Minggu, 01 Mei 2016

Depok Police Expo, Pokja dan Selamat Bertugas Kombes Pol Dwiyono

Beberapa bulan lalu, sebuah gagasan sempat terbersit: bagaimana kalau Pokja Wartawan Depok menggelar pameran foto di Margo City. Pameran foto-foto hasil karya anggota Pokja tentang Kota Depok.

Beberapa anggota Pokja antusias dan tertarik. Namun gagasan itu tiba-tiba tenggelam, seolah terlupakan.

Belakangan, awal April lalu, tiba-tiba Ketua Pokja, Hidayatul Mulyadi sambil setengah berbisik melontarkan kelanjutan ide tersebut yang lebih menarik: "Ini ada orang Margo ngajak kita buat bikin acara pameran tentang kepolisian. Waktunya digelar sekitar akhir April."

Saya mengiyakan ajakan tersebut sambil setengah pesimis. Karena, waktu sekitar tiga minggu mana mungkin cukup untuk persiapan. Apalagi kegiatan ini membawa nama Polresta Depok. Ah... Ini cuma mimpi, saya bilang dalam hati. Terlebih tidak ada bantuan dari pihak profesional dalam pengonsepan acara.

Saya lebih pesimis lagi. Berikut, program Pokja masih banyak yang belum terealisasikan. Maka saya segera bilang agar bentuk dulu kepanitiaan masing-masing untuk lebih memudahkan komunikasi.

Ada tiga agenda Pokja saat itu yang tengah digodok, yakni Pokja Goes to School, Futsal Wali Kota Cup dan Depok Police Expo (DPE). Agenda DPE ini termasuk yang harus segera dilaksanakan, mengingat pihak Margo hanya mampu memfasilitasi waktu pada akhir April.

Saya senang temen-temen Pokja antusias menggelar rapat untuk memuluskan DPE. Mereka mulai berkoordinasi dengan pihak Margo City yang memfasilitasi acara dan pihak Polresta Depok sebagai objek kegiatan.

Saya tidak terlalu terlibat dalam proses pematangan acara. Karena saya masih mengira acara DPE mustahil bisa dilaksanakan karena keterbatasan tenaga dan pikiran rekan-rekan Pokja.

Bahkan sempat terlontar untuk menggunakan event organizer saja agar acara tersebut berjalan lancar. Tapi toh ternyata akhirnya Pokja sendiri yang dibantu oleh Margo City dan Polresta Depok yang tetap menjalankan acara tersebut.

Tapi ternyata perkiraan saya keliru. Sikap pesimisme saya berbalik menjadi optimisme sejak saya lihat sendiri pada hari ketiga stand-stand mulai berdiri. Tata panggung yang cukup menarik. Serta tata letak dan aneka desain lainnya yang dalam hati saya bilang: ini gak mungkin dilakukan oleh rekan-rekan Pokja sendiri.

Saya tidak menyangka atas kinerja Pokja yang tentunya dibantu Margo dan Polresta Depok bisa membuat acara yang saya sendiri nilai berkelas nasional. Meskipun memang harus diakui acara DPE ini sedikit-banyak mengadopsi kegiatan serupa yang dilaksanakan Polda Metro Jaya di Gandaria City beberapa waktu sebelumnya.

Saya masih ingat betul proses pematangan DPE oleh rekan-rekan Pokja. Rapat berkali-kali digelar meskipun banyak kekurangan dan sempat jadi bahan senyum sinis dari pihak lain, seolah-olah ingin berteriak; ah ngapain sih Pokja bikin acara DPE bikin capek aja!

Tapi, rekan-rekan Pokja terus membuktikan. Mereka bekerja banting tulang sampai lupa bahwa tugas mereka seharusnya meliput. Tapi demi terselenggaranya DPE, mereka tampil all out dan maksimal.

Keberhasilan DPE mungkin bisa dilihat dari antusiasme pengunjung mulai dari hari pertama digelar pada Senin, 25 April hingga 1 Mei 2016.

Saya melihat wajah-wajah bahagia ketika ratusan anak kecil berfoto ria berlatar motor VVIP, mobil jaguar dan stand-stand yang ada. Saya bisa merasakan bagaimana ribuan warga Depok merasa bangga bisa berfoto bersama Tim Jaguar yang mereka anggap keren dan gagah berani.

Saya bisa merasakan kegembiraan para pengunjung saat mereka tersenyum, simpati, dan bahkan tertawa melihat aneka foto yang dipamerkan.

Saya bisa merasakan kesenangan warga yang antre memperpanjang SIM di stand Satlantas Depok. Ada juga yang antusias bertanya tentang bagaimana cara mendaftar menjadi polisi di stand Sumber Daya. Dan ada juga yang antusias bertanya ingin lebih mendalam mengetahui informasi tentang bahaya narkoba. Dan tak sedikit warga pengunjung yang terkesima dengan para personil Satreskrim dengan baju Turn Back Crime-nya juga pada satuan Sabhara dan Binmas.

Ya, kebahagiaan mereka, para warga dan pengunjung itulah yang menjadi tujuan awal digelarnya DPE 2016 ini. Mereka mungkin tak lagi menganggap bahwa polisi adalah satuan yang kejam, bengis, suka menakut-nakuti masyarakat. Justru sebaliknya, warga pengunjung lebih mendekatkan diri bersama satuan kepolisian.

Mereka berbaur seperti tidak ada jarak dengan masyarakat. Mereka berfoto bersama bahkan rela antre dengan pengunjung lain demi bisa mengabadikan dan memposting hasil fotonya di media sosial.

Ya, kegiatan ini mungkin berhasil atas kerja sama semua pihak. Pokja Wartawan Depok tentunya. Dan, pihak Margo City juga Polresta Depok.

Bahkan, menurut catatan, pengunjung Margo City selama kegiatan tersebut digelar, terjadi peningkatan mencapai sekitar 40%.

Saya sedari awal tidak terlalu percaya, tetapi setelah saya cek langsung, terutama pada jam-jam padat. Pihak Margo City sampai membuat mushola dadakan di area parkiran saking membludaknya pengunjung pada Sabtu malam.

Ah, saya sangat terharu dengan kinerja rekan-rekan. Saya acungi jempol kepada rekan-rekan yang bertanggung jawab di acara: Apih, Arul, Jantuk, Amoy, Rinna dan Iyunk yang mati-matian menghabiskan staminanya buat DPE.

Tapi keberhasilan ini mungkin tak akan tercapai tanpa bantuan pikiran dan tenaga rekan-rekan lain seperti Melly, Uji, Kacuy, Ady, Fahri, Imam, Aris, Jun dan Aji Cing.

Hormat juga saya sampaikan pada Wiki dan Barry yang juga telah begitu lelah menyiapkan pameran fotonya sehingga banyak dinikmati para pengunjung. Juga pada Lala yang sibuk dan lelah memikirkan persiapan dan stok konsumsi untuk acara.

Saya juga ingin berterima kasih kepada rekan-rekan Pokja yang juga sangat membantu dalam pendokumentasian seperti Bang Yudi, Feru, Choky, Angga, Edwin, Lingga, Bambang dan Hendrik. Mereka juga yang cukup membantu membackup rekan lain yang tidak sempat liputan. Juga kepada Atem dan Damar yang sejak awal sibuk dari pagi hingga malam melayani pembeli merchandise kepolisian (bagi-bagi dong untungnya... hehehe).

Tak mungkin lupa. Saya ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada Sang Ketua Pokja Wartawan Depok Hidayatul Mulyadi yang mungkin stres, capek, mau mati, sesak nafas memikirkan agar DPE ini bisa terselenggara dengan berhasil. Saya merasakan dan melihat betul sibuknya Pak Ketua ini. Seolah-olah seluruh hidupnya diwakafkan buat Pokja dan DPE (hmm... lebay deh).

Dan tentunya buat Kasat Reskrim Polresta Depok Kompol Teguh Nugroho yang menjadi aktor di belakang layar atas terselenggaranya acara ini.

Namun, tanpa bantuan seluruh satuan Polresta Depok dan jajaran Polsek, tentu saja DPE ini mustahil digelar. Karena sesungguhnya, merekalah yang menjadi bagian dari acara ini. Oleh karena itu, kegiatan DPE ini diharapkan menjadi manfaat bagi semua pihak.

Ya, kami dari Pokja Wartawan Depok mengakui, meskipun kami mengklaim acara ini telah berhasil, tetapi masih banyak kekurangan selama kegiatan berlangsung, terutama masalah teknis. Soal rundown acara yang tidak tersusun dengan rapi dan konsisten, soal sound system yang kurang maksimal, soal kordinasi dan kekurangan-kekurangan lainnya yang mungkin membuat Polresta Depok sebagai objek kegiatan tidak berkenan.

Namun, segala kekurangan tersebut tentu bukan dilakukan dengan sengaja. Itu mungkin terjadi karena kami dari rekan-rekan Pokja mengakui belum begitu profesional menggelar sebuah acara sebesar ini. Tapi, ini akan menjadi sebuah pelajaran berharga untuk Pokja Wartawan Depok.

Dan mungkin atas terselenggaranya DPE ini sekaligus menjadi jawaban bahwa dibentuknya Divisi Event Organizer di Pokja Wartawan Depok cukup memberikan karya dan kontribusi bagi semua pihak.

Mudah-mudahan kegiatan Depok Police Expo 2016 ini menjadi hadiah spesial untuk Kapolresta Depok Kombes Pol Dwiyono yang sebentar lagi akan meninggalkan Depok. Karena dibalik kegiatan DPE ini, Pak Dwiyono sebetulnya yang sangat berperan.

Maka dari itu, kami ingin mengucapkan selamat sekaligus mohon maaf dari kami, Pokja Wartawan Depok apabila banyak salah dan kekurangan dalam setiap kesempatan terutama pada Depok Police Expo ini.

Kami ingin sampaikan bahwa kegiatan Depok Police Expo ini menjadi pengiring perpindahan tugas Anda dari Depok ke Jakarta Pusat.

Selamat bertugas Ndan. Izinkan kami meminjam istilah: Kami Pokja Wartawan Depok Memang Belum Sempurna, Tapi Kami Selalu Berusaha.

Salam sinergitas Pokja & Polresta Depok

Label:

Rabu, 21 November 2012

Perempuan Berjaket Merah

Ini terjadi ketika saya hendak pulang dari kerja. Biasanya saya pulang melewati jalur Soekarno-Hatta. Tapi entah saya mendadak ingin mengambil jalur Cicaheum. Oh, iya, alasannya karena hujan sedang melanda Kota Bandung. Saya berfikir jalur Soekarno-Hatta bakal macet. Karena hujan.

Tepat di kawasan pasar Cicadas. Ada sebuah motor Mio menyalip saya. Pengendaranya perempuan. Mengenakan jaket kulit berwarna merah. Rok hitam pendek. Mulus dan seksi.

Sejenak saya mengejarnya. Sekadar ingin tahu seperti apa wajahnya. Namun usaha saya tak kesampaian. Motornya lebih kencang dari yang saya pakai. Maklum motornya masih bermesin bagus. Sementara motor saya sudah tua dimakan usia. Sabar!

Namun, saya tak kehabisan akal. Saya terus berusaha mendekatinya. Setidaknya memalui kaca spion yang ada di motornya. Beruntung saya pun bisa melihat raut wajahnya yang manis. Pipinya putih. Karakter alisnya tebal. Bibir tipis. Dia tidak sadar kalau saya melihatnya sepanjang jalan.

Gerimis tetap saja turun dengan sederhana. Saya terus membuntutinya di belakang. Terminal Cicaheum pun sudah saya lalui. Oh tidak, lampu merah membuat saya kehilangan jejak perempuan berjaket merah itu. Kemana dia?

Pasrah sudah saya menghadapi kenyaatan pahit. Usaha saya untuk melihat lebih dekat dirinya pun sirna. Sepanjang jalan Cicheum-Cibiru saya masih membayangkan bagaimana jika saya melihatnya lebih dekat lagi.

Beruntung, saya masih bisa mencatat plat nomornya D 6903 GS. Mungkin suatu waktu jika memang dipertemukan di jalan, saya bisa melihatnya lagi mengenakan jaket kulit warna merah.

Tetesan hujan terus membasahi kepala saya. Jok motor sudah lama tidak bersahabat. Jika hujan, tentu saja air menggenang. Celana saya suka basah dibuatnya. Sekali lagi saya harus bersabar.

Namun, kejutan pun muncul. Tepat di depan Borma Cipadung, saya melihat kembali jejaknya. Itulah dia, hey si perempuan berjaket merah. Saya harus mengejarnya. Sayang, ia terus berpacu dengan kecepatan tinggi. Sementara motor saya hanya berjalan seperti bekicot.

Tapi setidaknya malam itu saya sudah melupakan kemacetan dan dinginnya gerimis yang membasahi tubuh saya. Selamat jalan perempuan berjaket merah. Kapan saya bisa membuntutimu lagi?

Hujan terus membesar di kawasan Cipadung. Tubuh saya basah. Kaus kaki jadi bau. Sepatu apalagi. Saya bergegas ke kosan kekasih saya. Sekadar membuang kangen malam itu. Tak lupa saya sedikit menggombalinya seperti biasa. 19 November, malam yang basah.


Label:

Rabu, 02 Juni 2010

Kencan Terlarang

.::Cerita Jurnalis Kampus Gagal::.

Untuk menjaga nama baik , saya sebut saja gadis itu Ami, walaupum nama itu hampir mendekati aslinya. Dia adalah perempuan manis dan cantik, sekarang kelas tiga di salah satu sekolah dekat Balai Kota. SMK I Negeri Bandung jurusan Pariwisata. Mungkin dia kelahiran tahun 93’an.

Bodinya ramping, senyumnya menyungging khas, kulitnya putih, mata agak sipit mirip orang Jepang. Saya kenal dia beberapa minggu yang lalu setelah dia resmi jadi murid saya di tempat les.

Selain cantik dan lucu, Ami orangnya cerdas sekali. Bijaksana juga lembut. Saya sering diberi petuah-petuah bijaknya. Orangnya dewasa. Dia pintar berbahasa. Inggris oke, Jepang lumayan, Perancis juga, maklum di sekolahnya terdapat berbagai bahasa yang ia pelajari.

Di tempat les yang saya ajar, Ami sangat menonjol, jauh dengan teman-teman lainnya. Kalo ditanya oleh saya, dia suka jawab dengan cepat tepat tangkas, terkadang nyerocos jawab ini itu. Saya salut sama dia. Udah cakep pintar lagi.

Kedekatan saya sama dia dimulai dari SMS gombal saya yang sering diluncurkan padanya. Segala macam stimulus, saya lontarkan padanya, dan ternyata responnya asik juga. Ternyata Ami suka geer kalo saya SMS yang gombal-gombal. Dari situlah dia sering membangunkan saya pagi-pagi sekali. Dan dilanjut dengan curhat masing-masing. Ngobrol kesana kemari.

“kaka bangun, awas lo ntar kesiangan lesnya,” tegasnya.
“iya… dari tadi juga udah bangun,” pura-pura saya.
“bla…bla…bla…”
“bla…bla…bla…”

Ya, seperti itulah, hampir setiap hari saya dibangunin sama dia. Dan terkadang saya juga yang bangunin dia walau dia udah bangun duluan. Dan obrolan pun berlanjut ke masalah pribadi. Dan ternyata dia sudah punya pacar. Namanya, hmm… sebut saja Ari. Kata Ami, pacarnya kerja di Rumah Sakit Hasan Sadikin. Sebagai pengatur gizi katanya.

Suatu hari Ami minta dianter sama saya ke kantor imigrasi. Katanya ada tugas dari sekolahnya. Saya menyanggupinya. Dia senang mendengar saya mau menemaninya. Tapi setelah mau berangkat, saya mendadak membatalkannya. Dia pergi sendiri. Dia marah, mungkin kecewa.

Pertemuan saya sama Ami hanya seminggu sekali. Sesuai jadwal les saja. Kini giliran saya yang ajak dia jalan. Namun saya Cuma bercanda saja ajakin dia. Tapi dia nganggapnya serius.

“besok pulang les kita jalan yuk!”
“ayo, kemana?” tanyanya semangat.
“kemana ya, bingung aku juga, kemana dong, nonton gimana?”
“hmm, gak terlalu suka nonton.”
“yaaa, kemata atuh?”
“ke taman Ganesha aja, asyik kayaknya.”
“mending ke Kebun Binatang aja, gimana?”
“hehe… mau nengok keluarga ya ka. Haha….”
“huh, enak aja, kan mau nengok keluarga kamu.” Bales saya.
“ih, nyebelin. Ya udah besok ya. Awas kalo mendadak gak jadi lagi.”
“iya, insya Alloh.”
“bla…bla…bla…”
“bla…bla…bla…”
“klik”

Minggu 23 Mei adalah jadwal ujian tengah periode di tempat les saya. Seperti biasa, sehabis Shubuh saya dan Ami ngobrol lewat kabel telefon ngalor ngidul. Tak lupa ngingetin saya supaya jangan telat ngajar. Dia juga terus menerus ngingetin saya tentang jalan-jalan ke Kebun Binatang itu.

Alhamdulillah kali ini saya tidak terlalu telat. Datang tepat waktu. Saya langsung mulai masuk kelas. Dan menyarankan sama anak-anak supaya tutup buku dan mulai untuk ujian. Di kelas, saya mencoba professional sekali. Saya anggap semua murid rata. Baik dari perhatian sampai penilaian. Saya berusaha adil seobjektif mungkin. Sampai-sampai beberapa murid bilang saya jutek kalo di kelas.

Anak-anak sudah pada beres ngisi soal ujian. Masing-masing pergi pamit dari tempat les. Saya langsung saja melangkah ke tempat komputer, pura-pura lupa kalo hari itu ada janji untuk jalan-jalan ke Kebun Binatang bareng Ami. Tiba-tiba Ami SMS.

“gag jadi? aku pulang aja!!!” nadanya kesal.
“iya, maafin aku ya,” kata saya hanya gitu.

Dia gak bales lagi. Mungkin kesal mungkin juga marah. Sudah dua kali saya buat dia bete. Saya coba SMS dia beberapa kali. Saya terus goda dan rayu dia. Ya, dengan gombal-gombalan lagi. Namun tak ada sahutan. Saya hanya senyum saja melihat dan membayangkan kelakuannya.

Malam harinya hape saya bunyi. Saya tahu itu SMS dari dia. Ringtonenya khas soalnya. Dia ngajakin saya hari senin untuk ke Taman Pahlawan. Katanya mau ngasih makan ikan yang ada di taman itu. Saya mengiyakan menyetujuinya. Walau saya tahu itu hanya basa-basinya saja. Saya mikir kali ini saya tidak boleh bikin dia bete lagi.

“jam berapa?”
“jam satuan lah,” jawabnya.
“bla…bla…bla…”
“bla…bla…bla…”

Hari senin pun tiba. Saya berniat untuk ke sana ke Taman Pahlawan itu. Sebelum dzuhur saya sudah berangkat. Gak bawa motor kali ini. Memang rasanya agak beda sekali kalo mau bepergian gak ada kendaraan sendiri. Tapi gak apa-apa, Ami orangnya gak neko-neko. Dia orangnya apa adanya, gak seperti gadis lain yang ingin selalu dibonceng pake motor jika mau bepergian, terutama kencan.

“kaka lagi dimana?”
“di angkot, kamu dimana gitu?”
“di depan tempat les.”
“iya, bentar lagi nyampe.”
“klik”

Hari panas sekali. Jalanan begitu gersang macet sana sini. Supir angkotnya ngeyel sekali. Tiap gang pasti dia ngetem. Saya kesal dan gondok minta ampun. Penumpang lain juga kayanya begitu. Raut mukanya memunculkan aura negatif. Terutama si ibu yang sedang gendong bayi. Kasihan sekali dia, anaknya kepanasan. Saya suka mendehem atau kadang membuat suara gaduh yang saya buat dari kaki saya yang diadu-adukan ke lantai angkot.

Saya sudah sampai di Cicaheum. Lalu nyebrang ke sebuah gang, yang mana dekat gang itu saya sama Ami janjian dekat tempat les yang biasa kita jumpai tiap minggunya. Saya berjalan dengan tegapnya dari kejauhan, saya lihat samar-samar gadis berseragam putih-abu yang tak asing lagi. Di kupingnya menggantung sebuah headset. Dia sepertinya sedang mendengarkan beberapa lagu di hapenya. Saya hampiri gadis itu. Betul saja Ami rela menunggu begitu saja. Saya senyumi dia dengan senyum Ababil. Kalian tahu senyum Ababil? Pasti gak deh.

“ih kayak anak ilang deh duduk disini, hehe”
“biarin aja kan lagi dengerin lagu sambil nunggu,” tukasnya.
“kenapa gak nunggu di tempat les aja atuh.”
“gak ah malu.”
“ke situ dulu yuk bentar,” ajak saya ke tempat les.

Saya dan dia jalan menuju tempat les biasa. Gak ada siapa-siapa, hanya ada Huda dan seorang gadis siapa itu ih saya baru lihat. Mungkin ceweknya Huda. Oh, iya deh kalo begitu. Saya cuma mau ke air. Sekalian mau sholat dhuhur. Dan ternyata gak ada mukena di situ ya sudah saya jalan lagi sama Ami ke mesjid yang dekat. Dan eh ternyata mesjidnya dikunci. Sial !

“sholat di sana aja yuk!” saya ajak dia. Maksud di sana itu ya, di deket taman.
“ada gitu?”
“ya pasti ada atuh.”
“hayu deh.”

Sekarang saya jalan berdua sama Ami. Yang satu pake baju metal. Yang satu pake seragam. Mirip seorang laki-laki yang sedang mengantar atau menjemput siapaaaaa gitu. Tapi biarin ya gak apa-apa gak akan ada yang melarang.

“nyebrang yuk!”
“ih, kaka kalo nyebrang di zebra cross.”
“kenapa gitu?”
“iya, biar kita di lindungi undang-undang.”
“oh, hehehe.”

Dia terus saja ngomel sana sini. Tapi betul juga, apa yang dikatakannya emang benar. Kita harus menaati peraturan yang dicanangkan petugas lalu lintas. Apapun itu bentuknya. Seperti membawa surat-surat ketika bepergian. Memakai helm dan ini dan itu.

Lihatlah saya sudah naik angkot, Ami juga. Kita duduk bersebelahan. Naik angkot Caheum-Ledeng. Penumpangnya kali ini tak seramai angkot tadi. Lalu saya lihat hape Ami. Mau saya razia apapun. Saya lihat-lihat fotonya. Ih, lucu-lucu, imut-imut, manis-manis. Sampai dia nawarin saya menyimpannya lewat Bluetooth. Oke saya mau tapi nanti.

Saya buka folder lainnya lagi. Hahay ketemu. Ada foto dia juga bareng cowoknya. Wow, ternyata lumayan ganteng juga ya pacarnya. Putih pula, pokoknya serasi lah sama dia. Saya senyum-senyum saja melihatnya. Sambil nanya ini foto dimana dan sebagainya. Dia juga jawab di sini di situ dan sebagainya.

“kiri,”

Ami teriak begitu tepat di perempatan jalan Pahlawan. Dia turun lebih dulu. Eh, malah dia yang bayar ongkosnya. Aduh kenapa dia tidak berdiskusi dulu sama saya. Padahal dalam peraturan kencan berkencan cowok itu yang harus bayar apa-apanya. Ya sudah pulangnya saja saya bayarin ya. Saya kira-kira begitu bicara sama dia.

“nyebrang?” saya Tanya.
“iya, ayu!”

Kita berdua nyebrang. Saya raih tangannya saat nyebrang dan melepaskannya ketika acara nyebrangnya selesai. Lalu berjalan ke trotoar dan sebentar lagi akan nyebrang lagi dan betul saja benar-benar nyebrang lagi.

“mau kemana?” saya yang tanya.
“ke tempat jualan ikan. Beli makanan ikan.”
“oh.”

Saya ambil lagi tangannya saat nyebrang. Mirip adegan si Rangga yang pegang tangan si Cinta di film AADC kamu tahu? Itu saya lihat saat saya SMA. Di sebuah VCD bajakan bukan di bioskop. Ya, bukan di bioskop. Hey, apa kabar bioskop.

Setelah beli makanan ikan ternyata ada adegan nyebrang lagi. Otomatis saya raih tangannya lagi. Tapi kali ini setelah nyebrangnya selesai, Ami tidak melepaskan tangan saya. Hanya menyisakan jari tengah saya yang di pegang oleh jari-jarinya yang lain.

Kita berdua menyusuri trotoar yang agak sejuk di jalan Pahlawan. Di pinggir-pinggir terlihat orang pada istirahat. Mereka sepertinya anak kuliah.

“itu mahasiswa Itenas. Nah itu jalan masuknya (pintu gerbangya) yang kedua” Kata Ami.
“oh,” saya mengangguk.
“nah itu kafe Selasih.”
“oooooh,” saya manggut-manggut. Eits, tangan saya masih menempel di sela jari-jarinya.
“apalagi kalo sore suka banyak orang disini. Banyak yang pacaran.”
“sama Ari suka ke sini gak?” kata saya.
“gak, dia mah suka sibuk sendiri.” Jawab dia kecut.
“hmm… kalo Ari tau kita lagi jalan gimana?”
“gak bakal, dia mah gak suka keluar orangnya.”
“bla…bla…bla…”
“bla…bla…bla…”

Kita terus menyusuri jalanan Pahlawan (kitaaa, elo aja kali). Lumayan juga ternyata bikin capek ya kalo jalan kaki. Apalagi terik matahari begitu menyayat ulu hati. Dahaga tiba tiba berdegup memanggil saya untuk melakukan sesuatu. Saya pun bergegas nyebrang lagi ke arah kanan. Pergi ke sebuah warung untuk beli ini dan itu.

“mau beli apa?” Tanya saya. Dia masih di seberang.
“gak mau apa-apa,” jawab dia sambil ikut nyebrang.
“ih, cepetan mau beli apa, ini mau?” kata saya nawarin sebuah minuman.
“hmmmm…” itu suara dia dibubuhi gelengan kepalanya.
“kalo ini?” saya tawarin yang lain.
“enggak kaka, aku udah bawa minuman.”
“oh, ya udah.”

Tapi saya beli satu botol minuman apa lupa lagi. Yang penting sari buah jeruk dan dingin. Beli dua buah TimTam dan empat buah kue wafer yang lainnya. Namun agak aneh juga sih, biasanya cewek tuh suka minta dibeliin apa-apa sama cowok, tap Ami itu orangnya gak neko-neko seperti yang saya sebutin tadi. Oh, saya juga beli rokok satu bungkus.

“kaka ngapain beli makanan, aku juga bawa nih makanan mah.” Oh, dia sudah persiapan.
“ih, gak tau kirain teh gak bawa, biarinlah biar banyak.”
“kaka, kalo minum teh sambil duduk,” itu yang bicara Ami ketika saya minum air itu.
“oh, iya iya bu haji, hehe, maafin atuh.”
“bla…bla…bla…”
“bla…bla…bla…”

Akhirnya sampai juga di Taman Pahlawan yang banyak makamnya itu. Sepertinya kuburan para pahlawan dari berbagai bidang dan angkatan. Dan di situ juga ada kolamnya. Airnya hijau pekat namun ikannya banyak sekali. Ada juga orang lain yang sedang nongkrong. Malahan ada sepasang anak SMP yang sedang apa duduk berdua begitu dekat pagar. Mungkin mereka sedang menghafal atau diskusi pelajaran. Terserah mereka yang penting saya husnudon.

Tapi ternyata saya ajak Ami ke mesjid dulu. Kebetulan mesjid dekat sekali dengan Taman. Cukup dengan jalan kaki aja. Eitssss, dia memasukan tanganya ke tangan kiri saya. Sepertinya dia takut terjatuh makanya dia pegangan. Terserah dialah yang penting saya husnudon.

Ow, sejuk juga ternyata ya di mesjid. Saya duduk saja di terasnya, Ami juga sambil membuka sepatunya. Saya tidak karena pake sandal, lalu saya menasehatinya untuk sholat duluan. Maksud saya buka menasehati tapi menyarankan. Benar saja saran saya dia penuhi. Dia bergegas pergi wudhu. Dan saya mulai membuka bungkus rokok dan membakarnya. Iya, membakar rokok lalu dihisap, lalu dibuang lagi ke udara. Aneh !

Satu batang rokok sudah habis. Saya melirik ke belakang ke arah mesjid. Hey, dia sudah beres sholatnya. Dia lagi mau pake kerudung. Hey, ya Alloh dia manis sekali, lucu sekali, cantik sekali. Rambutnya poni kecil gitu, aih dia tersenyum pada saya. Rupanya senyumnya itu harus dibalas. Saya kasih dia senyum Ababil lagi. Kamu masih belum tahu apa itu senyum Ababil? Ya sudah gak apa-apa.

Giliran saya yang sholat. Tak lupa ambil wudhu. Seperti biasa, surat Al-Ikhlas dan An-Nas saya baca dalam sholat. Itu merupakan surat favorit saya, mungkin kamu juga. Iya kan? Ngaku aja deh.

Saya lalu keluar menghampirinya. Hey, dia sedang membetulkan posisi kerudungnya. Rupanya dia juga bawa cermin. Saya lalu duduk di sebelahnya. Dia lalu membuka makanan yang saya beli, dia juga mengeluarkan makanan yang dia bawa. Gak jauh beda sebangsa kue dan wafer dia bawa. Dan di pinggir saya juga kira-kira 10 meter ada dua cowok yang sedang ngobrol. Saya tebak mereka adalah mahasiswa LP3I. terserah, siapa mereka yang penting saya husnudon.

Hey, dia buka tas saya. Kebetulan saya bawa hasil ujian yang kemarin. Saya suruh saja dia yang periksa. Lalu saya? Ya itu, saya pinjem hape dia lagi.

“ih, dasar pemalas, belum diperiksa ya hasil ujiannya?”
“sengaja biar kamu yang periksa, eh, mau facebookan dong,” apologi saya.
“iya sok aja.”

Wow, dia melonjorkan kakinya dan punggungnya di tempel ke dinding teras mesjid. Saya lalu rubah posisi duduk menjadi tiduran. Lihat, saya tiduran di pahanya. Aih, dia gak komplen. Diem aja gak bergerak padahal kan saya berat. Dia enjoy saja meriksa soal. Saya enjoy saja maen facebookan. Uh, rumit juga hapenya gimana cara maeninnya. Maklum saya agak gaptek. Wow, kalian harus tahu rasanya seperti pake bantal yang mahal yang terbuat bukan dari busa tapi dari daging asli. No comment!

“kaka lihat ini nomor empat betul gak?”
“punya siapa itu?”
“punya teh Nita,”
“coba lihat, oh itu salah.”
“salahin aja?”
“iya, salahin aja. Kalo yang benar ceklis aja.”
“bla…bla…bla…”
“bla…bla…bla…”

Hasil ujian sudah beres diperiksa. Hari mulai teduh. Saaatnya ke pokok persoalan yaitu pergi ke Taman yang ada kolamnya. Saya pun pergi meninggalkan mesjid, otomatis Ami juga sambil bawa kresek berisi sampah bekas bungkus kue-kue. Niatnya mau dibuang ke tempat sampah.

Hey, lihat lagi tangannya nempel lagi di tangan saya. Wah, ternyata sudah banyak orang di taman. Banyak yang pacaran pula. Banyak yang lihatin ikan juga. Ami ajak saya ke tempat yang paling pojok dan mengeluarkan dua bungkus makanan ikan yang tadi beli. Lalu melemparnya ke kolam.

Betul saja, ikannya pada datang setelah Ami lempar makanan ikannya. Saya juga mau coba lempar. Iya, ikannya semakin banyak berkumpul di atas kami. Wah, indah sekali. Lihat di sebelah situ, orang-orang pada lihatin kita berdua. Mungkin mereka menganggap kita berdua adalah petugas pemberi makan ikan di situ. Mungkin juga mereka ingin dikasih makanan ikan oleh kami. Biarinlah terserah mereka anggap kami apa, yang penting saya husnudon.

Hari terus berlalu semakin sore. Orang juga pada bertambah. Makanan ikan sudah habis dua bungkus. Di sana saya dan Ami mulai membuka diri curhat satu sama lain lagi. Dia cerita tentang berbagai hal. Seperti halnya seorang perempuan curhat. Lalu saya? Iya, sekedar ngasih komentar saja. Hey, lihatlah dia menguraikan lengan seragamnya mau apakah dia?

“kaka lihat, tangan yang cubit kemarin membekas tau, si mamah juga sempat nanya ini kenapa katanya, ya udah aku jawab di cubit, terus si mamah nyuruh aku nyubit lagi.”
“aduh, ampe merah gitu, aduh, maafin aku ya…ya…ya… hehe.”
“udah ya jangan nyubit lagi, sakit tau.”
“hahahahaha.”
“ih malah ketawa!”
“iya, inya Alloh, haha.”
“bla…bla…bla…”
“bla…bla…bla…”
“bla…bla…bla…”
“bla…bla…bla…”

Saya sepakat untuk meninggalkan taman. Pokoknya acara memberi makan ikannya sudah beres. Lalu saya ajak Ami keluar area taman. Dan pergi ke sebalah sana, ke sebuah pedagang molen yang imut kecil dan lucu tepat di depan taman. Lalu kita kemana? Betul sekali, kita duduk sejenak di dekat tukang molen itu dan lalu saya ajak Ami ke gor C-tra arena yang tak jauh dari situ. Mau ngapain?

“ke gor C-tra yuk mungkin ada pertandingan,” ajak saya.
“gak ada sekarang mah, ntar tuh bulan Juni ada acara Pensi anak ICB,” sahutnya.
“Juni?”
“iya, kan adik aku sekolah di sana, ntar ada Vierra lho bintang tamunya.”
“ya udah ke sana aja, tau tau ada apa gitu!”
“hayu atuh.”

Lihatlah lagi, saya sedang berjalan berdua dengan gadis berseragam putih abu. Lihatlah juga, tangannya menempel lagi di tangan saya. Aih, hari ini begitu banyak yang menempel. Di angkot misalnya, di kaca belakangnya ditempelin foster Andi Malarangeng berkumis tebal, dia kan nyalonin jadi ketua Partai Demokrat, namun sayang kalah di putaran pertama. Oh, kasihan sekali pasti Andi bakal cukur kumis kayaknya atau mungkin dia bakal sujud syukur karena tidak terpilih. Kalo terpilihkan kasihan Andi bakal menanggung beban berat partai yang begitu besar. Terserah Andi lah yang penting saya husnudon.

Oke. Memang betul gak ada pertandingan apapun di gor itu. Tapi biarin saya pengen ke situ duduk-duduk dan apa-apa di sana. Lho, kok ada tukang baso tahu di situ, di dekat pintu masuk gor. Biar saya tawarin Ami, dia mau gak saya kasih baso tahu. Abis, saya tawarin dia apa-apa selalu saja gak mau. Padahal saya ingin sekali makan itu baso tahu. Sudah beberapa bulan saya gak memakannya.

“mau baso tahu gak?”
“hmmm…” dia bersuara gitu lagi, dibubuhi gelengan kepala lagi.
“mang, bikin dua mang,” saya panggil si mang.
“ih, kaka!”
“udah jangan komplen.”
“bla…bla…bla…”
“bla…bla…bla…”

Adalah saya yang sedang duduk di teras depan gor. Melihat anak-anak yang sedang main futsal kecil-kecilan. Ami juga duduk di samping saya. Dan masing-masing sedang pegang sepiring baso tahu. Lalu saya merubah duduk sedikit memutar badan menghadap dia. Ami lalu ambil tas saya. Giliran dia yang razia tas. Dia ambil buku berwarna hijau. Dia Tanya buku apaan. Saya jawab buku diary saya. Dia jawab “oh”. Dia buka-buka buku itu. Untung saja tidak baca secara detail.

Dia juga razia hape saya. Tapi saya tidak mau. Dia berdecak “ih licik sendiri” ke saya. Biarin lah saya orangnya emang ingin licik untuk hari itu. Oh, lalu saya makan baso tahu lagi. Dia juga makan baso tahu lagi. Lalu saya ambil sepotong kentang yang ada di piring saya. Lalu saya tawarin dia untuk memakan kentang itu. Dan lalu dia memakannya. Oh yeah, saya mirip seorang ibu yang sedang nyuapin anaknya. Gak apa-apa kan yang penting saya apa? Husnudon dong.

Wow, hari mulai menyore. Saya ajak dia untuk pulang saja. Tapi hape saya bunyi, ada SMS rupanya. Oh, dia, gadis yang lain yang nanyain buku pesanannya. Saya jawab saja sesuai topik SMS yang dia kirim ke saya.

“tau Rumah Buku gak?” saya tanya ke Ami.
“iya tau, itu deket Togamas, murah-murah lho di sana.”
“iya tau.”
“mau apa gitu?”
“aku mu beli buku.”
“ya udah bareng aja, deket kok sama rumah aku.”
“yeeee… bagus atuh, hayu ah sekarang.”
“hayu!”

Hal yang wajib saya lakukan sebelum saya pergi adalah mengasih uang sama si mang tukang baso tahu. Terus saya naik angkot jurusan apa lupa lagi sampai ke perempatan jalan Cikutra. Lalu naik angkot Ledeng yang menuju rumah Ami pulang dan sekaligus menuju Rumah Buku.

Waduh, lihat dan dengarlah hari ini saya nobatkan sebagai hari nempel sedunia. Apakah yang terjadi sama Ami sehingga dia terus menempelkan tangannya ke tangan saya. Padahal kalo mau jujur saya gak pernah membalurkan lem apapun ke tangan saya. Apalagi menempelkannya semakin erat saja. Padahal saya gak akan kabur.

Dan sekarang dengarlah, Ami menyuruh si mang supir supaya berhenti, tepat di jalan apa saya benar-benar lupa lagi, oh iya, Cisokan. Dia pamit ke saya. Dia turun dari angkot. Dia mau bayar ongkos, tapi saya teriak hanya sedikit bahwa saya saja yang bayarin dia ongkosnya. Lalu Ami menghilang. Lalu angkot melaju. Yeah, lihatlah lagi Ami melambaikan tangannya ke saya. Oh, sekarang saya ingin beri dia senyum lagi tapi bukan senyum Ababil, yakni senyum Perancis. Dan maaf saja kalian gak usah tahu apa itu senyum Perancis, karena saya juga hanya mengarang saja.

Oh Ami, terima kasih untuk hari itu. Karena kamu telah membuat saya tahu bahwa di Taman Pahlwan itu ada kolam ikannya. Oh, Ari maafkan saya, saya gak berniat untuk mencuri kekasihmu yang baik hati dan keren abis itu. Jujur, saya gak akan berniat mencurinya darimu. Perlu kau tahu Ari, saya hanya ingin merasakan bagaimana hal itu terjadi pada saya. Dan ternyata saya membayangkan itu sangat menyakitkan.

Wahai Ari yang baik, kalau saya jadi kamu, mungkin saya akan mencincang orang yang telah seenaknya mengajak pacarmu sendiri kencan tanpa izin dari kamu. Wahai Ami, hubungan kita sudah tidak normal lagi. Mending kita sudahi saja oke. Kembalilah padanya aku bukan siapa-siapa untukmu. Wooooooo!

Bandung Mei 2010 diiringi lagu Five Minutes vocalist yang lama

Label:

Rabu, 19 Mei 2010

Celana Dalam

.::Cerita Jurnalis Kampus Gagal::.


Entah dimulai dari mana, aku masih bingung, yang jelas, sekarang aku bangun jam tiga pagi. Mataku yang kanan susah untuk dibuka. Rasa sakit padahal udah hampir usai, tapi segerembolan belek masih menempel. Tapi aku yakin hari ini adalah hari terahirku menyandang predikat cowok bintitan.

Aku masih mikir. Sebelah mana aku harus mulai. Aku bakar dulu racun kecilku. The Jarum Cokelat. Dari dulu sampai sekarang ini racun tetep memakai logo Jarum. Karena kalau pake cap Linggis pasti namanya bukan The Jarum Cokelat, tapi The Linggis Cokelat. Dan mungkin juga di iklannya bukan Nidji, Padi, Gigi dan Nugi yang jadi artis. Kalo enggak grup band The Panas Dalam pasti Budi Anduk. Entahlah. Yang jelas sampai sekarang gak ada rokok yang namanya D’ Linggis Cokelat.

Di computer udah nunjukin jam tiga lebih empat puluh tiga menit. aku berniat menunda tulisanku sampai besok. Karena aku harus nerusin dulu sisa tidurku yang tadi udah kepotong oleh sesuatu.

Ya, ada sesuatu yang telah menyita tidurku malam ini. Sesuatu yang menyenangkan yang membuat celana dalam basah sampai tembus ke celana luar. Tapi sebenarnya sesuatu ini bukan hal yang harus dikonsumsi public. Tapi gak apa-apa, demi membuat tulisan ini lebih delicious, aku akan bagi-bagi sedikit tentang sesuatu itu.

Sesuatu itu adalah hal yang pasti dialami oleh kaum Adam kalo udah menginjak masa kedewasaannya. Sesuatu yang bisa membuat senyum-senyum sendiri kalo udah ngerasainnya. Sesuatu yang bisa dikatakan lucu, karena di dalam sesuatu itu para actor dan artisnya melakukan adegan-adegan yang mirip seperti di VCD terlarang atau file yang di hidden kan seseorang di komputernya.

Sesuatu itu adalah sebuah mimpi. Mimpi yang terjadi pada seorang cowok, yang setiap bulannya bisa sampai tiga kali pertemuan. Terkadang lebih. Mimpi itu tak kenal waktu. Bisa siang bisa juga malam.

Ada yang unik dalam mimpiku tadi. Aku mimpi dengan seseorang wanita. Yang aku kenal pula. Di mimpi itu, pemeran wanita yang aku kenal tadi melakukan pemaksaan. Kekerasan terhadap cowok. Si pemeran wanita tersebut, dalam mimpiku berani membuatku sampai terdiam dan tak berdaya. Preeeet.

Di mimpi itu tak berlangsung lama. Sekitar tujuh menitan. Abis itu aku langsung terbangun. Benar-benar terbangun. Terbangun dalam berbagai konteks.

Computer masih brang bring brong dengan lagu gak karuan. Kayaknya ini lagu hasil pilihan Godi. Aku mengangkat badan dan keluar dari kasur butut itu. Kasur yang sekaligus di jadikan kampas untuk melukis pulau oleh penghuni Suaka. Sekarang udah ada ribuan pulau di kasur itu. Kasur warisan Wicaksono. Dia orang jawa yang mulai betah berkecimpung di Sunda. Entah bener-bener betah atau paksaan kuliah. Yang jelas dia udah mulai menempuh semeseter degradasi.

Di kursi luar, ada sesosok mahluk yang di bungkus dengan sebuah sleeping bag. Awalnya aku nyangka dia Mahluk yang langka, gak taunya, di kursi itu, Godi lagi Molor alias bobo. Tidurnya pulas, kaya bangkai. Dasar bangke. Kayaknya kalo UIN ada yang ngebom juga pasti Godi gak bakal terbangun dari tidurnya. Caduuuuuuk.

Celana dalam masih basah dan lengket. Aku langsung buka dan menggantinya dengan celana pendek. Kebetulan aku bawa celana serep. Sekarang, dengan tanpa celana dalam, aku duduk di depan computer. Masih memikirkan dari mana aku harus mulai menulis. Padahal dari tadi siang banyak hal yang bisa ditulis. Tapi kayaknya sampai satu jam di computer, aku gak menemukannya juga.

Dari pada pusing, mending aku kembali lagi tidur. Lagian besok pagi aku harus latian band. Aku harus ke Cipacing, bertemu teman-teman. Mudah-mudahan Desi jemput aku ke Suaka. Hmmmm…. Ngantuk euy. Aku tidur lagi ah. Pasti besok pagi celana dalamku udah kering.

23 Mei 2009 (03:23)

Label:

Laptop Dewasa

.::Cerita Jurnalis Kampus Gagal::.


DUA ORANG sudah berada di alam mimpi. Posisi tidurnya tidak karuan. Kasurpun seolah tak terpakai. Tubuh dan kepala mereka tidak searah dengan busa agak empuk itu. Wicak dan Godi terbawa arus dunia alam bawah sadar. Sebuah bulatan yang berdetak di dinding menunjukan pukul dua dini hari lebih 10 menit. Jum'at 25 Desember bisikan angin mencubit kulit.

Di depan mereka, tak jauh dari posisi tidurnya, hentakan windows media player melaju pelan membunuh sunyi pagi di komputer Suaka. Alunan lagu The Panas Dalam—Tong Gandeng sudah berakhir. Giliran Munajat Cinta yang di teriakan Ahmad Dani dan kawan-kawan mengiringi saya dengan seksama. Djarum Cokelat masih setia menemani. Kadang abu rokoknya saya taroh di sembarang tempat. Sesekali saya menghisap dalam-dalam rokok terakhir pemberian Fajar Titik Fauzan itu.

Beberapa menit yang lalu, suara ponsel saya berdering. Fajar, yang akrab disapa Ozan memanggil dengan penuh semangat.

“Aya motor teu, urang jemput teun si Ifan, iyeu mawa leptop berat.” tawarnya.
“aya, dagoan sakeudeung.” tantang saya.

Sebuah kunci motor saya ambil. Segera saya jemput Ozan di Almishbah, tempat dimana ia menunggu untuk saya jemput. Suzuki Shogun yang terparkir tepat di teras Suaka saya nyalakan. Dengan berbekal celana pendek dan kaos yang tertancap di tubuh, saya tak hiraukan. Akibatnya sudah pasti serangan ganasnya angin itu merongrong kulit ini.

Di Almishbah, tempat dimana saya dibesarkan, Ozan sudah menunggu. Sebuah tas digendongnya. Isinya, persis apa yang ia katakan, leptop.

“buru naek, urang hoream napak” kata saya.
“weis...” jawabnya.

Tak lama saya tancap gas untuk kembali kesuaka. Sebenarnya Ozan membawa motor, namun katanya, lagi dipinjam sama temannya Ifan, selama ia bertandang ke rumah pujaan hatinya, Poppy, gadis asal Cipadung yang sudah lama ia pacari dan menjadi belahan jiwa hidupnya. Poppy adalah mahasiswa Muamalah semester tiga. Hubungannya dengan Ozan yang saya tahu dari sejak SMA.

“neangan warung hela uy, meuli rokok.” katanya.
“ke di hareup.” kata saya.

Saya berhenti sejenak disebuah warung dekat pangkalan ojek Cipadung. Ozan turun dari motor mendatangi warung itu. Beberapa batang rokok Djarum Cokelat dibelinya.

“jeung korekna, di Suaka eweuh korek.” teriak saya.
“mang korekna hiji.” katanya kepada pemilik warung.

Tak lama saya nyalakan motor kembali. Jalan raya terlihat sedikit lengang. Maklum sudah malam, namun beberapa orang terlihat lalu lalang sekedar mencari makanan di sekitar Cipadung.
****
DI RUANG Suaka, Wicak, Godi dan Hamdan sudah terlelap, namun ketika suara Ozan terdengar memecah konsentrasi mereka yang sedang tertidur itu. Seperti biasa suara tertawa yang terbahak-bahaknya itu mungkin menembus alur pikiran bawah sadar sehingga membangunkan fokus mimpi mereka. Wicak dan Godi pun sejenak terbangun. Saya langsung mempromosikan sebuah video wayang terbaru yang mungkin Ozan belum pernah melihatnya. Beberapa lakon dalang Asep Sunandar Sunarya yang sempat memekik dan mengguncang perut saya hingga terbahak-bahak. Ozan suka, dan sudah pasti ia tertawa juga melihat video wayang itu. Dan tak lama saya menyalakan leptopnya untuk sekedar berhotspotan ria. Ozan masih tengah menikmati wayang itu.

Di teras Suaka terlihat tiga orang yang asik duduk sembari hotspotan juga. Dengan listrik gratis dari Suaka, teras itu akhir-akhir ini selalu dijejali oleh orang-orang yang sengaja menumpang untuk berfantasi dengan dunia maya itu, facebook, yang tengah digandrungi oleh segenap lapisan masyrakat dari kakek-kakek sampe balita.

Setelah leptop dinyalakan, ternyata sinyalnya lemah. Loadingnya lambat sekali. Saya sedikit kesal. Padahal ketiga orang itu berasik ria, tapi kenapa leptop yang saya pegang tak kunjung connect juga. Sambil menunggu jaringannya nyambung. Saya sesekali membuka file dan folder yang ada di leptop Ozan. Setelah melihat-lihat beberapa folder. Saya menemukan ada kejanggalan yang tersentak setelah membuka folder 'tajam'. Rasa penasaran saya pun tertanamm segera saya membuka satu persatu file itu, ternyata semuanya video adegan yang khusus dewasa. Dengan tak menyianyiakan kesempatan. Saya memanfaatkan kesempatan itu dengan mem-play satu persatu video tersebut. Dan harus diketahui setelah saya cek size-nya ternyata video terlarang itu lebih dari lima giga. Duh pantesan saja dari tadi hotspot gak nyambung-nyambung. Ternyata banyak 'virus' yang bergentanyangan di leptop itu. Mudah-mudahan mata ini masih diterima disisiNya. Ya Alloh ampuni orang yang mempunyai leptop ini. Amin!


Jum'at 25 desember 2009 -tiris-

Label:

Sepotong Roti

.::Cerita Jurnalis Kampus Gagal::.


Teriakan Kurt Cobain masih membakar semangat saya. Lagu demi lagu merayap. Coba simak saja Love Buzz yang menjadi awal bangkitnya Nirvana awal 90’an. Disusul Smells Like Teen Spirit dan tembang-tembang lainnya yang menggemparkan belantika musik dunia. Saya suka Nirvana sejak SD. Saya puas. Kepala ini tak berhenti bergoyang. Sore yang dingin namun gerah. Thanks Nirvana.
***

Angka enam kurang kurang sepuluh menit. Sabtu yang resah. Dihari kedua Januari 2010. sudah dua jam saya berada di sini. Memang sudah dua hari juga saya tidak datang ke Suaka. Rasanya malas sekali kalau gak ada kendaraan.

sebelumnya, Jam empat sore, saya rela berjalan ke Suaka. Sehabis mandi, Sholat Ashar tentunya. Hujan mulai berlompatan di langit, turun bertubi-tubi menjitak kepala saya, namun kecil. Hujan yang gerimis.

“a, udah di Suaka kah?” Tanya Lilih lewat telepon genggamnya.
“udah.” Jawab saya simple, dengan empat huruf, U.D.A.H

Saya kira kampus gak seramai ini. Ternyata banyak aktifitas juga selama liburan. Di Aula Student Center, sebagian mahasiswa berkostum hitam-kuning tengah mengadakan sesuatu. Entah apa sesuatu itu, belakangan saya tau, mereka sedang mengadakan OPAB jurusan, tau sendirikan OPAB itu apa? Okelah saya artikan apa itu OPAB. Huruf ‘O’ berarti Orientasi. Huruf ‘P’ adalah Penerimaan sedangkan ‘A’ adalah anggota, dan sudah pasti ‘B’nya Baru. Jadi OPAB adalah Orientasi Penerimaan Anggota Baru. Itu juga kalau saya tidak salah.


“lagi OPAB a,” kata mereka pada saya setelah sebelumnya saya menanyakan “ada acara apa ini?”
“OPAB apa emang?” pertanyaan saya lagi.
“Administrasi Negara.” Kata salah satu peserta. Dan saya pun meninggalkan mereka.

Di Suaka terdapat Bayu, Firman dan Fikri. Wah kayaknya kumplit ni para jajaran Pemimpin Suaka, yang gak hadir Cuma Agus Trei. Sedangkan Iyan datang belakangan walau Cuma beberapa detik nongol ke Suaka lalu mengucapkan “hayu Mik, urang balik ti heula.” Tak lama kemudian Fikri dan Firman pun meningglkan saya, meninggalkan Suaka.

“ka Kosan heula.” Jawab Firman. Fikri mengikuti. Helm tak lupa mereka pasang di kepala. Pasti mereka bawa motor. Tinggal saya dan bayu berdua disini, di Suaka ini dan seonggok komputer yang sekarat, kadang hidup kadang mati. Maklum usianya udah 10 tahun. Komputer yang tua, tapi tak setua ‘peng-kebirian’ rektorat terhadap Suaka.

“assalamualikum.” Seseorang, pastinya perempuan, karena suaranya gak kedengaran laki-laki, mengucapkan salam. Itu pasti Lilih. Lilih adalah mahasiswa UIN SGD juga, tau sendiri kan UIN SGD? Jadi gak udah saya artikan kaya OPAB di atas. Ya, dia mahasiswa UIN, katanya jurusan Humas, anak buahnya Wicaksono. Tau sendiri kan Wicaksono panglima besar serta jenderalnya Humas, atau mungkin karuhunnya. Secara gituloh dia sangat cinta sekali terhadap Humas. Tau sendirilah buktinya. Heuheu…!!!

Lilih ngebet banget pengen lagu D’Cinnamons. Setelah saya suruh datang ke Suaka, karena saya pernah denger D’Cinnamons di Suaka. Entah kenapa dia mati-matian sekali minta lagu-lagu itu, padahal kalau di bandingkan dengan Nirvana, itu jauh sekali, seperti 1:1000. tuh kan coba. Tapi emang sih selera manusia tuh berbeda. Dan akhirnya setelah didengar-dengar lumayan juga tuh D’Cinnamons. Hmm…!!

“ada gak lagunya.” Katanya.
“bentar dicari dulu.” Bukan katanya, tapi kata saya.
“lagi di Install dulu komputernya.” Kata saya lagi.

Hujan masih tertawa terbahak-bahak namun pelan. Kali ini tidak menjitak kepalaku, karena saya sudah berada di ruangan. Jadi gak mungkin hujan menelusuri kepalaku melewati jendela. Bayu sedang asyik membaca. Saya juga baca sedikit majalah lama, Gatra dan Forum, yang ternyata kedua Pemrednya jebolan dari Tempo. Waktu itu Karni Ilyas jadi dedengkotnya Forum, dan Widi Yarmanto pegang Gatra setelah cabut dari Tempo. Isi berita dari keduanya gak jauh beda dari Tempo. Namun punya khas masing-masing.

Komputer pun selesai diinstal. Saya cari itu lagu-lagu D’Cinnamons. Yeah, Cuma ada beberapa biji di komputer. Tiga lagu kalau gak salah.

“nih pilih sendiri.” Kata saya.

Dia atau lilih mencari lagunya sendiri, karena saya yakin mencari lagu itu gak usah berdua, karena mouse-nya juga Cuma ada satu. Jadi barkanlah dia cari sendiri. Dan saya kembali melanjutkan membaca. Dan akhirnya Lilih pun selesai dengan kegiatan memasukan lagu D’Cinnamon nya ke MP3 nya. Katanya lagu itu buat bekal di perjalanan menuju Bogor, kota kelahirannya mungkin. Aneh juga, bekal kok lagu! Dia pun beranjak dari Suaka. “hati-hati di jalan.” Kata saya.

Bayu, masih membaca. Dan saya mencoba memutar lagu, tentunya Nirvana. Di samping saya, secara tidak saya sadari, terlihat sepotong roti. Namun menurut perkiraan saya, roti itu udah basi. Tergeletak dimana saja. Pantas gak ada yang memakannya. Warnanya pun sudah membusuk. Dan sedikit bau.

Konon, roti ini menjadi barang yang begitu berarti bagi para awak Suaka. Walaupun roti ini udah busuk dan berjamur, namun tetap saja, anak-anak Suaka sering menikmatinya dengan penuh lahap. Kadang roti itu pun disantap secara bersama-sama dan bergiliran. Saya pun sedikit merenungi dari manakah roti itu berasal?

Alkisah, tiga tahun yang lalu, ketika Wicaksono kebingungan mencari tempat kos, dia pun menemukan tempat yang sangat berarti bagi hidupnya. Listrik gratis. Wc gratis. Pemandangan gratis. Ya serba gratis. Namun SPP tidak gratis. Dan, di Suaka inilah Wicak menemukan tempatnya itu.

Sebuah roti dibawanya sebagai bekal sehari-harinya. Waktu itu, mungkin rotinya masih segar dan mulus. Tanpa ‘cap’ apapun. Mungkin masih perawan. Tak tersentuh oleh bibir orang yang mencicipi. Dan sekarang, setelah wicak pindah dari Suaka. Roti itu pun masih tersaji di Suaka. Mungkin, ia akan membagi-bagikan bagaimana roti itu enak sekali untuk disantap kala istirahat siang ataupun malam. Dan perlu digarisbawahi, sekarang roti itu sudah menjadi ‘welcome’ buat kaki-kaki nakal awak Suaka. Permukaannya hitam namun tetap menjadi tempat bersinggahnya jurnalis kampus ini dikala lelah.

Thanks ya roti tengik, kau emang menjadi penyelamat kami.
Tanpa kau, mungkin kami gak kan tidur nyenyak.
Tapi temanmu itu lho, bantal hijau itu
Sudah tidak berwujud lagi
Kadang dia jadi ‘kekesed’
Kadang jadi alas kepala.
Sekarang kau menjadi ‘peta’ nusantara.
Dan banyak sekali orang yang
Menabung iler didalam tubuhmu.


01 Januari 2010. –tanpa asap berkumandang-

Label:

SMS Dari Ndut

.::Cerita Jurnalis Kampus Gagal::.


Komputer masih menyala dari pagi. Walaupun gak ada sound-nya. Bete. Kayak di kuburan aja. Emang sih susah banget kalo ngurusin komputer jadul kaya gini. Udah bentuknya kaya tahu Sumedang. Kotak. Terus juga kadang-kadang mati sendiri. Ditambah monitornya yang kurang bersahabat. Suka ganti warna sendiri. Dasar. kaya bunglon aja.

Tapi emang ngaruh banget nih komputer. Dibanding ama mesin tik yang bikin jari bonyok, ini lebih mendingan. Kalo punya temen-temen sih kebanyakan dual core, core two duo, core two gapleh dan semacamnya lah. Tapi si aku tetep pede pake robot ini. Walau jelek tapi ini komputer tempat menampung segala unek-unek di kepala. Semuanya bisa tercurah di komputer tahu Sumedang ini.

Tetep. Lima menit berselang pikiran udah mentok. Mau nulis apa. Masih bingung. Hari ini emang banyak kejadian yang harus dicatet. Tapi apa. Otak masih belum jalan juga. Oke. Aku mulai dari tadi siang. Tepatnya sekitar jam sepuluhan. Tanggal sebelas Mei dua ribu sembilan.

Treeet. Triiit. Hape butut nyala lagi. Setelah semalem abis-abisan di cas. Pesan singkat dateng. Yapz, ini sms pertama hari ini. Untung, hape gak mati. Biasanya kalo ada sms dateng, layar langsung gelap. Mampus. Apalagi kalo ada yang nelpon, udah deh bikin orang suudzon aja. Sangkanya aku gak mau ngangkat tu telpon, padahal emang dari embahnya batere always low bet every time and every where.

Sampe-sampe aku selalu bawa tiga batere dikantong celana. Buat persiapan. Wow. jasfaking my phone. But, it’s really my friend forever. Damn. I love my telefon genggam. Huhu. Mix switching dikit.

“Tw lgu Shania Twain yg from this moment on gak? Sms-in lagh”

Busyet. Ini sms dari si Ndut. Kemana aja tu anak. Baru nongol. Baru ngesemes. Gak sopan banget. Ojol-ojol nge sms kaya gitu. Nanyain kabar kek. Lagi apa kek. Kemana aja kek. Ini mah maen nyuruh aja. Dasar Ndut. Kutil. Bikin kesel aja. Kemana aja sih di sms gak pernah bales mentang-mentang udah jadi artis papan bawah. Sombong lho. Kutil.

“tgu, d cari dlu” jawab ku singkat. Sms di kirim.

Gak lama aku bales tu sms. Aku nyari di komputer. Ngobrak-ngabrik lirik lagu. Shiiiiit. Aku lupa. komputer emang udah di install ulang ama si Ijong. Wadafak. Semua data raib abis. Termasuk puisi-puisi aku. Semuanya is dead. Sial aku gak punya kopiannya lagi. Di blog udah di apus. Damn. Damn. Damn. Sajak Sajak Tengil kayaknya di undur buat di cetak. Hmm… sabar-sabar.
Tanpa pikir panjang aku langsung lari ke kopma. Nyari warnet. Bukan warteg. Tapi warrrrrrneeeeet. Tuuuut. Aku berhenti sejenak. Orang-orang kayak semut semuanya. Sibuk. Recok. Ada yang makan. Ada yang minum. Ada yang ngobrol.

Tapi di meja kopma sebelah kiri pintu warnet, ada yang aku kenal deh. Huh. Tapi siapa ya. Langkah kaki ku percepat. Wiiiissss. Ternyata si Ajeng. Temen KKN-ku ama suaminya yang lagi makan. Yeah. Seperti biasa, sedikit senyuman aku kasih. Rencananya kita mu pada ketemuan gitu sesama kelompok KKN. Kita mu ke garut. Bertamasya ke kota kambing. Daerah kebangsaan dan tanah air si Ajeng. Prêt.

“tunggu bentar ya aku ke warnet dulu.” Kataku
“oke. Jangan lama bang.” Jawab Ajeng
“sip. Sepuluh menit.” Tambahku

Di kopma, mahasiswa UIN lagi pada sibuk ngenet. Kayaknya lagi nyari tugas. Tapi sepertinya lagi ngecek Facebook. Atau jangan-jangan lagi nyari situs yang 17+. Oh. No. jangan berburuk sangka gitu deh. Itu namanya gak baek. Mungkin mereka lagi bete, trus dateng ke warnet buat ngilangin keselnya mungkin. Biarin terserah mereka.

Pintu masuk warnet kopma Heurin banget. Alias pinuuuuuuh pisan. Gak peduli. aku sorobot saja itu pintu. Duh kayaknya gak ada yang kosong deh. “di ujung.” Kata Tuti, pegawai warnet. “sip.” Jawabku.

Aku langsung buka google.com. ketik kata kunci ‘lyrics’. Yes. Udah dapet. Lyrics.com. terus nyari judul yang tadi di pinta si Ndut. Dengan loding agak lambat, itu lirik akhirnya keluar juga.

Triiittt. Truuuut. Sms dateng lagi.

“cpt dwonx.”

Ya, si Ndut sms lagi. Aku suruh buru-buru. Kayak dikejar srigala. Sabar dikit napa sih. Sebenarnya males juga sih, tapi ya, aku gak enak ama si Ndut. Kasian dia. Katanya sih lagi praktek listening gitu di sekolahnya. Emang si aku ini suka di jadiin dukun sama si Ndut. Si Ndut suka minta jimat-jimat kalo ada tugas dari sekolahnya. Terutama bahasa Inggris. Gak gak gak. Menurutnya bahasa Inggris ku keren. Yow yow yow. Padahal nilaiku paling ambruk dikelas. Yeah. Kapan aku selesai kuliah. Wew.

Kata si Ndut, gurunya suruh nulis lirik apa yang dinyanyikan ama tu penyanyi. Tapi kenapa mesti Shania Twain sih. Kenapa gak Nirvana atau Silverchair aja gitu. Gak gaul banget tu guru. Ya minimal the cranberries lah. Atau gak celebrity skin-nya Hole gitu. Ih. Mentang-mentang sekolahan di gunung. Taunya Cuma britni spir aja. Payah.

Tak tik tuk tak tik tuk. Aku tulis lirik di hape buat di sms-in. Hah. Kirain ini lirik pendek. Gak taunya panjang kaya tiang listrik. Huh. Bisa nyampe sepuluh halaman nih kalo nulis di hape mah. Lagian kalo sms bahasa inggris pake singkat-singkat gitu, kayaknya si Ndut gak bakal ngerti dweh. Wrrrrrrr. Sabar. Rela. Ikhlas. Aku ketik itu lirik tanpa disingkat. Tat tit tut tat tit tut. Sending message…pulsa jebol. SIMpati gitu. Mahaaaaaaal.

Ndut…Ndut…Ndut… cewek ngegemesin yang bikin tulang rusuk suka mengkerut. Dulu rambutnya suka gonta-ganti. Sebentar-sebentar salon. Sebentar sebentar salon. Salon kok Cuma sebentar. Tapi gak tau sekarang rambutnya suka disambung apa enggak pake rambut palsu. Rambutnya poni apa enggak. Jerawat di pipi kananya udah meletus apa enggak. Masih suka kebut-kebutan apa enggak.

Yang jelas aku udah puas nyubit tangannya yang gempal. Pipinya yang kaya roti berisi kelapa nang marud. Hehehehe… kapan kita ngejam lagi. bawain lagu astrid lagi. Nyanyiin lgu T2 lagi. Gimana kabar Kapas Band. Kapan mu rekaman tweh Ndut. Kukukukukkkk. Kayaknya kamu sibuk ya. Mau Ujian ya. Mau di terusin kemana nih?. Dusssssssshhhhsssh.

Preet. Gak terasa, di warnet udah mau satu jam. Aku liat dulu blog bentar. Aku ketik mikoalonso.wordpress.com. yes. Agak mendingan sekarang. Penampilannya rada serem. Soalnya kemarin malem, aku udah ganti latar. Sekarang jadi item semua. Ada foto si sayah yang lagi narsis. Idih. Liat pengunjung Cuma segitu aja. Cuma nambah lima orang yang suka liat blogku. Hmmm… tarik nafas bentar. Aku keluarin semua windows. Klik stop. Mahasiswa masih terlihat sibuk browsing. Gudbay dunia.

“dua ribu lima ratus.” Kata Tuti. Aku langsung merogoh saku. Semuanya receh. “thank you.” Kataku sambil bayar trus melangkah keluar. “ yo, sama sama.” Katanya.

Di luar, mahasiswa berbagai merek. Suku. Ras. Warna kulit. Masih pada recok. Gak tau mereka ngomongin apa. Yang pasti si Ajeng udah gak ada di tempat. Waduh kemana tu anak. Katanya mu janjian ketemuan. Ya udah. Aku lanjutin langkah kakiku menuju kantor. Mungkin si Ajeng udah nunggu disana.

Gak lama kemudian suara sms bunyi lagi. Aku bertanya Tanya. Ini dari siapa lagi. Mau ngapain. Ada apa. Kayaknya Ajeng nge-sms. Aku rogoh saku celana. Ngambil hape butut. Baca sms. Tapi bukan dari Ajeng. Ini sms Ndut lagi. Duh. aDa apa Kutil.?

“masih pnjang tw…”

Pasti. Si Ndut bakal sms lagi. Soalnya aku gak sempet kirimin itu lirik ampe tamat. Pasti dia uring-uringan nyari sisa liriknya. Soalnya lagi itu lirik panjang banget. Jadi gak mungkin aku sms-in semua itu lirik. Sori ya Ndut. Kutil. Pulsanya abis. Gak cukup. Ntar aja deh aku kirim lirik lirik yang lho mau. Hehehe. Peace.

Label:

Bonus SMS

.::Cerita Jurnalis Kampus Gagal::.


Minggu 17 Januari, saya masih berguling-guling di sofa. Kadang pindah dari ujung kanan ke ujung kiri. Handphone tergeletak di meja. Selalu melirik, siapa tahu ada sms atau sekedar ada yang misscalled. Tidak, tidak sama sekali. Saya sadar ini nomor baru. Mana mungkin ada sms dari orang lain. Lagian saya juga gak pernah mengumumkan bahwa saya udah ganti nomor baru. Tadinya sih Cuma iseng beli kartu perdana. Lumayan, Cuma tiga ribu peraklah, ditambah nomor akhirnya yang saya suka: 347. hampir mirip nama sebuah distro gitu kan?

Sambil rebahan, mata terus tertuju pada si blacky (hape saya yang cukup menjengkelkan. Karena kadang dia suka bersahabat kalo lagi di charge. Tanpa di charge itu hape gak mau diajak kompromi. Sekedar nge-sms pun udah goodbye duluan. Tapi mau gimana lagi that’s my lovely friend indeed) di atas meja. Tapi tetep gak ada yang bergerak di meja itu. Karena, kalo ada pesan yang masuk, pastilah itu meja ikut bergetar.

Saya memberanikan diri untuk mengambil hape dari meja. Gak jauh sih, sekitar 50 senti meteran dari tempat saya rebahan. Coba cek bonus sms yang konon, kata teman-teman saya, perdana IM3 sekarang ada bonus sms gratisnya 50 biji tiap harinya. Yeah… perasaan senang muncul seketika. Rupanya saya belum pake itu bonus sms. Dari pada sayang itu bonus dimubazirkan, segeralah saya kirim sms semau saya.

“hai agy appz nieh?” ketik saya, dan mengirimnya secara acak. Dan menunggu balasan secara acak pula. Sambil membuang-buang pulsa. Preet.

Saya meluruskan kaki kembali dan menyadari hari ini cukup mem-bete-kan jiwa dan raga. Kepala agak terasa panas karena usai nyuci motor yang udah hampir seminggu belum dicuci. Matahari cukup menyetrika wajah saya tadi pagi. Alhasil, ide untuk merebahkan diri itu langsung muncul dibenak.

Di luar, ibu-ibu pengajian mulai memasuki areanya, yakni sebuah mesjid yang tepat di belakang rumah. Mesjid Istiqomah. Sayup-sayup terdengar dari ibu Lela, tetangga rumah, mengisi ceramah. Dan saya tidak mungkin ikut pengajian. Apalagi masuk ke mesjid, pasti ibu-ibu yang lain nyuruh saya pake krudung. Tapi ada hal penting dari setiap pengajian yang rutin digelar seminggu sekali itu, yakni sebuah harta rampasan perang jika pengajian diujung puncak acara. “Ade nambut piring” atau “Punten De pang miringankeun ieu eumameun” dan saya suka memesan pada si ibu-ibu itu. “nyobian hijinya karoketna.” Kata saya. Dan selalu si ibu-ibu itu bilang “oh mangga…mangga” (hmm… yummi)

Hal yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. ‘’capa ya?’’ rupanya itu sms balesan dari si Ndut. Emang sih si Ndut belum tau nomor saya yang baru, abisnya yang three (3) sekarang udah gak aktif lagi. Udah gak mau lagi dibilang kaum dhuafa.

‘’koben,’’ bales saya secara mendadak. (koben adalah nama gagayaan saya sama si Ndut hehe)
‘’kemana aja nih sombong,’’ lanjutnya.
‘’ada, kamu yang sombong,’’ hardik saya kembali.

Sms pun mengalir saling menyerang. Si Ndut juga curhat tentang baby-nya yang lahir beberapa minggu lalu. Dia juga lagi bete, sama halnya seperti saya. Jadi kita pabete-bete. Kita sehati Dut. Yapz…Batere Cuma tinggal dua baris. Masalah yang sangat riskan bagi hidup saya. Selain harus dicharge lama, kekesalan pun suka melanda dengan si blacky ini. Hemz…kalo ada ilham dari langit, saya ingin beli batere baru. (amiiiin)

‘’ada FB ga?’’

What! Saya sedikit terbangun setengah badan dari sofa. Tumben Si Ndut nanyain FB, biasanya dia paling anti ama masalah yang berbau net. Jangan kan FB atau yang begituan, dulu, buka Google pun dia gak nyaho. Terus kalo masalah internet-internetan pasti suka nyuruh saya. Tapi aneh sih kenapa saya gak bisa nolak kalo dia minta sesuatu (maksudnya dalam dunia pembikinan perFriendsteran. Padahal dia belum pernah minta apa-apa selain bikinin FB ama Friendster). Huhuhuhu… syukur deh kalo begitu mah berarti gak sia-sia donk kuliah di Unpas, hehehe sekarang mah rada ngota (up town girl) dikit ya non! (hihi calon guru niye)

Emang sih dulu saya sempet bikinin dia FB tapi passwordnya lupa lagi, lagian juga si Ndut dulu belum kegirangan amat deh. Ya udah deh FB yang dulu Angus.

‘’ada,’’ kata saya.
‘’ya udah add yang v aja ya, vriza66lovely@yahoo.com.’’
balesnya.

‘’okelah kalo begitu.” Kata saya. Hemz,, saya sempet mengernyitkan dahi, apa makna dibalik emailnya si Ndut? “vri itu aku, za itu anak v, kalo 66 itu tggal lhir v ama c baby.” Jawabnya.
“kok bisa kebtlan gitu seh lahirnya.” Kata saya.
“gag taw v juga, dulu smpet mnta ama alloh, eh dikabulin.” Jawabnya.

hape bergetar lagi, tapi ini bukan dari si Ndut. Nomor akhirnya 90, hmm,,, oh saya ingat itu dari Lilih, cewek mungil bermata empat. ‘’agy siap2 kursus,’’ smsnya.
‘’kursus apa, dimana ?’’ tanya saya.
‘’Korea di sadang,’’ balesnya.

Oh iya saya baru ingat, konon katanya cewek ini dikenal sebagai pengagum bahasa korea, intinya suka artis2 atau film2 korea gitu. Tapi rada aneh juga, saya baru denger kalo di Sadang ada tempat kursus bahasa Korea. “wah ikutan donk, daftarnya berapa, ada bahsa apa aja?” gertak saya.
“it’s 4 free, aslina.” Bentak dia.

Sama. Sms pun mengalir antara saya dan Lilih. Dari perbincangan lewat sms gratisan itu, munculah sebuah kesimpulan bahwa saya harus mendatangani itu tempat. Maklum mumpung tempatnya deket. Ditambah mau tanya-tanya masalah bahasa yang notabene penggunanya gak mungkin orang yang blotot ama item seperti saya apa adanya. Kesepakatan kedua, saya harus jemput ini cewek disarang huninya. ‘’oke saya jemput setengah dua, saya make-up-an dulu’’ saya berkata.

Handuk saya cubit. Lalu saya kalungkan dileher, mirip orang-orang desa jika hendak pergi ke pancuran sawah. Di asbak, sisa rokok saya santap, kali ini rasanya lebih menarik dari yang saya bakar sebelumnya. Biasa the Djarum Cokelat. Kebiasaan lain yang saya tidak pernah lewatkan adalah berlakunya pribahasa baru dalam diri ini. “ada asap ada wc” inilah pribahasa yang saya lakukan setiap saya bertapa sebelum mandi. Hal ini pula yang menjadi legenda baru bahwa jika buang hajat tanpa merokok, maka buang hajatnya pun gak akan afdol. Dan itu sudah terbukti.

Dan gak mungkin saya berlama-lama berdiam diri di WC, karena WC pun kiranya akan muak dengan apa yang saya lakukan jika berlama-lama di atas mulutnya.

Langit begitu gundah. Sepertinya air matanya akan meneteskan ke bumi ini. Dan sudah pasti ke genting rumah-rumah yang ada. Hentakannya semakin hebat. Walaupun hujan itu kecil, namun harus diketahui bahwa mereka suka bergerombol meludahi setiap mahluk dimuka bumi ini. Dan setelah mandi, sudah barang tentu saya memakai baju. Kalau tidak, semua orang yang melihat akan mendekati saya sambil berbisik “teu acan disunatan a?”

Hujan belum juga reda. Saya gak enak kalo membatalkan untuk jadi pergi ke Sadang. Entar disangka pembuat onar jadwal kursus orang lagi. Lagian si Lilih udah mau berangkat tadi jam satu. Dan kalo gak jadi, pasti dia gondok minta ampun. Tapi bagaimana mungkin kalo harus berbasah-basah ria begini. Lagian motor baru aja di cuci. Tapi untuk sebuah janji, apa boleh buat. Berusaha iklas sekuat tenaga. Sekalian main ke tempat saya mengajar, Sufikom, di Cicaheum itu. (maaf ya Tor, kapan-kapan saya cuci kamu lagi dengan lebih bersih) “I’ll be there in two minutes,” sms saya ke Lilih.

Stang motor saya pegang, lalu saya duduk di atas jok. Rintik hujan masih menyerang walau kecil-kecil. Permai lima sudah tiba. Lilih keluar dari sarangnya. Mungkin dia ngerti kalo matahari udah bersembunyi di balik hujan, makanya segala hal yang berbau kuning, dari sandal ampe sweater dia pake. Supaya dunia terasa terang benderang mungkin. Untung bukan sikuning yang mengalir di empang yang dia pake.

Saya duduk lagi di jok diikuti Lilih. Motor dinyalakan supaya maju. Karena kalu tidak dinyalakan mungkin tujuan yang akan ditempuh gak bakal nyampe. “kenapa belok sini, ke sana,” kata Lilih sambil menunjuk kearah luar kanan mulut jalan desa Cipadung.

Nah di sini saya mulai curiga. Sepertinya ada yang missunderstanding (nona dibawah berdiri). Saya kira Sadang itu adalah sebuah nama tempat yang ada di Cibiru, tapi ternyata bukan. Sadang itu adalah Sadang Serang. Wah, betul-betul kesalahan yang fatal antara kedua pihak. Karena tadi di sms Lilih menyebutkan bahwa tempat kursus itu di Sadang dan Sadang yang saya kenal adalah Sadang yang ada di Cibiru. It’s really complicated problem. Namun ada hal yang paling tidak menyesal, yakni “untung saya bawa helm,” kata saya dalam hati. Karena kalo ke Sadang yang ada di Cibiru itu gak usah pake helm juga gak apa-apa. Ternyata, insting masih berteman dengan saya. Bahwa saya harus bawa helem. Thanks ya Ting.

Hujan tetep aja masih menyiram. Jalanan agak licin. Valentino rossi kayaknya sedang tidak mud untuk kebut-kebutan (padahal gak ada keberanian untuk ngebut). Sesekali hantaman sisa air yang dicebor oleh ban nakal dan murahan kendaraan lain selalu mengguyur muka saya. Oh…shit.

Jam dua lebih beberapa menit, SMA Nasional pun terlacak. Sebuah sekolah yang lumayan nyaman yang ditunjuk mungkin oleh orang korea tadi bahwa inilah tempat kursus bahasa korea yang tepat. Wallahu a’lam. Motor saya parkirkan. Lilih turun dan menyerbu kelasnya. Di depan saya terlihat beberapa orang yang sipit. Saya hampiri salah satu dari dia. Kulitnya putih. Pasti orang korea. Dia tersenyum. Saya juga tersenyum. Bahasa Indonesianya kaku. “itu temennya,” katanya sambil menunjuk Lilih yang masuk kelas. Dan saya cukup menjawab “iya.”

Saya duduk di bangku. Dia juga duduk dibangku. Misi saya yang pertama menanyakan kapan pembukaan anggota baru. “nanti bulan Maret,” katanya lambat. Wah masih lama, dua bulan lagi donk. Di bangku itu kita berdua ngobrol pendek lebar. Di kelas, suara berisik terdengar tengah mengeja mungkin huruf-huruf Korea. Si Korea itu meninggalkan saya. Lalu datang anaknya yang masih kecil, Tanha namanya, umurnya kira-kira tiga tahun dan Angel yang saya tebak adalah kakaknya Tanha. Si Angel kelas dua SD. Bahasa Inggrisnya lumayan bagus. Saya sempat berfoto ria sama mereka. Dan mereka berdua tentu saja sipit. Titik.

Jam menunjukan pukul tiga. Saya sendirian di bangku. Di dalam kelas masih berisik. Saya rogoh saku celana untuk mencubit hape. Waktunya pergi ke Sufikom nih. “sya prgi duluan,” sms saya ke Lilih. Tapi dilaporan terkirim bertanda not sent. Saya cek pulsa ternyata nol. Sial. Saya cek bonus juga “kamu sudah mengirim 50 sms gratis,” itu tandanya gak ada sms gratis lagi hari ini. Saya ganti kartu kembali pake kaum dhuafa itu, dan tetep, sama, pulsa tidak mencukupi. Saya menyerah, sepertinya harus menunggu Lilih ampe keluar kelas. Habis mau ketuk pintu pamit ke kelas, kayaknya gak mungkin, saya sepertinya akan merasa malu.

“bu kopi bu,” pesen saya pada si ibu yang agak gendut di sebuah warung di luar sekolah. Saya lupa tidak menanyakan namanya. Buat apa nanya nama si ibu. Saya ambil sebatang Jarum Super. Tadinya mau the Jarum Cokelat tapi mata tertuju lebih cepat ke Super. Ya sudah deh, saya bakar itu rokok. Lumayan sedikit menghilangkan per-bete-an ini. Ditambah pemandangan menarik dari depan mata, yakni SPG Indomaret yang tengah membagikan brosur dengan gaya agak centil sedikit. Preet.

Saya lihat hape. Hape saya ada jamnya. Saya lihat jamnya. Jamnya menunjukan pukul tiga lebih empat puluh lima menit. Itu artinya sebentar lagi Lilih keluar kelas. Itu artinya lagi saya dan Lilih akan beranjak dari area Korea ini. Saya pindah posisi. Saya lihat seorang cewek yang saya pikir lagi ngerjain tugas Koreanya. “kursus di sini juga mbak?” basa basi saya. “iya, aa?” jawabnya dan tanyanya.
‘’enggak Cuma nganter temen, sekalian mau daftar, katanya gratis ya mba ?‘’ interview saya.
‘’iya, Cuma kita bayar uang kas aja lima ribu perminggu, itu juga nantinya buat kita.’’ Jawabnya sambil terus mencatat tugasnya.
‘’oh,,,, mba kuliah dimana ?’’ pertanyaan saya.
‘’Di UIN tapi sudah lulus,” jawaban cewek berjilbab dan agak sedikit kurus ini.

Saya sedikit kaget. sedikit. Ya sedikit. Rupanya si Lilih berbohong, katanya anak UIN nya Cuma dia doang padahal ada lagi anak-anak UIN lainnya yang kursus di sini.

“Owh…Jurusan apa Mba.” Sebrot saya.
“KPI,” timpal dia.
“angkatan berapa.” Tinju saya.
“2005,” takis dia.
“owh,,,sama donk sama saya,” tendang saya.
“Di UIN juga? jurusan apa ?” serbu dia.

Dan perbincangan pun mengalir sampai jauh. Biasa kalo ketemu ama orang yang satu suku bangsa di tempat orang lain pasti suka menanyakan temen-temennya. Contoh ‘’kenal sama Alin gak ?’’ seloroh saya dan sudah barang tentu dan pasti di jawab ‘’kenal’’. Dan dia pun berbuat hal yang sama dan wajar ‘’BSI ya, kenal sama Gina gak?’’ pertanyaannya. Ya, iyalah kenal dia kan seangkatan sama saya bu. Udah deh ini adalah basa basi jaman Fir’aun. Mending saya cari basa basi yang lain.

‘’Mba boleh liat bukunya ?’’ tantang saya.
‘’nih,’’ gertaknya sambil mengasihkan buku bahasa Korea itu. Dan saya baca-baca bahasa yang susah itu. Dan sumpah ini jauh beda sama bahasa Jepang. Jauh lebih rumit mungkin.

Satu persatu mahluk aneh pada datang menghampiri saya dan si anak UIN jurusan KPI itu. Saya sempat mendengarkan mereka. Mereka adalah murid kursusan Korea juga. Mereka centil-centil. Salah seorang cewek dari mereka membelakangi saya sambil bernyanyi tanpa rasa bersalah bahwa saya berada di belakang pantatnya. Saya Cuma diam tak berdaya. Karena disini saya tidak punya kapasitas apa-apa. Dan tiba tiba seorang cowok datang. “ayo yang kelas jam empat masuk,” ajaknya pada gerombolan centil ini. Saya tidak masuk karena saya buka murid.

Mereka pada masuk. Saya sendirian lagi. Lilih lama sekali. Saya memegang dagu sambil melotot kearah depan. Tanpa arah. Tiba-tiba lagi suatu suara terdengar.

“lagi ngapain?” kata Lilih.

Sungguh ini adalah pertanyaan yang konyol. Kok bisa-bisanya dia nanya begituan. Masa saya lagi nunggu pak rektor Nanat? Ya enggak lah. Ya nunggu dia lah. Karena saya bukan Jelangkung yang datang dijemput dan pulang tak diantar.

“pulang sekarang?” ringkus saya.
“bentar pipis dulu.” Jawabnya sambil lari terbirit-birit.

Lilih sudah pipis. Saya juga sudah pipis. Untung tidak pipis bareng. Sekalian wudu untuk menunaikan Sholat Ashar. Lumayan, pingin nyoba sholat di mesjid orang lain. Karena meski mesjid deket rumah, tetep saja saya jarang ke mesjid. Suka banyak setan soalnya yang ngajak “hei jangan ke mesjid.”

Hujan pun kiranya menyerah. Mereka yang suka bergerombol dan menyiram dunia ini sudah sembunyi di balik ketiak malaikat pengguyur hujan. Saya bawa motor di parkiran. Motor pun sudah tidak berada di parkiran lagi. Saya duduk di atas jok lagi, Lilih mengikuti duduk lagi. Kami meninggalkan SMA Nasional.

“kita ke Sufikom bentar ya?” jitak saya.
“apa?” berangusnya.
“kita ke Sufikom, tempat kursusan juga,” cerocos saya.

Jalanan agak sedikit macet. Cicaheum di depan mata. Di samping baso tomat, saya belokkan motor ke kiri. Ke arah Sufikom. “Assalamualikum,” salam saya. “waalikum salam,” jawab Vita. Vita adalah orang yang pertama kali menganjurkan saya untuk mengajar di Sufikom ini.

“tadi si bapa kesini gak?” tanya saya pada Vita. Bapa adalah yang punya Sufikom.
‘’tadi kesini nanyain miko,’’ katanya.
‘’oh,, ‘’ santai saya, ‘’oh iya saya mau pinjam modul bahasa inggris,’’ kata saya lagi.
‘’yang kemarin mana ?’’ kata Vita.
‘’lupa lagi nyimpennya,’’ imbuh saya.

Saya gak lama di Sufikom. Sekedar pinjem modul untuk hari senin dan selasa saya ngajar. Sebetulnya, sistem kursus di Sufikom itu jauh banget dengan sistem kursus standar. Apalagi pare. Jauh banget. Jadi kalo saya ngajar disana, saya tidak terlalu terpaku pada modul.

Saya pamit ke vita. Juga ke deva yang lagi ada di dalam. Modul dimasukan ke tas Lilih. Nitip maksudnya. Motor pun saya naiki kembali. Valentino rossi malah melaju lebih pelan. Yang penting selamat sampai tujuan. Dan Al-hasil Lilih kembali ke sarangnya dengan selamat. Saya juga selamat. Cuma ada beberapa hal yang saya lupa setelah saya berada di rumah. Modul masih di tas Lilih. Untung sekarang udah ditangan saya sambil merampok perahu kertasnya. []


--18012010--

Label:

Ada Sesuatu di Hidung

.::Cerita Jurnalis Kampus Gagal::.


Haduh ada yang panggil-panggil saya, menyuruh saya segera datang ke Suaka. Itu adalah Ikmah. Ada apakah gerangan ia menyuruh saya ke situ? Itu lho sms-nya bikin geregetan kaya lagunya Sherina. Itu sms provokatif banget. Ya, semacam propaganda gitu. Lihat nih:

“cpt k Suaka iQ N Tina ada perlu” Tuh kan bikin saya penasaran. Emang sih dia suka kaya gitu. Suka sms geje kaya gitu dan riweuh gak karuan.

“ukeh…ukeh.” Kata saya.
“cepetan.” Balesnya.
“lagi dijalan.” Tipu saya.

Wow, hujan belum juga reda, tapi saya penasaran apa yang terjadi di Suaka. Baiklah saya berangkat saja. Ambil kunci dan mencoba tancap gas walau susah.

“kamana?” tanya mama.
“kampus.”
“dijaket, dihelm.”
“enya.”
“dihelm meh teu migren deui.” Teriak Mama lagi.

Saya ambil helm si hijau. Helm yang biasa dipakai si Kurt Cobain. Betul, betul sekali, si Cobain terlihat lucu kalo pake itu helm. Berasa pengen nyubit terus menerus. Haduh selah motor susah banget. Saya kocok terus, terus dan terus ampe itu motor ngagerung. Ngeng…ngeng…! Kira-kira lima menitlah baru itu motor nyala. Jarak rumah ke Suaka pun Cuma lima menit. Tak lama kemudian sampailah saya di Suaka.

Aduh recok banget deh di Suaka. Sudah lama saya tidak ke situ. Eh, tapi kemarin hari minggu saya ke Suaka ding. Gak ada siapa-siapa, Cuma ada Tina yang lagi ikutan pelatihan wirausaha di SC. Dan suasana mulai mencair. Satu persatu saya salamin walau gak semuanya. Tapi ternyata Ikmah biasa saja ketika saya datang. Malah dia lagi asik ngobrol sama Indra. Huh sialan. Terus ngapain atuh saya di sms suruh ke sini. Gila !

Oh iya, ada Yane di situ. Juga Ratih. Juga itu siapa lagi saya lupa namanya. Ada Helda juga yang nyelonong gak karuan. Ujug ujug gitu deh.

“a miko tolongin Helda bikin SKTM.” Dia berkata.
“iya entar di coba.” Kata saya padat.

Saya duduk deket Yane dan sedikit menggodanya. Dia hanya senyum-senyum saja kaya gitu. Karena dia tuh keliatannya pendiem orangnya. Di kursi juga Ratih duduk duduk gitu sambil baca Gerak. Oh iya, Gerak ternyata sudah terbit. Bagus, bagus deh saya senang bacanya. Asik asik. Oh Ratih berkata, katanya hasil polling yang di adakan kemarin buat Fresh ada masalah katanya. Gak tau hilang gak tau apa saya lupa lagi.

Di ruang sebelah ada Fikri, ada Riza ada juga Femi. Mereka sedang curhat tentang masalah cinta rupanya. Betulkah masalah cinta? Mudah-mudahan betul, karena lihat mimik mukanya Femi itu memancarkan raut yang sedang jatuh cintrong gitu. Oh betul-betul Suaka penuh cinta. Asik asik saya senang. Kembangkanlah man !

Terus, Yane, Ratih dan yang satunya lagi, oh ya, Nia namanya saya baru inget, mereka pamit pulang dari Suaka. Mereka itu anak-anak magang yang kelihatannya pada rajin-rajin dan sangat potensial sekali. Mereka itu pada cerdas-cerdas dan semangat pula. Asik asik. Kembangkanlah.

Itu di dinding rupanya masih menempel cermin. Sudah lama saya tidak mencerminkan diri itu di cermin ajaib. Astaga ! ada sesuatu di hidung, haduh masa Alloh, jadi, dari tadi mereka yang ada di Suaka melihat sesuatu itu yang ada di hidung saya itu? Oh, sungguh keterlaluan sekali mereka, iya, kenapa mereka tidak memberi tahu saya sebelumnya, bahwa ada sesuatu di hidung saya, ketika saya sedang ngobrol-ngobrol sama mereka. Uh benar-benar tidak kritis mereka itu. Harusnya mereka itu berkata:

“a miko itu di hidung ada korong kecil.” Iya, setidaknya mereka berkata begitu daripada mereka itu underestimate sama saya. Huh sialan ! Oh, Yane, Ratih dan Nia belum benar-benar pulang. Mereka sedang pake sepatu rupanya. Saya hampiri mereka. Saya berlagak marahin mereka.

“hey kalian tuh gak bilang sih kalo ada korong di hidung saya.”
“ih aku mah gak tahu.” Kata salah satu dari mereka. Entahlah apa mereka tidak tahu atau pura-pura tidak tahu. Wallahu a’lam bissawab.
“hahaha... “ mereka tertawa nikmat.

Terus saja mereka nertawain saya seperti yang senang sekali. Saya juga ikut-ikutan ketawa gitu. Ah saya keluar saja, berniat mencari Kopma, mudah-mudahan Kopma tidak hilang, dan iya, emang tidak hilang, tapi saya tetap mencarinya. Mereka mengikuti saya dari belakang tapi tidak ikut masuk ke Kopma, walaupun ikut ya biarin saja, saya gak akan traktir mereka, toh mereka juga gak akan traktir saya. Okelah kapan-kapan kita saling traktir yuk !!

“a miko kita pulang ya.”
“iya.”

Saya masuk ke Kopma. Oh rupanya posisinya sudah berubah. Kopma agak sedikit luas sekarang. Hujan masih saja belum reda. Di situ saya memandang ke mesjid, ternyata di terasnya masih banyak orang dan pasti mahasiswa. Ada yang hotspotan pula. Biarinlah kan laptop mereka jadi saya gak usah melarangnya, kan saya bukan rektor, kalo saya jadi rektor pasti saya akan melarang mereka hotspotan, dan kalian jangan tanya kenapa saya akan melarang mereka. Saya kan rektornya, bebas melarang siapa saja.

“teh, super dua.” Saya kasih uang ke kasir, penjaganya wanita, saya gak tahu namanya, gak penting.

Ya sudah, saya langsung keluar lagi, karena ngapain lama-lama di Kopma, kan saya bukan pegawainya. Sudahlah saya mampir dulu ke warnet, Cuma masuk doang, Cuma stor wajah saja sama Dini yang jaga itu warnet. Oh dia lagi sibuk, saya keluar lagi deh, balik lagi ke Suaka. Aduh mereka itu: Fikri, Riza, Femi dan Helda sedang masih curhat saja. Ya sudah saya ambil saja ini catatan dan mencorat coretnya lagi sambil sms si Kurt Cobain.

“aih, rajinnya dirimu !! ni ada hadiah untukmu !! “
“hadiah apa ? mau mau :-) “
“ni ambil.“
“:-(“
“haduh, entar malem saya kirim“

--tak ada balesan lagi—

Suaka 22.03.2010 (22:14) –sendirian lagi, duh!-

Label:

Hanya Chat

.::Cerita Jurnalis Kampus Gagal::.


anak anak sedang ujian. Iya anak kursusan lagi ngisi soal gitu yang saya kasih. iya saya tunggu saja sambil facebookan. gak apaapakan daripada bete. lagian ini kepala pusing sekali. seperti ada yang nempeleng gitu. untung ada cangehgar yang setia menemani. anak-anak juga sambil ngisi, mereka sesekali tertawa gitu. oh iya, iniada catatan chat saya sama temen-temen. kalo kamu mau tahu, sok aja baca lah, saya mah bebas, gak akan marah.

ini pertama saya chat sama itu chiechie ashii, itu adiknya si Zaki, oh saya chat aja sama dia, tapi di chatnya maaf ya saya sensor sedikit, soalnya menyangkut hal pribadi sih. hehe... ini dia:

“hihihihihi...”
“kunaund a???
da yg slah...heu”
“pgn ktw aja”
“aq lucu ea, jd ktwa..hahahaaha”
“aih.... huhuhuhuu....”
“ak mu nanya nih”
“km teh adiknya zaki?”
“ea ade kandung...knp gtu a????g prcis ea.”
“oh, tolong salamin dari saya gitu, kangen berat.
oh, mirip-mirip.”
“hah,salamin sma spa???”
“sama jaki.”
“blang ja sndri...hahhahahah”
“gag ah pngen lewat kamu, kan biar romantis gituh”
“mni gelehh...heu”
“ih serius.”
-gak di bales lagi, dia off kayaknya, sorry jek, say amah suka bercanda orangnya-

Nah ini saya chat sama Deba Prajamitha, dia anak BSI juga, anaknya manis, lucu, imut, notenotesnya bagusbagus. Saya suka ngintipnya soalnya. Nih seperti ini nih chatnya:

“malem” bentak saya.
“malemmm” jawab dia.
“;)” dia senyum.
“deba kalo ketemu saya sombong banget jutek gitu” statemen saya.
“wwaaaaaaaa....masaaaaa? kapann???? ggaaaaa nggehhh hhhheee** mmaaaaffffff hhhhe*” ketik dia.
“kemaren saya, panggil pnggil, Deba Prajamitha. gitu, sangat teriak saya itu.” Ketik saya.
“aaahhh iyyaaa gtuu? dimannaa?” dia kaget.
“di FACULTY atuh” saya gak kaget.
“gag nggeehhh asli, hheee” bales dia.
“oh gitu, lain kali kamu harus ngeh ya, ph iya, ngeh itu kaya gimana sih, haduh saya susah, pengen tau banget itu ngeh, (ph) = oh” serbu saya.
“ahhhaaaa* ngeh=sadar ada yg manggil gkkgkgk” dia jawab gitu.
“aduh saya tidak melucu da, oh berti km kmren gak sadar ya. tapi kok bisa jalan gitu. gak diadu.”
“hhmm,,,, kesadaran dg kepekaan sedang menurun aktifitasnyaaaa...'” bales dia.
“oh begitu yah, lain kali kamu harus sadarkan diri.” Suruh saya.
“siaappppp,, nanti diri nya di kasi tau dulu hhee. offf ni kkaa mariii” tantang dia. Dia pamit dong.
“oh mau off? hatihati ya, jangan lupa di sign out” bujuk saya.

8:19pm Deba is offline.

Nah yang ini sama Shirly, anak BSI juga, seangkatan sama saya, maksudnya pas hari itu aja sih, pas kebetulan saya pengen ikut mata kuliah Advance gitu. Padahal saya gak ngambil itu mata kuliah. Tapi kan saya bilang daripada bête. Nih kayak gini chatnya, chat yang seadanya lah:

“hey” sapa saya.
“naon a miko Alonso” dia balas.
“maaf ni te sama serly BSI?” Tanya saya.
“yoyoi nama a'miko” jawabnya.
“ama harusnya sory salah ketik” bales dia yang salah ketik itu. Tadi dia ketik nama.
“oh , atuh apa kabar kalo gitu mah” seloroh saya.
“sudah lama kita gak ketemu” saya juga.
“saya kangen ini” masih saya.
“lebabbbbbb perasaan pas miggu kmren ketemu pas matkul apa ghitu” marah dia.
-dia juga off- 8:06 pm Sirly is offline.-

Kalo yang ini saya chat sama Rohmat, dia temen saya waktu SMA, dia udah lulus dan sarjana. Saya belum lulus karena masih ingin belum jadi sarjana. Pingin dulu merasakan detikdetik menuju sarjana dulu. Biarlah walau kamu ini sebut alas an. Yang penting saya dan Rohmat masih berteman. Kamu juga kan teman saya. Seperti ini kira-kira chat saya sama dia.
“hy” ini dia.
“hy cinta” kata saya.
“hiiiihhhh attut” jawab dia.
“kenapa” saya lagi.
“u gay?” bentak dia.
“iya” nales saya.
Rohmat is no longer online. The following was not sent:

Ada satu lagi nih, dia itu Itha, tapi ita mana saya gak tahu, yang jelas dia ngechat duluan sama saya, seperti inilah chatnya. Boleh kamu baca silahkan.

“OL kang???” ita nanya.
“sapa nih” Tanya saya balik nanya.
“itha” jawab dia.
“itha mana?” saya nanya lagi kan.
“mikoisme...” jawab dia juga.
“oh iya fans saya yah?” saya bales Tanya dia.
“hihihihi” tertawa dia.
“apa kabar” pertanyaan standar saya.
“kabar-kabari..” jawab gak standar dia.

8:37pmItha is offline.

Label:

Menukar Pizza


.::Cerita Jurnalis Kampus Gagal::.


Adalah Andri teman saya yang kemaren tanggal 31 Maret rela datang ke rumah setelah adzan maghrib. Dia berencana mengajak saya main terserah dia mau kemana. Saya kebetulan kemaren sedang ada di rumah. Sedang menonton televisi setelah abis sholat maghrib tentunya. Andri datang langsung sehabis pulang dari kerjanya. Dia kerja di daerah Dago.

Suara motornya terdengar khas. Motor Supra yang knalpotnya sangat berisik. Maklum dia kan anak muda. Jadi kalo gak berisik itu artinya gak muda. Andri parkir motor di depan rumah saya. Karena kalo motornya di masukan ke rumah saya, pasti saya larang karena bakalan capek, kan sebentar lagi mau main, jadi gak usah di masukanlah.

“ayeuna wae Ndri?” kata saya pada dia di depan teras rumah. Dan dia Cuma jawab “hayu.” Dan saya langsung masuk ke rumah. Harus pake celana panjang dan jaket, yang pastinya jaket kulit. Andri masih duduk di teras. Dia gak ikut masuk, apalagi ganti celana segala, karena ini rumah saya bukan rumah dia. Rumah dia kan di sebelah situ, 500 meter dari rumah saya. Agak ke bawah sedikit.

“mawa helm atuh,” dia menasehati. Saya gak jawab. Itu artinya saya patuh sama dia. Saya langsung masuk ke rumah lagi. Cari helm. Helm gak ada. Saya tanya kakak saya.

“helm hejo mana?”
“di si Dadan,” kata kakak.

Saya keluar lagi menghampiri Andri setelah saya tahu bahwa helm gak sedang ada di rumah. Helm ada di teman saya, Dadan. Dadan itu rumahnya tidak jauh dari rumah saya. Dan helmnya ada di situ setelah dipake oleh kakak saya. Mungkin si kakak lupa membawa helm ke rumah.

“Ndri jalan kahandap, bari ka teun si Dadan nyokot helm,” kata saya pada Andri
“hayu sakalian urang ka imah heula nyokot voucher Pizza,” kata Andri.

Saya dan Andri otomatis meninggalkan rumah dan teras rumah saya. Rumah yang dibuat tahun 80-an oleh orang tua saya. Waktu itu saya belum lahir karena saya lahir tahun 87-an. Motor Andri dinyalakan. Saya naik ke motornya. Jalanan sedikit menurun. Emang begitu karena rumah saya dekat dengan jalanan pudunan (turunan). Saya dan andri menghampiri rumah Dadan dan langsung mengerjakan niat saya untuk mengambil helm. Kebetulan Dadan sedang nongkrong di warungnya. Ada Budi di situ lagi nongkrong juga dan ada yang lainnya juga saya lupa lagi.

“Dan, aya helm hejo,” kata saya sama Dadan, saya juga lihat itu helm sedang ngajugrug di warungnya.
“helm? Oh aya,” katanya sembari membawa helm itu dan mengasihkan kepada saya.

Saya pake helm hijau itu. Saya naik lagi motor Andri. Andri menyalakan lagi motornya setelah barusan dimatikan kerana saya harus mengambil helm ke Dadan. Saya pamit ke dadan dan yang lainnya yang sedang nongkrong di warung itu. Tak lupa Andri juga sedikit pamit.

“Dan hayu,” kata Andri sebagai kata pamit bukan ajakan seperti halnya kata hayu yang sesungguhnya.
“hayu,” kata Dadan tidak ikut di bonceng Andri.

Setelah meninggalkan rumah saya dan warung Dadan, akhirnya saya mampir dulu ke rumah Andri. Tapi saya tidak ikut masuk kerumahnya, soalnya dia hanya mau ngambil voucher Pizza yang saya kasih sama dia tadi pagi. Motor Andri diparkir dekat rumah Yadi. Yadi dan kakaknya sedang nongkrong di terasnya. Wah, ternyata banyak yang nongkrong dekat rumahnya masing-masing rupanya. Saya sedikit ngobrol sama Yadi dan kakaknya sekedar menunggu Andri datang.

“kamana De?” Yadi menyapa saya dengan panggilan Ade. Ade itu nama panggilan imut saya.
“biasa we ulin,” kata saya kepada mereka.

Yadi dan kakanya sedang ngobrol sambil nongkrong. Saya juga sedang duduk di jok motornya Andri. Saya sedikit ikuti pembicaraan mereka. Pembicaraannya seputar apa yang terjadi tadi pagi. Tentang ada razia di daerah Patal Cipadung. Saya juga tadi hampir mungkin di razia kalo tidak ada ojek Legit mengasih tahu saya bahwa ada razia di situ. Tadinya saya mau isi bensin di Patal. Tapi gak jadi, kan ada razia deket pom itu. Saya balik lagi dong.

Gak lama kemudian Andri datang. Membawa tas kecil, mungkin di dalamnya ada voucher Pizza yang saya kasih itu. Lumayanlah di tengah perjalanan nanti kalo kita lapar tinggal tuker aja vouchernya. Andri datang dan semakin mendekat dan mendekat. Dan akhirnya dia mengeluarkan statement.

“De mawa SIM teu?” tanya dia.
“teu,” jawab saya sambil berpindah duduk ke posisi selayaknya dibonceng.

Andri mengambil alih motornya. Mungkin tadinya saya yang harus mengendarai motornya. Tapikan saya jawab gak bawa Surat Izin Mengemudi yang disingkat SIM, jadi dia lagi yang bawa motornya dan saya tetap dibonceng. Dan rupanya dibonceng itu enak juga. Pantesan saja banyak cewek yang mau dibonceng sama saya. Biarinlah geer sedikit gak apa-apa kan?

“hayu Di,” kata saya pada Yadi sama kakaknya. Andri juga bilang gitu sambil pamit.
“hayu De, hayu Ndri,” jawab mereka.

Saya dan Andri meninggalkan rumah saya, warung Dadan dan tentu saja meninggalkan Yadi dan kakaknya yang sedang ngobrol itu. Kami berdua bermotor ditemani gerimis yang mengundang. Gerimis yang renyah menerpa kepala saya yang di bungkus helm hijau.

Tak lama kami sudah sampai di daerah sebelum Ujungberung. Andri membelokkan motornya ke arah Wareng. Andri berencana mau ke seseorang untuk urusan bisnis. Gak tau bisnis apaan, saya gak mau merasa ingin mengetahuinya.

Alkisah, Andri sudah beres dengan urusan bisnisnya yang ketemu sama seseorang di daerah Wareng itu. Wajah Andri berbunga-bunga. Mungkin bisnisnya lancar, karena saya lihat dia memegang beberapa uang. Saya duduk saja di motor melihat beberapa meter dari arah Andri transaksi bisnisnya itu, yang belakangan saya tau bahwa dia bisnis memory card komputer.

“ngajual naon Ndri?” tanya saya.
“memory jeung USB card, maneh butuh?” jawab dia sambil bertanya.
“euh manehmah,” jawab saya kesal karena dia gak bilang-bilang dulu ke saya.
“lain ngomong atuh, meuerun di jual ka ente,” jawab dia kesal juga kenapa saya gak ngomong duluan atau seenggaknya nanya sebelumnya.

Ya sudah kita gak bahas soal itu lebih jauh. Kami berdua langsung saja meneruskan rencana kita untuk menukar voucher Pizza. Tapi kami sempat bingung mau dibawa kemana itu voucher. Mendadak saya ingat beberapa konter Pizza setelah temen saya ngasih tau bahwa di Carefour juga ada konter pizza. Iya, saya salut sama temen saya itu, sepertinya dia itu tau segala tempat kuliner yang ada di Bandung, apalagi di daerah kampus UIN SGD, dia tau semuanya. Oh tuhan, kasihlah dia hadiah karena telah tau segala sesuatu tentang kuliner. Tapi kenapa dia tetap kurus? Gak tau !

Disusurilah jalan demi jalan yang menuju ke Carefour. Saya masih dibonceng. Saya masih dihujani juga sama gerimis. Andri juga masih. Motor yang lain juga masih. Mobil yang lain juga masih. Semua yang sedang berkendaraan masih dihujani gerimis. Dan Andri memilih jalan favorit saya, jalan Arcamanik. Jalan alternatif kawula muda untuk menuju ke berbagai arah.

Gak sampai berjam-jam untuk sampai ke carefour. Saya dan Andri langsung mencari konter Pizza. saya dan Andri langsung menghampirinya, mengahmpiri konter Pizza itu. Gila, antri banget atau antri sekali di konter itu. Mungkin memang harus antri karena tanggal 31 Maret itu hari terakhir untuk menukar voucher gratis Pizza.

Saya hampiri saja pelayannya. Pelayan yang cantik dan menggemaskan jiwa, raga dan pikiran. Badannya begitu jangkung dan semampai. Rambutnya pendek seperti bukan di iklan-iklan shampo. Saya sedikit melirik ke daerah papan namanya. Tertera di situ nama Shela. Nama yang cocok dan pas dengan wajah seperti itu.

“mbak, mau nuker voucher,” kata orang yang antri juga.
“langsung ke kassa aja,” jawab Shela. Sekali lagi saya kasih tau, Shela itu pelayan Pizza.

Saya pun langsung menghampiri kassa. Mereka juga yang lain menghampiri kassa. Begitu antri dan begitu bersemangat. Tapi kemanakah Andri? Ternyata dia sedang nunggu di sebelah kiri saya. Saya sedikit maju ke depan. Maksudnya keluar dari antrian. Mereka melotototi saya, mungkin mereka mau ngomong ini cowok gak antri banget sih, tapi mungkin mereka malu atau takut? Saya gak tau !

Saya sudah paling depan antrian. Di pinggir saya ada ibu-ibu juga sedang ngantri. Saya melihatnya dari atas sampai bawah. Tiba-tiba ibu itu langsung mengamankan tasnya. Tasnya dipeluknya. Kenapa si ibu seperti curiga sama saya? Saya kan bukan copet bu. Saya mundur lagi ke antrian paling belakang. Dam mereka dan wajahnya memancarkan kegembiraan karena saya balik lagi ke antrian saya yang dulu dan sebelumnya. Saya panggil Andri. Andri nyamperin saya dan ikut antri.

Orang-orang dan antriannya sudah beres. Giliran saya menukar voucher itu. Tapi si pelayan kassa itu namanya Tari. Tapi gak secantik dan se imut Shela.

Sebelum menerima voucher dari saya. Si tari menerima dulu pembayaran dari pelanggannya yang lain. Pelanggannya itu adalah lima orang bule yang belakangan saya tau mereka itu dari Australia. Saya tau karena saya sempat kenalan sama mereka. Mereka itu adalah artis dari ya itu saya sudah bilang dari Australia, sebuah grup band metal yang namanya Surrender. Saya dan Andri sempat berfoto sama mereka.

“tunggu bentar ya mas,” kata Tari. Saya ngangguk

Si bule-bule itu bayar ke Tari. Rupanya mereka habis makan Pizza juga. Tapi pasti gak dari voucher soalnya saya tau dan lihat dengan mata kepala hati jiwa sendiri bahwa mereka berlima itu ngehabisin uang 409. 000 rupiah untuk makan di situ. Astaga banyak banget.

“mbak speak English donk,” kata saya menyarankan ke si Tari.
“gak usah yang penting mah mereka bayar,” jawab Tari berapologi. Mungkin dia gak bisa.
“ tunggu satu jam lagi ya,” kata dia ke saya.
“oh,” Cuma itu kata saya kepada Tari setelah kasih voucher padanya.

Si para bule keluar. Saya juga ngikutin mereka. Di eskalator saya ajak ngobrol mereka.

“hi Mr, where are you from,” tanya saya sedikit ke barat-baratan.
“Australi,” jawab siapa saya lupa lagi namanya. Rambutnya gimbal.
“miko,” saya kasih tangan saya pada si gimbal mengajak kenalan. Dia juga ngasih.

Andri Cuma liatin saya aja waktu saya ngomong cas ces cos sama si para bule musisi itu. Mungkin Andri terkesima melihat obrolan saya dengan si bule itu.

“De tadi maneh ngomong naon urang mah teu kaharti, bisaan manehmah,” tanya Andri.
“biasa perkenalan awal,” kata saya. Padahal saya juga gak begitu mendengar percakapan saya tadi itu. Soalnya mereka itu begitu lancar dan pasih ngomong bahasa Inggisnya. Padahal mereka kan orang Australia bukan orang Inggris.

Saya dan Andri keluar sebentar sambil menunggu Pizza siap saji. Sekedar merokok dan bicara lain-lain. Andri bicara soal saudaranya yang jago bahasa Arab dan sudah bekerja di Bahrain. Andri menasehati saya supaya lebih jago lagi bahasa Inggris. Katanya, kalo jago bahasa Inggris itu gak bakal susah cari kerja. Saya Cuma manggut-manggut saja sambil menyedot rokok.

Saya dan Andri jalan-jalan ke parkir mobil. Mencari mobil yang paling bagus untuk dijadikan objek foto saya. Lumayan buat di tempel di facebook walau mobil orang juga yang penting gaya. Andri juga ikut-ikutan gaya-gaya di mobil orang. Saya yang foto dia. Dia juga foto saya.

Saya hampiri lagi Shela. Dia masih cantik gak berubah setelah saya tinggal satu jam. Saya dekati dia, semakin dekat dan dekat. Namanya masih Shela di papan namanya.

“mbak mau ngambil Pizza,”
“atas nama siapa?”
“miko dan Andri,”
“bentar ya,”
“iya.”

Shela mencari Pizza yang saya pesan. Saya pelototi dia sepenuh jiwa dan raga juga. Dia gak geer. Malahan dia sibuk mencari Pizza dari tumpukan Pizza yang lainnya. Akhirnya Shela ngasih juga Pizza saya. Dia ngasih dengan tangan kanan. Tak lupa saya bilang terimakasih sama dia. Andri juga bilang. Saya dan Andri meninggalkan Shela, dan Pizza di tangan saya.

Saya dan Andri pulang. Hujan masih gerimis. Di daerah Gedebage, kami tertimpa musibah. Ban kami tiba-tiba bocor. Andri dan saya rela jalan sedikit mencari tambal ban. Tambal ban ketemu. Motor ditambal. Andri dan saya duduk menunggu selesai penambalan. Hari itu Rabu. Hari yang gerimis. Banyak sms masuk. Tapi gak saya balas. Nirvana juga nge-sms. Sama, saya gak balas juga. Padahal sangat ingin saya balas.

-suaka, 01 April 2010, konon hari ini April Mop, apa itu April Mop, saya gak tau-

Label:

Nonton Bola

.::Cerita Jurnalis Kampus Gagal::.


Hari itu adalah hari Rabu. Hari yang tidak konsisten, kadang hujan kadang tidak. Hari dimana saya pergi ke kampus setelah jam satu siang untuk mengikuti salah satu mata kuliah yang saya tidak ambil sebelumnya. Walaupun saya tidak tercatat sebagai salah satu mahasiswa di mata kuliah itu, tapi biarlah karena saya suka sekali ikut di mata kuliah Critical Theory.

Saya sudah ada di kampus, tepatnya di kelas, tapi duduk di luar, karena dosennya, pak Awang belum ada. Di situ, di bawah tangga yang mau masuk kelas, ada banyak teman-teman, ada Yefi di situ, dan tiba-tiba Ipenk datang. Yefi sedang merokok dengan nikmatnya bersama anak semester enam. Saya juga pingin merokok, tapi Yefi cuma punya satu batang. Saya suruh si anak semester enam itu untuk membeli rokok.

“daek meuli rooko,” kata saya.
“oh, mangga, rooko naon kang,” jawab dia mau.
“Super weh lah, “ kata saya lagi.

Dia ambil uang dari saya. Tak lama ia beli rokok. Hanya beberapa menit, karena warung si babeh dekat kelas yang saya sedang duduki. Ia kembali dengan membawa tiga batang rokok. Sambil sedikit meminta maaf pada saya, walaupun seharusnya tidak usah meminta maaf segala.

“duh kang, Super na ngan sabatang, ku Surya wehnya?” dia berkata.
“ah teu nanaon, cik hayang ngasaan Surya,” kata saya.
“haha, Surya jiga kuli wae,” kata Yefi atau kata Ipeng, saya lupa lagi suara itu.

Saya ambil sebatang dari bungkus itu. Dia juga ambil satu batang sambil malu-malu, walupun gak usah malu-malu, atau gak usah takut-takut karena saya senior. Saya sendiri benci dengan senioritas sebetulnya.

Waktu terus berputar. Sedot demi sedot saya kepulkan rokok ke atas. Mahasiswa banyak yang lalu lalang melewati saya yang sedang nongkrong dekat pintu masuk kelas. Ada pak Nurholis terlihat mau ngajar mata kuliah lain. Dia lihat saya sambil senyum. Saya juga balas dengan senyuman. Senyuman menggoda. Mudah-mudahan si bapak tergoda.

Di luar, anak-anak semester enam tiba-tiba berkumpul. Ternyata pak Awang datang. Mungkin dia sedang memberi petuah, atau juga sedang memberi tugas, karena dia tidak akan masuk. Dan ternyata betul, dia tidak akan masuk, akhirnya dia kasih tugas mata kuliah itu pada gerombolan mahasiswa. Saya hanya diam saja tidak ikut nimbrung.

Dengan tidak masuknya mata kuliah itu. Saya ajak Ipeng dan Yefi untuk nonton bola liga mahasiswa antar Jurusan. Kebetulan hari itu kesebelasan Bahasa dan Sastra Inggris atau BSI, jurusan saya sedang bertanding dengan kesebelasan Matematika. Kebetulan lagi lapangnya dekat, paling juga satu menit kalo pake motor dari kelas yang saya duduki tadi. Saya langsung tak ambil diam, menyalakan motor sekencang-kencangnya. Yefi ikut dibonceng. Ipeng juga naik motor kesayangannya.

Kami bertiga sudah nongkrong di belakang lapang. Penonton masih sedikit. Pertandingan belum menunjukkan sesuatu yang ramai. Sangat beda sekali ketika ada pertandingan bola di teve antara Chelsea melawan Barcelona beberapa hari yang lalu, walaupun jujur saya tidak menontonnya.

Pertandingan yang saya tonton itu sebetulnya tidak menarik, karena jurusan saya yang main, makanya saya bela-belain untuk nonton. Saya, Ipeng dan Yefi terlihat serius menontonnya walau kadang suka gemes melihat peluang-peluang yang hampir gol itu. Jadinya, ejekan-ejekan terlontar dari mulut kami. Karena seru sekali kalo nonton bola sambil ngetawain orang, terutama pemain. Karena, selain menjadi penonton kami juga merangkap sebagai kritikus atau komentator sepak bola.

Saya ambil uang di kantong celana denga tanpa kata saya sodorkan ke Yefi. Kalo dalam bahasa non verbal, saya suruh dia beli rokok, because watching without smoking is nothing. Yefi ambil uang itu, namun tidak secekatan dengan mahasiswa semester enam tadi yang langsung pergi ke warung. Yefi sedikit malas, agak loading, namun tetap pergi setelah saya paksa untuk pergi ke warung.

Para penonton tiba-tiba bersorak di stadion, itu menunjukan bahwa para supporter dari Matematika senang dan gembira setelah para pemainnya menggolkan kegawang BSI. Mereka terus bersorak kegirangan setelah gol berikutnya. Mereka semakin bersorak setelah gol ke tiga. Mungkin mereka puas. Bagaimana dengan supporter BSI? Mereka juga agak sedikit bersorak membalas sorakan dari supporter lawan.

Wasit meniup peluit, bertanda babak pertama usai. Saya angkat badan dari duduk. Yefi juga. Ipeng juga. Para pemain menyudut ke tempat yang disediakan panitia, karena pertandingan diistirahatkan dulu beberapa menit. Saya menyalakan motor lagi. Ipeng juga menyalakan lagi.

“ka suaka mik?”
“hayu,”

Saya ajak Yefi. Dia naik lagi dibonceng saya, namun dia turun di situ, di dekat Kopma, karena saya mau ke Suaka, tapi Yefi tidak ikut, dia mau pulang katanya. Di Suaka banyak orang, sedang rapat. Saya gak mau nyebutin namanya, karena banyak sekali, takut lupa, ntar yang lain sirik ada yang gak disebut.

Di ruang sebelah ada Ojan sedang dengerin lagu. Lagu apa gak jelas. Katanya sih lagu temennya. Dia terus menyanyikan apa yang dinyanyikan dalam lagu itu. Dia juga sedikit bertanya pada saya. Pertanyaannya gak jauh dari 5W+1H, seperti “darimana?” Saya juga langsung jawab, “habis nonton bola.” Dan ternyata dia tertarik untuk nonton babak kedua.

“hayu ah lalajo,” kata saya.
“hayu,” kata dia bergegas.

Saya dan Ojan pergi meninggalkan Suaka, berniat untuk nonton babak kedua. Di ruang tengah ada Ipeng sama Ikmah, mungkin lagi ngobrol tentang apa, biasa masalah pribadi mungkin. Ojan tanya sesuatu tentang financial sama saya di deket Kopma sambil berjalan menuju stadion.

“boga duit teu?” Ojan tanya kayak gitu untuk beli rokok mungkin. “eweuh beak tadi, maneh boga?” kata saya.
“eweuh beak,” katanya lagi.
“baelah, lalajo mah teu kudu bari udud,” kata saya lagi.

Kami terus berjalan menuju stadion tanpa sebatang rokok apapun. Uang kami sudah habis. Jadinya untuk nonton babak kedua ini kami harus rela tanpa kepulan asap berkumandang ria. Tak apalah yang penting hepi.

Saya mulai duduk di salah satu kursi beton stadion. Ojan juga ikut duduk di sebelah saya. Dia pake jaket kulit hitam dengan sedikit renda merah di arah lengan. Saya juga pake jaket kulit tanpa renda. Dibawah saya terlihat cewek-cewek lagi nonton juga, pasti dia semester dua. Wajahnya segar dan cantik cantik, centil juga, gak apalah biar rame.

Rupanya ada yang datang. Itu Ilma, Ipeng sama Ikmah. Dia ikut nonton juga rupanya padahal tadi mereka sedang duduk-duduk di Suaka. Gak apalah mereka kan pingin nonton, siapa juga yang melarang. Mereka juga kan sama bayar SPP. Mereka bertiga duduk di bawah saya. Tapi rupanya pindah keatas sejajar dengan saya dan Ojan setelah hujan gerimis sedikit menyerang.

Setelah gawang BSI terus kebobolan, Ojan mulai kesurupan, entah kenapa dia seperti seorang komentator sepak bola yang kawakan. Perpaduan antara sunda dan Indonesia dia pake.

“ternyata bolanya ngagulutuk sodara-sodara,” kata dia.
“oh terlalu tinggi mengangkat cokor,” kata saya sambil tertawa, Ojan juga ketawa. Kenapa sih ketawa? Bukannya liat pertandingan.

Ojan terus ngoceh gak karuan, Shandi, salah satu dosen BSi terus melirik dia aneh, mungkin dalam hati Shandi bertanya-tanya, “ini pria jurusan apa, perasaan di BSI gak ada orang kayak gini?”

Memang, Ojan itu anak PAI tetapi saya hipnotis dia supaya dukung BSI. Oleh karena itu dia mati-matian dukung kesebelasan yang saya dukung juga, walaupun kalah. Ipeng sama Ikmah juga terlihat pada ketawa melihat apa yang dilakukan Ojan.

Hujan masih gerimis kecil sekali, tapi henpon saya bunyi tiba-tiba. Ada sms masuk rupanya. Saya buka sms itu. Tadinya henpon disimpan di saku jaket. Tapi saya ambil karena ada sms.

“A dimana?” ketik seorang perempuan yang saya gak mau sebutin namanya.
“di stadion,” bales saya.
“huh, stadion wae, mo k 7uaka ga?” ketik dia, rada aneh kenapa Suaka, huruf ‘s’ nya diganti sama angka 7.
“tanggung lagi nonton bola,” jawab saya.
“akh klah jg, he, Qt ja2n yu,” rayu dia tiba-tiba ngajak jajan, aneh.
“bawa aja sini,” gurau saya.
“mo ap?” serbu dia lagi.
“rooko ma aer,” tawar saya.
“rkok pa?” serang dia.
“ga ah, bcnda ak,” ngelak saya.
“ikh gpp, bruan mo ap,” paksa dia.

Saya gak balas. Tanggung, lagi asik nonton. Tapi dia terus miskol. Dua kali dia miskol. Hape gak terasa bergetar mungkin ketimpah sama suara para supporter. Dia telpon lagi terus menerus. Gak saya angkat juga. Akhirnya dia sms lagi.

“dtggu dblkang stadion, buruan,” bentak dia. Saya tetap gak bales. Akhirnya dia telepon lagi. Akhirnya saya angkat juga.
“aku dibelakang stadion, kesini buruan,” kata dia.
“udah ah ga usah, aku becanda,” kata saya.
“ikh udah beli tanggung,” serobot dia
“iya atuh tunggu,” jawab saya sambil pergi ke bawah, ke belakang stadion. Di situ dia sedang pegang
kresek putih, berisi sebungkus rokok Starmild dan minuman apa lagi mereknya saya lupa, mungkin Ojan tahu. Kamu tahu Jan?

“nih aku mo ngembaliin flashdisk,” kata dia. Sambil juga ngasih itu kresek putih.
“udah ah gak usah,” jawab saya malu-malu kucing.

Iya, memang, rezeki itu jangan ditolak, kalo ditolak mungkin dosa, dia kan udah baik-baik mau ngasih, kenapa harus ditolak. Ya sudah saya ambil itu kresek sambil bilang terima kasih. Lalu saya kembali ke stadion sambil bawa kresek itu. Dan tak lupa duduk bersama mereka lagi.

Benar-benar hari yang bahagia, penuh canda dan tawa plus rezeki yang harus di syukuri. Saya ambil satu batang. Ojan ikut ambil. Ipeng silahkan ambil. Di belakang saya, rupanya ada anak si semester enam tadi, dia nonton juga, saya pinjem korek sama dia, tak lupa nawarin rokok rezeki tadi. Saya ambil minuman itu, tapi tak tau dimana lubang buat ditusuk oleh sedotannya. Ojan berkomentar sedikit.

“uh katinggali tara jajan ka minimarket na tweh,” katanya sambil menusukan sedotan ke area yang harus ditusuk. Saya ketawa mengiyakan.
“heueuh, biasa nginum cai herang atuh da urangmah,” kata saya.

Pertandingan masih berlanjut. Skor terus menggila: tujuh kosong buat Matematika. Penonton terus bersorak. Saya juga ikut bersorak walalupun tim saya kalah. Tapi yang penting bukan kalah atau menang. Yang penting itu bisa hepi dan bisa ketawa terbahak-bahak. Wasit meniup peluit. Pertandingan berarti selesai. Saya ambil lagi rokok dan menghisapnya dalam-dalam.

Kamar, 15 April 2010

Label: