvas besar. Kali ini, mereka ditantang untuk membuat karya lukis berukuran 35x35 cm dalam pameran ISI ISI yang digelar pada 19 Februari- 16 Maret 2014. Pameran ini melibatkan 139 seniman lukis dan patung asal Yogyakarta. “Kebanyakan yang terlibat adalah seniman Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dari berbagai periode,” kata D. Safitri A dari Talenta Organizer selaku penyelenggara pameran.

Pameran ISI ISI boleh disebut sebagai pameran seni egaliter. Meskipun di dalamnya terdapat pelukis besar. Para seniman diajak untuk guyub dan tidak dituntut untuk merasa paling senior atau terkenal. Semua karya lukis dan instalasi diseragamkan satu ukuran.

Lihatlah, karya seniman kawakan Djoko Pekik, Soetopo, Ipong Purnomosidhi, M. Agus Burhan, Dyan Anggraini, Ivan Sagita, atau Sigit Santoso yang dipajang sejajar dengan karya pendatang baru lainnya. Ini menunjukan pameran yang sudah direncanakan setahun lalu itu berhasil membuat kebersatuan para seniman secara utuh.

Memang, jika bicara ukuran, masing-masing seniman memiliki hak bagaimana melukis dengan medium dan ukuran yang dikehendaki. Namun pada pameran ini, keseragaman ukuran menjadi tantangan tersendiri. Semua seniman dipaksa bereksplorasi berkarya menggunakan ukuran 35x35 cm.

Pelukis realis Sigit Raharjo yang terbiasa menggunakan ukuran kanvas besar pun akhirnya berhasil menuangkan gagasannya dalam kanvas kecil. Dia membuat tiga lukisan berjudul Jago Klawu Bendo, Jago Wido Cempoko dan Semprong. Ketiga lukisan tersebut menggambarkan muka ayam jago dengan hasil yang sangat sempurna. Detail warna dan anatomi ayam jago digoresnya begitu rapi.

Bukan apa-apa, salah satu tujuan digelarnya pameran ini adalah untuk mendekatkan para seniman satu sama lain. Diharapkan, para pelukis pendatang baru yang memiliki bakat di atas rata-rata mampu mengikuti jejak para pendahulunya. Karya-karya yang ditampilkan pun beragam aliran. Dari mulai realis, ekspresionis hingga abstrak.

Kebersatuan inilah yang kiranya bakal menjadi pemersatu antara para seniman baik lukis atau pun patung di Yogyakarta. Mari simak, karya Rato Anggela berjudul Bye Good Night dan Hello Good Morning. Keduanya dipajang sejajar dengan barisan lukisan para pelukis pendahulu. Pelukis kelahiran 1990 ini tampak khas dengan karya yang berbicara tentang fenomena urban kota dan realitas masyarakat.

Oei Hong Djien, kolektor lukisan ternama mengatakan konsep dalam pameran ISI ISI memang berbeda dari pameran biasanya. Menurutnya, ada seniman yang lebih bagus berkarya dalam format kecil sehingga bisa lebih mudah dimiliki para kolektor. “Saya melihat Isen Isen atau ISI ISI merujuk kepada konten. Karena karya bagus itu memiliki konten,” katanya.

Sementara, kritikus seni rupa sekaligus dosen Fakultas Seni Rupa & Pascasarjana ISI Yogyakarta Suwarno Wisetrotomo memaparkan bahwa pameran ISI ISI yang melibatkan ratusan seniman ini atas nama kebersamaan. Menurutnya, peristiwa tersebut bukan didorong oleh ikatan ideologi yang sama atau gerakan pemikiran.

Ukuran yang telah ditetapkan 35x35 cm bagi semua seniman merupakan keunikan tersendiri untuk berkreasi. Para seniman yang terlibat akan melahirkan energi bersama ketika hasrat individu ditekan. Bahkan, dia memaparkan para seniman yang tidak terlibat dipersilahkan untuk cemburu dan berempati atas perbedaan ruang personal dan sosial yang dibangun.

“Mereka, para seniman dengan tindakannya yang sederhana ini berpameran bersama memilih jalan tengah, tidak sok intelektual, juga tidak sok seniman dan juga bukan karena rendah diri,” paparnya.

*Bisnis Indonesia Weekend

Label: