Senin, 23 Mei 2016

Jangan Ada Lagi Sandiwara Sapi

Rencana impor sapi indukan sebanyak 25.000 ekor menyisakan dilema bagi pemerintah. Satu sisi pemerintah ingin impor melalui jalur lelang sesuai aturan yang berlaku. Di sisi lain skema penunjukan langsung dinilai lebih tepat.

"Tapi, kita tahu, skema lelang hanyalah sandiwara belaka. Seolah formalitas, padahal yang menangnya sudah ditentukan terlebih dahulu," ujar Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Muladono Bashar di Bogor akhir pekan lalu.

Pernyataan Muladno tersebut tentu bukan isapan jempol belaka. Dia berkaca pada pengadaan sapi indukan tahun-tahun sebelumnya yang dianggap menjadi permainan segelintir pihak untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya melalui lelang.

Memang, saat ini, berdasarkan pengakuan Muladno, pemerintah telah menetapkan skema lelang untuk impor sapi indukan tersebut. Bahkan sudah ada 6 calon pemenang. Masalahnya, peserta yang lolos tahap lelang tersebut bukan berasal dari perusahaan bonafit. Pendek kata, kredibilitas dan profesionalitas calon pemenang lelang dipertanyakan.

Dia khawatir, perusahaan peserta lelang tersebut setelah ditetapkan sebagai pemenang ujung-ujungnya menggunakan jasa perusahaan berpengalaman untuk mendatangkan sapi impor ke Indonesia.

"Nah nanti di situ ada tata niaga lagi. Perusahaan yang menang memakai jasa perusahaan berpengalaman yang biasa tangani sapi dan tentu harga akan semakin mahal."

Muladno tak ingin permainan tersebut terus terjadi di pemerintahan saat ini. Artinya, dia mengisyarakatkan jika pun lelang impor sapi indukan sudah mengerucutkan 6 calon pemenang, pihaknya akan mengupayakan agar skemanya diubah menjadi penunjukan langsung.

Pihaknya sudah mengajukan ke Kemenko agar impor sapi indukan sebaiknya dilakukan penunjukan langsung. Tentunya nanti dipilih perusahaan yang benar-benar kredibel dan profesional.

"Tinggal menunggu Pak Jokowi apakah nanti jadi penunjukan langsung," ujarnya.

Muladno juga mengisyaratkan bahwa Jokowi akan menyetujui untuk mengambil langkah penunjukan langsung siapa yang akan mendatangkan sapi dari Australia tersebut.

Pasalnya, pemerintah saat ini cukup concern memberantas permainan-permainan yang tidak sesuai dan berpotensi merugikan negara. Hitung-hitungan Kementerian Pertanian, total anggaran untuk pengadaan 25.000 sapi indukan Brahman Cross mencapai Rp700 miliar.

Pemerintah, lanjutnya, tentu tidak ingin menggelontorkan uang sebanyak itu berujung percuma. Dia ingin pengadaan sapi indukan tahun ini lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang dinilai banyak terjadi 'sandiwara'.

Dari segi teknis, setelah sapi tiba di Indonesia, sapi-sapi tersebut selanjutnya dibawa ke tempat instalasi hewan selama sebulan. Dia ta kinging sapi langsung didistribusikan langsung ke para peternak yang akan mengelola. Di samping itu, pemerintah akan melatih para peternak terkait bagaimana mengurus sapi agar bisa beradaptasi dan diurus serta beranak pinak dengan baik.

"Pokoknya kami ingin mengatur sapi ini nanti secara ketat agar semuanya berjalan baik, termasuk soal ketersediaan pakan. Nah ini yang harus dimatangkan lebih dalam," ujarnya.

Sementara itu, Pengurus Besar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) Rochadi Tawaf tak mau ikut campur terkait skema apa yang akan dilakukan pemerintah soal pengadaan sapi indukan tersebut.

Dia tak ingin memikirkan apakah nantinya pemerintah meneruskan skema lelang atau penunjukan langsung siapa importir sapi indukan dengan nilai ratusan miliar itu.

Tawaf mencatat, pemerintah harus serius menindaklanjuti distribusi dan pemeliharaan setelah sapi tiba di Indonesia. Dia mengimbau agar 25.000 sapi indukan tersebut nantinya dikelola oleh BUMN yang menangani khusus soal persapian.

"Setelah jinak baru didistribusikan ke peternak untuk diurus. Kalau langsung diserahkan peternak rakyat, nanti tidak bakalan bener, bisa-bisa nanti sapi-sapinya pada mati," ujarnya.

Namun, berbeda dengan pandangan Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Teguh Boediyana. Dia menilai rencana pengadaan sapi indukan dari Australia tidak akan berhasil sama sekali.

Pemerintah dinilai tidak akan bisa mengambil pelajaran tahun-tahun sebelumnya yang kerap gagal mengelola sapi indukan. Bahkan dia mengkritik pemerintah untuk menghentikan program tersebut karena dinilai hanya memborosokan uang negara semata.

"Dari awal kami sudah ingatkan lebih baik pemerintah fokus membiayai bagaimana caranya menekan sapi betina produktif yang setiap tahunnya dipotong sampai sejuta ekor," ujarnya.

Teguh sadar betul, rencana penambahan populasi sapi indukan tersebut tidak akan berjalan efektif. Logikanya, kata dia, para peternak rakyat yang nantinya dibebankan mengurus sapi tidak akan kuat mengurus sapi dalam jumlah banyak.

Selain itu, ketersediaan pakan harian dianggap sulit dilakukan oleh peternak rakyat sehingga kesehatan sapi akan menjadi hambatan dalam pembibitan.

"Saya berani taruhan, lihat saja kalau program impor sapi indukan ini jadi, tidak akan berjalan lancar kalau melihat pengalaman yang sudah-sudah," ujarnya.

Apalagi, kata dia, saat ini kuota impor sapi indukan mencapai 25.000 atau lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Belum lagi, lanjutnya, daerah yang mampu memelihara sapi dalam jumlah banyak hanya bisa dilakukan Jawa Timur dan Jawa Tengah saja.

Dia beralasan mengapa pemerintah seharusnya fokus menekan pemotongan sapi betina produktif dibandingkan impor sapi indukan. Dalam catatannya, ketersediaan sapi betina dan jantan pada 2011 mencapai 14,5 juta ekor. Adapun, pada 2013 mencapai 12,5 juta ekor.

"Ini kan stoknya terus berkurang karena setiap tahun berkurang. Nah, tahun ini jumlah sapi yang ada tidak mungkin lebih dari 12,5 juta ekor karena pemotongan sapi produktif yang kian masif," katanya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Muhammad Yamin menyetujui rencana impor sapi indukan oleh pemerintah dan menekan pemotongan sapi produktif seperti yang ditegaskan kalangan pengusaha sapi.

Menurutnya, keduanya sama-sama bisa menambah jumlah ketersediaan sapi yang selama ini terus mengerucut. Sehingga, kata dia, ke depan Indonesia bisa swasembada daging seperti yang diharapkan pemerintah.

"Apa yang diungkapkan pengusaha sapi soal pemerintah harus menekan jumlah pemotongan sapi produktif itu baik. Dan rencana impor 25.000 sapi indukan juga baik untuk menutupi sapi-sapi produktif yang dipotong tersebut," ujarnya.

Label:

Minggu, 01 Mei 2016

Depok Police Expo, Pokja dan Selamat Bertugas Kombes Pol Dwiyono

Beberapa bulan lalu, sebuah gagasan sempat terbersit: bagaimana kalau Pokja Wartawan Depok menggelar pameran foto di Margo City. Pameran foto-foto hasil karya anggota Pokja tentang Kota Depok.

Beberapa anggota Pokja antusias dan tertarik. Namun gagasan itu tiba-tiba tenggelam, seolah terlupakan.

Belakangan, awal April lalu, tiba-tiba Ketua Pokja, Hidayatul Mulyadi sambil setengah berbisik melontarkan kelanjutan ide tersebut yang lebih menarik: "Ini ada orang Margo ngajak kita buat bikin acara pameran tentang kepolisian. Waktunya digelar sekitar akhir April."

Saya mengiyakan ajakan tersebut sambil setengah pesimis. Karena, waktu sekitar tiga minggu mana mungkin cukup untuk persiapan. Apalagi kegiatan ini membawa nama Polresta Depok. Ah... Ini cuma mimpi, saya bilang dalam hati. Terlebih tidak ada bantuan dari pihak profesional dalam pengonsepan acara.

Saya lebih pesimis lagi. Berikut, program Pokja masih banyak yang belum terealisasikan. Maka saya segera bilang agar bentuk dulu kepanitiaan masing-masing untuk lebih memudahkan komunikasi.

Ada tiga agenda Pokja saat itu yang tengah digodok, yakni Pokja Goes to School, Futsal Wali Kota Cup dan Depok Police Expo (DPE). Agenda DPE ini termasuk yang harus segera dilaksanakan, mengingat pihak Margo hanya mampu memfasilitasi waktu pada akhir April.

Saya senang temen-temen Pokja antusias menggelar rapat untuk memuluskan DPE. Mereka mulai berkoordinasi dengan pihak Margo City yang memfasilitasi acara dan pihak Polresta Depok sebagai objek kegiatan.

Saya tidak terlalu terlibat dalam proses pematangan acara. Karena saya masih mengira acara DPE mustahil bisa dilaksanakan karena keterbatasan tenaga dan pikiran rekan-rekan Pokja.

Bahkan sempat terlontar untuk menggunakan event organizer saja agar acara tersebut berjalan lancar. Tapi toh ternyata akhirnya Pokja sendiri yang dibantu oleh Margo City dan Polresta Depok yang tetap menjalankan acara tersebut.

Tapi ternyata perkiraan saya keliru. Sikap pesimisme saya berbalik menjadi optimisme sejak saya lihat sendiri pada hari ketiga stand-stand mulai berdiri. Tata panggung yang cukup menarik. Serta tata letak dan aneka desain lainnya yang dalam hati saya bilang: ini gak mungkin dilakukan oleh rekan-rekan Pokja sendiri.

Saya tidak menyangka atas kinerja Pokja yang tentunya dibantu Margo dan Polresta Depok bisa membuat acara yang saya sendiri nilai berkelas nasional. Meskipun memang harus diakui acara DPE ini sedikit-banyak mengadopsi kegiatan serupa yang dilaksanakan Polda Metro Jaya di Gandaria City beberapa waktu sebelumnya.

Saya masih ingat betul proses pematangan DPE oleh rekan-rekan Pokja. Rapat berkali-kali digelar meskipun banyak kekurangan dan sempat jadi bahan senyum sinis dari pihak lain, seolah-olah ingin berteriak; ah ngapain sih Pokja bikin acara DPE bikin capek aja!

Tapi, rekan-rekan Pokja terus membuktikan. Mereka bekerja banting tulang sampai lupa bahwa tugas mereka seharusnya meliput. Tapi demi terselenggaranya DPE, mereka tampil all out dan maksimal.

Keberhasilan DPE mungkin bisa dilihat dari antusiasme pengunjung mulai dari hari pertama digelar pada Senin, 25 April hingga 1 Mei 2016.

Saya melihat wajah-wajah bahagia ketika ratusan anak kecil berfoto ria berlatar motor VVIP, mobil jaguar dan stand-stand yang ada. Saya bisa merasakan bagaimana ribuan warga Depok merasa bangga bisa berfoto bersama Tim Jaguar yang mereka anggap keren dan gagah berani.

Saya bisa merasakan kegembiraan para pengunjung saat mereka tersenyum, simpati, dan bahkan tertawa melihat aneka foto yang dipamerkan.

Saya bisa merasakan kesenangan warga yang antre memperpanjang SIM di stand Satlantas Depok. Ada juga yang antusias bertanya tentang bagaimana cara mendaftar menjadi polisi di stand Sumber Daya. Dan ada juga yang antusias bertanya ingin lebih mendalam mengetahui informasi tentang bahaya narkoba. Dan tak sedikit warga pengunjung yang terkesima dengan para personil Satreskrim dengan baju Turn Back Crime-nya juga pada satuan Sabhara dan Binmas.

Ya, kebahagiaan mereka, para warga dan pengunjung itulah yang menjadi tujuan awal digelarnya DPE 2016 ini. Mereka mungkin tak lagi menganggap bahwa polisi adalah satuan yang kejam, bengis, suka menakut-nakuti masyarakat. Justru sebaliknya, warga pengunjung lebih mendekatkan diri bersama satuan kepolisian.

Mereka berbaur seperti tidak ada jarak dengan masyarakat. Mereka berfoto bersama bahkan rela antre dengan pengunjung lain demi bisa mengabadikan dan memposting hasil fotonya di media sosial.

Ya, kegiatan ini mungkin berhasil atas kerja sama semua pihak. Pokja Wartawan Depok tentunya. Dan, pihak Margo City juga Polresta Depok.

Bahkan, menurut catatan, pengunjung Margo City selama kegiatan tersebut digelar, terjadi peningkatan mencapai sekitar 40%.

Saya sedari awal tidak terlalu percaya, tetapi setelah saya cek langsung, terutama pada jam-jam padat. Pihak Margo City sampai membuat mushola dadakan di area parkiran saking membludaknya pengunjung pada Sabtu malam.

Ah, saya sangat terharu dengan kinerja rekan-rekan. Saya acungi jempol kepada rekan-rekan yang bertanggung jawab di acara: Apih, Arul, Jantuk, Amoy, Rinna dan Iyunk yang mati-matian menghabiskan staminanya buat DPE.

Tapi keberhasilan ini mungkin tak akan tercapai tanpa bantuan pikiran dan tenaga rekan-rekan lain seperti Melly, Uji, Kacuy, Ady, Fahri, Imam, Aris, Jun dan Aji Cing.

Hormat juga saya sampaikan pada Wiki dan Barry yang juga telah begitu lelah menyiapkan pameran fotonya sehingga banyak dinikmati para pengunjung. Juga pada Lala yang sibuk dan lelah memikirkan persiapan dan stok konsumsi untuk acara.

Saya juga ingin berterima kasih kepada rekan-rekan Pokja yang juga sangat membantu dalam pendokumentasian seperti Bang Yudi, Feru, Choky, Angga, Edwin, Lingga, Bambang dan Hendrik. Mereka juga yang cukup membantu membackup rekan lain yang tidak sempat liputan. Juga kepada Atem dan Damar yang sejak awal sibuk dari pagi hingga malam melayani pembeli merchandise kepolisian (bagi-bagi dong untungnya... hehehe).

Tak mungkin lupa. Saya ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada Sang Ketua Pokja Wartawan Depok Hidayatul Mulyadi yang mungkin stres, capek, mau mati, sesak nafas memikirkan agar DPE ini bisa terselenggara dengan berhasil. Saya merasakan dan melihat betul sibuknya Pak Ketua ini. Seolah-olah seluruh hidupnya diwakafkan buat Pokja dan DPE (hmm... lebay deh).

Dan tentunya buat Kasat Reskrim Polresta Depok Kompol Teguh Nugroho yang menjadi aktor di belakang layar atas terselenggaranya acara ini.

Namun, tanpa bantuan seluruh satuan Polresta Depok dan jajaran Polsek, tentu saja DPE ini mustahil digelar. Karena sesungguhnya, merekalah yang menjadi bagian dari acara ini. Oleh karena itu, kegiatan DPE ini diharapkan menjadi manfaat bagi semua pihak.

Ya, kami dari Pokja Wartawan Depok mengakui, meskipun kami mengklaim acara ini telah berhasil, tetapi masih banyak kekurangan selama kegiatan berlangsung, terutama masalah teknis. Soal rundown acara yang tidak tersusun dengan rapi dan konsisten, soal sound system yang kurang maksimal, soal kordinasi dan kekurangan-kekurangan lainnya yang mungkin membuat Polresta Depok sebagai objek kegiatan tidak berkenan.

Namun, segala kekurangan tersebut tentu bukan dilakukan dengan sengaja. Itu mungkin terjadi karena kami dari rekan-rekan Pokja mengakui belum begitu profesional menggelar sebuah acara sebesar ini. Tapi, ini akan menjadi sebuah pelajaran berharga untuk Pokja Wartawan Depok.

Dan mungkin atas terselenggaranya DPE ini sekaligus menjadi jawaban bahwa dibentuknya Divisi Event Organizer di Pokja Wartawan Depok cukup memberikan karya dan kontribusi bagi semua pihak.

Mudah-mudahan kegiatan Depok Police Expo 2016 ini menjadi hadiah spesial untuk Kapolresta Depok Kombes Pol Dwiyono yang sebentar lagi akan meninggalkan Depok. Karena dibalik kegiatan DPE ini, Pak Dwiyono sebetulnya yang sangat berperan.

Maka dari itu, kami ingin mengucapkan selamat sekaligus mohon maaf dari kami, Pokja Wartawan Depok apabila banyak salah dan kekurangan dalam setiap kesempatan terutama pada Depok Police Expo ini.

Kami ingin sampaikan bahwa kegiatan Depok Police Expo ini menjadi pengiring perpindahan tugas Anda dari Depok ke Jakarta Pusat.

Selamat bertugas Ndan. Izinkan kami meminjam istilah: Kami Pokja Wartawan Depok Memang Belum Sempurna, Tapi Kami Selalu Berusaha.

Salam sinergitas Pokja & Polresta Depok

Label:

Sabtu, 23 April 2016

Menguak Kematian Nurdin Priatna

Tak ada yang lebih mengagetkan warga Kampung Cijambe, Desa Sukaresmi, Kecamataan Cisaat, Kabupaten Sukabumi pada Sabtu (25/4/2015) sore, pekan lalu, selain menerima kenyataan pahit saat salah satu warganya, Nurdin Priatna, tewas tak terduga.

Nurdin pria berusia 27 tahun yang bekerja di salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Pasar Pucung, Cilodong, Kota Depok itu disangka menggondol duit Rp56 juta di tempatnya bekerja.

Polisi menangkap Nurdin pada Rabu (23/4/2015) dari hasil rekaman CCTV di SPBU tersebut. Sang adik, Drajat Permana, yang juga bekerja di SPBU itu menyaksikan penangkapan kakaknya itu.

Penangkapan Nurdin oleh kepolisian sektor Sukmajaya Kota Depok mulanya tak membuat heboh keluarga. Namun, setelah Kamis  (24/4/2015) malam keadaan mendadak berubah. Pihak keluarga memperoleh informasi bahwa Nurdin kejang-kejang dengan kondisi kritis di Rumah Sakit Polri Kramat Jati Jakarta.

Keluarga Nurdin, yakni Jaja Sujana--sang ayah, Drajat Permana, dan kerabat lainnya langsung meluncur mendatangi rumah sakit. Mereka penasaran apa yang telah terjadi pada Nurdin. Tante Nurdin, yakni Iis Hasanah, menyusul keesokan harinya.

"Saya ke rumah sakit itu sekitar subuh," ujarnya saat dikonfirmasi Bisnis.com. "Sesampainya di rumah sakit kami tidak langsung menemui Nurdin. Kepolisian melarang kami. Siangnya baru kami temui."

Batin Iis bertanya-tanya. Nurdin, sang keponakan bisa tak sadarkan diri secepat itu. Kondisi Nurdin saat ditemui keluarga masih bisa bernafas. Tetapi, menurut keterangan dokter yang dia terima, kondisi kesadarannya sangat rendah.

"Dia seperti koma," ujarnya.

Pada Jumat pagi, pihak keluarga Nurdin terus mendampingi. Mereka menjaga dari luar ruangan tempat Nurdin berbaring. "Kami menjaga dari ruang tunggu," paparnya.

Belakangan Iis heran. Perlakuan Nurdin dengan pasien lainnya di rumah sakit itu berbeda. Pasien lain diperbolehkan didampingi keluarga oleh pihak rumah sakit. Sementara itu, keluarga Nurdin kebanyakan menjaga di ruang tunggu.

"Jadi sampai dia meninggal pun kami tak tahu. Kami heran kenapa waktu masa kritis pihak rumah sakit tidak memberi tahu kami," ujarnya.

Nurdin, pada Sabtu pagi ditemukan tewas. Pihak keluarga pun tak tahu persis pukul berapa Nurdin menghembuskan nafas. Iis, bahkan menemukan Nurdin sudah diikat ketika pihak keluarga masuk ke ruangan Nurdin.

Pihak keluarga mulai menemukan kejanggalan. Mereka masih tak percaya bahwa penyebab kematian Nurdin disebabkan kecelakaan. Polisi mengklaim Nurdin terjatuh saat hendak melarikan diri.

Tangis dan kesedihan pun pecah seketika. Jaja Sujana, sang ayah yang bekerja sebagai tukang bangunan itu harus merelakan anak keduanya itu berpulang selamanya.

Sekitar pukul 11.00 WIB, pada Sabtu itu, jenazah Nurdin dibawa ke Kampung Cijambe. Nurdin tiba di kediamannya di Sukabumi sekitar pukul 16.00 WIB. "Sekitar habis beduk Ashar," kata Iis.

Warga Kampung Cijambe yang sudah tahu kedatangan jenazah Nurdin saat itu sudah berkumpul. Nurdin diantar oleh empat polisi, pihak rumah sakit dan keluarga yang sebelumnya datang ke Jakarta. Total ada tiga mobil saat pengantaran jenazah itu.

Keempat polisi yang mengantar jenazah Nurdin sempat menjadi bulan-bulanan warga Kampung Cijambe. Mereka menduga kematian pria yang hobi main play station itu bukan disebabkan oleh jatuh seperti yang dikatakan pihak kepolisian.

"Ieu mah lain labuh tapi diteunggelan [ini bukan terjatuh, tapi akibat dipukuli]," teriak warga seperti ditirukan Iis. "Duruk-duruk weh tuman [bakar-baka saja biar kapok]," teriak warga lain.

Gerimis jatuh perlahan sore itu. Amuk warga Kampung Cijambe berhasil bisa dicegah. "Untung kita bisa menahan amarah," kata Iis.

Keempat polisi yang belakang diketahui ketika mengantarkan Nurdin saat itu antara lain Akhirianto, M.Rusli, Napirullah, dan Aris. Warga juga, kata Iis, geram dengan ulah keempat polisi itu yang mengantarkan jenazah dengan tangan kosong. Pasalnya, tak ada surat pengantar hasil otopsi pada tubuh korban.

Iis mengatakan kepolisian juga sebelumnya menyuruh pihak keluarga untuk menandatangani kesepakatan bahwa keluarga tidak akan menuntut untuk melakukan otopsi atau visum pada korban.

Sejumlah kejanggalan yang dilakukan kepolisian menjadikan ketidakpercayaan bahwa Nurdin mati akibat terjatuh. "Kalau memang terjatuh, masa ada bekas lecet, lebam dan bolong-bolong ditubuhnya," kata Iis.

Eti Sumiati, kaka Nurdin juga mengaku kesal dengan kematian Nurdin yang dinilai janggal itu. Eti menuturkan sebelum Nurdin tewas, dia pernah berbicara melalui telpon dengan Nurdin. Obrolan antara Eti dan Nurdin menggunakan ponsel milik temannya yang juga pekerja SPBU.

"Dia mengatakan bahwa dia tidak mengambil uang itu," ujarnya. "Itu saja pembicaraan saya dengan Nurdin. Karena tiba-tiba ponselnya ditutup."

Kepala Polsek Sukmajaya Polresta Depok Agus Widodo menegaskan bahwa Nurdin tewas akibat terjatuh saat sedang menjalani pengembangan kasus pencurian yang dilakukannya. Agus mengungkapkan Nurdin mencoba kabur saat tangannya diborgol. Dia kemudian terjatuh dan kepalanya terbentur.

Pihak kepolisian kata dia, langsung menyampaikan kepada pihak keluarga terkait kondisi Nurdin yang terluka sehingga harus menjalani perawatan dan operasi di rumah sakit saat itu. Dia menjelaskan sedetil mungkin kejadian dan kemungkinan yang akan terjadi. "Keluarga juga sudah menerima," tuturnya.

Dia menuturkan hasil rekam medis dari rumah sakit akan keluar Senin (27/4/2015). Hasilnya bisa dilihat kesimpulan rekam medis Nurdin. Dia juga menegaskan bahwa Nurdin meninggal karena terdapat luka di bagian kepalanya.

Kapolresta Depok Komisaris Besar Ahmad Subarkah mengatakan dirinya akan tegas memberikan sanksi pada anggotanya apabila terbukti terlibat dalam kasus kematian Nurdin Priatna tersebut.

"Kami sudah memintai keterangan pada Kapolseknya dan beberapa penyidik. Tapi hingga saat ini belum ada kesalahan ditemukan. Kalau ada pasti dikasih sanksi," ujarnya di Balaikota Depok, Senin (27/4/2015).

Menurut Ahmad, saat dirinya menanyakan pada saksi dan Kapolsek Sukmajaya, Komisaris Agus Widodo, dia menegaskan bahwa Nurdin tewas akibat terjatuh saat berusaha kabur di kawasan Cilodong Depok dengan kondisi tangan terborgol. Kemudian dia jatuh terguling dan kepalanya membentur benda keras.

Ahmad Subarkah menuturkan dirinya tidak bisa berkomentar lebih jauh lantaran kasus tersebut masih dalam penyelidikan dan menunggu hasil rumah sakit tempat Nurdin diotopsi.

"Menurut keterangan juga dikabarkan Nurdin memiliki riwayat penyakit di kepala. Jadi dia tewas bukan saat di dalam tahanan," paparnya.

Kecurigaan keluarga Nurdin belum habis. Sambil menunggu hasil visum, pihak keluarga berinisiatif membawa kasus tewasnya Nurdin ke ranah hukum dengan melaporkan Kapolsek Sukmajaya Kompol Agus Widodo dan jajarannya ke Propam.

"Kami tunggu hasil visumnya dulu seperti apa," kata Iis.

"Saya kasihan sama keluarga korban yang juga kakak saya. Ibu Nurdin lagi sakit. Dia punya penyakit Jantung. Sekarang saja biaya tahlilan hasil urunan para keluarga," ujarnya.

Namun, kendati keluarga masih menunggu kejelasan dan keadilan atas kasus kematian Nurdin. Keluarga tidak mau membiarkan jenazah dibiarkan begitu saja. Nurdin pada Minggu (26/4/2015) disemayamkan di lokasi yang tak jauh dari rumahnya di Kampung Cijambe, RT 8/RW 4, Desa Sukaresmi, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi.

"Tapi kami semua yakin, Nurdin tidak bersalah. Kami saja belum melihat apakah benar Nurdin mencuri uang itu. Kasus ini pun belum selesai," pungkas Iis.

*Sumber: Bisnis.com

Label:

Kamis, 21 April 2016

Sebuah Telaah Sederhana Tentang Cerpen Kunang-Kunang Kematian[1]


I
Sudah sepantasnya saya merasa senang, mengingat beberapa tahun ke belakang, atmosfer kesu(sastra)an yang terbangun di kota saya, khusunya di kampus ini (UIN SGD Bandung) sangat bergairah. Atau ringkasnya, sastra, sekarang (agak) tidak ditabukan lagi posisinya. Lihat saja, sudah menjadi prestasi besar ketika kampus yang di lirik sebelah mata oleh kampus-kampus lain berhasil ‘mengirimkan’ para penyair muda di ajang Temu Sastrawan Indonesia IV (TSI IV) di Ternate, Maluku sana. Tentu saja ini layak diacungi jempol pada mereka yang memandang dunia sastra adalah sesuatu yang patut dilestarikan dan dikenalkan pada khalayak publik. Sebagai contoh, sebut saja nama Restu A Putra yang sudah melahirkan beberapa karya: cerpen, puisi dan esai yang terbit di media lokal dan nasional, juga di beberapa antologi keroyokan. Ia juga tercatat sebagai pendiri salah satu komunitas yang sampai sekarang masih eksis di bidang kajian, sastra dan film—Komunitas Rumput. Lalu kita kenal sosok Pungkit Wijaya yang saya anggap konsisten di ranah sastra. Semangatnya selalu menggebu-gebu jika membicarakan sastra—baik dalam obrolan biasa, diskusi atau pun seminar-seminar yang kerap ia hadiri. Atau, belakangan kita segera tahu dua sosok penyair yang konsen di puisi: Galah Denawa dan Herton Maridi. Keduanya adalah bibit-bibit unggul, yang, jika saya baca beberapa puisinya memiliki ciri khas tersendiri. Itu pun tidak bisa dipungkiri, dengan hadirnya beberapa komunitas yang membentuk masing-masing, atau malah dengan giat individu-individu dari merekalah yang menyebabkan karakteristik dari mereka muncul—tanpa embel-embel komunitas itu sendiri. Namun apa pun penyebabnya, saya patut berbangga hati.
II
Dalam kurun dua tahun belakang ini (dengan rendah hati saya menyebut masih di ranah kampus), bermunculan berbagai komunitas dan media, yang [setidaknya] berbicara masalah kesu(sastra)an. Sepanjang catatan saya, ada Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK), Komunitas Kabel Data, Sasaka, Verstehn, Noise Youth dan Muntah (walau hanya baru menerbitan satu edisi), dan Tabloid Suaka yang tetap memberi ruang dalam salah satu rubriknya: cerpen dan puisi. Kesemuanya minimal rutin mengadakan acara diskusi baik bulanan atau mingguan yang digelar di kampus dan sekretariatnya masing-masing. Namun yang secara konsisten dalam pengamatan saya, Komunitas Sasaka-lah yang masih membuka lebar-lebar kajian dan diskusi, baik membedah cerpen, puisi atau novel-novel klasik (Indonesia) untuk dikonsumsi umum. Dan itu saya kira merupakan salah satu semangat yang luhur untuk memajukan kesu(sastra)an kita Indonesia ini.
III
Berbicara Sasaka, saya belakangan ini sering menghadiri diskusi-diskusi mingguannya. Di tahun 2012 ini, di kesempatan pertama yang membicarakan puisi-puisi karya Saeful Mushtofa dan (saya lupa lagi namanya), kemudian cerpen Andai Emak Tahu karya Siti, yang saya rasa adalah langkah baik untuk memulai tradisi diskusi semacam ini. Lalu pada kesempatan minggu ini, saya mengenal sosok T.H Ihsan dengan cerpen Kunang-Kunang [Kematian], cerpen yang sempat terbit di bulletin Sasaka tempat di mana ia bernanung di komunitasnya. Begitulah perkenalan singkat saya dengan beberapa yang berkaitan dengan kesu(sastraa)an di [lagi-lagi saya ingin berrendah hati] kampus ini.
IV
Sebetulnya saya menerima email pada cerpen ini berjudul Kunang-Kunang saja, mungkin saya pikir ada sedikit revisi dengan yang pernah saya baca di bulletin Sasaka—Kunang-Kunang Kematian. Tapi toh saya tidak memperdulikan masalah judulnya. Saya juga belum sempat membandingkan kembali dengan teks yang ada di bulletin Sasaka, atau mungkin penulis lupa tidak membubuhkan kata ‘Kematian’ saat mengirim emailnya ke saya?
Kunang-kunang adalah sebuah mitos. Konon, ia membawa kuku orang mati atau ia adalah jelmaan dari iblis. Namun para peneliti terdahulu menemukan ada zat Lucifer dalam tubuh kunang-kunang yang dapat memproses reaksi dalam tubuhnya sendiri sehingga ia bisa mengeluarkan cahaya. Lalu, apakah ini masih disebut sebagai mitos? Tentu saja, Roland Barthes menyebutnya mitos adalah sebuah tipe pembicaraan; suatu sistem komunikasi bahwa mitos adalah suatu pesan. Mitos merupakan mode pertandaan (a mode of signification), suatu bentuk (a form).[3] Semula, kunang-kunang merupakan hewan yang dianggap biasa saja seperti hewan yang lainnya, namun kemudian kunang-kunang menjadi penanda yang menimbulkan atau mempunyai efek mistis dalam kehidupan suatu daerah. Dan ia menjadi pesan yang tersembunyi atau malah secara separatis menjadi bentuk yang dianut dan menjadi tradisi turun temurun. Artinya, sistem komunikasi seperti ini, dalam tradisi orang-orang non-modern, mitos adalah laku percaya atau tidak, bukan ada atau tidak, [atau] benar atau salah.[4]
Membaca cerpen Kunang-Kunang Kematian karya T.H Ihsan, saya merasa mengingat-ingat lagi cerpen serupa yang sempat saya baca di cerpen-cerpen Kompas Minggu. Tema-tema seperti ini dengan gagah orang-orang menyebutnya realisme-magis. Tema-tema yang memadukan kejadian-kejadian yang hadir di sekitar (realitas) kita yang disisipkan mistis-mistis tertentu. Namun tentu saja T.H Ihsan, dalam proses kreatifnya mengatur strategi sedemikian rupa agar karyanya berbicara lain dengan tema sejenis—yang masih berkutat dengan ‘kunang-kunang’ ini.
Cerpen Kunang-Kunang, bercerita tentang seorang pemuda yang bernama Yadi Jopang. Umurnya 27 tahun, usia yang cukup muda dan gagah. Di kampungnya, ia dikenal sebagai jawara. Tidak ada yang berani macam-macam padanya karena ia mempunyai ilmu kanuragan—suatu ilmu yang bisa menangkal dari bahaya dan serangan musuh. Ia tahan dengan berbagai segala senjata. Tubuhnya sangat kuat walau golok menyambar sekalipun. Namun ada beberapa syarat yang harus ia jauhi, yakni jangan pernah menyebut nama tuhan atau mengingatnya sama-sekali.
Yadi Jopang mempunyai seorang teman bernama Taryo—seorang pemuda jail yang suka mempermainkan perempuan. Suatu waktu Taryo kedapatan tengah bergumul dengan istri orang, malah perempuan di kampung lain pun ia gagahi. Namun, kebejatan prilaku Taryo pun akhirnya diketahui warga kampung lain. Taryo mati seketika dihabisi oleh warga kampung tersebut. Dan yang menjadi gempar adalah hadirnya kunang-kunang setelah kematian Taryo, seolah-olah sebagai tanda bahwa dengan kehadiran kunang-kunang tersebut membuat warga resah dan takut dengan mitos yang ada—yakni bila seseorang yang dihinggapi kunang-kunang, maka ia akan mati seperti orang sebelumnya.
Mendengar semua itu, Yadi Jopang dan seorang temannya, Joko hendak balas dendam untuk Taryo, walau dalam hati Yadi Jopang tiba-tiba ia merasa miris, kekuatannya merasa lemah seketika saat ia secara tidak sengaja menyebut secara tidak langsung yang berkaitan dengan atas nama Tuhan. Dalam bentrokan itu, Joko mati. Sementara Yadi Jopang selamat dan bersembunyi di balik semak dengan keadaan mengingat Tuhan.
Membaca cerpen ini, saya teringat pada Karl Manheim, seorang Sosiolog, yang mengajukan bahwa karya sastra menyampaikan makna pada tiga tingkat yang berbeda: tingkat pertama yaitu objective meaning atau makna obyektif, yaitu hubungan suatu karya dengan dirinya sendiri; apakah ia gagal atau berhasil menjelmakan keindahan dan pesan yang hendak disampaikannya. Suatu karya sastra adalah suatu obyek yang mengobyektivasikan suatu nilai atau antinilai; keindahan, pembaruan, orsininalitas, otensitas atau peniruan, dan kepandaian teknis semata-mata. Tingkat kedua adalah expressive meaning atau makna ekspresif berupa hubungan karya itu dengan latar psikologi penciptanya; apakah sebuah sajak diciptakan untuk mengenang suatu saat penting dalam kehidupan penciptanya: kelahiran anak, kematian ayah atau ibu, atau putusnya suatu momen tertentu dari kehidupan pencipta. Tingkat ketiga adalah documentary meaning atau makna dokumenter berupa hubungan antara karya itu dengan konteks sosial penciptaan: pengaruh-pengaruh sosial-politik atau kecenderungan budaya yang tercermin dalam suatu karya. Suatu karya adalah suatu dokumen sosial atau dokumen human tentang keadaan masyarakat dan alam pikiran di mana suatu karya diciptakan dan dilahirkan.[5]
Membaca cerpen Kunang-Kunang, terutama di pembukaan narasi, kita seolah digiring oleh penulis ke dalam sebuah suasana kampung yang memiliki kepercayaan-kepercayaan tertentu. Sebuah kampung yang masih mempercayai mitos-mitos orang-orang terdahulu, dari nenek moyang mereka—mitos jawa. Kita lihat saja kutipan berikut:
Di kampungku, yang lokasinya berada di daerah jawa, bila ada salah satu warga yang mati, maka pada malam kematiannya, secara tiga malam berturut-turut kunang-kunang akan berkeliaran mengudara. Entah kebetulan atau tidak, mereka selalu beterbangan memijarkan cahaya kerlap-kerlip berwarna putih pucat, atau ada juga yang kehijauan. Sebentar bercahaya sebentar redup. Seperti itulah kunang-kunang. Kata warga kampung, mereka percaya bahwa kunang-kunang itu jelmaan dari kuku orang mati. Cahayanya yang selalu redup itu berbentuk seperti bekas cakaran, mungkin ingin mencoba mencakar kegelapan menjadi terang oleh kuku orang mati. Namun anehnya, hanya kematian dari orang baik saja kunang-kunang tidak pernah berkeliaran.
Pertanyaannya: apakah narrator yang sekaligus sebagai subjek pertama dari cerpen ini sudah [secara tidak langsung] percaya terhadap mitos tersebut? Tentu saja iya, ia percaya. Kenyataannya, tidak ada yang bisa aman dari mitos, mitos dapat berkembang dalam skema tingkat-keduanya dari makna apa pun[6], artinya ketika pada narasi namun anehnya, hanya kematian dari orang baik saja kunang-kunang tidak pernah berkeliaran., di sana derajat atau tingkat yang lain dari mitos itu sendiri hadir dengan mitos-mitos agama, yakni jika ‘orang yang baik akan di sayang Tuhan’ artinya orang yang hidup di dunia dengan baik, dengan mematuhi segala perintah tuhannya, bakal jauh dari bencana. Di sini, dalam bahasa lain, masuk dalam tingkat ketiga seperti apa yang diungkap Mark Kalheim: sebagai documentary meaning, cerita yang hadir sesuai apa yang terjadi pada masyarakat, yang dalam konteks ini masyarakat jawa.
Strategi T.H Ihsan sendiri dalam cerpen ini saya kira cukup brilian. Ia dengan apik membangun suasana sekaligus memberikan informasi pada pembaca tentang bagaimana menjadikan “paragraf awal adalah labolatorium” dalam cerpennya ini. Namun sepertinya ia lupa pada beberapa kalimat yang agak membingungkan sebagian pembaca—saya khusunya. Kita lihat misalnya pada:
Ia bilang, tubuhku akan tahan senjata apapun asal tiap malam menyulut kemenyan di bawah jendela kamar dan beberapa syarat lainnya; jangan pernah menyebut atas nama Tuhan, menjauhi Tuhan, dan memuja kepada setan.
Barangkali, jika saya boleh mengoreksi, maksud dari ketiga syarat itu adalah jangan pernah menyebut atas nama Tuhan, jauhilah Tuhan, dan memujalah kepada setan. Tentu saja, saya anggap konteks Tuhan di sini adalah tuhan sebenarnya yang dianut oleh masyarakat yang diceritakan dalam cerpen ini. Tuhan yang disembah dan dijadikan tempat segalanya. Sehingga, nuansa mistis dan takhayul didobraknya begitu saja. seolah-olah Tuhan itu tidak ada dan tidak berfungsi yang kemudian dalam agama itu disebut musyrik, menyekutukan Tuhan.
Akibat dari mitos yang kental di kampung tersebut, Yadi Jopang yang semula taat beribadah dan mengaji, kini keimanannya pun runtuh. Dalam hatinya yang penuh dengan ke(percaya)an atau tidak mengenai mitos itu kita bisa lihat:
Jadi perihal kunang-kunang yang berkeliaran malam ini di sebabkan karena Taryo mati, orang yang butuh cahaya, orang yang kurang beramal. Aku tak habis pikir kenapa kunang-kunang itu hinggap ke tanganku? Apa benar tentang mitos kunang-kunang jelmaan kuku orang mati dan yang dihinggapinya akan ikut mati? Soalnya kemarin ada kunang-kunang yang menempel di punggungnya. Ah, aku masih tetap tak percaya. Tapi bila itu jelmaan Taryo, berarti ia meminta tanganku membalaskan dendam pada warga kampung sebelah. Itu sebabnya kunang-kunang hinggap di tanganku. Pikirku.
Pertanyaan-pertanyaan Yadi Jopang inilah yang mengakibatkan imannya goyah. Jiwanya bertempur antara percaya atau tidak. Bagaimana bisa hanya karena orang mati, orang yang tidak baik, kunang-kunang akan berterbangan di malam hari, lalu mencari dan hinggap di tubuh orang yang akan menjadi korban selanjutnya? Penanda-penanda dalam teks tersebut seperti butuh cahaya dan kuku orang mati kemudian diasosiasikan dengan teks lain menurut documentary meaning-nya Manheim adalah bagaimana Yadi Jopang mempercayai ketika ada kunang-kunang yang sempat hinggap di punggung Taryo sebelum ia terbunuh. Keterkaitan antara mitos dan dan budaya yang ada di kampung ini, sebagai kampung yang masih bergaya tradisional, semakin menguatkan mitos itu sendiri semakin benar adanya. Walau pun pada akhirnya dilematis yang dialami Yadi Jopang di ujung ceritanya menjadi semacam cuci tangan penulis, agar cerpennya ini menjadi (setidak-tidaknya) kejutan: kini selain aku percaya pada perlindungan Tuhan, aku juga percaya pada mitos kunang-kunang. Aku telah dihinggapinya. Dan bila aku mati di sini, semoga tidak ada kunang-kunang yang berkeliaran di malam kematianku., yang seolah-olah pembaca kembali digiring untuk berharap “bagaimana kalau ketika Yadi Jopang mati lalu kunang-kunang tetap berkeliaran?” Maka, justru jika si pembaca berpikiran seperti itu, bukankah sama saja kita percaya pada mitos tersebut? Pada mitos kunang-kunang itu? Atau bagaimana seandainya jika pembaca menyalahkan sang penulis dengan mengatakan “seenanknya saja menutup cerita seperti itu, bukankah Yadi Jopang bukan orang baik-baik, bukankah orang yang tidak baik pasti akan butuh cahaya kunang-kunang?” ah, rupanya saya sendiri sudah terlibat dalam mitos kunang-kunang ini.
V
Dan seperti itulah hasil pembacaan saya yang saya rasa terlalu banyak kekeliruan. Namun saya harus mengakui bahwa T.H Ihsan dalam cerpennya Kunang-Kunang [Kematian] ini sudah (agak) berhasil memenuhi ketiga tingkat itu—objective meaning, expressive meaning dan documentary meaning. Namun, ya, sedikit catatan saja bahwa dalam sastra pun begitu banyak mitos yang melulu diagung-agungkan, salah satunya: “jika karya kita—puisi dan cerpen dimuat di koran, maka gelar sastrawan kita sudah di depan mata atau setidaknya diakui.” Ah, rupanya saya sendiri sudah terlibat dalam mitos sastrawan koran ini.
Bandung, 02 Maret 2012.


[1] Tulisan ini sebagai keisengan penulis dalam acara diskusi mingguan Sasaka pada 2 Maret 2012 di taman kampus UIN SGD bandung.
[2] Penulis adalah dia yang sedang belajar memahami dan mengerti cerpen.
[3] Lihat Roland Barthes: Membedah Mitos-mitos Budaya Massa. Jalasutra. 2010
[4] Lihat Acep Iwan Saidi dalam Matinya Dunia Sastra. Pilar Media. 2006.
[5] Karl Manheim, Essays on The Sociology of Culture (London: Routledge & Kegan Paul Ltd., 1959), dalam Ignas Kleden: Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan. Freedom Institute. 2004
[6] Roland Barthes: Membedah Mitos-mitos Budaya Massa. Jalasutra. 2010, hal 329.

Selasa, 12 April 2016

Menakar Manuver Yusril di Pilgub DKI Jakarta 2017

Harus diakui, manuver Yusril Ihza Mahendra yang mencalonkan diri pada Pilgub DKI Jakarta 2017 membuat suhu politik nasional tampak memanas.

Meskipun, pertarungan memperebutkan kursi Gubernur DKI Jakarta itu digelar kurang dari setahun lagi. Namun, opini yang berkembang saat ini sudah menjurus antara Basuki Tjahja Purnama alias Ahok yang maju secara independen melawan Yusril Ihza Mahendra. Meskipun sang Ketum Partai Bulan Bintang itu hingga saat ini belum jelas bakal mencalonkan melalui pengusungan partai atau jalur independen.

Tetapi jika disimak secara seksama, manuver Yusril yang sudah tancap gas sedari awal dan terkesan 'liar' itu menjadi daya tarik sendiri. Dia mulai bersafari politik kepada beberapa sosok yang juga berencana akan maju seperti Ahmad Dhani, Adhyaksa Dault, Sandiaga Uno, Haji Lulung dan Boy Sadikin.

Ini menjadi pemandangan yang unik dalam politik mutakhir nasional pasca reformasi, di mana silaturahmi politik seperti itu jarang dilakukan oleh para politikus sebelumnya pada helatan Pilkada, Pileg atau Pilpres sekalipun. Bahkan Yusril mengaku siap jika dia bisa bersilaturahmi dengan Ahok si petahana.

Keputusan Yusril untuk maju di Pilgub Jakarta 2017 sebetulnya masih terbilang baru, atau sekitar Februari lalu, setelah dirinya digadang-gadang bisa bersaing dengan Ahok, seiring kakak kandung Yusril yakni Yuslih Ihza Mahendra berhasil mengalahkan adiknya Ahok yakni Basuri Tjahja Purnama di Pilkada Belitung Timur.

Dari momen itu saja, publik sudah menilai bahwa pertarungan dua putra Belitung itu akan juga menarik perhatian dalam peta percaturan Pilgub DKI Jakarta.

Dan, harus diakui juga, dari sisi pendukung, Ahok tampaknya selangkah lebih depan dengan hadirnya Teman Ahok yang dianggap militan bisa berhasil mengumpulkan KTP data sementara sekitar 500.000 sebagai syarat pengusungan calon independen dari total jumlah aman sekitar 550.000.

Para pendukungnya bisa dibilang bergerak cepat. Salah satu manuvernya digerakkan melalui media sosial yang disetir para seleb tweet berjumlah ribuan pengikut. Selain itu, pengumpulan KTP di mal, door to door dan jemput bola pun terus dilakukan.

Sementara itu, selain memburu dukungan dari kampung ke kampung, Yusril terus bergerilya menggunakan cara konvensional mendatangi partai ke partai dan berkomunikasi dengan dedengkot partai seperti Prabowo, SBY, Aburizal Bakrie, Dzan Farid dan bahkan berencana bertemu dengan Megawati.

Modal diplomasi Yusril yang pernah menjabat menteri era Gusdur, Megawati dan SBY menjadi nilai tambah untuk memuluskan rencana pencalonannya melalui usungan partai. Sinyal-sinyal yang mengisyaratkan dukungan itu tampak terlihat, ketika, tanpa hujan tanpa angin, PDI Perjuangan mengundang Yusril sebagai pembicara acara pelatihan manajer kampanye di 'Kandang Banteng' di kawasan Lenteng Agung Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Ya, memang sebelumnya Yusril pernah berseloroh bahwa dirinya lebih siap jika disandingkan maju di Pilgub DKI Jakarta dengan Boy Sadikin dari PDI Perjuangan atau Sandiaga Uno, salah satu orang terkaya di Indonesia yang sekarang pindah haluan menjadi politikus dari Partai Gerindra.

PDI Perjuangan sendiri, seperti kita tahu adalah partai yang memiliki kursi terbanyak di DPRD DKI Jakarta pada Pileg lalu dengan mengantongi 28 kursi. Artinya, tanpa koalisi, PDI Perjuangan sudah bisa mengusung calon yang dipersyaratkan minimal 22 kursi.

Yusril mengaku telah mendaftarkan diri pada penjaringan calon dari PDIP. Saat ini, terdapat beberapa nama yang sudah mendaftarkan diri dari penjaringan Partai Banteng itu, yakni Hasniati, Idris Khalid Amir, Margono, Sugiman, Mahfud Zaelani, Hasnaeni Moein, Riza Villano Satria Putera, Abdul Rani Rasyid, Teguh Santoso, Harun Al Rasid dan Yusril.

PDIP tentu akan melakukan survey popularitas, elektabilitas dan segala tetek bengeknya untuk memunculkan satu dari sekian bakal calon yang mendaftar. Namun, dari sekian sosok tersebut, yang sudah mencuri start sedari awal adalah Yusril yang justru berhasil membuat seolah-olah telah terjadi pertarungan antara kubu Ahok vs Yusril. Ini bisa terlihat dari perang opini dan argumen di media sosial antara pendukung Ahok dan pendukung Yusril.

PDIP sendiri dikabarkan saat ini tampak tidak harmonis dengan Ahok. Ini menjadi poin plus baru bagi Yusril untuk mencuri hati PDIP yang dikendalikan Megawati. Dan kita tahu, saat Mega menjadi presiden, Yusril sempat menjadi salah satu 'pembisiknya' untuk urusan hukum.

Dukungan kepada Yusril juga berpeluang mengalir dari Partai Demokrat, PPP dan Golkar bahkan Partai Gerindra seiring para ketua umumnya sudah menghormati keputusan Yusril bertarung di DKI 1.

Pendek kata, pertarungan Ahok vs Yusril pada Pilgub Jakarta 2017 kemungkinan besar akan terjadi apabila partai-partai yang notabene sebelumnya berada di Koalisi Merah Putih mendukung Yusril.

Kemungkinan lainnya juga akan terjadi apabila Partai Gerindra resmi mengusung Sandiaga Uno dengan dukungan partai lainnya dengan syarat mengantongi minimal 22 kursi yang bisa memecah kemungkinan Ahok vs Yusril.

Kita tahu jumlah kursi di DPRD Jakarta sebanyak 106. Sementara, Partai Gerindra mengantongi 15 kursi, PKS 11 kursi, dan PPP, Demokrat, Hanura masing-masing 10 kursi. Adapun, Partai Golkar 9 kursi, PKB 6 kursi, Nasdem 5 kursi dan PAN 2 kursi.

Bahkan, kemungkinan-kemungkinan lain juga bisa saja muncul mengingat politik adalah sesuatu yang dinamis. Kita tidak tahu, bisa saja Ahok tiba-tiba urung mengikuti Pilgub DKI Jakarta karena kasus yang tengah menyeretnya seperti dalam kasus Sumber Waras. Atau mungkin, Yusril bisa saja gigit jari karena tidak ada partai yang mengusungnya karena PBB sendiri bahkan tidak memiliki kursi.

Segala kemungkinan dalam dunia politik akan terjadi. Hanya saja, melihat gelagat yang terlihat secara tampak atau kasat mata, tahun ini adalah panggung politik bagi mereka yang bekerja keras sedari awal terutama untuk Pilgub DKI Jakarta.

*Tulisan ini murni pendapat pribadi dari hasil pengamatan dan pembacaan beberapa informasi yang mengemuka

Label:

Senin, 25 Januari 2016

Nur Mahmudi Buka KBBI Dulu Sambil Ngopi Dong!!!

Ada yang menarik ketika, kalau saya tidak salah sebut, anggota Fraksi Demokrat DPRD Kota Depok, Endah Winarti sedikit memotong penutupan sidang Rapat Paripurna Istimewa dalam rangka Pengumuman Hasil Penetapan Calon Terpilih Walikota dan Wakil Walikota Depok 2016-2021 dan Penyampaian Catatan Rekomendasi terhadap LKPJ AMJ Walikota Depok Masa Jabatan 2011-2016 di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kota Depok, Senin (25/1/2015).

Sambil menenteng sebuah koran harian lokal Depok, Endah meminta Wali Kota Nur Mahmudi yang resmi lengser pada Selasa (26/1/2015) untuk kembali mengkaji sebuah program seriusnya dalam mengelola sampah di Depok bernama Partai Ember yang resmi dilaunching pada Minggu (24/1/2015) dengan menggandeng artis Indra Bekti sebagai 'juru kampanye'. Dia mengaku baru membaca berita tentang Partai Ember yang digagas Nur itu dari koran tersebut.

'Interupsi' Endah tersebut sontak dinilai menjadi aneh atau semacam hal lelucon bagi para hadirin yang ada di Gedung DPRD tersebut termasuk beberapa awak media. Endah dinilai usulan atas koreksinya itu tidak perlu lantaran Partai Ember sudah resmi dirilis atau sudah kadung berdiri. Tetapi sesungguhnya apabila hadirin baik dari anggota DPRD, SKPD, Ormas, petinggi partai dan para awak media itu mau melek bahasa Indonesia, apa yang diusulkan Endah ini ada benarnya.

Mungkin benar bahwa dengan penggunaan kata 'Partai', orang akan mengira bahwa Nur Mahmudi benar-benar telah membuat sebuah partai politik, meskipun kedengarannya lucu, yakni Partai Ember. Padahal niatannya sendiri membikin Partai Ember hanya untuk membentuk kelompok sadar lingkungan yang mengelola sampah organik, anorganik dan residu seperti yang diberitakan beberapa media antara lain Kompas.com, Tempo.co, Okezone.com, Viva.co.id dan media lainnya.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mencatat tiga pengertian kata 'partai', 1. Perkumpulan (segolongan orang) yang seasas, sehaluan dan setujuan (terutama di bidang politik); 2. Penggolongan pemain dalam bulu tangkis dan sebagainya seperti untuk penggunaan partai ganda atau partai tunggal; 3 kumpulan barang dagangan yang tidak tentu banyaknya, contohnya "kita boleh membeli 'partai' besar atau 'partai' kecil."

Pertanyaannya, pengertian kata 'partai' manakah yang dirujuk oleh Nur Mahmudi pada penggunaan Partai Ember yang digagasnya. Apakah merujuk pada pengertian pertama, yang berarti Partai Ember ini merupakan gagasan kelompok berpolitik yakni untuk mencapai kekuasaan, apakah pengertian kedua yakni Partai Ember ini tak lain adalah semacam kelompok pertandingan badminton, atau yang terakhir bahwa Partai Ember adalah barang dagangan? Nah, saya kira asumsi apapun dari tiga pengertian tersebut rasanya tidak relevan dengan penggunaan Partai Ember Nur Mahmudi.

Hal ini mengisyaratkan bahwa wali kota yang sudah 10 tahun berkuasa di Depok itu tidak sadar bahasa Indonesia atau jangan-jangan membuat kata seenaknya asal terdengar sederhana, mudah diingat dan unik dalam melakukan programmnya, meskipun pembentukan Partai Ember itu menurut Tempo.co mengacu pada Undang-undang nomor 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah.

Sampai di sini, bukan saya nyinyir atau sok tahu, dan bukan pula tidak setuju dengan niatan mulia mantan Menteri Kehutanan era Gusdur itu dalam membentuk Partai Ember. Saya dan mungkin anggota DPRD Depok, Endah Winarti agak merasa risih dengan penggunaan kata 'partai' pada Partai Ember itu, karena saya yakin sebagian besar orang akan memaknakan Partai Ember adalah berorientasi pada sikap politik, meskipun hal tersebut tidak benar sama sekali.

Dengan demikian, ada baiknya penggunaan Partai Ember ini bisa dikaji kembali oleh Nur Mahmudi yang sudah tidak bisa lagi duduk di kursi empuk Balaikota Depok. Nur Mahmudi sebaiknya buka-buka sejenak KBBI sambil minum kopi biar woles kalau mau menggunakan kata-kata atau istilah yang ingin populer. Karena hal elementer ini akan sangat lucu dan bisa ditertawakan oleh orang lain. Apalagi Pak Nur dikabarkan akan bertarung memperebutkan 'kursi panas' Bakal Calon Gubernur DKI jakarta. Hmm...

Label:

Kamis, 08 Oktober 2015

Sajak Sajak Ali Mifka

Ada yang Tak Kunjung Selesai

Ada yang tak kunjung selesai
Dari geliat narasi utopis
Teka-teki hidup demikian akrab
Sekaligus tak mudah dipercaya
Fragmen-fragmen nasib bersilang acak
Seiring menuntut segala sesuatu
Untuk selesai di ribuan awal yang lain
Hidup menyimpan tragedi bunuh diri jutaan jawaban
Dari berbagai pertanyaan yang asing

Kita ringkih, pedih, dan kesetiaan pada akhirnya
Adalah kekhawatiran menerka peristiwa esok hari

Arungi Senyummu

Dan ku arungi senyummu
Di sepanjang senja yang kelu
Aroma tatapmu
Menerjemahkan air mata
Di sela-sela doa yang hangat

Aku hanya menemukan satu jatah langkah
Dalam seribu langkah menemuiu
Itupun hanya ikhlas menatapmu
Namun diantara kertas, pena dan hatiku
Dirimu utuh disini

Dan kuarungi senyummu

Sepanjang keheningan puisi
Yang tergagu menahan rindu kuarungi senyummu

Apa Lagi

Apa yang akan kita ceritakan lagi
Tentang hidup hari ini
Ketika angin terbenam di lembah
Dan bayangan menggigil di ucap malam gelap?
Tak usah kita mengendap-mengusir sungai-sungai
Kita mencintai hidup seperti kehausan mencintai mata air
Sepanjang kita setia pada hidup
Kita masih bisa melupakan angin malam yang dingin
Dan berangkat menuju ke sana;
Ke atas bukit yang belum kita kenal

Kita Hanya Mampu Menjadi Puisi

Kutulis surat ini untuk hatimu
Ketika manusia begitu retak memahami cinta
Riwayat mata kita telah berkarat, saudaraku
Kita tak perlu terus berdusta membiarkan
Air mengalir, membiarkan api menyala
Udara kini adalah napas yang patut kita curigai
Hari-hari kita untuk setia menganyam kesaksian

Kita akan menjadi seribu usia, saudaraku
Yang bicara lewat ziarah puisi
Tentang mereka yang melepuh menyebut luka-duka
Di surau-surau yang dihancurkan para kekasih yang berkhianat
Tetapi kita tak mampu menjahit luka-duka
Kita hanya mampu mengubah pisau-pisau
Menjadi kain kasa dan kapas putih

Kita mampu mencintai mereka, saudaraku
Karena itu membuat puisi kita terjaga setiap malam
Juga malam membuat kita harus menulis bulan
Dan di pagi hari kita menggigil mengusung keranda kemanusiaan

Bacalah, saudaraku…
Luka-duka ini butuh semacam jeda
Sebelum pedih menjawab semua tanda tanya dengan keajaiban
Kita harus mulai menari, saudaraku
Hari ini bukan sekadar sebuah pertemuan
Tetapi puisi jalang yang menegaskan bisik
Kabarkan segalanya menurut hatimu, saudaraku
Aku adalah kematian bagi sejengkal ragu dan takutmu
Bagi luka-duka kita hanya mampu menjadi puisi

Kirim surat untuk kesetiaanku, saudaraku
Jika hari-hari dirayapi sepi
Dalam gelisah, ternyata, kita harus pergi
Untuk ziarah pada setiap jejak sejarah
Dan harus pulang untuk kembali berbenah

Kutulis surat ini untuk hatimu
Ketika dunia begitu tak sesederhana yang kita kira

Puisi Kematian Bulan

Senja di rimba
Lolong adalah runcing bahasa
Yang membidik aum di taring kata

Bulan ditusuk dingin
Terpuruk di lubuk-lubuk cermin
Geram di semak-semak
Dendam di rongga dada

Senja di rimba
Bulan telah mati di sana


Tentang Suratmu

Kepadamu:
Surat-surat yang kaukirimkan
Berserakan begitu saja
Di kesunyian ruang gerakku
Belum mampu aku membacanya
Bahkan satu kata pun

Label:

Senin, 05 Oktober 2015

Menikmati Konser Anatomia Do Grunge



Komunitas pecinta musik Grunge dan Negative Creep Clothing menggelar konser Anatomia Do Grunge di Rossi Cafe Fatmawati Jakarta, Minggu (4/10) hingga larut malam.

Beberapa band Grunge dari berbagai daerah yang tampil antara lain Jangan Syirik, Mati Muda, Sugar Kane, Marigold, Kamar Busuk, Sociology, The Kill, The All Innocent, Wajik, Syndrome Noise, The Northside, Cacat Mental, Backdoor, Toilet Sounds, Shockbreaker dan Coburn.

Ratusan penggemar musik Grunge sudah memenuhi area Rossi sejak siang dengan pakaian kucel khas celana jeans robek, belel, kaus oblong dan kemeja flanel.

Mereka tampak asik menghayati tembang-tembang yang dimainkan band-band yang tampil. Ruangan yang tak begitu luas itu pun gaduh dengan teriakan.

Menjelang malam, band asal Bandung, The All Innocent (T.A.I) tampil setelah Marigold, The Northside dan Cacat Mental. Band T.A.I yang sudah dibentuk sejak 1997 itu menggeber empat lagu yang membuat para pecinta Grunge tak hentinya bergoyang.

Penampian T.A.I memang salah satu yang ditunggu oleh para pecinta Grunge. Gaya manggung sang vokalis, Achill yang liar dan tak mau diam seolah mengisyaratkan ekspresi dan emosi bermusiknya.

Apalagi saat membesut tembang Trilogika yang dimainkan cukup unik dengan menggunakan dua bass sekaligus. Penonton tak mau beranjak dan terus moshing atau head bang sambil berloncatan di atas panggung.

Konser Anatomia Do Grunge memang semacam ajang reuni para penggemar musik Grunge yang dipelopori oleh band-band asal Seattle Amerika, seperti Nirvana, Pearl Jam, Sonic Youth dan lainnya.

Pengaruh musik Grunge itu hadir ke Indonesia era 90-an dan memunculkan event-event dari band Grunge lokal Indonesia baik di Bandung, Jakarta dan daerah lain.

Salah satu band Grunge bentukan era 90-an adalah Shocbreaker yang juga ditunggu-tunggu. Empat lagu yang dimainkan cukup mengobati rindu para penggemarnya. Apalagi saat mereka memainkan tembang Cewe An***G. Hampir seisi ruangan Rossi Cafe bernyanyi bersama.

Semakin malam, konser semakin memanas. Terlebih giliran band-band yang tampil cukup membuat heboh ratusan pecinta Grunge. Giliran band Backdoor memainkan lagu-lagu andalannya.

Muhammad Abdul Qodir alias Dul, vokalis Backdoor langsung menggeber Come AS You Are milik Nirvana. Dul yang juga anak musisi Ahmad Dhani ini diacungi jempol oleh para pecinta Grunge. Dia dianggap sebagai salah satu ikon Grunge Indonesia yang cukup diperhitungkan.

Penampilan Backdoor yang juga memainkan empat lagu semakin menambah suasana konser memanas. Kerumunan ratusan pecinta Grunge menghadirkan moshing yang tak teratur tetapi tetap damai.

Di sela-sela penampilannya, Dul meminta para pecinta Grunge tetap menjaga kekompakan. "Saya minta semuanya solid ya," ujarnya sambil langsung memainkan tembang penutup dari Nirvana, Negative Creep.

Tak berhenti di situ, puncak konser Anatomia Do Grunge dimeriahkan oleh Coburn, band yang tengah naik daun. Empat lagu yang dimainkan Coburn membuat ruangan tak berhenti berteriak mengikuti tembang yang dinyanyikan satu persatu.

Adapun, band penutup konser Grunge tersebut adalah Toilet Sounds. Band ini sudah berkarya sejak 1998 lalu. Band yang digawangi tiga orang ini cukup membuktikan banhwa Grunge akan tetap hidup dan terus akan meregenerasi.

Label:

Rabu, 23 September 2015

Para Gurandil Pongkor

Usai sudah nasib para penambang emas liar milik PT Antam (Persero) Tbk. yang berlokasi di Pongkor, Kampung Ciguha, Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor.

Pada akhir pekan lalu, perusahaan bersama aparat kepolisian dan Satpol PP berhasil menutup 241 lubang dan membongkar 1.126 bangunan pengolahan emas gelundung serta 125 tangki pengolahan emas ilegal.

Keberadaan para penambang liar atau sering disebut gurandil di Pongkor sudah dilakukan sejak Antam beroperasi pada 1994. Pada 1998, jumlah para gurandil semakin bertambah dan massif baik dari kegiatan penambang maupun pengolahnya.

Dampak sosial pun terjadi akibat makin merebaknya para gurandil itu. Tingkat keamanan di kawasan lokasi penambangan rapuh. Salah satunya terjadi pembakaran kantor administrasi Antam pada unit bisnis pertambangan emas (UBPE) Pongkor.

"Pembakaran itu mengakibatkan berhentinya operasi perusahaan selama 10 hari saat itu. Pembakaran kantor administrasi Antam di Pongkor terjadi pada Desember 1998. Hanya berselang 3 bulan setelah kerusuhan di Jakarta saat itu," ujar Tri Hartono, Sekretaris Perusahaan PT Antam (Persero) Tbk., pada Bisnis, Selasa (22/9).

Penambangan liar di wilayah Kecamatan Nanggung sejak saat itu berjalan secara sistematis dan terstruktur. Issue illegal mining di wilayah Pongkor tersebut kerap dijadikan penelitian baik oleh institusi pendidikan maupun lembaga penelitian.

Dalam banyak jurnal ilmiah disebutkan bahwa penambangan liar di Pongkor melibatkan banyak pihak diantaranya adalah pemilik modal yakni penyandang dana pembuat lubang dan pengolahan gelundung dan tangki, preman, oknum penjaga lubang, tukang pahat, tukang pikul, pemilik pengolahan gelundung dan tangki, hingga penadah hasil emas tersebut.

Perputaran uang dari hasil bisnis penambangan liar pun cukup besar. Hal itu terlihat dari barang bukti yang diamankan Polres Bogor saat penutupan lokasi penambangan liar tersebut. "Dari penadah saja mencapai Rp400 juta," katanya.

Menurut Tri, keberadaan gurandil semakin sistemik dan memengaruhi struktur sosial dan budaya di masyarakat. Terlebih, jika terdapat gurandil yang tertangkap oleh kepolisian setempat, mereka melakukan demonstrasi menuntut agar para gurandil dibebaskan.

Tri mengatakan penegakan hukum tidak terjadi di wilayah Kecamatan Nanggung, seiring pada bisnis emas liar tersebut diduga dikuasai oleh kartel-kartel pemilik lubang dan pemilik pengolahan illegal. "Namun itu sulit untuk dibuktikan. Kami menyerahkan sepenuhnya kepada Kepolisian."

Dampak dari penambangan liar lain adalah pencemaran lingkungan yang massif oleh para gurandil. Mereka menggunakan merkuri untuk mengolah emas, tetapi sebagian gurandil juga mengolah hasil galiannya menggunakan tangki sianida.

"Keduanya tidak diolah limbahnya, tapi langsung dibuang ke lingkungan yakni di persawahan maupun ke sungai Cikaniki," paparnya.

Menariknya, para gurandil yang mengincar emas di lokasi tambang Antam tersebut bukan masyarakat asli Kampung Ciguha, Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, tetapi banyak warga pendatang.

Akibatnya, seringkali terjadi konflik horizontal antara warga asli dan pendatang. Dampak penambangan liar bagi Antam secara teknis memengaruhi operasional penambangan.

Para gurandil dalam aksinya mampu menembus operasi produksi di bawah tanah dan kemudian melakukan pencurian ore yang memengaruhi siklus produksi tambang dalam.

Selain berpengaruh pada potensi kerawanan kekuatan batuan, keberadaan para gurandil itu menghambat proses peledakan dalam satu shift kerja perseroan.

Tri menjelaskan peledakan adalah salah satu bagian dalam proses penambangan bawah tanah cut and fill. Jika hal tersebut terjadi, dilakukan strategi khusus agar target penambangan tetap tercapai.

Antam sendiri, kata dia, tidak dapat menghitung secara spesifik kandungan dari lubang-lubang ilegal tersebut. Karena sebagian lubang penambangan liar mampu menembus lokasi operasi produksi.

"Sebagian lain tidak menembus dan para gurandil membuat lubang yang tidak memenuhi ketentuan keselamatan kerja karena itu tidak safety untuk dimasuki," katanya.

Produksi utama emas Antam sejatinya berasal dari dua wilayah antara lain tambang bawah tanah Pongkor, Bogor dan Cibaliung, Banten. Realisasi produksi ore di Antam UBPE Pongkor pada 2014 mencapai sebesar 382.000 WMT dan realisasi produksi emas (Au) sebesar 1,6 ton.

Tri mengakui pada dasarnya Antam tidak dapat menghitung selisih produksi yang dihasilkan para gurandil dan Antam sendiri. Namun berdasarkan keterangan petugas Kepolisian Resor Bogor kepada para gurandil saat melakukan penertiban, satu tangki pengolahan emas mampu menampung kapasitas 300 karung/beban ore dengan rerata berat 30 kg/karung.

Para gurandil itu, kata Tri, tidak menggunakan penghitungan teknis ekstraksi sianidasinya. Mereka, lanjutnya hanya menggunakan catatan pengalaman para gurandil lain dalam mengolah hasil galian.

Dia memberi contoh, 30 kg sianida untuk satu tangki dan seterusnya. Sementara satu tangki berkapasitas 300 karung tersebut mengekstraksi emas selama 24 jam dan mampu menghasilkan lebih kurang satu kg emas.

“Tentu data tersebut perlu diteliti lebih lanjut, tapi inilah data yang dihimpun melalui wawancara dengan para penambang liar oleh kepolisian," paparnya.

Saat ini Antam memiliki tujuh tunnel produksi tetapi yang aktif ada empat tunnel yakni tunnel MHL500, dua tunnel Gudang Handak, dan tunnel L600. Adapun, Ijin Usaha Pertambangan (IUP) ANTAM UBPE Pongkor sampai dengan 2021.

Tri menjelaskan target produksi emas dari tambang Pongkor Bogor dan Cibaliung Banten pada tahun ini hampir sama dengan target produksi pada 2014, yaitu di level sekitar 2,5 ton. Namun untuk penjualan emas pada 2015, pihaknya akan meningkatkan target dibanding tahun lalu di level 10 ton emas.

Perseroan, kata dia tahu betul apa yang harus dilakukan setelah penutupan lokasi tambang liar yang disebut-sebut merugikan lebih dari Rp1 triliun itu. Salah satunya Antam akan bekerjasama dengan seluruh pemangku kepentingan sesuai dengan kebutuhan kampung Ciguha, Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor.

Masyarakat asli Kampung Ciguha sendiri saat ini berjumlah sekitar 170 kepala keluarga. Jauh lebih sedikit dibandingkan dengan pendatang. Dengan demikian pihaknya berkomitmen memperhatikan seluruh aspek baik lingkungan, ekonomi dan sosial budaya.

"Persoalan penting dalam mencegah kembali munculnya para penambang liar adalah memerhatikan masyarakat yang dulu bergantung pada aktivitas penambangan liar melalui suatu program alih daya."

Menurutnya, konsesi bersama dinilai penting terwujud agar para gurandil tidak kembali. Jika para gurandil tidak beraktivitas, dipastikan lingkungan setempat dapat terjaga.

Perseroan juga, kata dia, mengharapkan penerapan program penanganan ilegal mining di Pongkor akan menjadi contoh penanganan penambangan liar di seluruh Indonesia.

Kapolres Bogor, AKBP Suyudi Ario Seto saat menggelar rapat dengan Bupati Bogor Nurhayanti, Senin (21/9) ihwal perkembangan penertiban penambang liar di kawasan Antam akan menindaklanjuti hasil tersebut.

Suyudi menjelaskan para otal gurandil akan dikenakan hukuman sesuai pasal 161 Undang-Undang No. 4/2009 tentang pertambangan mineral dan batu bara dan Undang-Undang No. 32/2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sanksi pidana.

Dia mengklaim hingga akhir Agustus lalu pihaknya berhasil menangkap beberapa pelaku penambang liar. Menurutnya, penanganan penertiban PT Antam tidak bisa dilakukan secara parsial oleh salah satu pihak, melainkan melibatkan seluruh stakeholder.

Sementara itu, Bupati Bogor Nurhayanti mengaku khawatir terkait kawasan Pongkor sebagai kawasan aneka tambang yang dihuni oleh para gurandil yang membahayakan keselamatan dan lingkungan.

Pihaknya berencana akan membentuk tim bersama beberapa instansi, terutama terkait masalah alih profesi para gurandil yang sudah ditertibkan. Musababnya dari 100% gurandil, sekitar 30% adalah masyarakat Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor.

“Kami akan lakukan upaya tindak lanjut dengan penuh kehati-hatian, agar penertiban ini tidak berdampak negatif terhadap warga masyarakat sekitar. Kami ingin penertiban ini justru bisa memberikan manfaat untuk masyarakat terutama di wilayah Kecamatan Nanggung,” paparnya.

Sumber: Bisnis.com

Label: