Senin, 12 Mei 2014

Icip-icip Kelezatan Rempah Kita

Iringan musik Kolintang Agape, sebuah kelompok yang biasa bermain di acara-acara kegerejaan terdengar ritmis saat pembukaan restoran Rempah Kita di Plaza Indonesia Jakarta, Kamis (10/4). Betapa tidak, lagu-lagu khas daerah macam Si Patokaan, Ina Ni Keke, Lisoi, Anging Mamiri, Waktu Hujan Sore dan lagu lainnya mengalun indah.

Tentunya, lagu-lagu tersebut menambah semarak tatkala pengunjung menyantap aneka menu makanan. Suasana pun terasa khidmat menambah kelezatan masakan serasa lebih Indonesia sesuai menu-menu yang disajikan.

Restoran Rempah Kita berlokasi di mal Plaza Indonesia Jakarta. Sebelumnya, restoran tersebut bernama Lada Merah. Manajemen mengubah nama lantaran pemilihan nama Rempah Kita lebih mewakili Indonesia. "Karena semua menu yang ditawarkan khas masakan Nusantara," papar Michael Irawan, Chef Manager Rempah Kita.

Dengan demikian, pengunjung dimanjakan oleh lebih dari seratus menu masakan khas Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dan pulau-pulau di Nusantara lainnya. Dari ribuan masakan khas Indonesia, Rempah Kita menyeleksi menu-menu khusus yang sudah terdengar akrab untuk dijadikan masakan andalan.

Masakan Padang, siomay Bandung, woku, soto Lamongan, gudeg Yogyakarta, dan menu lainnya merupakan sebagian dari masakan yang disediakan Rempah Kita. Siomay Bandung hasil racikan Rempah Kita misalnya, diklaim sebagai siomay terenak dibandingkan dengan siomay produksi lain.

Dari semua menu Nusantara tersebut, kelebihan dan keunggulannya terdapat pada cara penyajian, proses memasak dan bumbu-bumbu racikan khas Rempah Kita. Setiap menu disajikan dengan unsur kearifan lokal Indonesia, seperti halnya dekorasi dan desain interior restoran. Selain untuk menambah kekhasan Nusantara, pemilihan desain interior juga membuat kenyamanan tersendiri bagi pelanggan.

Untuk menikmati masakan khas Rempah Kita, Anda tidak perlu merogoh kocek mahal. Cukup dengan Rp35.000-Rp85.000, masakan yang dipesan sudah bisa mengenyangkan perut. nasi rempah kita ayam, misalnya dibanderol seharga Rp55.000. Salah satu menu andalan ini terdiri dari ayam goreng, pepes telor asin, udang goreng, sambal dan lalapan segar.

Beberapa menu lain yang bisa membuat ketagihan antara lain seperti nasi Padang dendeng balado, nasi uduk Jakarta empal, nasi timbel pasundan, mie ayam Bangka, soto mie Bogor dan aneka menu lainnya.

Bahan-bahan yang diracik untuk disajikan terhadap pelanggan dihasilkan dari sumber produksi berkualitas. Untuk itu, Rempah Kita menghadirkan sumber daya manusia yang sudah berpengalaman di bidang masak-memasak. Maka jangan heran, jika menu utama hingga camilan diproduksi sendiri tidak menggunakan bantuan tenaga lain.

Camilan macam keripik singkong, kentang goreng, kroket, risolles, lumpia, pempek dan lainnya dibikin sendiri dengan racikan bumbu khas Remoah Kita. "Jangan khawatir bahwa semua camilan bukan dibeli dari pasar, tetapi kami bikin sendiri," ujarnya.

Sementara, untuk aneka minuman, Rempah Kita menyajikan berbagai menu unik yang biasa dinikmati. Sebut saja es kopyor, cendol, es campur Jakarta, dan es tropis yang bisa mengusir rasa dahaga. Kesemua jenis minuman tersebut dibanderol seharga Rp10.000-Rp45.000.

Lily Tanti, salah satu pemilik Rempah Kita mengatakan pihaknya tengah gencar berpromosi mengenalkan restoran khas masakan Nusantara tersebut. Rencananya, pada pertengahan bulan ini, Rempah Kita membuka promo all you can eat seharga Rp150.000 untuk per hari. 

“Jadi pelanggan untuk sehari tersebut bisa menikmati semua makanan sesukanya. Setelah makan misalnya, Anda bisa jalan-jalan, nonton, belanja kemudian setelah lapar, kembali lagi ke sini, makan lagi,” ujarnya.

Konsep restoran berdekorasi gaya 1960-an tersebut rencananya juga akan menampilkan live music dengan pillihan musik khas Nusantara seperti halnya permainan yang ditampilkan Kolintang Agape pada pembukaan restoran. “Intinya, kami ingin mengangkat semua unsur Nusantara di restoran Rempah Kita ini,” paparnya.

*Bisnis Indonesia Weekend

Jpret

Namanya Jpret. Sejak lahir, menginjak masa anak-anak, remaja hingga dewasa, tetap saja dia dipanggil Jpret. Lelaki miskin berambut panjang itu ngoceh sendiri membicarakan hiruk pikuk suasana politik di Indonesia. Sesekali para lawan mainnya menimpali. Namun sesungguhnya dia sedang ngomong sendiri dalam pertunjukan monolog Jpret dari Teaeter Mandiri yang digelar di Teater Salihara Jakarta, Minggu (13/4).

Monolog  Jpret dikemas dengan tata panggung sederhana. Sebuah layar terbuat dari kain terbentang. Di tengah layar sengaja dibuat bolong sebagai ilustrasi layar televisi. Satu kursi, kotak suara, toilet, meja makan dan remote control adalah artistik yang terpajang di arena pertunjukan. Monolog tersebut mengangkat sebuah kisah pahit-manis demokrasi dalam pemilihan umum di Indonesia.

Jpret antusias untuk memberikan hak suaranya memilih calon anggota legislatif (caleg). Seperti diketahui, pada masa kampanye, kebanyakan para caleg memajang foto untuk dikenal publik di beberapa medium. Tiang listrik, pohon, benteng, angkutan kota dan sarana lainnya merupakan ajang promosi wajah-wajah para caleg. Terkadang wajah-wajah mereka, para caleg itu tampil di beberapa media dengan wajah yang sama, mengumbar senyum seolah mereka berperilaku baik dan manis.

Adalah Putu Wijaya, penulis naskah dan sutradara Jpret yang sebelumnya naskah tersebut diberi judul Kroco. Kroco merupakan sebuah naskah untuk dilakonkan pada ulang tahun seorang aktor legendaris, Amoroso Katamsi yang ke-70 tahun. Naskah tersebut dibuat pada 1999 menjelang pemilu. Namun, karena beberapa alasan, naskah Jpret tidak jadi dipentaskan. Dan, bisa terlaksana tahun ini bertepatan dengan Pemilu 2014.

Monolog Jpret dimainkan oleh Bambang Iswantoro, Alung Seroja, Lela Lubis, Dwi Hastuti, Ucok Hutagalung, dan Gandung Bondowoso dari Teater Mandiri. Jpret merupakan pementasan terakhir dari rangkaian ulang tahun Putu Wijaya yang ke-70. Naskah Bila Malam Bertambah Malam dan Hah sendiri ditampilkan pada 11-12 April 2014.

Pada pementasan Jpret, cara penyutradaraan Putu Wijaya tampak terlihat jelas. Unsur realisme, humor, kritis bahkan absurd menjadi satu kesatuan yang utuh. Kita bisa melihat sendiri bagaimana Jpret bisa berbicara langsung dengan presenter televisi yang sesungguhnya berada pada dunia yang berbeda. Tetapi itulah Putu Wijaya, dia kerap mengobrak-abrik estetika dalam sebuah karya.

Pemakaian bahasa yang menggedor daya kejut penonton menjadi ciri khas lain dalam menyampaikan pesannya. Politik misalnya, dia sebutkan secara tidak langsung sebagai praktik menyengsarakan rakyat. Bukan sebaliknya, memberikan kesejahteraan yang pantas.

Alur pementasan Jpret tidak bisa ditebak. Teror mental yang sudah lama digaungkan Putu diam-diam menyelip di beberapa percakapan antara Jpret, presenter televisi, para caleg dan seorang nenek tua, yang dalam pementasan tersebut menjadi nenek tiri Jpret.

Salah satu kritik pedas untuk menyindir Pemilu di Indonesia adalah ketika sang nenek dan Jpret didatangi para calon Presiden. Mereka menanyakan berbagai kebutuhan rakyat jika mereka terpilih jadi Presiden. Padahal sebagai pemimpin, seharusnya tahu keinginan rakyat, bukan sok peduli dan terjun ke lapangan.

Adegan ketika Jpret mencoblos, disuap, dan dibunuh merupakan cerminan perilaku politik kotor yang terjadi di Indonesia. Siapa yang banyak uang, di situlah politik berkuasa. Kita bisa saksikan, bagaimana ketika seorang berada di tempat pemilihan suara (TPS) seperti Jpret didatangi para caleg untuk memilih mereka sendiri. Di sini, Putu dalam panyutradaraannya ingin menekankan bahwa cara-cara kotor tersebut betul-betul terjadi.

Monolog Jpret memang cukup berhasil menggiring penonton menertawakan kondisi politik yang ada di Indonesia. Dari segi cerita dan pesan, Putu memang piawai menghadirkan dengan bahasa ungkap yang lugas. Namun, sekadar catatan, masalah teknis pada pementasan Jpret ini sangat disayangkan.

Permainan cahaya, musik pengiring, jeda antar adegan tampak terlihat kurang persiapan dan latihan yang matang. Kalau boleh disebut, persiapan Teater Mandiri untuk pementasan Jpret kurang maksimal. Sehingga, penyorotan cahaya ketika setiap aktor dan aktris yang masuk ke arena teater kerap terlihat lambat. Beruntung, beberapa kekurangan tersebut bisa ditutupi dengan aksi-aksi improvisasi para aktor.

*Bisnis Indonesia Weekend

Traversing Cultures

Sebuah boneka barbie menyerupai seorang perempuan tampak berdiri tegak. Boneka itu hasil modifikasi dua seniman asal Yogyakarta R. Bonar alias Otong dan Fahla F. Lotan alias Dila. Wajah boneka terlihat garang lantaran dipenuhi kaki-kaki tarantula.

Menggunakan dinamo, boneka dinamakan Mother Wisdom itu berputar. Pengunjung pada pembukaan pameran Traversing Cultures di Galeri Indonesia Kaya Jakarta pada 8 April 2014  hanyut terbawa putaran indah sang boneka. Konon, putaran tersebut memiliki filosofi tersendiri.

Dila dan Otong mengatakan inspirasi pembuatan boneka yang kini memiliki nilai seni itu datang dari Dewi Sri sebagai salah satu legenda perempuan di Jawa. Dewi Sri dinilai sebagai sosok bijaksana. Dia banyak menaburkan aura positif ke setiap orang. "Putaran boneka Mother Wisdom sendiri sebagai filosofi hidup perempuan untuk terus menebarkan kebaikan," papar Dila.

Dila dan Otong merupakan seniman asal Yogyakarta tergabung dalam Thedeo MixBlood. Keduanya adalah kelompok seni yang terlibat dalam berbagai eksperimen seni rupa. Thedeo MixBlood banyak menghasilkan karya-karya eksperimen dan hiperbolis untuk mengungkapkan sebuah karya di hadapan khalayak.

Pada pameran digelar 8-30 April 2014 ini, mereka menampilkan 6 karya seni rupa gabungan antara mainan anak dan hasil imajinasi menggunakan objek-objek modern. Mainan diambil dari koleksi pribadi dan hasil pengumpulan dari beberapa kerabat untuk dijadikan bahan seni yang bernilai tinggi.

Ciri khas Thedeo MixBlood bisa terlihat dari daya liar imajinasi sang seniman. Pada karya The Big Mission misalnya. Boneka Donal Bebek sebagai dasar mainan disulap menjadi sebuah karya seni berupa monster yang biasa dimainkan atau dimiliki kalangan anak-anak. Baik Dila maupun Otong tampak gemar memainkan instrumen dan aksesori lain menjadi gubahan karya yang elegan.

Namun demikian, penambahan barang-barang tidak terpakai pun tidak luput untuk mereka manfaatkan. Penggunaan kain pel misalnya, berhasil padukan pada celah-celah kosong untuk membuat warna karya terkesan unik dan menarik dipandang mata. Meskipun, pada dasarnya, boneka Donal Bebek masih menjadi objek utama dalam karya tersebut.

Thedeo MixBlood juga tidak sungkan berimajinasi lebih liar mengubah sebuah mobil mainan menjadi karya seni yang sangat historis. Karya tersebut bisa dilihat pada Buraq Transformation. Otong mengibaratkan Buraq, sebagai kendaraan Nabi Muhammad ketika diangkat oleh Tuhan ke langit lapis tujuh. "Kami andaikan kendaraan Nabi saat itu lebih canggih dari kendaraan saat ini," papar Otong.

Pada karya berjudul Dasamuka, mereka menghadirkan beberapa tokoh seperti Angry Bird, Joker dan pahlawan-pahwalan kartun yang kerap tayang dilayar kaca anak-anak. Karya tersebut digabungkan menjadi sebuah ksatria berpenampilan menyeramkan sambil memegang sebuah senjata.

Sementara pada karya The Rising of the Guardian, lagi-lagi Thedeo MixBlood menampilkan bahan-bahan kain pel untuk menambah aksen warna. Tema karya yang diusung mereka tetap mengedepankan kisah-kisah kepahlawanan yang berkarakter kuat. Maklum, keduanya mengaku sama-sama pecinta mainan sejak kecil.

Pameran Traversing Culture tersebut menyoroti lintas batas antara beragam nilai budaya seperti tradisional dan moderen. "Untuk itu kami hadirkan budaya lokal seperti mitos Dewi Sri yang pada beberapa karya lain mengedepankan tokoh hero yang akrab di berbagai kalangan," papar Dila.

Sejak berkesenian bersama-sama pada 2009, keduanya kerap memamerkan karya di beberapa tempat. Mereka juga mengklaim menciptakan karya bukan sekadar untuk merayakan dan mengembangkan hobi. Namun, tak jarang beberapa kolektor jatih cinta terhadap karya-karya Thedeo MixBlood. “Kebanyakan kolektor kami berasal dari luar,” ujar otong.

*Bisnis Indonesia Weekend

Menghajar Menu Restoran Hyde

Kawasan Kemang, Jakarta Selatan dikenal sebagai salah satu pusat gaya hidup warga Jakarta. Di Kemang, terdapat beberapa tempat yang bisa dijadikan sebagai ajang pertunjukan, galeri, restoran, kafe, bar dan lainnya. Tidak heran jika banyak investor membuka usaha di kawasan Kemang. Selain menjanjikan, Kemang memang menjadi kawasan yang terus hidup.

Bicara soal restoran, Kemang memang gudangnya. Hampir di setiap titik, tempat makan berjejer dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Masing-masing restoran memiliki konsep tersendiri guna menggaet calon pelanggan. Tak terkecuali restoran Hyde yang berlokasi di Jl. Taman Kemang 1A No. 8, Kemang Jakarta Selatan.

Memasuki Hyde, Anda akan terpukau dengan suasana restoran yang mengusung konsep go green. Restoran sekaligus bar tersebut berdiri pada akhir 2013 yang menawarkan suasana interior yang artistik.

Aneka macam bunga berwarna-warni menggantung di atap restoran akan menyambut Anda yang bisa menggugah selera makan menjadi bertamabah. Selain menggantung di atap, bunga-bunga indah juga menempel di segala penjuru dinding. Pemilihan meja makan yang elegan dibuat khusus untuk memanjakan pelanggan. Sehingga, interior restoran ini akan membawa Anda serasa menikmati pemandangan alam hijau nan asri.

Di Hyde, pelanggan juga akan dimanjakan oleh aneka musik dan penampilan disk jockey (DJ). Alunan musik yang menghentak dari mulai R&B, jazz hingga musik klasik akan menemani Anda menyantap menu-menu yang disajikan.

Pada akhir Maret lalu. Hyde menggelar acara perdananya Bubbly Brunch. Sebelum menikmati makan siang, pengunjung disuguhi aneka menu spesial yang tidak akan pernah didapatkan di restoran lain. Menu Scrambled Eggs on Toast menjadi salah satu jawara pada Bubbly Brunch tersebut.

Menu ini terdiri dari daging sapi yang disajikan secara tipis, mushroom, telor dadar, tomat dan sosis. Sebelum menyantap makan siang, menu ini memang cocok untuk sekadar mengganjal perut kosong Anda setelah sebelumnya menyantap sarapan. Apalagi paduan untuk menu ini sangat cocok dengan minuman House Pouring Sparkling Wine. Setelah melahap daging dan mushroom, tentu wine yang ditawarkan mampu menetralisir rasa yang melekat dilidah.

Untuk menu reguler, Hyde juga menawarkan aneka makanan yang banyak disukai lidah Indonesia. Spaghetti Aglio merupakan satu dari menu spesial di Hyde. Ditaburi cabai merah yang segar, spaghetti ini memberikan rasa ‘menantang’. Apalagi, taburan udang yang menggoda membuat masakan ini tidak boleh terlewatkan untuk disantap. Dijamin, mi kenyal pada spaghetti ini akan membuat Anda ketagihan.

Bagi Anda penyuka burger, tenang saja. Di restoran ini, segala macam menu hampir semuanya tersedia. Cukup menunggu sejenak sambil menikmati suasana tempat yang membuat betah, Anda akan disuguhi Hyde The Cheese Burger. Inilah salah satu burger dikemas semi tradisional yang tampak indah terlihat.

Dipadu dengan kentang goreng, telor setengah matang dan sayuran di atas talenan, penyajian burger tentunya terkesan unik dan membuat Anda penasaran. Lalu bagaimana cara menikmati burger ini? Monggo, sesuai selera Anda, mau mencicipi kentang terlebih dahulu atau langsung melahap burgernya silahkan. Yang jelas, kelezatan menu ini tidak akan mengecewakan Anda.

Selain itu, aneka seafood juga tersedia. Anda bisa memesan Herb Crusted Salmon yang berisi ikan salmon, kentang dan kacang Prancis yang digoreng dicampur dengan lemon. Ada juga Seafood Vol Au Vent yang terbuat dari roti kering dicampur udang, tomat, bawang hijau dan tambahan wine putih. Racikan menu makanan ini tentu akan memberikan rasa yang tidak akan terlupakan di lidah.

Dan jangan lupa, aneka minuman yang disajikan pun cukup beragam. Mulai dari Virgin Berry Kiss, Berry the Kiss Mocktail, Sour Samurai, Floating Avocado hingga Flavored Ice Tea dan aneka cocktail lainnya. Harga yang ditawarkan kesemua menu mulai Rp35.000-Rp1 juta. Uniknya lagi, di restoran Hyde menyajikan menu makanan untuk anak-anak seperti Junior Fish & Chips hingga Chicken Cordon Bleu yang merupakan sajian mini khusus untuk disantap kalangan anak-anak.

Menikmati Kelezatan Ayam Goreng Kyochon

Berkunjung ke Gandaria City Mal di kawasan Jakarta Selatan tidak cukup hanya untuk berbelanja saja. Atau hanya sekadar nongkrong, jalan-jalan cuci mata dan nonton. Namun, ada banyak hal yang bisa dinikmati. Salah satunya wisata kuliner.

Menyantap seafood atau fast food? Ah, itu mah sudah biasa. Di Gancit, begitu orang biasa menyebut, tepatnya di Mainstreet Level UG Unit MU29-30 kini hadir restoran khusus yang menyajikan aneka ayam goreng. Kyochon namanya. Restoran asal Korea yang berdiri sejak 1991 itu baru saja membuka outlet terbarunya di Gancit.

Ingrid Firmansyah, Chief Executive PT Kyochon Indonesia mengatakan konsep restoran Kyochon memang berbeda dibandingkan dengan restoran serupa yang kini menjamur di Indonesia. "Konsep kita bukan fast food," paparnya. "Ayam yang disajikan melalui proses dan tahapan berbeda. Jadi wajar saja jika pelayannya agak sedikit lama. Namun kualitas tetap terjamin."

Menu Kyochon Original Series misalnya. Ayam goreng ini terutama Original Wings kaya akan aroma bawang putih spesial. Dagingnya empuk dilapisi dengan tepung yang renyah dan saus kedelai yang lezat. Anda bisa memilih paha, dada dan sayap dengan cita rasa yang ditawarkan Kyochon.

Kyochon pada tahun ini sudah memiliki tiga outlet antara lain di Pacific Place Level 4 Unit 57-69, Kota Kasablanka di Food Society UG unit FSU10B dan tentunya di Gandaria City yang ukurannya lebih luas hingga bisa menampung 100 pelanggan. Rencananya, hingga akhir tahun, Kyochon akan membuka 10 outlet.

Outlet Kyochon di Gandaria City terbilang mudah dijangkau. Lokasi bangunannya yang masih baru cocok bagi Anda untuk menyantap sekadar makan siang atau ngemil. Selain disajikan sebagai lauk, ayam Kyochon nikmat sebagai makanan camilan. "Tetapi tetap saja yang namanya orang Indonesia tidak pernah lepas dari nasi. Makanya pelanggan yang berkunjung biasanya kebanyakan makan sama nasi," papar Inggrid.

Kyochon juga menawarkan aneka macam nasi seperti Galbi Chicken Steak dengan nasi goreng Kimchi dan Grilled Skewers Rice. Tak lupa, menu pelengkap lain yang bisa dilahap yaitu Chicken Salad, Rice Cake Soup dan Kimchi Soup. Coba juga Anda cicipi ayam goreng Red Series. Jenis ayam ini disajikan khusus oleh Kyochon dengan rasa pedas dari cabe merah segar asal Korea.

Rada pedas yang menyerap di seluruh daging akan membuat lidah ketagihan. Cabe merah yang tertuang dalam Red Series ini pas dan bikin segar. Menu ini cocok bagi Anda penyuka makanan yang pedas-pedas. Namun, tentunya belum lengkap jika menu-menu yang disantap tidak segera dinetralisir oleh minuman yang disediakan macam wine, bir, hingga minuman bersoda.

Semua menu yang ditawarkan di Kyochon akan dimasak setelah pelanggan melakukan pemesanan. Inilah cirri khas yang dikembangkan Kyochon. Proses memasak dengan metode benar dan teruji menjadikan aneka menu ayam goreng tetap terawatt kelezatannya. Maka tidak heran, jika di Korea dan beberapa negara termasuk Indonesia, Kyochon menjadi salah satu tempat favorit kawula muda untuk menikmati kelezatan ayam goreng renyah tersebut.

Lalu menu apa lagi yang ditawarkan restoran yang sempat menyabet The Best Chicken Wing oleh BBC New York ini? Ini dia, Honey Series yang tak akan Anda dapatkan di restoran selain Kyochon. Menu spesial khususnya Red Wings bisa dinikmati dengan saus madu yang manis. Untuk tampilan ayam jenis ini, Anda akan terbuai dengen kerenyahan krispinya. Selain lembut, tepung untuk ayam goreng Honey Series ini sangat lezat untuk dinikmati.

Terakhir, yang tidak boleh Anda lewatkan adalah Salsal Series. Menu Soy Salsal Salad adalah dada ayam yang dikemas mungil-mungil ini diproduksi khusus kaya akan protein. Sajian dan tampilannya tampak indah dengan dibubuhkannya jeruk nipis. Hehingga aroma asamnya akan terasa kuat menusuk hidung. Namun, kerenyahannya lagi-lagi sangat pas terutama ketika Anda mencoba pada gigitan pertama.

Lukisan Bertolak dari yang Ada

Tidak ada yang bisa menghentikan kreatifitas seorang Putu Wijaya. Meskipun dihantam penyakit kelainan pembuluh darah pada akhir 2012 lalu, yang menyebabkan tangan kirinya tidak bisa bergerak, Putu masih menghasilkan karya-karya baik cerpen, esai hingga lukisan.

Pada Kamis malam (3/4) di Bentara Budaya Jakarta, Putu bersama anak lelakinya, Taksu Wijaya membacakan cerpen favoritnya, Merdeka dengan penuh atraktif. Meskipun tampil sambil duduk di kursi, semangat Putu masih terpancar dan menggebu-gebu. Demikian aksi Putu ketika membuka pameran lukisannya Bertolak Dari yang Ada 3-12 April 2014.

Sejatinya, Putu dikenal sebagai sastrawan, dramawan dan aktor panggung yang memiliki karakter khas. Karya-karyanya disebut sebagai pembaru kesusastraan Indonesia. Si peneror mental itu diam-diam memiliki aktvitas yang kini dilakoninya secara intens: melukis.

Dunia lukis sebetulnya bukan hal baru bagi Putu. Dia sempat belajar di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta selama setahun. Kini, kegiatan melukisnya tengah digarap kembali. Terbukti, 27 dari 40 lukisan yang diproduksinya tengah dipamerkan yang membuat sebagian kalangan cukup apresiatif dengan kehadiran karya lukisan Putu.

Salah satu lukisannya berjudul Jangan Sentuh Kami (100 x 100 cm, cat minyak di atas kanvas, 1974) hadir menghiasi pameran. Jika dibandingkan dengan karya-karya terbarunya, lukisan Putu ini akan tampak berbeda baik dari cara pemilihan warna, tema hingga isi lukisan.

Mungkin karena sudah terlihat tua, warna pada lukisan ini tampak usang. Namun, dari sini bisa terlihat bagaimana karakter lukisan awal Putu. Karyanya memberikan identitas sendiri dibandingkan dengan lukisan yang dihasilkannya pada masa berkeseniannya kini—Putu seolah asik bermain dengan warna cerah dan glamor dalam beberapa goresan di atas kanvasnya.

Memasuki 1998, Putu tampaknya sudah mulai menemukan objek dan tema lukisan. Dia mulai menggoreskan kuasnya dengan memilih tema pohon. Di sinilah relevansi antara karya sastra dan lukisnya terlihat. Bertolak Dari yang Ada, sesuai tema yang diusung pameran bisa dipahami sebagai ‘ideologi’ Putu dalam berkarya. Pada lukisan Cinta Tak Kenal Henti (60 x 70 cm, cat minyak di atas kanvas, 1990) Putu melukis pohon terbalik. Akar pohon yang seharusnya di bawah, dia jadikan di atas sebagai potret kondisi kekisruhan pada masa itu.

Pada 2000, karakter lukisan bertema pohon yang dihasilkan Putu tampak jelas. Lukisan Walau Angin Bertiup Kencang (60 x 70 cm, cat minyak di atas kanvas, 2000), menandakan Putu sudah menemukan bentuk objek lukisannya tersebut. Jika pada 1998 lukisannya masih mencari celah dan warna, pada lukisan ini, Putu sudah berani bereksplorasi dengan warna.

Hingga pada periode penyakit menyerang tubuhnya, pada 2012 itu, lukisannya sudah benar-benar berkarakter: pohon, warna dan garis yang cenderung ekspresif. "Lukisan saya kebanyakan menggambarkan tentang pohon. Tetapi saya mencoba keluar dari estetika yang ada. Saya melukis pohon tidak dengan warna yang seharusnya. Saya melukis daun dengan warna biru atau warna lainnya yang tidak melulu hijau," paparnya.

Meskipun tampak mendobrak estetika yang ada, namun lukisan-lukisan yang dipamerkan Putu setidaknya sejalan dengan apa yang dianutnya. Lukisan Matahari dan Pohon Kehidupan (120 x 90 cm, akrilik di atas kanvas, 2012) serta Wajah Kota yang Terbelah (120 x 90 cm, akrilik di atas kanvas, 2014) misalnya sangat terlihat tidak mencerminkan pohon pada umumnya. Tetapi, di sinilah sebenar-benarnya dunia Putu Wijaya yang tak mau sama dengan yang lain.

Kekhasan Putu, sekali lagi tidak bisa dilepaskan dengan cara berkesenian melalui sastra yang meneror mental. Maka menjadi wajar jika kurator pameran Ipong Purnama Sidhi mengatakan bahwa lukisan Putu diibaratkan seolah-olah pria kelahiran Bali itu sedang menata panggung teater. Bedanya, Putu tidak memainkan gerak, cahaya dan kata, tetapi lebih agresif bermain dengan warna dan garis.

Pada tafsiran Ipong, hasil karya lukis Putu merupakan memori yang terekam dalam otaknya. Terlebih, kreatifitas Putu pada lukisan semakin produktif ketika sakit menimpanya. Di situlah, lanjut Ipong, tangan kanan Putu dimaksimalkan untuk melukis dengan semangat dan daya imajinasi yang kuat.

"Apa yang dilukis Putu ketika berkesenian baik di teater atau pun dalam menulis karya sastra disimpan baik-baik di otaknya. Kemdian dia menjadikan objek gambar yang dipindahkan di atas kanvas," paparnya.

Namun, Ipong menegaskan bahwa pada lukisan tersebut, Putu tengah mencari kepuasan. Dia menilai Putu tidak sedang mencari pasar atau hal-hal yang lebih dari sekadar lukisan. Tetapi tidak menutup kemungkinan, pada pembukaan pameran yang dihadiri oleh para kolektor, seniman dan budayawan itu bakal menjadikan babak baru dalam kehidupan berkesenian Putu Wijaya. Pasar seni lukis sepertinya bakal hinggap kepada pendiri Teaeter Mandiri itu. Selamat ulang tahun Putu Wijaya.

Pancaroba

Seorang perempuan berpakaian seksi tampak meningkirkan rok mini merahnya dengan wajah penuh sinis. Mengenakan sepatu hak tinggi berwarna hijau dan tank top putih, kehadiran sosok perempuan berambut panjang itu menjadi sebuah pertanyaan.

Pertanyaan apa gerangan yang ingin dihadirkan pelukis Irul Hidayat dalam lukisannya berjudul Pancaroba Kepemimpinan pada medium akrilik di atas kanvas, berukuran 150 x 400 cm, 2014? Tampaknya, lukisan yang dipamerkan di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki Jakarta bertajuk Pancaroba-Pancaroba pada 18-29 Maret itu mengandung makna yang dalam.

Coba simak, selain perempuan seksi, sosok wajah para presiden negara Indonesia itu digoreskan dengan indah dan penuh satir. Mulai dari samping kiri, Irul menampilkan Presiden Indonesia pertama Soekarno disusul Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid (Gusdur), Megawati hingga presiden saat ini Susilo Bambang Yudhoyono.

Wajah mereka dibubuhkan warna sesuai karakter ideologi partai yang diusung mulai dari merah, kuning, hijau hingga biru langit. Tentu saja, Irul tampak merelevansikan kondisi tahun ini yang disebut tahun pemilu sebagai masa pancaroba sebuah kepemimpinan. Sesuai judul lukisan, Irul ingin menyampaikan pesan dalam lukisannya bahwa masa peralihan kepemimpinan saat ini menjadi sangat urgent untuk kepentingan semua warga negara.

Jika merujuk pada penanda pakaian yang dipakai perempuan seksi itu, maka secara tidak langsung akan berkaitan pada lambang negara Indonesia yakni merah putih. Artinya, pesan yang ingin disampaikan Irul pada lukisan tersebut sudah cukup jelas bahwa rakyat tengah was-was menyambut lahirnya pemimpin baru. Hal tersebut juga didukung oleh hadirnya penanda-penanda lain seperti lambaian tangan yang seolah mengharapkan sebuah pertolongan.

Pada pameran yang diikuti oleh komunitas Garis Cakrawala ini, para seniman memposisikan diri dan memberikan pandangan bahwa seni dihadirkan untuk mengkritik sebuah kebijakan pemerintah.  Komunitas tersebut lahir dan tumbuh di Kota Solo. Anggota Garis Cakrawala pada awalnya terdiri dari para mahasiswa Seni Murni ISI Surakarta. Saat ini, Komunitas Garis Cakrawala bergerak pada seni rupa moderen dan kontemporer.

Menyimak beberapa lukisan dari pelukis Hendra Purnama melalui lukisannya Ketika Negara Menghargai Rakyatnya, nuansa kerakyatan akan terasa kuat bagaimana lukisan bermedium minyak di atas kanvas, 135 x 135, 2011 itu cukup memberikan sebuah sindiran pedas.

Lagi-lagi, simbol kenegaraan dalam hal ini lambang negara Garuda menjadi pusat dari objek lukisannya. Mari simak bagaimana Hendra menempatkan posisi burung Garuda yang lebih besar sebagai tafsiran atas sebuah kepemimpinan dibandingkan burung-burung kecil yang berterbangan. Burung-burung kecil dan beberapa sosok manusia tersebut menjadi isyarat adanya saling harga menghargai antara pemimpin dan rakyatnya.

Pancaroba-Pancaroba, seperti tema dalam pameran ini juga menyoroti bagaimana sebuah budaya dipahami dan disikapi oleh sosok seorang pemimpin dalam sebuah negara. Pandangan tersebut sekiranya akan berdampak terhadap perkembangan sebuah budaya yang dijunjung.

Dalam catatan Hendra Himawan, kurator pameran mengatakan hilangnya nilai spiritualitas dalam kebudayaan pop digambarkan pada salah satu lukisan karya Indra Kamesyawara. Lukisan bertajuk Ungodless (akrilik di atas kanvas, 150 x 100 cm, 2014) berbicara tentang kesunyian, kesendirian yang tergambar pada sosok figur menyerupai manusia berkepala burung.

“Simbol-simbol seperti babi, ekor ikan terpotong menjadi presentasi akan nilai-nilai kemanusiaan yang tersekat. Terbelah oleh keadaan dan wacana-wacana bohong yang abai esensi,” paparnya.


Wajah Cantik Shailene Woodley

Wajah cantik, polos dan anggun Shailene Woodley tampaknya banyak yang tidak akan mengira bisa berakting sangar. Dalam film terbarunya Divergent, dirilis pada pertengahan Maret tahun ini, pemeran Beatrice Prior alias Tris itu berhasil mematahkan anggapan sebagian orang sebagai artis remaja yang hanya bermain dalam film drama.

Divergent yang diadaptasi dari novel berjudul yang sama karya Veronica Roth sukses difilmkan oleh sutradara Neil Burger. Keterlibatan Woodley dalam memerankan Tris menjadi hal yang menarik untuk disimak. Dengan segala kemampuan aktingnya, Tris melahirkan keterpukauan sebagian para penonton Divergent. Bahkan dia mampu berduet dengan kate Winslet yang berperan sebagai Jeanine Matthews sebagai tokoh jahat.

Film Divergent bertempat di Chicago. Sesuai alur cerita, di Chicago, orang yang sudah dewasa harus memilih ke dalam lima faksi yakni Candor (jujur), Erudite (genius), Amity (damai), Dauntless (pemberani) dan Abnegation (penolong tanpa pamrih). Tris sendiri dibesarkan dari keluarga faksi Abnegation. Sampai suatu waktu, pemerintah setempat mewajibkan bagi Tris untuk memilih faksi yang sesuai dengan hasil tes yang dilakukannya.

Tris mulai tegang. Mengetahui hasil tes tersebut tidak termasuk dalam lima faksi, Tris bersikukuh untuk masuk kelompok pemberani yakni Dauntless. Namun, seorang perempuan yang menguji dirinya mewantikan agar hasil tes tersebut dirahasiakan. Hasil uji Tris dikelompokkan dalam Divergent atau orang yang memiliki kelainan. Jika tida masuk ke dalam lima faksi tersebut, Tris akan terbuang sebagai gelandangan. Keinginannya masuk dalam faksi Dauntless tidak bisa diganggu gugat. Padahal, jika faksi Dauntless mengetahui hasil tesnya masuk dalam Divergent, nyawa Tris bisa terancam.

Tris yang mulanya anggun dan berpenampilan laiknya perempuan, mulai berubah. Keberaniannya melawan rasa takut melekat kuat dalam dirinya. Sejak masuk Dauntless, dia banyak dipuji lantaran dicap sebagai perempuan yang tidak memiliki rasa takut. Tris berani loncat dari kereta api, loncat dari ketinggian hingga berkelahi melawan lelaki ketika masa pelatihan dan pengenalan di faksi Dauntless. Poin penilaian Tris pun semakin bagus dan disebut sebagai salah satu anggota Dauntless yang berprestasi.

Faksi Dauntless yang didominasi oleh kalangan lelaki menjadi perbincangan tersendiri oleh hadirnya Tris. Perempuan berusia yang dalam cerita berusaa 16 tahun ini merupakan satu dari beberapa perempuan yang berani masuk faksi Dauntless. Secara tidak langsung, jika disimak secara seksama, film Divergent setidaknya berbicara tentang feminisme. Film yang menceritakan bagaimana kaum perempuan menuntut hak yang sama seperti halnya lelaki. Tris tampak mendobrak budaya di mana dia dibesarkan sebelumnya. Dia merasa keberanian bukan hanya dimiliki kaum lelaki.

Di Dauntless, semua kemampuan anggota baik lelaki dan perempuan dianggap rata. Tidak ada perbedaan sama sekali. Di sinilah, Tris dan Christina, teman seangkatannya yang diperankan Zoe Kravitz 'dipaksa' untuk hidup bertahan sesuai peraturan faksi Dauntless. Mereka berlatih dan bertarung dengan penuh nuansa kekerasan. Tak hanya mental, fisik mereka pun dianggap sama tanpa terkecuali.

Film Divergent memang sebagian besar menyoroti peran Tris. Meskipun di tengah-tengah adegan, film berdurasi lebih dari satu setengah jam ini memasukan pemain lawan, Four alias Tobias Eaton yang diperankan Theo James. Four dalam kisah film ini berakhir menjadi kekasih Tris yang ternyata sama-sama pernah berprestasi lantaran masuk dalam golongan Divergent di faksi Dauntless.

Namun, secara tidak terduga, Natalie Prior yang diperankan Ashley Judd, sebagai ibunda Tris ternyata mantan anggota Dauntless. Natalie Prior menikah dengan Andrew Prior (Tony Goldwyn) ayah Tris dari faksi Abnegation, sehingga Natalie Prior harus ikut sang suami. Kenyataan ini baru diketahui ketika faksi Erudite dan Dauntless bersekongkol untuk menghabisi faksi Abnegation guna merebut sebuah kekuasaan.

Dengan kemampuan yang sudah dimiliki, Tris kecewa dengan Dauntless yang ternyata memiliki rencana jahat. Dibantu Four, Tris menyelamatkan ribuan faksi Abnegation yang didalamnya termasuk keluarga tercinta yang harus diselamatkan. Namun, di sinilah Tris baru mengetahui bahwa sang ibunda ternyata memiliki kemampuan dan keberanian melebihi lelaki Abnegation. Natalie Prior ikut dan terjun sama-sama menumpas kecurangan faksi Dauntless. Meskipun, dia sendiri harus tertembak dan tewas di tangan Dauntless.

Film Divergent lagi-lagi ingin menonjolkan bahwa perempuan juga berhak untuk berani melawan kejahatan. Akting Tris, Natalie Prior dan Christina, tanpa mengesampingkan pemeran utama lainnya menjadi penanda bahwa kebebasan perempuan terutama di Chicago layak untuk diapresiasi dan didukung semua pihak. Di luar itu, film ini memang layak untuk ditonton. Pembagian kelima faksi tersebut juga menjadi keunikan tersendiri bagaimana suatu negara begitu peduli terhadap perkembangan kemampuan pada diri seseorang.

Sudita Nashar

Jika ada seorang tukang ojek yang pandai melukis, jawabannya pasti dialamatkan kepada Sudita Nashar. Dengan bangga dan percaya diri Sudita Nashar yang juga putra dari salah seorang pelukis besar, Nashar menamakan dirinya sebagai Ojek Berkarya.

Pria berusia 52 tahun ini menggelar pameran tunggalnya di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki Jakarta pada 20-28 Maret 2014. Tema yang diangkat pada pameran Sudita Nashar adalah gitar. Sebanyak 25 lukisan yang dipamerkan mengambil unsur gitar yang ditafsirkan secara bebas yang tampak menarik untuk dinikmati.

Di tangan Sudita Nashar, gitar bukan lagi berfungsi sekadar alat yang mampu menghasilkan bunyi atau suara. Dia memposisikan gitar sebagai objek lukisannya menjadi metafora realitas dan fenomena yang terjadi. Pada lukisan Dialog Menuju Kemunafikan (cat minyak di atas kanvas, 125 x 145 cm, 2013), Sudita menggoreskan tiga buah gitar tanpa senar dan kepala gitar.

Gitar itu disusunya dalam segitiga berbentuk piramida berwarna putih yang menjadi latar belakang lukisan. Sementara, senar-senar tersebut yang berbentuk garis merah dia simpan seolah terpisah dari gitar yang seharusnya terpasang pada tiga gitar tersebut. Jika dicermati, pada lukisan ini dia ingin mencoba bermain dalam warna.

Bisa dilihat, warna kuning, merah, hijau, biru dan putih tampak menghiasi lukisan tersebut. Artinya, pada lukisan Dialog Menuju Kemunafikan, Sudita Nashar ingin mengaitkan wacana politik yang kerap kali tak seirama dengan apa yang dilakukan oleh para politisi. Penggunaan objek gitar pada lukisan ini setidaknya, membawa Sudita untuk menyampaikan sindirannya terhadap hiruk pikuk perpolitikan yang terjadi di Indonesia.

Simbol yang digunakan pada warna-warna lukisan tersebut mengacu pada karakter dan warna partai politik yang tengah bertarung di pemilihan umum. Dengan demikian, kiranya Sudita Nashar telah mafhum bahwa kemunafikan yang mengacu pada lukisan tersebut tercipta berdasarkan gagasan atau ingatannya terhadap janji-janji para politisi.

Pada lukisan lainnya, Sudita Nashar juga mencoba mengembalikan makna gitar. Atau setidaknya, alat musik yang menggunakan senar ini memiliki fungsi utama yakni menghasilkan sebuah harmoni yang indah untuk didengar. Namun, lagi-lagi, Sudita masih menggunakan metafora gitar untuk membentuk imaji visual lainnya.

Lukisan berjudul Penyatuan Harmoni (cat minyak di atas kanvas, 140 x 140 cm, 2013) misalnya, Sudita menggambarkan lima batang gitar tanpa tubuh. Kelima gitar tersebut berdiri tegak yang seolah menghadap sebuah surau atau tempat ibadah. Batang-batang gitar tersebut juga memiliki warna beragam.

Di sinilah, Sudita ingin menyampaikan pesan bahwa refresentasi gitar ditujukan kepada aktivitas masyrakat Indonesia. Lukisan tersebut menunjukan sebagaimana orang melakukan sembahyang. Pada lukisan ini juga, Sudita mencoba mengaitkan relasi kelompok masyarakat satu agama yang memiliki fanatisme yang berbeda. Kelompok masyarakat tersebut tampak harmonis satu sama lain ketika berada dalam satu tempat ibadah.

Artinya, beberapa penanda seperti gitar, senar dan sebuah surau menjadi penting sebagai bentuk relasi estetika yang dihadirkan Sudita Nashar. Sang pelukis tentu saja sadar, fenomena sosial yang terjadi di masyarakat kerap diributkan oleh ormas Islam dan percekcokan satu sama lain. Namun, pada lukisan Penyatuan Harmoni ini, Sudita seolah mengajak semuanya  untuk saling rukun dan damai.

Menyimak sejumlah karya yang dipamerkan, Sudita Nashar tampaknya merupakan salah satu pelukis yang akrab merenungkan kehidupan. Dia bisa saja menggoreskan kanvasnya dan berbicara tentang apa yang tengah terjadi di sekitarnya. Bukan urusan dunia saja, dalam beberapa karyanya, Sudita mengisahkan tentang pengalaman batiniahnya selaku manusia yang percaya terhadap ajal dan kematian.

Lukisan bertema kemurungan tersebut bisa dilihat pada Perempatan Maut (cat minyak di atas kanvas, 145 x 145, cm), Matahari Tenggelam (cat minyak di atas kanvas, 140 x 140 cm, 2011) dan Menuju Angan-Angan (cat minyak di atas kanvas, 145 x 145, cm). Pada lukisan tersebut, Nashar dengan apik membentuk perumpamaan gitarnya masing-masing sebagai jalan yang berliku, jalan lurus menuju cahaya dan jalan menuju ke atas—kepada Sang Pencipta.

Maka tidak heran, dari kesemua lukisan yang menggunakan objek bertema gitar, Sudita menjadikan gitar sebagai barang seni yang tidak hanya menghasilkan bunyi. Akan tetapi, gitar menurut pandangan Sudita adalah ruang yang mewujud, estetis dan sebagai karya yang indah bagi penikmat seni seperti halnya suara gitar.

*Bisnis Indonesia Weekend

Pameran Jakarta Contemporary Art Space

Lantai 2 Kantor Pos Indonesia di kawasan Kota Tua Jakarta itu dipenuhi beragam karya seni rupa. Ratusan wajan belah, pecah dan bolong disulap menjadi sebuah karya seni. Salah satunya instalasi berjudul Answering My Own Wave karya Teguh Ostentrik. Instalasi seni tersebut tak lagi berwujud wajan sebagaimana fungsi aslinya.

Teguh menyulap wajan-wajan itu menjadi sebuah suguhan yang menyerupai gelombang ombak laut. Wajan, sebagaimana diketahui adalah produk sosial masyarakat yang digunakan untuk memasak. Kehadiran wajan yang awalnya berasal dari Cina itu telah menyebar ke penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Gagasan Teguh dalam melahirkan instalasi dari wajan ini dihadirkan sebagai penghormatan atas peralatan masak yang kerap diremehkan. Wajan jarang dimunculkan atau dibicarakan kecuali hanya di dunia masak, dapur dan kuliner. Dengan gagasan tersebut, Teguh ingin memunculkan paradigma baru dalam berkesenian. Artinya, medium yang diciptakan tak melulu dihasilkan dari barang atau komoditas yang banyak digunakan seniman lain.

Karya instalasi ini juga sekaligus dijadikan sebagai pengingat bahwa metafora yang dihadirkan adalah untuk menghargai hal-hal kecil yang sebenarnya berharga. Dengan demikian, sejauh mungkin wajan dalam instalasi ini mencoba menjauh dari pemaknaan sebagai alat masak. Namun, pengunjung dibebaskan untuk menafsir seleluasa mungkin.

Selain karya Teguh Ostentrik, dalam pameran pembukaan Jakarta Contemporary Art Space (JCAS) ini juga menghadirkan para seniman kontemporer lain. Dengan total 46 seniman, karya-karya yang dihadirkan baik melalui lukisan dan instalasi memiliki benang merah yaitu semangat Fatahillah, Kota Tua Jakarta. Pameran berlangsung dari 13 Maret hingga 13 September 2014.

Berbeda dengan Teguh, instalasi Made Wianta, seniman asal Bali memamerkan karyanya berjudul Air Pollution. Sebuah karya dari tumpukan beragam knalpot motor yang dilas menyerupai gunung sebagai wujud kritikan pedas terhadap kondisi lingkungan.

Baik Teguh maupun Made, dalam pameran ini mengedepankan medium yang jarang digagas seniman lain. Merujuk pada karya seni kontemporer, medium yang dihadirkan para seniman memberikan pemaknaan jauh dari fungsi utama atas medium itu sendiri. Artinya, batas-batas makna pada medium tersebut bukan lagi bicara ihwal tafsir yang utuh, tetapi kehadiran makna lainlah yang dengan sendirinya berbicara tafsiran baru.

Seni rupa kontemporer, sebagaimana yang dilakukan seniman Tisna Sanjaya pada kesempatan yang sama berhasil mengkombinasikan dua gagasan seni lukis dan seni tradisional Reak yang menarik. Tidak kurang dari satu jam, Tisna menghasilkan lukisannya berjudul Hudang (Bangun) yang merujuk pada eksistensi seni tradisional itu sendiri.

Pada proses melukisnya, Tisna jauh berbeda dibandingkan dengan peserta seniman lain. Tisna melukis on the spot pada empat kanvas yang masing-masing berbicara soal seni tradisi. Gagasan yang ada dibenaknya ketika melukis diiringi irama kesenian tradisional Reak mewujud dalam empat kanvas tersebut. “Lukisan ini berbicara tentang semangat untuk membangkitkan kembali seni tradisional yang selama ini seolah tidur dan jarang diminati masyarakat moderen,” paparnya.

Lain Tisna, lain juga dengan seniman Angki Purbandono. Seniman yang mengaku pendatang baru ini menghadirkan karyanya berjudul Taxi Lover. Angki menyusun 52 potret aneka macam taksi berukuran 27 x 52 cm dan 4 potret taksi berukuran 57 x 107 cm. Konsep berkesenian Angki cukup unik. Dia menyusun potret-potret tersebut dalam light box sehingga potret yang dihasilkan tampak menarik untuk disimak.

Gagasan dan tema karya Angki tampak fokus memilih suasana, interior dan sisi unik taksi yang mengaspal di Jakarta. Dia memposisikan sebagai penumpang yang kemudian memotret kondisi Jakarta di dalam taksi. Di tangan Angki, ide tersebut justru menjadi seni yang unik dan patut diapresiasi. Dengan penyusunan potret-potret tersebut secara rapi. Warna-warni Jakarta dari sudut taksi terlihat menarik.

Sementara, seniman Mella Jaarsma mencoba menampilkan karya berjudul Surat Terakhir. Medium yang dihadirkan Mella antara lain pakaian, kayu, kaca, gelas untuk menyerupai sosok manusia. Cermin kaca yang dijadikan kepala manusia itu, dalam pandangan Mella justru menjadi titik menarik dalam karyanya.

Karya yang disuguhkan Mella mencoba mengaitkan dengan Kantor Pos, di mana dia sedang melaksanakan pameran. Surat Terakhir hadir dengan mengacu pada gagasan gedung bersejarah itu yang tengah memasuki tahap baru. Dengan tujuan, menemukan cara lain untuk mengirim pesan melalui seni.

Sebagaimana diketahui, kawasan Kota Tua termasuk Kantor Pos merupakan bangunan hasil masa Belanda. Dengan karya yang diciptakan, empat pakaian bercorak putih yang digantungkan itu kerap digunakan oleh para elit kaum Belanda. “Saya terinspirasi oleh lokasi ini. Kantor Pos ini menjadi pusat komunikasi untuk waktu yang sangat lama, saat surat memegang peran dalam komunikasi antara Indonesia dan Belanda,” paparnya.

Pelukis Agus Suwage menampilkan lukisan berjudul Belajar Pada Alam (oil on canvas, 150 x 200 cm, 2013). Lukisan itu berbicara sebuah pemandangan laut yang dikombinasikan dengan metafora buku di tengahnya. Beberapa kata Rawatlah dan Jagalah dalam lukisan tersebut merupakan ajakan dari Agus untuk memelihara alam sebagai nafas bagi manusia.

*Bisnis Indonesia Weekend