Sabtu, 03 Maret 2012

Sebuah Telaah Sederhana Tentang Cerpen Kunang-Kunang Kematian[1]


Oleh Miftahul Khoir[2]


I

Sudah sepantasnya saya merasa senang, mengingat beberapa tahun kebelakang, atmosfer kesu(sastra)an yang terbangun di kota saya, khusunya di kampus ini (UIN SGD Bandung) sangat bergairah. Atau ringkasnya, sastra, sekarang (agak) tidak ditabukan lagi posisinya. Lihat saja, sudah menjadi prestasi besar ketika kampus yang di lirik sebelah mata oleh kampus-kampus lain berhasil ‘mengirimkan’ para penyair muda di ajang Temu Sastrawan Indonesia IV (TSI IV) di Ternate, Maluku sana. Tentu saja ini layak diacungi jempol pada mereka yang memandang dunia sastra adalah sesuatu yang patut dilestarikan dan dikenalkan pada khalayak publik. Sebagai contoh, sebut saja nama Restu A Putra yang sudah melahirkan beberapa karya: cerpen, puisi dan esai yang terbit di media lokal dan nasional, juga di beberapa antologi keroyokan. Ia juga tercatat sebagai pendiri salah satu komunitas yang sampai sekarang masih eksis di bidang kajian, sastra dan film—Komunitas Rumput. Lalu kita kenal sosok Pungkit Wijaya yang saya anggap konsisten di ranah sastra. Semangatnya selalu menggebu-gebu jika membicarakan sastra—baik dalam obrolan biasa, diskusi atau pun seminar-seminar yang kerap ia hadiri. Atau, belakangan kita segera tahu dua sosok penyair yang konsen di puisi: Galah Denawa dan Herton Maridi. Keduanya adalah bibit-bibit unggul, yang, jika saya baca beberapa puisinya memiliki ciri khas tersendiri. Itu pun tidak bisa dipungkiri, dengan hadirnya beberapa komunitas yang membentuk masing-masing, atau malah dengan giat individu-individu dari merekalah yang menyebabkan karakteristik dari mereka muncul—tanpa embel-embel komunitas itu sendiri. Namun apa pun penyebabnya, saya patut berbangga hati.

II

Dalam kurun dua tahun belakang ini (dengan rendah hati saya menyebut masih di ranah kampus), bermunculan berbagai komunitas dan media, yang [setidaknya] berbicara masalah kesu(sastra)an. Sepanjang catatan saya, ada Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK), Komunitas Kabel Data, Sasaka, Verstehn, Noise Youth dan Muntah (walau hanya baru menerbitan satu edisi), dan Tabloid Suaka yang tetap memberi ruang dalam salah satu rubriknya: cerpen dan puisi. Kesemuanya minimal rutin mengadakan acara diskusi baik bulanan atau mingguan yang digelar di kampus dan sekretariatnya masing-masing. Namun yang secara konsisten dalam pengamatan saya, Komunitas Sasaka-lah yang masih membuka lebar-lebar kajian dan diskusi, baik membedah cerpen, puisi atau novel-novel klasik (Indonesia) untuk dikonsumsi umum. Dan itu saya kira merupakan salah satu semangat yang luhur untuk memajukan kesu(sastra)an kita Indonesia ini.

III

Berbicara Sasaka, saya belakangan ini sering menghadiri diskusi-diskusi mingguannya. Di tahun 2012 ini, di kesempatan pertama yang membicarakan puisi-puisi karya Saeful Mushtofa dan (saya lupa lagi namanya), kemudian cerpen Andai Emak Tahu karya Siti, yang saya rasa adalah langkah baik untuk memulai tradisi diskusi semacam ini. Lalu pada kesempatan minggu ini, saya mengenal sosok T.H Ihsan dengan cerpen Kunang-Kunang [Kematian], cerpen yang sempat terbit di bulletin Sasaka tempat di mana ia bernanung di komunitasnya. Begitulah perkenalan singkat saya dengan beberapa yang berkaitan dengan kesu(sastraa)an di [lagi-lagi saya ingin berrendah hati] kampus ini.

IV

Sebetulnya saya menerima email pada cerpen ini berjudul Kunang-Kunang saja, mungkin saya pikir ada sedikit revisi dengan yang pernah saya baca di bulletin Sasaka—Kunang-Kunang Kematian. Tapi toh saya tidak memperdulikan masalah judulnya. Saya juga belum sempat membandingkan kembali dengan teks yang ada di bulletin Sasaka, atau mungkin penulis lupa tidak membubuhkan kata ‘Kematian’ saat mengirim emailnya ke saya?

Kunang-kunang adalah sebuah mitos. Konon, ia membawa kuku orang mati atau ia adalah jelmaan dari iblis. Namun para peneliti terdahulu menemukan ada zat Lucifer dalam tubuh kunang-kunang yang dapat memproses reaksi dalam tubuhnya sendiri sehingga ia bisa mengeluarkan cahaya. Lalu, apakah ini masih disebut sebagai mitos? Tentu saja, Roland Barthes menyebutnya mitos adalah sebuah tipe pembicaraan; suatu sistem komunikasi bahwa mitos adalah suatu pesan. Mitos merupakan mode pertandaan (a mode of signification), suatu bentuk (a form).[3] Semula, kunang-kunang merupakan hewan yang dianggap biasa saja seperti hewan yang lainnya, namun kemudian kunang-kunang menjadi penanda yang menimbulkan atau mempunyai efek mistis dalam kehidupan suatu daerah. Dan ia menjadi pesan yang tersembunyi atau malah secara separatis menjadi bentuk yang dianut dan menjadi tradisi turun temurun. Artinya, sistem komunikasi seperti ini, dalam tradisi orang-orang non-modern, mitos adalah laku percaya atau tidak, bukan ada atau tidak, [atau] benar atau salah.[4]

Membaca cerpen Kunang-Kunang Kematian karya T.H Ihsan, saya merasa mengingat-ingat lagi cerpen serupa yang sempat saya baca di cerpen-cerpen Kompas Minggu. Tema-tema seperti ini dengan gagah orang-orang menyebutnya realisme-magis. Tema-tema yang memadukan kejadian-kejadian yang hadir di sekitar (realitas) kita yang disisipkan mistis-mistis tertentu. Namun tentu saja T.H Ihsan, dalam proses kreatifnya mengatur strategi sedemikian rupa agar karyanya berbicara lain dengan tema sejenis—yang masih berkutat dengan ‘kunang-kunang’ ini.

Cerpen Kunang-Kunang, bercerita tentang seorang pemuda yang bernama Yadi Jopang. Umurnya 27 tahun, usia yang cukup muda dan gagah. Di kampungnya, ia dikenal sebagai jawara. Tidak ada yang berani macam-macam padanya karena ia mempunyai ilmu kanuragan—suatu ilmu yang bisa menangkal dari bahaya dan serangan musuh. Ia tahan dengan berbagai segala senjata. Tubuhnya sangat kuat walau golok menyambar sekalipun. Namun ada beberapa syarat yang harus ia jauhi, yakni jangan pernah menyebut nama tuhan atau mengingatnya sama-sekali.

Yadi Jopang mempunyai seorang teman bernama Taryo—seorang pemuda jail yang suka mempermainkan perempuan. Suatu waktu Taryo kedapatan tengah bergumul dengan istri orang, malah perempuan di kampung lain pun ia gagahi. Namun, kebejatan prilaku Taryo pun akhirnya diketahui warga kampung lain. Taryo mati seketika dihabisi oleh warga kampung tersebut. Dan yang menjadi gempar adalah hadirnya kunang-kunang setelah kematian Taryo, seolah-olah sebagai tanda bahwa dengan kehadiran kunang-kunang tersebut membuat warga resah dan takut dengan mitos yang ada—yakni bila seseorang yang dihinggapi kunang-kunang, maka ia akan mati seperti orang sebelumnya.

Mendengar semua itu, Yadi Jopang dan seorang temannya, Joko hendak balas dendam untuk Taryo, walau dalam hati Yadi Jopang tiba-tiba ia merasa miris, kekuatannya merasa lemah seketika saat ia secara tidak sengaja menyebut secara tidak langsung yang berkaitan dengan atas nama Tuhan. Dalam bentrokan itu, Joko mati. Sementara Yadi Jopang selamat dan bersembunyi di balik semak dengan keadaan mengingat Tuhan.

Membaca cerpen ini, saya teringat pada Karl Manheim, seorang Sosiolog, yang mengajukan bahwa karya sastra menyampaikan makna pada tiga tingkat yang berbeda: tingkat pertama yaitu objective meaning atau makna obyektif, yaitu hubungan suatu karya dengan dirinya sendiri; apakah ia gagal atau berhasil menjelmakan keindahan dan pesan yang hendak disampaikannya. Suatu karya sastra adalah suatu obyek yang mengobyektivasikan suatu nilai atau antinilai; keindahan, pembaruan, orsininalitas, otensitas atau peniruan, dan kepandaian teknis semata-mata. Tingkat kedua adalah expressive meaning atau makna ekspresif berupa hubungan karya itu dengan latar psikologi penciptanya; apakah sebuah sajak diciptakan untuk mengenang suatu saat penting dalam kehidupan penciptanya: kelahiran anak, kematian ayah atau ibu, atau putusnya suatu momen tertentu dari kehidupan pencipta. Tingkat ketiga adalah documentary meaning atau makna dokumenter berupa hubungan antara karya itu dengan konteks sosial penciptaan: pengaruh-pengaruh sosial-politik atau kecenderungan budaya yang tercermin dalam suatu karya. Suatu karya adalah suatu dokumen sosial atau dokumen human tentang keadaan masyarakat dan alam pikiran di mana suatu karya diciptakan dan dilahirkan.[5]

Membaca cerpen Kunang-Kunang, terutama di pembukaan narasi, kita seolah digiring oleh penulis ke dalam sebuah suasana kampung yang memiliki kepercayaan-kepercayaan tertentu. Sebuah kampung yang masih mempercayai mitos-mitos orang-orang terdahulu, dari nenek moyang mereka—mitos jawa. Kita lihat saja kutipan berikut:

Di kampungku, yang lokasinya berada di daerah jawa, bila ada salah satu warga yang mati, maka pada malam kematiannya, secara tiga malam berturut-turut kunang-kunang akan berkeliaran mengudara. Entah kebetulan atau tidak, mereka selalu beterbangan memijarkan cahaya kerlap-kerlip berwarna putih pucat, atau ada juga yang kehijauan. Sebentar bercahaya sebentar redup. Seperti itulah kunang-kunang. Kata warga kampung, mereka percaya bahwa kunang-kunang itu jelmaan dari kuku orang mati. Cahayanya yang selalu redup itu berbentuk seperti bekas cakaran, mungkin ingin mencoba mencakar kegelapan menjadi terang oleh kuku orang mati. Namun anehnya, hanya kematian dari orang baik saja kunang-kunang tidak pernah berkeliaran.

Pertanyaannya: apakah narrator yang sekaligus sebagai subjek pertama dari cerpen ini sudah [secara tidak langsung] percaya terhadap mitos tersebut? Tentu saja iya, ia percaya. Kenyataannya, tidak ada yang bisa aman dari mitos, mitos dapat berkembang dalam skema tingkat-keduanya dari makna apa pun[6], artinya ketika pada narasi namun anehnya, hanya kematian dari orang baik saja kunang-kunang tidak pernah berkeliaran., di sana derajat atau tingkat yang lain dari mitos itu sendiri hadir dengan mitos-mitos agama, yakni jika ‘orang yang baik akan di sayang Tuhan’ artinya orang yang hidup di dunia dengan baik, dengan mematuhi segala perintah tuhannya, bakal jauh dari bencana. Di sini, dalam bahasa lain, masuk dalam tingkat ketiga seperti apa yang diungkap Mark Kalheim: sebagai documentary meaning, cerita yang hadir sesuai apa yang terjadi pada masyarakat, yang dalam konteks ini masyarakat jawa.

Strategi T.H Ihsan sendiri dalam cerpen ini saya kira cukup brilian. Ia dengan apik membangun suasana sekaligus memberikan informasi pada pembaca tentang bagaimana menjadikan “paragraf awal adalah labolatorium” dalam cerpennya ini. Namun sepertinya ia lupa pada beberapa kalimat yang agak membingungkan sebagian pembaca—saya khusunya. Kita lihat misalnya pada:

Ia bilang, tubuhku akan tahan senjata apapun asal tiap malam menyulut kemenyan di bawah jendela kamar dan beberapa syarat lainnya; jangan pernah menyebut atas nama Tuhan, menjauhi Tuhan, dan memuja kepada setan.


Barangkali, jika saya boleh mengoreksi, maksud dari ketiga syarat itu adalah jangan pernah menyebut atas nama Tuhan, jauhilah Tuhan, dan memujalah kepada setan. Tentu saja, saya anggap konteks Tuhan di sini adalah tuhan sebenarnya yang dianut oleh masyarakat yang diceritakan dalam cerpen ini. Tuhan yang disembah dan dijadikan tempat segalanya. Sehingga, nuansa mistis dan takhayul didobraknya begitu saja. seolah-olah Tuhan itu tidak ada dan tidak berfungsi yang kemudian dalam agama itu disebut musyrik, menyekutukan Tuhan.

Akibat dari mitos yang kental di kampung tersebut, Yadi Jopang yang semula taat beribadah dan mengaji, kini keimanannya pun runtuh. Dalam hatinya yang penuh dengan ke(percaya)an atau tidak mengenai mitos itu kita bisa lihat:

Jadi perihal kunang-kunang yang berkeliaran malam ini di sebabkan karena Taryo mati, orang yang butuh cahaya, orang yang kurang beramal. Aku tak habis pikir kenapa kunang-kunang itu hinggap ke tanganku? Apa benar tentang mitos kunang-kunang jelmaan kuku orang mati dan yang dihinggapinya akan ikut mati? Soalnya kemarin ada kunang-kunang yang menempel di punggungnya. Ah, aku masih tetap tak percaya. Tapi bila itu jelmaan Taryo, berarti ia meminta tanganku membalaskan dendam pada warga kampung sebelah. Itu sebabnya kunang-kunang hinggap di tanganku. Pikirku.

Pertanyaan-pertanyaan Yadi Jopang inilah yang mengakibatkan imannya goyah. Jiwanya bertempur antara percaya atau tidak. Bagaimana bisa hanya karena orang mati, orang yang tidak baik, kunang-kunang akan berterbangan di malam hari, lalu mencari dan hinggap di tubuh orang yang akan menjadi korban selanjutnya? Penanda-penanda dalam teks tersebut seperti butuh cahaya dan kuku orang mati kemudian diasosiasikan dengan teks lain menurut documentary meaning-nya Manheim adalah bagaimana Yadi Jopang mempercayai ketika ada kunang-kunang yang sempat hinggap di punggung Taryo sebelum ia terbunuh. Keterkaitan antara mitos dan dan budaya yang ada di kampung ini, sebagai kampung yang masih bergaya tradisional, semakin menguatkan mitos itu sendiri semakin benar adanya. Walau pun pada akhirnya dilematis yang dialami Yadi Jopang di ujung ceritanya menjadi semacam cuci tangan penulis, agar cerpennya ini menjadi (setidak-tidaknya) kejutan: kini selain aku percaya pada perlindungan Tuhan, aku juga percaya pada mitos kunang-kunang. Aku telah dihinggapinya. Dan bila aku mati di sini, semoga tidak ada kunang-kunang yang berkeliaran di malam kematianku., yang seolah-olah pembaca kembali digiring untuk berharap “bagaimana kalau ketika Yadi Jopang mati lalu kunang-kunang tetap berkeliaran?” Maka, justru jika si pembaca berpikiran seperti itu, bukankah sama saja kita percaya pada mitos tersebut? Pada mitos kunang-kunang itu? Atau bagaimana seandainya jika pembaca menyalahkan sang penulis dengan mengatakan “seenanknya saja menutup cerita seperti itu, bukankah Yadi Jopang bukan orang baik-baik, bukankah orang yang tidak baik pasti akan butuh cahaya kunang-kunang?” ah, rupanya saya sendiri sudah terlibat dalam mitos kunang-kunang ini.

V

Dan seperti itulah hasil pembacaan saya yang saya rasa terlalu banyak kekeliruan. Namun saya harus mengakui bahwa T.H Ihsan dalam cerpennya Kunang-Kunang [Kematian] ini sudah (agak) berhasil memenuhi ketiga tingkat itu—objective meaning, expressive meaning dan documentary meaning. Namun, ya, sedikit catatan saja bahwa dalam sastra pun begitu banyak mitos yang melulu diagung-agungkan, salah satunya: “jika karya kita—puisi dan cerpen dimuat di koran, maka gelar sastrawan kita sudah di depan mata atau setidaknya diakui.” Ah, rupanya saya sendiri sudah terlibat dalam mitos sastrawan koran ini.

Bandung, 02 Maret 2012.



[1] Tulisan ini sebagai keisengan penulis dalam acara diskusi mingguan Sasaka pada 2 Maret 2012 di taman kampus UIN SGD bandung.

[2] Penulis adalah dia yang sedang belajar memahami dan mengerti cerpen.

[3] Lihat Roland Barthes: Membedah Mitos-mitos Budaya Massa. Jalasutra. 2010

[4] Lihat Acep Iwan Saidi dalam Matinya Dunia Sastra. Pilar Media. 2006.

[5] Karl Manheim, Essays on The Sociology of Culture (London: Routledge & Kegan Paul Ltd., 1959), dalam Ignas Kleden: Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan. Freedom Institute. 2004

[6] Roland Barthes: Membedah Mitos-mitos Budaya Massa. Jalasutra. 2010, hal 329.

Selasa, 28 Februari 2012

Redaktur Palsu

Yoga memang gila. Tingkahnya sangat usil. Mentang-mentang dia pake simcard Mentari yang bisa dipaketkan secara murah, lantas dia iseng telpon sana-sini orang-orang yang dia kenal.

Selasa 21 Februari 2012, saya sedang bersama Nabilla, Yoga dan Herton di sebuah asrama tua di kawasan Cipadung, asrama 2 Saudara. Bangunannya agak kumuh. Tembok masing-masing kamar mulai terkelupas. Kami bertiga tengah bersantai di lantai 2. Membakar rokok, browsing dan bercanda. Yoga tiba-tiba berceloteh untuk menelpon orang-orang yang dekat dengannya. Berbekal pulsa paketan dari Mentari, ia meminta rekomendasi nomor-nomor dari produk Indosat. Herton menyarankan Restu untuk dikerjai, sementara saya menyarankan Ojan.

Yoga memulai keisengannya dengan menelpon seorang penyair kawakan, Beni F. Syarifuddin. Ia mula-mula ingin mengerjai jika dirinya adalah redaktur Radar Banten. Yoga hendak mengkonfirmasi bahwa sajak-sajak Beni sudah dimuat, namun, ditengah percakapan, tiba-tiba Yoga memberikan hapenya pada saya, tapi saya gak kuat menahan ketawa membayangkan keseriusan Beni menanggapi Yoga. Herton Juga, ia menutup mulutnya untuk meredam tawanya. Serius, kami tertawa terbahak-bahak, betapa jail dan nistanya diri kami ini. Namun, ternyata Beni sepertinya curiga bahwa Yoga tengah mengerjainya. Ini mungkin kali kedua Yoga mengerjai penyair senior ini. Awalnya Yoga mengaku bahwa ia adalah Acep Zam-Zam Noor yang sengaja mengirim sms pada Beni sekedar silaturahmi.

Korban selanjutnya adalah Ojan, seorang pria yang sedang dilanda cinta lokasi di zona KKM-nya di kawasan Majalaya. Yoga tengah kangen sama Ojan dan Restu, makanya dia isengin kedua pria itu. Sebelum menelpon Ojan, Yoga berlatih dahulu percakapan apa yang hendak dibicarakan nanti. Saya menyarankan “bilang aja ada rapat tentang pencairan dana dengan pihak rektorat,” kata saya. Yoga mengamini. Ia langsung menelpon Ojan dengan nada serius. Mulut Yoga di tutup selimut untuk penyamaran agar suaranya tidak ketahuan. Saya, Nabilla dan Herton geli menahan tingkah laku Yoga. Dan memang berhasil. Ojan tidak curiga jika itu suara Yoga. Terjadi kesepakatan bahwa jam satu nanti Ojan bela-belain ke kampus hanya untuk mendatangi rapat fiktif ini.

Tidak puas dengan aksinya, giliran penyair, cerpenis dan esais tampan Restu A Putra jadi korban. Dengan modus yang sudah terlatih, Yoga mengaku jadi redaktur Khazanah Pikiran Rakyat. Dengan nada sok akrab, ditelponlah Restu yang tengah berada di kota Subang itu. Serangan demi serangan mulai tertuju. Yoga sengaja masuk ke dalam retorika yang ia mau, penyamaran sebagai redaktur Khazanah pun berbuah manis. Restu tak curiga. Ia rela manggut-manggut pada apa yang dikatakan Yoga. Puisi dan Cerpennya di facebook agar segera dikirim ke email Khazanah. “untuk dimuat di minggu ini,” kata Yoga. Lagi, saya, Nabilla dan Herton cekikikan tak bisa membayangkan ekspresi wajah Restu.

Waktu berjalan pelan. Nabilla sudah pulang ke kosannya. Pukul 11.47, saya sms Ojan sebelum dia benar-benar menyengaja datang dari Majalaya ke Cibiru.

“rapat bareng rektorat dibatalkan,” ketik saya.

“maksudna? Bener?” balasnya.

“si oga heureuy,” balas saya.

“bener ieu teh tong ngabobohong,” balas Ojan.

“bohonk,” jawab saya.

***

Saya pikir keusilan ini sudah beres. Ojan tidak jadi bakal datang ke Cibiru. Saya sedikit ngantuk ternyata. Dalam keadaan setengah sadar, Yoga nelpon saya. Suruh baca sms yang dia kirim ke saya, itu sms yang dikirim Ojan ke Yoga. “maaf pak. Tadi pas dihubungi saya lagi jalan. Sekarang saya sudah di lantai 2 jami’ah. Nunggu,” ini sms yang dikirim Ojan ke Yoga dan di forward ke saya. Saya tertawa kecil membacanya. Saya pikir ini sms balesan Ojan untuk mengerjai Yoga yang Yoga pikir Ojan masih dalam proses keusilannya, karena saya juga berfikir bahwa Ojan sudah sadar (Yoga hanya bercanda) dengan sms saya tadi bahwa Yoga sedang mengerjainya. Namun ternyata, ini benar-benar terjadi. Ojan memang datang ke Al- jami’ah dan menanyakan ke pihak rektorat perihal rapat itu. Dan sepertinya Ojan kikuk ketika pihak rektorat menyangkal adanya rapat itu. Tak bisa dibayangkan.

***

Sore sehabis hujan reda. Saya sedang baca-baca koran Kompas di Suaka. Tiba-tiba Ojan datang. Ia marah-marah sama saya. Ia bela-belain datang jauh-jauh meninggalkan kewajiban akademisnya untuk Suaka. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Saya kena semprotnya. Tak lama ia di Suaka. Ia langsung kembali ke Majalaya.

Ojan, maafkan saya. Saya tidak bermaksud ngerjain kamu. Saya salut sama kamu, demi Suaka, kamu rela ninggalin KKM. Saya sayang kamu. Kita masih bisa berteman kan Jan? Jan, saya harap kamu bisa nemuin kekasih yang baik hati di sana, di tempat KKM sana. Maafin saya Jan. :(

Someone Like You Adele vs Tenda Biru Desi Ratnasari

Jujur saja saya baru ngeh kalau lagu Someone Like You yang dinyanyikan oleh Adele begitu menusuk, itu pun ketika saya melihatnya di sebuah video yang saya unduh di Youtube hasil cover ulang seorang wanita hijaber yang kemudian saya tahu namanya: Indah Nada Puspita. Saya belum tahu sosok Adele saat itu. Namun dari balutan musik sederhananya, dengan nada piano yang minimalis, lagu ini berhasil membuat kuping saya agak merinding. Seolah-olah saya masuk ke dalam iramanya. Ke dalam dunianya. Ke dalam imajinasi tokoh tersebut. Bukankah ini yang disebut katarsis?

Beberapa hari yang lalu saya menyengaja mengunduh video live Adele di acara Brit Award 2011. Dan pastinya original. Tidak lipsync seperti yang selalu saya lihat di acara-acara musik di Indonesia. Saya terkesima. Suara rekaman dan aslinya tidak jauh beda. Saya sempat melongo dibuatnya dan memutarnya berkali-kali. Lalu saya mencoba mencari teks liriknya dan ikut bernyanyi berulang-ulang.


Someone Like You

I heard
That you're settled down
That you
Found a girl
And you're
Married now

I heard
That your dreams came true
Guess she gave you things
I didn't give to you

Old friend
Why are you so shy?
Ain't like you to hold back

Or hide from the light

I hate to turn up out of the blue uninvited
But I couldn't stay away, I couldn't fight it.
I had hoped you'd see my face and that you'd be reminded
That for me it isn't over

Never mind
I'll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
"Don't forget me," I begged
"I'll remember," you said
"Sometimes it lasts in love
But sometimes it hurts instead."
Sometimes it lasts in love
But sometimes it hurts instead,
Yeah.

You know how the time flies
Only yesterday
It was the time of our lives
We were born and raised
In a summer haze
Bound by the surprise
Of our glory days

I hate to turn up out of the blue uninvited
But I couldn't stay away, I couldn't fight it.
I had hoped you'd see my face and that you'd be reminded
That for me it isn't over.

Never mind
I'll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
"Don't forget me," I begged
"I'll remember," you said
"Sometimes it lasts in love
But sometimes it hurts instead."

Nothing compares
No worries or cares
Regrets and mistakes
They are memories made.
Who would have known
How bittersweet this would taste?


Adele, seorang penyayi asal Inggris, kelahiran 5 Mei 1988. Lebih muda satu tahun dari saya. Namun wajahnya saya pikir terlalu tua untuk seumuran segitu. Badannya agak gemuk, jauh dari postur penyanyi seksi yang kerap mempertontonkan tubuhnya. Setelah saya telusuri, ternyata bakat menyanyinya sudah terbentuk sejak ia kecil. Pantas saja di umurnya yang remaja ini karirnya cukup diperhitungkan. Melejit bak meteor yang melesat ke angkasa. Adele adalah salah satu pengecualian dari mitos “menjadi penyanyi itu mesti langsing dan erotis.”

Dari hasil pembacaan berulang-ulang, lirik Someone Like You mengisahkan seorang perempuan yang tengah dilanda kesedihan yang dalam. Kenangan yang dibangun si Aku lirik tampaknya begitu berat menghadapi kenyataan setelah ‘kepergian’ seseorang yang dikasihinya secara diam-diam (You). Dalam hal ini, antara keikhlasan dan kenaifan begitu tipis. Karena si Aku lirik tidak bisa berbuat apa-apa lagi setelah menerima kenyataan bahwa seseorang yang dicintainya menikah dengan orang lain.

Kalau saya boleh menafsir, lagu ini bercerita tentang cinta bertepuk sebelah tangan. Si Aku lirik (yang barangkali teman dekat si (You) di masa lalu) menyimpan perasaan cinta pada si (You), namun si Aku lirik tidak pernah menyatakannya. Sampai pada suatu momen yang begitu sakral, sebuah pernikahan yang membuat hancur perasaan si Aku lirik, dengan seolah berpura-pura memasang wajah dan mimik muka yang tidak mencerminkan kegalauan. Malahan dari beberapa baris liriknya, justri si Aku lirik menyadari tentang kekurangan yang ia miliki, baik dari segi fisik maupun materi atau yang lainnya. Ini bisa dilihat pada “I didn't give to you” yang jelas membandingkan dirinya sendiri dengan istri si (You) tersebut. Pada “That your dreams came true” yang saya bayangkan bahwa pernah ada keinginan dari si (You) untuk mempunyai seorang pendamping hidup yang bisa membahagiakannya, tapi sayangnya, dambaannya itu bukanlah si Aku lirik tersebut, malah orang lain yang menjadi istrinya sekarang itu, yang jauh lebih sempurna.

Fenomena yang terjadi, khusunya di Indonesia atau barangkali di Negara lain, ada sebuah nuansa lain jika kita menghadiri sebuah acara pernikahan, dalam hal ini kedua mempelai yang menjadi permasalahan adalah orang yang (pernah memiliki kedekatatan/hubungan spesial dengan kita) bisa jadi mantan kekasih atau orang yang masih kita cintai. Ini saya pikir terjadi dalam lirik/lagu yang dilantunkan Adele ini. Betapa terpukulnya si Aku lirik menghadapi kenyataan yang sangat berat. Namun si Aku lirik tetap memaksa dirinya untuk tetap tegar dengan kenyataan itu dan merelakan apa yang sudah ditakdirkan. Dan berharap bisa menemukan sesosok yang memiliki kesamaan dengan seseorang yang ia dambakan. “I wish nothing but the best for you too” Sampai akhirnya, keduanya bersikap saling dewasa satu sama lain. Meskipun berbagai kenangan pahit dan manis tak bisa dilupakan. Bayangkan saja, semisal dalam pemberian ucapan selamat di hadapan kedua mempelai, kita masih sempat membangun komunikasi yang semestinya kurang begitu tepat untuk diutarakan seperti halnya si Aku lirik dan si (You), "Don't forget me," I begged … "I'll remember," you said. Bukankah percakapan ini memiliki maksud yang penuh harap dari si Aku lirik? Bukankah "Sometimes it lasts in love But sometimes it hurts instead" adalah sebuah realitas dari sebuah hubungan percintaan?

Setelah memutar lagi ingatan, akhirnya saya menemukan bahwa kisah dalam lirik/lagu Someone Like You ini ada kemiripan tema dengan lagu lawas yang pernah dilantunkan Desi Ratnasari, seorang artis, penyanyi yang kadang mengisi sebagai pembawa acara, yang judulnya Tenda Biru. Saya sering mendengarnya diputar di rumah tetangga. Maklum, dulu saya tidak punya tape apalagi VCD yang sempat booming saat itu. Saya hanya memiliki radio dengan pemutar kaset yang kadang tidak berfungsi, jika nyetel kaset, vitanya selalu kusut.


Tenda Biru

Tak sengaja lewat depan rumahmu
Ku melihat ada tenda biru
Dihiasi indahnya janur kuning
Hati bertanya pernikahan siapa

Tak percaya tapi ini terjadi
Kau bersanding duduk di pelaminan
Airmata jatuh tak tertahankan
Kau khianati cinta suci ini

( korus)

Tanpa undangan , Diriku kau lupakan
Tanpa utusan . . . Diriku kau tinggalkan
Tanpa bicara . . . Kau buat ku kecewa
Tanpa berdosa . . . Kau buatku merana
Ku tak percaya . . . Dirimu tega
Nodai cinta . . . Khianati cinta


Kesamaan tema antara Someone Like You dan Tenda Biru ini bercerita tentang seorang perempuan yang ditinggal oleh seorang dambaan hatinya yang berakhir di sebuah pelaminan. Dalam lirik Tenda Biru, si Aku lirik merasa dikhianati tanpa kabar apapun yang datang padanya. Dalam sebuah ketidaksengajaan si Aku lirik mendapati rumah sang dambaan hatinya dipenuhi dengan hiasan-hiasan ornamen pernikahan. Ada tenda biru dan janur kuning yang melambangkan sebuah pesta pernikahan tengah terjadi. Dan dengan mata kepala si Aku lirik sendiri, ia melihat dengan jelas sang dambaan hatinya tengah duduk satu pelaminan dengan mempelai wanita. Betapa pedih dan lukanya hati si Aku lirik tersebut. Air matanya mengalir deras tanpa henti. Sebuah pengkhianatan jelas berada di depan matanya.

Kisah yang terjadi dalam lirik Tenda Biru ini mungkin sering kita jumpai dalam cerita-cerita sinetron, cerpen, novel dan yang lainnya. Namun, realitas tentunya menjadi acuan yang sangat dekat untuk sebuah proses kreatif. Alur yang dibangun sudah barang tentu apa yang ada dan terjadi di sekitar kita, tak terkecuali dari kisah kedua lirik di atas. Betapa mahalnya sebuah kesetiaan. Betapa pentingnya sebuah penghargaan cinta.

Jika dilihat dengan kasat mata, ada kesamaan bentuk dan pola antara lirik dan puisi. Masing-masing mempunyai unsur rima, aliterasi, irama, repetisi dan sebagainya, yang menurut Lindley (dalam Coyle, 1990:188) menyebutkan bahwa lirik termasuk ke dalam salah satu jenre puisi. Malahan dalam tradisi Yunani Kuno, lirik menjadi semacam budaya yang dinyanyikan sebagai himne-himne tertentu. Ringkasnya, lirik adalah, ungkapan seseorang yang mengekspresikan jiwa, pikiran dan perasaan (Abrams, 1999:146) yang kemudian lirik menjadi asal-usul dari lagu seperti yang kita kenal masa kini. Dengan iringan instrument-instrumen musik tertentu.

Namun kemudian, dari ekspresi perasaan yang dilantunkan Adele dan Desi dari kedua lirik di atas, dominasi keterpurukan dan kepedihan hati si Aku lirik berpusat pada diksi “married” atau “pernikahan” yang keduanya, meskipun memiliki perbedaan budaya, namun kesakralannya meluluhkan dan menjadi titik akhir atas nama sebuah hubungan. Masing-masing dari keduanya menyadari bahwa pernikahan adalah, hak mutlak, yang tidak bisa diganggu-gugat, yang pada akhirnya si Aku dari kedua lirik tersebut mau tidak mau menerima dan merelakan kenyataan, walau ada jejak dan bekas yang [mungkin] tidak bisa dilupakan dan diterima oleh hati yang terbuka dan bijaksana.

Inilah yang menjadi perbedaan dari kedua lirik tersebut. Walau pun kedua subjek pertama, si Aku lirik sama-sama mengalami kegundahan, keterpurukan dan kepedihan hati, namun pada Someone Like You, si Aku lirik berperan sebagai sosok yang legowo dan menerima keputusan yang terjadi. Meskipun ada sebuah penyesalan yang tidak bisa dipungkiri, bagaimana sosok pria yang pernah menjadi teman dekatnya itu tidak bisa menjadi pendamping hidup sepenuhnya. Ia hanya bisa berharap dan mencintai sepihak, dan dengan bijak, ia menyadari dan meyakini bahwa ia pun mampu mendapatkan dambaan hatinya seperti yang ia dambakan sebelumnya “never mind … I’ll find someone like you.”

Ini berbeda dengan kasus yang dialami si Aku lirik pada Tenda Biru. Ia serasa ditikam dari belakang. Peristiwa yang bisa melululuh-lantahkan jiwa seorang (perempuan). Merusak tatanan psikologis dan batin. Apalagi dalam hal ini yang menjadi korban adalah sosok perempuan, yang, sudah barang tentu dicap sebagai mahluk perasa. Mahluk yang mendominasi unsur-unsur emosi dan perasaan. Betapa tertusuknya hati si Aku lirik ini. Cinta yang dinodai. Pengkhianatan yang tak bisa dimaafkan. Lihat saja diksi-diksi kelam yang dihayati Desi: Lupakan, tinggalkan, merana, dosa, khianati, tega, airmata. Bukankah ini adalah diksi-diksi romantik yang menukik?

***

Tulisan ini dibikin seenaknya saja, sambil menunggu koneksi modem yang lelet, yang kuotanya udah abis. Hiks…shiks… Oh, Adele, oh Desi, lebih baik kalian berdua menjadi istri saya saja. saya jamin, saya tidak akan membuat kalian kecewa. Saya yakin kalian berdua masih merasa kesepian, bukan?

Selasa, 07 Februari 2012

Little Kiss For Mama (curi-curi pandang)

Ini berawal ketika saya sedang berada di apotek Kemuning rumah sakit Hasan Sadikin. Antrian cukup panjang dan berjejer. Saya tinggal menunggu panggilan. Untuk membunuh rasa kesal, saya menyengaja menyalakan laptop. Mengetik catatan harian yang sudah terekam dalam otak. Saya duduk di kursi paling belakang. Tiba-tiba dua orang wanita setengah tua dan seorang gadis duduk di antara saya. Mungkin mereka ibu dan anak. Sang ibu berada di sisi kiri saya, sementara si anak di sebelah kanan saya.

Sudah dapat beberapa paragraf saya mengetik, saya merasa ada yang memperhatikan. Si gadis di sebelah saya matanya memandang pada jari saya yang terus mengetik. Tak lama saya langsung mematikan laptop. Saya merasa agak malu jiga ia mencuri pandang terus pada tulisan saya. Saya sekilas melihat wajahnya. Ia tersenyum. Saya balas dengan senyuman kembali. Ia dan ibunya mungkin tengah antri mengambil resep juga. Tapi entah untuk siapa. Mungkin untuk keluarganya.

Apoteker memanggil nama ibu saya. Saya cepat-cepat mengambil resep. Dua selang infus dan tiga labu natrium klorida. Segera saya pergi ke ruangan mama. Menggantikan labu kosong dan mengatur posisi mama yang kurang enak.

Besoknya, pagi-pagi sekali, sehabis bangun tidur, saya duduk-duduk di kursi lobi. Membaca-baca buku “Bermain-main Dengan Cinta” karya Bagus Takwin yang entah kenapa ada di tas saya. Oh, mungkin pacar saya nitip saat kami berdua berkunjung ke ITB Fair kemarin.

Setelah baca beberapa lembar, di depan saya terlihat si ibu dan si gadis melangkah melewati saya. Si gadis lagi-lagi mencuri tatap pada saya. Saya lalu menatap matanya. Ia memalingkan wajah sambil sedikit menyembunyikan senyum dengan punggung tangan kanannya. Dalam hati, saya ketawa ada apa dengan gadis itu.

Setelah dapat rujukan dari rumah sakit Ujung Berung, mama, sejak hari Kamis tanggal 3 Februari 2012 dipindahkan ke Hasan Sadikin. Kebetulan ruangan mama mudah dilewati orang-orang lewat yang hendak ke mushola. Ruangan mama saya pikir nyaman sekali. Hari pertama sampai hari ke empat, di ruangan ini hanya diisi oleh dua pasien. Dan itu sangat kondusif sekali jika dibandingkan ruangan lain.

Di suatu sore yang bercuaca baik, ketika saya berada di samping mama. Saya melihat si gadis hendak pergi ke mushola. Saya melihatnya dari jendela. Si gadis, mungkin tak sengaja melihat saya juga. Ia menatap saya. Tatapannya agak sedikit beda. Lalu bergegas pergi. Saya tak menghiraukannya.

Setelah maghrib berkumandang, seperti biasa saya mencari angin di belakang mushola. Membakar rokok dan minum kopi. Si gadis datang lagi membawa mukena. Mengambil wudhu dan mungkin langsung sholat. Saya matikan rokok dan pindah duduk menuju dekat jendela ruangan mama, yang pasti bakal dilewati sama si gadis itu. Saya duduk di sebuah selasar. Si gadis, kira-kira sepuluh meter dari saya tengah berdiri dan memainkan hape. Sesekali ia memencet nama-nama di phonebook. Lalu berbicara “haloo”. Ah, ia sedang menelpon seseorang. Saya masih duduk memandangnya. Ingin tahu bagaimana reaksinya. Ia lalu mencuri pandang. Saya segera membalasnya. Ia bergegas melempar pandangan dan berlari-lari kecil sambil tersenyum. Saya tak kuat menahan ketawa. Tadinya saya mau cegat dan pura-pura pinjam charger jika ia melewati saya setelah ia sholat. Namun ternyata ia kembali ke ruangannya bareng si ibu. Setelah melewati saya yang tengah duduk. Saya sedikit berdehem kecil. “ehmm.” Dan menunggu apa ia bakal melirik kebelakang atau tidak? Ah ternyata tidak. Saya lalu kembali masuk ke kamar mama dan tidak berhenti senyum-senyum sendiri.

Little Kiss For Mama (membaik)


Saya baru beres mandi setelah saya bangun tidur. Sholat ashar. Minum kopi dan segera meluncur ke Suaka untuk sekedar mencari suasana dan menghirup udara segar. Di Suaka terlihat beberapa orang sedang mengerubuti krupuk anclom. Krupuk yang dibawa Godi dengan bumbu macam-macam. Kuahnya lumayan enak. Pedas. Cocok untuk saya yang baru bangun tidur. Di sana ada Pimen, dia baru keluar dari tempat kerjanya di Jakarta. Ada Alin, Nirra, Godi dan Norman. Saya bersalaman sama Pimen sekaligus nyindir dia dan memeras hasil uang kerjanya.

Di ruang tengah ada Ikbal. Ia terlihat awkward sekali entah kenapa. Alin juga pindah ke ruang tengah (ruang kerja Suaka) Alin ikut-ikutan kikuk setelah saya sindir dia dengan tragedi 3 Februari. Oh ya, ada sedikit cerita dengan tanggal 3 Februari. Ada sesuatu yang mungkin sangat penting dalam hidup Alin dan Ikbal. Mereka berdua akhirnya telah mendeklarasikan hari bahagia mereka. Jalinan kasih mereka sekarang sudah tercatat dalam administrasi hati mereka berdua. Ini mungkin kebetulan, antara Nabilla sang kekasih pujaan hati saya akhirnya mencanangkan diri kalau saya dan dia juga sepakat untuk memulai hidup dari nol lagi setelah beberapa waktu break sejenak.

Saya tak lama di Suaka. Setelah adzan maghrib berkumandang, saya segera siap-siap untuk pergi ke rumah sakit lagi. Jagain mama dan membawa beberapa keperluan di sana. Saya berangkat mengajak Iwan Engko tetangga saya.

Cukup beberapa waktu untuk sampai ke rumah sakit Hasan Sadikin. Saya sudah mulai merasa terbiasa pulang pergi Pasteur-Cibiru. Dan Alhamdulillah hari ini tidak ada razia. Jalanan terasa lancar tanpa hambatan.

Beberapa waktu kemudian, Ali, Doni dan Mas Manijan datang menjenguk. Ayah dan mama merasa senang. Pancaran wajahnya sumringah. Saya juga ikut-ikutan senang melihat mama mulai senyum kembali. Ada hal yang berbeda jika mama kedatangan orang-orang yang menjenguk. Mungkin dukungan dan doa mengalir ketika mereka datang. Dan itu sudah cukup mengobati mama yang lumayan baikan.

Minggu, 05 Februari 2012

Bila

Bila malam ini angin berhembus semakin kencang, apakah kau akan kedinginan? Sementara aku masih belum bisa memahamimu dari jauh. Aku belum bisa menggenapkan keutuhan rasa kangen ini yang semakin menjalar ke setiap celah-celah hatimu yang penuh tanda tanya.

Bila ada tanda cinta yang belum juga kau rasakan dariku, itu semua hanya setumpuk prasangka yang sepatutnya tak kau kumpulkan dalam deretan curigamu. Aku bisa mengerti semua itu. Semakin paham dan akan terus aku hilangkan setahap demi setahap. Agar malam ini kau tidur dengan nyenyak tanpa debar yang keras di dadamu, atau kau bisa tidur lelap tanpa tugas-tugas yang terus menumpuk.

Bila, bergegaslah kau mengejar sesuatu yang pasti, yang pada suatu saat nanti aku bisa menggenggam erat jari tanganmu. Yang pada suatu nanti aku selalu ada saat kau kedinginan. Memelukmu dari belakang. Menyimpan jari-jari tanganmu di sela-sela jari-jariku. Bahkan sebaliknya, kau bisa mengecup mata dan pipiku berulang-ulang sepuas yang kau mau. Aku akan rela dan tentu saja senang jika kau mau. Dan pasti kau akan sangat mau. Jika tidak, aku akan sedikit memaksa agar kau berusaha menutupi keenggananmu.

Dan, Bila, aku sadar betul kau pasti tahu. Tentang rasa yang lindap pada diri kita masing-masing. Aku dan kamu sama-sama (mungkin) akan selalu memahat malam dalam ranjang yang (saat ini) belum bisa kita satukan. Namun, itu pun cukup untuk pembelajaran masa depan kita tentang pentingnya hari esok. Hari di mana kita saling berpagutan, saling mangggangguk, seiya-sekata, saling melempar senyum dan banyak lagi kebahagiaan yang mesti kita kemas dari sekarang.

Bila, bila kita saling memahami dan mengerti akan sikap yang tak senantiasa khilap dalam setiap ucap, kita bisa menelaah ulang dan memperbaikinya jika memang perlu (tapi aku sadar itu benar-benar perlu). Agar suatu nanti jika kita terpeleset ke dalam salah tafsir perasaan kita, itu akan sangat mudah kita susun ulang. Ingatlah, aku dan kamu sama-sama manusia. Sama-sama punya jurang kesalahan. Kita terlahir untuk saling melengkapi karena cinta adalah proses memanusiakan diri, aku, kamu, antara kita berdua adalah sepasang ruh yang diciptakan tuhan untuk saling berkejaran di indahnya dunia, di ranumnya surga.

Bila, bila kita sepakat, tentang apa yang pernah kita tentukan, rencanakan dan janjikan. Dia, yang di atas sana sudah pasti senantiasa mendengar apa yang kita ucapkan dalam hati kita masing-masing.[] ^_^