Selasa, 05 November 2013

Makan di Bulgogi Brothers Saja

Meja makan itu berkapasitas lima orang. Di tengahnya ada kompor elektrik untuk memasak, barbeque atau sekadar memanaskan makanan. Empat lembar katalog menu makanan tersimpan dengan gambar menu yang menggugah selera. Di meja lain, ada yang berkapasitas dua dan empat orang.

Empat orang jurnalis yang semeja dengan saya sibuk mengetik menggunakan gajet. Mereka menyimak obrolan artis Bunga Citra Lestari, Ashraf Sinclair dan Chandra Supandi dari ChasWood Resources yang tengah melangsungkan konferensi pers. Ketiga orang ini merupakan pemilik Bulgogi Brothers, restoran yang khusus menyajikan masakan Korea.

Untuk kali pertama, Bulgogi Brothers hadir di Jakarta. Tepatnya di kawasan pusat perbelanjaan Lotte Shopping Avenue, Kuningan. Nicky Putri, 22, jurnalis sebuah majalah di Jakarta mengatakan senang dengan kehadiran restoran tersebut. Pasalnya, dia merupakan salah satu pecinta musik Korea (K-Pop) serta penggemar masakan berbau Korea.

Pertengahan Oktober lalu, saya, Nicky dan puluhan rekan jurnalis lainnya mendapat kesempatan mencicipi hidangan Korea yang ditawarkan. Bulgogi Brothers memberikan menu pembuka dengan menawarkan Oksusupang atau roti jagung. Makanan ini lezat dan gurih untuk di santap. Ditambah, suasana restoran yang khas dengan ornamen dan aksesori Korea.

Menu andalan di Bulgogi Brothers terdapat 40 jenis varian. Ini merupakan kesempatan bagi para pecinta masakan Korea untuk mencoba mengeksplorasi rasa Korean Food.

Ketika mencicipi Seafood Pancake dengan ditaburi saos pajeon, saya merasakan lezatnya masakan Korea. Makanan ini dibuat dari tepung, telur, udang dan kerang. Bumbu yang diracik menyerap hingga ke dasar permukaan udang dan kerang. Rasanya gurih. Dagingnya renyah dan tidak liat. Sementara air kuahnya wangi hingga menusuk hidung. "Ini harganya sekitar Rp80.000," tutur pelayan ketika menghidangkan.

Sehabis Seafod Pancake, pelayan menyajikan Bulgogi Bibimbap, salah satu menu andalan Bulgogi Brothers. Masakan ini terbuat dari wortel, timun Jepang, lobak, bayam, toge dan jenis sayuran lainnya. Saya pikir ini adalah menu jawara dari Bulgogi Brothers. Harga satu porsi mencapai Rp100.000. Tetapi, menu ini hanyalah makanan pembuka kedua yang ditawarkan restoran. "Wow... enak banget ini. Saya suka sekali dengan sayuran," kata Nicky antusias. Rekan jurnalis lain hanya bisa senyum dan fokus menyantap makanan.

Bulgogi Brothers merupakan restoran franchise yang tersebar di sejumlah negara. Bunga Citra Lestari dan Ashraf Sinclair menangkap peluang usaha restoran Korea ini cukup menjanjikan. Ashraf sendiri sebelumnya sudah membuka restoran serupa di negara kelahirannya, Malaysia.

Alasan Ashraf dan Bunga terjun di bisnis restoran Korea lantaran membaca potensi yang cukup besar. Mereka mengatakan penggemar masakan dan musik Korea di Indonesia saat ini tengah menjadi tren tersendiri. Mereka optimistis bisnis tersebut akan sukses.

Ashraf menjelaskan, dia sangat menyukai salah satu jenis menu unggulan yakni Bulgogi Spesial. Masakan ini terbuat dari daging sapi impor, ubi, daun bawang, dan pumpkin. Saya sendiri menyaksikan langsung proses pembuatan Bulgogi Spesial ini. Ternyata, pelanggan dimanjakan dengan aksi pelayan yang memasak langsung di meja.

Awalnya, pelayan memasukan ubi dan daging sapi ke dalam penggorengan. Daging yang diolah diracik dengan bumbu pilihan. Sehingga, ketika dimasukan ke dalam perapian, aromanya tercium. Gurih. Dan membuat pelanggan tak sabar untuk segera menyantapnya. Dalam beberapa menit, Bulgogi Spesial siap untuk dinikmati.

Dan, memang, rasa Bulgogi Spesial ini benar-benar lezat. Rasa daging yang dimasak begitu renyah. Cara memasaknya pas. Tidak terlalu mentah dan gosong. Sehingga ketika dikunyah, bumbu daging yang meresap terus terasa. Sekedar masukan saja, menyantap Bulgogi Spesial akan sangat sempurna jika disantap dengan menu Chadol Doenjang Jjigae, salah satu menu andalan lainnya. Menu ini terbuat dari tahu, daun bawang dan soya bean. Harganya pun lebih murah, hanya Rp100.000 dibandingkan Bulgogi Spesial Rp250.000.

Sementara untuk minuman yang direkomendasikan, Anda harus mencoba Apple Juice dan Bulgogi Hotpop. Kedua minuman ini memiliki rasa berbeda dibandingkan minuman serupa di tempat lain. Penasaran? Coba saja, sebelum kehabisan tempat. Pasalnya, Bulgogi Brother hanya berkapasitas untuk 100 orang.

Ini Namanya Oral Seks

Selasa malam pada pekan ini, gerimis membasahi kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Saya duduk meneduhkan diri di sebuah convention store sembari menghangatkan tubuh dengan menyeruput segelas kopi. Hujan turun cukup deras sejak sore. Jalanan becek membuat lalu lintas macet.

Tepat sekitar pukul 18.53, suara khas blackberry messenger (BBM) berbunyi sebagai tanda pesan masuk. "Bray cageur? (Teman, apa kabar, sehat?)" dalam pesan tersebut. Ternyata, sapaan itu datang dari kawan lama saya, Rahmat Pujianto—bukan nama sebenarnya. "Alhamdulillah, pangersa?" (Alhamdulillah sehat, Anda sendiri?) Jawab saya. Kami pun larut dalam percakapan ke sana ke mari.

Rahmat Pujianto adalah kawan saya ketika masih kuliah di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Gaya bicaranya cepat. Dulu, Perawakannya kurus. Tetapi saat ini, badannya mulai gemukan. Maklum, dia kini sudah menyandang gelar suami. Juni lalu dia menikah dengan seorang perempuan pujaannya.

Pujianto, begitu dia disapa kini menetap di kota kelahirannya, Sukabumi Jawa Barat. Selepas rampung kuliah pada 2010, dia bekerja di salah satu bank terbesar di Indonesia cabang Sukabumi. Terakhir kali saya bertemu dia pada akhir Januari tahun ini. Saya kaget, dia berubah drastis. Jika dulu ketika di kampus dia adalah mahasiswa nakal, liar dan bengal, terakhir saya lihat dia menjadi lebih dewasa.

Setelah percakapan melalui BBM itu, saya langsung telepon dia. Kami berbicara tentang kesibukan masing-masing. Sesekali menanyakan kabar rekan lain satu angkatan di kampus. Dan, sekadar iseng, saya sentil kembali pengalaman nakal dia sewaktu bercerita tentang hubungannya dengan seorang gadis SMA.

Dia pernah mengatakan bahwa dengan gadis tersebut punya pengalaman melakukan hubungan oral seks di mobil ketika bepergian ke suatu tempat. Sontak, dia pun tertawa terbahak mengenang kejadian itu. Karena, katanya selepas kejadian tersebut mobil yang dikendarai mendadak mati dan harus dibawa ke bengkel.

Dia menjelaskan ketika setelah menikah pun, kebiasaan oral seks yang disenanginya kerap dilakukan bersama istri. Pujianto melakukan hal untuk merangsang gairah seksnya sebelum penetrasi. Menurutnya, dengan melakukan oral seks terlebih dahulu, hubungan akan lebih bergairah dan menantang. "Tetapi ke sini, ke sini, kami jarang melakukan [oral seks]. Itu hanya alternatif saja jika kami butuh variasi dalam berhubungan," katanya kepada Bisnis.

Oral seks memang diyakini mampu memberikan rangsangan hubungan intim. Pasangan yang melakukan oral seks biasanya dilakukan sebelum hubungan di mulai. Tetapi terkadang dilakukan saat pertengahan bahkan ketika salah seorang menikmati puncak dalam berhubungan.

Efnie Indrianie, psikolog dari Universitas Maranata mengatakan oral seks merupakan sebuah kegiatan yang kerap dilakukan sebagai rasa trust atau saling percaya sebuah pasangan. Jika pasangan tersebut melakukan oral seks dalam setiap berhubungan intim, keduanya dinilai sebagai pasangan yang saling mencintai.

Ini pula berlaku bagi pasangan yang belum berkomitmen atau menikah. Ketika masih dalam masa pacaran, jika pasangan tersebut melakukan oral seks, maka nilai kesetiaan keduanya sudah teruji. "Ada juga pasangan belum menikah yang melakukan oral seks untuk menghindari kehamilan," katanya.

Oral seks sejatinya dilakukan ketika seorang lelaki memberikan sentuhan terhadap vagina perempuan dengan mulut atau lidah. Ketika melakukan oral seks, nilai jorok, jijik dan negatif lainnya cenderung diabaikan. Sewaktu pasangan melakukan, lanjutnya, mereka jarang memperhatikan dampak kesehatan yang akan terjadi. Keduanya sudah masuk ke dalam gairah seksual yang kuat.

"Tetapi, jika oral seks terjadi bukan hanya pada pasangan, misalnya dengan perempuan lain [wanita tuna susila], itu bukan masuknya bukan karena masalah trust lagi, tapi hanya sebatas having fun dan kenikmatan saja," katanya.

Dalam penelitian yang dilakukan Klinikal Psikologis Bidang Seks, Efnie menuturkan hampir 80% perempuan di dunia bersedia melakukan oral seks. Sisanya sebanyak 20% mengatakan tidak pasti. Meskipun untuk kalangan adat Timur, lanjutnya, oral seks banyak dinilai sebagai kegiatan yang menyalahi norma adat ketimuran.

Sementara itu, spesialis urologi dari RS. Asri Jakarta Nur Rasyid mengatakan dampak dari oral seks cukup berbahaya bagi kesehatan sebuah pasangan. Dalam tubuh manusia, katanya, sedikitnya ada dua kuman yaitu gram positif dan gram negatif.

Kuman gram positif biasanya terletak pada mulut. Sementara gram negatif berada pada saluran kencing manusia. Jika sebuah pasangan melakukan oral seks, maka kuman gram positif berpotensi menempel pada vagina perempuan. Efeknya akan menimbulkan bakteri pada vagina. Bahkan, tidak menutup kemungkinan jika salah satu dari pasangan tersebut berpenyakit HIV, akan menular melalu sentuhan mulut.

“Yang lebih parah lagi, jika ketika melakukan oral seks baik lelaki dan perempuannya tidak bersih, maka akan berpotensi terserang stafilokokus atau sebuah infeksi pada kulit yang bisa menyebabkan kematian,” paparnya.

Stafilokokus bekerja dan mampu menginfeksi kulit. Penyakit ini menimbulkan nanah yang menjalar hingga ke permukaan kulit. Ketika nanah tersebut pecah, air kotor akan mengalir di atas kulit. Jika tidak ditindak lanjuti secara cepat, maka infeksi ini akan semakin parah menyerang.

Dia menambahkan meskipun kebanyakan orang mengatakan bahwa kegiatan oral seks mengasyikan, tetapi dari segi kesehatan tidak memiliki unsur manfaat sama sekali. Oral seks hanya bisa memicu rangsangan seks sebuah pasangan lebih bergairah saja. “Tetapi risiko yang ditimbulkan lebih banyak dibandingkan manfaat yang diambil,” paparnya.

Untuk itu, tak heran jika Pujianto sudah jarang melakukan oral seks bersama istrinya. Selain sudah memiliki dan menemukan rangsangan seks tersendiri sebagai pemanasan, dia tengah mencoba untuk mengurangi aktivitas seksualnya. “Maklum, istri lagi hamil. Kasihan takut kecapekan,” paparnya dengan tawa yang mengembang di ujung telepon.

Ada Racun Cinta

Tiga tahun lalu, Yuga Himawan pernah gigit jari ketika berniat memborong kaos yang paling disukainya. Dia menilai Gambar kaos yang diburu sangat unik dan jarang didapat di pasaran. Dia menyesal menunda pembelian ketika kaos tersebut dipromosikan melalui jejaring sosial.

“Saya pikir masih banyak stok yang tersedia. Eh, pas datang ke tempat pameran barangnya sudah habis. Padahal saya mau memborong banyak,” katanya kepada Bisnis.

Kaos yang dimaksud Yuga adalah produk sebuah clothing, Racun Cinta. Unik memang, di tengah menjamurnya clothing dengan nama berbau kebarat-baratan, Racun Cinta seolah menjadi antithesis brand kaos yang ada. Sang pemilik, Bayu Wuri Andhika sengaja menamakan Racun Cinta dengan alasan mudah didengar dan diingat orang. Alasan lain, mereka ingin memberikan virus positif dengan menebarkan cinta untuk manusia dan lingkungan.

Ternyata, pengalaman kehabisan kaos bukan hanya diderita Yuga. Di jejaring sosial Facebook dan Twitter Racun Cinta, banyak orang merasakan hal sama. Tak sedikit para pelanggan Racun Cinta menyayangkan terbatasnya produk clothing tersebut.

Namun, itulah konsep yang sengaja dibuat Bayu. Dia ingin menciptakan trademark sendiri untuk clothing yang dirintis pada 2009 itu bersama istrinya, Nurrani Mustikawati. Dengan membuat konsep limited edition, pelanggan yang dia namakan Petani Kota, akan mempunyai kepuasaan dan kebanggan ketika memakainya.

Bayu masih ingat betul ketika kali pertama menggagas bisnis yang digarapnya. Berawal dari hobi menggambar dan corat-coret di berbagai medium, dia terbesit untuk menuangkan desainnya pada sebuah kaos. “Pertama kali saya membuat kaos dengan desain tangan sendiri. Gak nyangka banyak teman-teman yang suka,” katanya.

Bayu dan Rani, sapaan istrinya, merupakan lulusan desainer grafis di sebuah kampus di Jakarta. Ketika masih duduk di bangku kuliah, keduanya gemar membuat desain. Otak keduanya kemudian jauh menerawang untuk menciptakan bisnis kecil-kecilan. Sebagai langkah coba-coba, mereka membuat dua desain kaos bertema propaganda sebanyak dua lusin. Selepas beredar di kalangan teman-temannya, kaos yang dijual laris manis.

Bakat bisnis yang dimiliki Bayu maupun Rani memang tak seberapa. Keduanya tidak pernah memiliki pengalaman berbisnis sebelumnya. Tetapi, dengan tekad kuat, Racun Cinta akhirnya mulai berproduksi. Pemasaran yang dilakukan awalnya hanya melalui jejaring sosial. Setelah permintaan melonjak, Racun Cinta membuka sebuah toko di bilangan Bintaro, Jakarta Selatan pada 2010. “Toko hanya untuk memudahkan pembelian saja,” katanya.

Kaos produk Racun Cinta tidak diproduksi secara masiv seperti clothing pada umumnya. Alasan Bayu menekuni bisnis ini bukan hanya untuk mencari keuntungan semata. Tetapi ada misi lain yang ingin disampaikan ke publik luas.

Tak heran, jika setiap desain kaos Racun Cinta memiliki tema semangat perubahan, lingkungan, nasionalisme dan cinta budaya Indonesia. Dan, poin penting dari Racun Cinta yaitu desain yang dibuat dengan tangan sendiri. “Saya dan istri senang gambar dan corat-coret. Jika ada waktu luang, kami gambar apa saja di kertas, jika bagus kami perhalus di komputer, lalu dituangkan untuk desain kaos,” katanya.

Produk Racun Cinta terbit sebulan sekali. Jika awal pertama hanya membuat dua desain, kini per bulannya bisa sampai merilis 15 desain dengan masing-masing desain diproduksi 15 pcs. Jika setiap desain habis terjual, Racun Cinta tidak memproduksi ulang. Desain yang dibuat pun tak jauh dari gambar hewan, petani, hingga gambar fenomena keseharian. 

Bayu sendiri tidak memiliki panutan desainer dalam inspirasi menggamabarnya. Dia hanya terinspirasi buku-buku bertema anak yang teronggok di sudut perpustakaan. Terkadang, dia cukup ngobrol dengan orang yang ditemui di jalan. Pedagang, pengemis hingga tukang bangunan merupakan inspirasi dasarnya.

Dari hasil obrolan tersebut, katanya, gagasan untuk membuat desain kerap muncul begitu saja. Kekuatan imajinasi yang dirangkum dalam percakapan dengan orang biasa, sering merangsang otaknya untuk diterjemahkan ke dalam sebuah gambar. Di luar itu, merupakan kepuasaan tersendiri bagi Bayu untuk menyalurkan bakat menggambarnya ke dalam kaos.

Konsep limited edition produk Racun Cinta adalah harga mati. Sekalipun banyak pelanggan memproduksi ulang desain yang pernah dirilis, Racun Cinta tidak akan mengabulkan. Namun begitu, pertimbangan harga yang dijual ke pasar tidak jauh beda dengan clothing lain. setiap produk yang dijual bisa didapat seharga Rp100.000-Rp265.000.

Ekspansi bisnis Racun Cinta bukan hanya di kaos saja. Beragam produk pakaian yang tersedia seperti kemeja batik, syal, hingga topi kini sudah tersedia. Bahkan, di toko yang terletak di kawasan Bintaro Utama J3 No 12 Jakarta Selatan itu menyediakan aksesori. 

Pemasaran

Clothing Racun Cinta memang berkembang dan dikenal luas melalui pasar online. Bayu membagi tugas bersama Rani, sang istri untuk membesarkan usaha. Untuk pembukuan dan pemasaran, Rani diberi wewenang penuh. Bayu sendiri kini lebih menggarap desain dan mengawasi toko. Maklum, setelah bisnisnya maju, Bayu mengajak Yuga, seorang penjaga toko yang dulunya merupakan pelanggan berat Racun Cinta. Sementara, bagian produksi dilakukan di rumahnya yang tak jauh dari lokasi toko. Dia mengajak kerabat dan rekannya yang mahir menyablon dan menjahit.

Konsep unik yang dilakukan Racun Cinta untuk memperkenalkan produknya yaitu dengan musik perkusi. Setiap kali melakukan pameran, Bayu selalu mengajak teman musisi untuk unjuk gigi di tepat di depan booth. “Dengan begitu, lambat laun perkusi menjadi ciri khas kami. Jadi, jika disetiap pameran clothing ada suara berisik perkusi, artiya, di situ kami ada,” katanya.

Bayu mengklaim, strategi pemasaran yang dilakukan sejauh ini ternyata cukup berhasil mendongkrak penjualan. Terbukti, banyak para Petani Kota yang berbelanja baik melalui online maupun datang langsung ke toko. Meskipun tidak terlalu besar, tetapi progress penjualan setiap harinya terus meningkat. Apalagi, paparnya, pada waktu weekend, penjualan bisa naik berlipat dibandingkan hari biasa.

Bahkan, dengan melihat peluang besar tersebut, Bayu berencana membuka cabang di beberapa kota besar. Dia memiliki angan-angan untuk membuka cabang Racun Cinta pertama di Bali. Tetapi, untuk saat ini, niat tersebut masih tersendat oleh beberapa kendala. “Niat buka toko baru pasti ada. Tetapi nanti setelah kami benar-benar matang,” paparnya.

Menafsir Banten

Barangkali, pelukis Tato Kastareja punya alasan tersendiri mengapa dalam lukisan berjudul Bagian Idialek Banten membubuhkan dominasi wajah Rano Karno. Dalam lukisan yang tertuang pada cat minyak di atas kanvas, dibuat pada 2013 itu, menggambarkan sejumlah warga Baduy, Banten tengah berjalan dengan mengenakan pakaian adat. Lainnya menggambarkan beberapa orang tengah memperlihatkan aksi seni tradisi Banten, debus. 

Lukisan berukuran 200 x 150 cm itu merupakan salah satu karya Tato yang dipajang pada pameran Ieu Kula: Mata Batin Banten di Galeri Nasional Indonesia pada 22 Oktober 2013—4 November 2013. 

Seperti diketahui, pemeran sinetron Si Doel Anak Sekolahan itu merupakan Wakil Gubernur Provinsi Banten periode 2012-2017. Banten, kawasan yang berada di bawah kuasanya merupakan salah satu provinsi yang memiliki kultur dan tradisi kuat. 

Nama Suku Baduy misalnya, tak bisa dipisahkan dari Banten yang pada 2000 memisahkan diri dari Provinsi Jawa Barat. Konon, warga Baduy sangat mempertahankan tradisi dan tidak mau banyak diatur oleh kebijakan-kebijakan pemerintah setempat. Sekedar contoh, sebagian dari mereka tidak mau membuat kartu tanda penduduk (KTP) karena dinilai tidak bermanfaat untuk kelangsungan hidup mereka.

Tampaknya, Tato ingin merelasikan antara figur pemimpin dengan warga Baduy menjadi sebuah gagasan estetika seninya. Dalam lukisan tersebut, wajah Rano diekspresikan pelukis seolah tengah memikirkan kondisi Banten saat ini. Sorot mata Rano yang tajam memberi kesan publik bahwa dia menyimpan sejumlah persoalan.

Pameran seni rupa Ieu Kula dibuka langsung oleh Rano Karno pada 22 Oktober 2013 malam. Pameran menghadirkan 51 seniman antara lain pelukis, pematung dan fotografer yang tergabung dalam Lembaga Pengembangan Seni Rupa Banten (LPSB). Total karya lukis, fotografi dan instalasi yang dipajang sebanyak 153 karya.

Pameran Ieu Kula diambil dari bahasa Sunda berarti Ini Aku atau juga bisa diartikan Ini Kami dan Ini Kita. Digelarnya pameran Ieu Kula sekaligus mewujudkan eksistensi para perupa asal Banten di kancah nasional.

Menjadi sangat menarik jika memperhatikan pameran Ieu Kula ini dengan seksama. Tema yang diangkat setiap seniman memiliki benang merah masing-masing. Karakter yang diciptakan mengangkat satu tema, yakni Banten. Lukisan karya Azis Winasis berjudul Kula Budak Baduy (minyak di atas kanvas, 120 x 90 cm, 2013) misalnya, berhasil menangkap potret keseharian warga Baduy.

Lukisan itu menggambarkan seorang anak kecil tengah menggendong bocah. Azis, pelukis kelahiran Tangerang, Banten berhasil menyuguhkan pesan kuat yang terpancar dalam bola mata kedua anak tersebut. Pemilihan warna kulit dan pakaian yang dikenakan kedua anak itu pun sangat erat dengan karakter warga Baduy pada umumnya.

Pesan serupa juga ingin disampaikan pada lukisan karya Achdi Gunawan berjudul Gurat Bahari (cat minyak di atas kanvas, 190 x 130 cm, 2013). Achdi menggoreskan kuasnya dengan menggambarkan wajah seorang nelayan tua. Kerutan di pipi lelaki tua begitu kuat dan detail sehingga jika dilihat dari jauh, lukisan ini seperti sebuah potret yang diabadikan melalui kamera. 

Namun, Achdi memfokuskan lukisan ini pada kedua mata nelayan tua tersebut. Kedua bola matanya, tampak bayangan bendera merah putih. Dengan berkaca-kaca, kedua mata itu terus menatap bendera sebagai lambang kebesaran negara Indonesia. Secara tidak langsung mata nelayan berbicara pemerintah setempat hingga saat ini belum bisa mensejahterakan kaum nelayan.

Sekedar catatan, pameran Ieu Kula ini diklaim sebagai pameran terbesar yang pernah dilakukan LPSB. Sebelumnya, para seniman banyak melakukan pameran lokal di sejumlah tempat kesenian baik di Banten maupun di tempat lain. Bahkan, pameran ini sudah digagas tiga tahun sebelumnya. “Proses seleksi ketat menjadi daya tarik tersendiri bagi seniman yang ingin tampil dalam pameran tersebut,” ujar Q’bro Pandam, salah satu pelukis ketika ditemui di ruang pameran.

Namun, hasil seleksi tersebut ternyata memang tidak sia-sia. Meskipun notabene para seniman yang ikut andil dalam pameran tidak begitu populer, tetapi karya-karya yang ditampilkan patut diacungi jempol. Karya yang dihadirkan tidak kalah bagus dari karya pelukis kesohor sekali pun. Sebagai contoh, lukisan karya A. Muhsoni berjudul Menikmati Perjalanan (cat minyak di atas kanvas, 100 x 140 cm, 2013).

Lukisan Menikmati Perjalanan ini sangat menarik. Sepertinya A. Muhsoni begitu memperhatikan setiap detail yang dituangkan dalam karyanya. Detail-detail ini bisa terlihat dari cara pelukis menggoreskan lantai kendaraan, tali pengikat pintu, dan wajah keempat orang Baduy tersebut. Sementara, goresan pemandangan seperti awan dan warna tanah membuat lukisan ini seperti hidup dan berkesan nyata. Dan, yang lebih menarik lagi, A. Muhsoni berhasil menciptakan imaji khalayak dengan menuangkan sedikit bayangan penumpang yang duduk di depan bersama sopir.

Pelukis lain, Wita Delvi, dalam lukisannya berjudul Belajar Rebana (akrilik di atas kanvas, 120 x 100 cm, 2013) menggambarkan lima perempuan mengenakan jilbab sambil memegang alat musik Rebana. Musik Rebana merupakan seni tradisi bernafaskan Islam yang berkembang di wilayah Banten.

Selain menampilkan lukisan, pameran Ieu Kula juga memajang karya instalasi dari Erwin Tri Hendarto berjudul Studi Jembatan Selat Sunda. Karya ini dibuat pada 2013 dengan bahan kayu palet berukuran 555 x 127 x 90 cm. Karya ini juga membubuhkan cat minyak pada bagian kayu. Sementara dibawah miniatur jembatan ini, Erwin sengaja menabur pasir untuk menggambarkan beton bangunan.

Menariknya, Erwin membubuhkan ratusan sendok makan bercat merah yang ditancapkan pada bagian kayu tersebut. Pemakaian sendok merupakan simbol ketertindasan warga Banten atas proyek yang diwacanakan berpuluh tahun silam itu.

Instalasi lain berjudul Cross the Culture karya Q’bro Pandam dibuat dengan penuh emosi dan kritikan pedas. Instalasi terbuat dari kayu palet, stenlis, serat dan kain khas Baduy menyimbolkan tentang perubahan budaya yang terjadi di Banten.

Penancapan stenlis di atas kayu yang menyilang merupakan simbol ancaman bagi warga Banten sendiri. Sementara, pemilihan kayu palet dimaknai sebagai kerendahan hati warga Banten yang diam-diam terkikis zaman. “Saya menambahkan ornament headset dalam instalasi ini sebagai tanda zaman moderen sedang menggerogoti Banten, khususnya suku Baduy,” katanya. 

Namun, dari sejumlah seniman yang menyampaikan suara hatinya melalui lukisan dan instalasi, fotografer TB. Achmad Maulana berhasil menangkap eksotika wahana kekayaan Banten melalui jepretan foto berjudul Blue Sky of Sawarna, (digital print 120 x 80 cm, 2013). Pantai Sawarna merupakan salah satu aset wisata terbaik yang dimiliki Banten.

Tak heran jika Kuss Indarto, sebagai kurator pameran Ieu Kula dalam catatannya mengatakan setiap seniman ingin memperlihatkan karya dengan sederhana kepada publik, yang sekaligus pertanyaan terhadap diri sendiri. "Membincangkan perihal identitas adalah membincangkan tentang sikap rindu dan dendam yang tak berkesudahan. Kadang dicaci, kadang dimaki," katanya.



Alin dan Asam Lambung

Pertengahan September lalu, ada satu hal yang membuat Alin Imani menderita. Perutnya seperti ditusuk-tusuk benda tajam. Dia menangis sejadinya. Asam lambungnya naik hingga dia muntah-muntah.

Awalnya, Alin merasa mual setiap kali stress menghadang. Dia kehilangan selera makan yang menyebabkan kondisi tubuh ambruk. Alin pun dilarikan ke dokter. Setelah didiagnosa, bukan hanya asam lambungnya yang parah. Dokter bahkan memeriksa hingga ke bagian atas, bawah, kanan dan kiri lambung. Penderitaan ini adalah paling parah sejak dia menderita mag di bangku sekolah menengah pertama (SMP).

September adalah bulan yang membuat pikirannya berkecamuk. Tugas akhir sebagai mahasiswa terus menghantui. Skripsinya tak pernah kelar setelah dikerjakan beberapa bulan. Jangankan selesai, melihat rentetan teks di layar laptop pun sudah membuatnya stress. Dan, inilah penyebab asam lambungnya semakin parah. Hingga akhirnya dia harus istirahat sebulan penuh menunda skripsinya tuntas dikerjakan.
 
Alin, begitu dia disapa adalah mahasiswa tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi di Bandung. Dia sadar betul jika pikirannya tengah memikirkan sesuatu, stress datang dan mulai menyerang asam lambung. Namun, apa daya dia hanya pasrah menerima keadaan.

Memang, gadis berusia 22 tahun itu bisa dibilang ngeyel untuk urusan makan. Nafsu makannya tidak segarang beberapa temannya. "Pola makan saya memang tidak teratur," paparnya ketika dihubungi Bisnis. "Inilah yang menyebabkan saya terus menderita asam lambung. Bahkan pada September kondisinya parah banget sampai berat badan turun 2 kg."

Azhari Gani, spesialis penyakit dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengatakan gejala asam lambung diawali dengan mual dan kembung yang menyebabkan nyeri di ulu hati. Penderita asam lambung terkadang merasa pusing, lemas dan membuat nafsu makan semakin berkurang.

Dia mengamini jika penyebab naiknya asam lambung dikarenakan penderita banyak pikiran yang menyebabkan stress berat. Namun, katanya, yang lebih sering dialami penderita yakni disebabkan oleh makanan pedas dan buah-buahan rasa asam yang dikonsumsi. Azhari menuturkan jika beberapa penyebab tersebut mampu memicu iritasi pada lambung dan menimbulkan peradangan.

"Yang unik adalah penderita ketika mengalami stress. Saat pikiran fokus terhadap sesuatu, si penderita akan merasa perih pada lambung. Dan ini biasanya terjadi pada kalangan menengah. Mereka stress dikejar target pekerjaan," paparnya.

Dia menjelaskan, jika pencegahan penyakit asam lambung mudah dan sederhana. Penderita cukup menjauhi makanan pedas dan asam yang menimbulkan asam lambung naik. Karena, lanjutnya, kedua jenis makanan tersebut sangat sensitif memicu lambung perih.

Menurutnya, ada beberapa obat tradisional yang manjur mengurangi rasa perih di lambung. Salah satunya yaitu rebusan kunyit yang dikonsumsi dengan sajian hangat. Namun, Azhari lebih menganjurkan agar penderita lebih memilih pengobatan yang dilakukan oleh dokter.

Alin sendiri, setelah dibawa ke dokter, kondisinya mulai membaik. Setiap kali hendak mengonsumsi makanan, terlebih dahulu dia meminum obat suspensi atau sebuah obat untuk menetralisir asam pada lambung. Baru setelah 15 menit kemudian, dia bebas mengonsumsi makanan yang disukai.

Dia paham benar, apa yang telah dikonsumsinya sebelum kondisi parah terjadi, membuat efek fatal terhadap kondisi tubuh. Dia kini rela menjauhi makanan pedas yang disukainya. Bahkan, dokter menyarankan agar dia menjauhi sayuran seperti kol, brokoli dan ubi yang memiliki kandungan gas dan bisa menyebabkan asam lambung naik.

Namun yang terpenting bagi Alin, stress kini tidak akan terlalu membuat asam lambungnya mendadak perih. Skripsi yang dia kerjakan sudah kelar. Dia kini hanya deg-degan menunggu masa sidang skripsi yang akan berlangsung Desember mendatang. "Paling nafsu makan saja yang tidak berubah. Berat badan masih 35 kg," ujarnya.

Rabu, 23 Oktober 2013

... Dan Inilah Jakarta

Para perupa memandang Jakarta sebagai kota ‘seksi’ untuk dijadikan objek karya seni. Ini terbukti pada pameran bertajuk Ada Apa Jakarta? di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 21-29 Agustus 2013. Sejumlah perupa yang tergabung dalam Komunitas Artventure berhasil menafsirkan Jakarta ke dalam karyanya masing-masing.

Lukisan karya Afriani berjudul Melawan Tren (165 x 160 cm - 2012) memberikan kesan perlawanan terhadap serangan budaya modernitas yang tengah menggerogoti generasi masa kini. Lukisannya yang dituangkan melalui minyak di atas kanvas, menyempilkan pesan betapa pentingnya menjaga tradisi Ondel-ondel dari ancaman budaya barat.

Goresan kuas pada Melawan Tren menggambarkan para bocah tampak asyik bermain. Mereka berlarian seolah dikejar ondel-ondel. Tanpa alas kaki, raut muka polos dan penuh tawa, para bocah itu menikmati indahnya budaya tradisional Jakarta, Ondel-ondel.

Sepintas, lukisan tersebut tidak memiliki makna apa-apa atau hanya memotret fenomena belaka. Namun jika ditelaah lebih dalam, terdapat beberapa simbol tertentu yang ingin disampaikan Afriani. Ondel-ondel, tawa, dan pakaian para bocah adalah penanda kondisi Jakarta yang sesungguhnya.

Afriani sendiri mengaku dalam setiap pengkaryaannya, kerap melakukan riset ke lapangan. Dia masuk ke dalam kondisi keseharian Jakarta untuk menemukan ruang dan waktu penciptaan karya. "Kalau diperhatikan ekspresi Ondel-ondelnya saja, kita seolah-olah akan menangkap pesan yang mengingatkan kepada generasi muda untuk tetap mencintai budaya."

Yang ingin ditegaskan dalam lukisan ini adalah tradisi Ondel-ondel keliling. Mereka, para pelaku seni tradisi tersebut masih mempertahankan kesenian agar terus dihadirkan dalam kondisi kekinian Jakarta. Setidaknya, dalam penafsiran Afriani, hadirnya pengaruh budaya barat dengan mengguritanya permainan (game) anak-anak serba digital saat ini, masih bisa diimbangi dengan kesenian khas Jakarta.

Dalam penciptaan karya seni, tema berbau Jakarta memang tidak pernah habis dikupas dan ditelanjangi para seniman. Bermacam sudut pandang yang diambil pelaku seni berhasil diangkat dalam pameran Artventure ini.

Karya pelukis Z. Arifin berjudul Ironi (70 x 50 cm, oil on kanvas, 2013) bercerita tentang permasalahan banjir Jakarta. Ada beberapa penanda mewakili judul yang ingin disampaikan Arifin antara lain, Monumen Nasional (Monas), gedung-gedung menjulang, banjir, mobil dan burung.

Sebagian orang tentu tahu betul bahwa Jakarta adalah denyut jantungnya Indonesia. Simbol Monas dan gedung-gedung menjulang adalah sebuah kemewahan negeri ini. Namun, pada kenyataannya peradaban modern di negeri ini justru tidak singkron dengan permasalahan klasik yang terus berulang hampir setiap waktu, yakni banjir.

Di sinilah, Jakarta dan banjir, dalam pandangan Zaini tak bisa dipisahkan. Dengan sangat menukik, seniman ini menghadirkan simbol seekor burung dan kumbang yang tengah menyelamatkan diri dari genangan banjir di atas sebuah penunjuk jalan. Sementara, mobil-mobil mewah tenggelam dalam kubangan air banjir.

Karya lain, yang juga membedah sisi lain Jakarta adalah karya Rizal MS berjudul Jakarta Oh Jakarta (100 x 150 cm, oil on kanvas, 2012). Lagi-lagi, pelukis menghadirkan ikon Monas dan gedung-gedung tinggi di Jakarta.

Namun, yang menarik dalam karya Rizal adalah ironisme antara rumah-rumah kumuh yang disejajarkan dengan gedung-gedung menjulang tersebut. Goresan kuas Rizal sengaja lebih menonjolkan kawasan kumuh di Jakarta sebagai kritik terhadap fenomena yang terjadi selama ini.

Lukisan dengan tema serupa juga bisa dilihat dari karya T. Budhi berjudul Sisi Jakarta (145 x 150 cm, oil on canvas, 2013). Budhi mengangkat potret keseharian warga Jakarta yang hidup di dekat kali. Aktifitas keseharian warga seperti mencuci, kakus dan lainnya persis dituangkan secara implisit. Budhi ingin menghadirkan fenomena jamak yang dilakukan warga Jakarta.

Berbeda denga perupa lain, Yudi Hermunanto memamerkan karyanya  berjudul Blusuk’s Man (95 x 99 cm). Secara apik, Yudi menampilkan sosok Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo alias Jokowi pada synthetic paint di atas kaca.

Pada karya Blusuk’s Man ini, Yudi tidak terlalu banyak menuangkan goresan. Dia hanya menampilkan dua bayang Jokowi dari tubuh asli saat mantan Wali Kota Solo itu tengah berjalan dengan senyum khasnya. Blusuk sendiri adalah sebuah kata yang dipredikatkan kepada Jokowi yang selalu mengunjungi langsung warga Jakarta.

Tentu saja, dari puluhan lukisan yang dipamerkan, masing-masing karya memiliki pesan dan simbol tersendiri. Meskipun, seniman yang tergabung dalam Artventure ini tidak melulu mencipta karya sesuai tema yang diusung. Pada prinsipnya, komunitas Artventure membebaskan seniman untuk mengeksplorasi karya yang dibuatnya.

Sebagai contoh, lukisan karya Khoiri, berjudul Keagungan yang Mengiringi (140 x 140 cm acrylic di atas kanvas 2013). Dia bercerita tentang falsafah hidup dengan menghadirkan simbol pada setiap goresan abstrak lukisannya. Dalam karyanya, Khoiri menampilkan ruang-ruang kompleksitas hidup yang mengunci jiwa dan hati manusia. Tiga arsiran bulat dalam goresan kuasnya adalah simbol pengunci diri bagi kehidupan seseorang yang harus tetap berpegang teguh terhadap sang pemiliki alam, Tuhan.

Adapun karya Sohieb, berjudul Symphony (120 x 145 cm, oil on kanvas 2013), menggambarkan keakraban seorang bocah yang tengah meniup seruling dan seekor kucing di hadapannya. Keduanya menandakan bahwa manusia dan binatang harus tetap saling mencintai satu sama lain.


Dua Jam Bersama Renitasari

Hawa dingin dari air conditioner tiba-tiba menusuk kulit ketika memasuki Galeri Indonesia Kaya (GIK)—sebuah gedung milik PT Djarum yang rencananya diperuntukan sebagai tempat pertunjukan kesenian.

Lokasi GIK berada di Mal Grand Indonesia, Jakarta. GIK bukan hanya sekadar tempat pertunjukan saja, tetapi dirancang khusus sebagai cagar budaya bernuansa moderen yang sengaja dibangun di tengah mal agar bisa dinikmati banyak orang.

Memasuki GIK pada Agustus lalu, saya seolah merasakan nuansa kekayaan budaya Indonesia. Bangunan seluas 365 meter persegi itu difasilitasi dengan properti khas lokal Indonesia seperti dinding berlapis kain batik, kursi dari bahan rotan asal Cirebon, hingga pernak-pernik lainnya yang melambangkan kebudayaan asli Indonesia. Rencananya GIK ini akan diresmikan dan bisa dikunjungi publik pada Oktober mendatang.

Saat tengah asyik memerhatikan indahnya ruangan, seorang perempuan tinggi semampai menghampiri saya. Bibirnya merah bergincu. Rambutnya hitam lurus. Sebuah kalung cantik terikat di lehernya. Dia mengenakan jins dipadu atasan blouse hitam.

Sambil melempar senyum, dia menyalami saya dan mulai membuka high heels-nya serta duduk bersila laiknya lelaki. "Kita lesehan aja ya biar santai," ujarnya.

Perempuan itu bernama Renitasari. Sudah sejak lama, saya ‘mengincar’nya untuk wawancara. Gaya bicaranya hangat dan penuh keakraban. Dia tampak lelah karena baru saja melakukan pemotretan oleh sejumlah media termasuk Bisnis Indonesia. “Duh… hampir lima kali ganti baju nih untuk pemotretan,” katanya dengan nafas naik turun dan suara serak-serak basah.

Nama Renitasari belakangan akrab didengar pada ajang pertunjukan budaya. Sebut saja misalnya pagelaran Legenda Drama Tari Padusi garapan sutradara Rama Suprapto, Konser Maha Cinta Rahwana garapan dalang Sujiwo Tedjo hingga pertunjukan terbaru Sri Mimpi Indonesia karya Guruh Sukarno Putra, yang semua pagelaran tersebut Renita terlibat di dalamnya.

Bagi Renita, begitu dia disapa, bergelut dengan kebudayaan merupakan passion-nya dari dulu. Perempuan kelahiran Bandung, 39 tahun silam itu mengaku tertantang ketika ditugaskan mengelola Djarum Foundation. Hampir 3 tahun, dia menjabat sebagai Direktur Program Bakti Budaya, lembaga nirlaba milik salah satu perusahaan rokok terbesar negeri ini.

Salah satu misi yang diemban Renita di Djarum Foundation yaitu mengenalkan kebudayaan Indonesia agar diterima masyarakat luas. Dia menilai selama ini budaya yang terdapat di Tanah Air semakin terkikis atau hilang secara perlahan. Dia berpikir mesti ada pembenahan dari strategi kemasan budaya pertunjukan di Indonesia. Untuk itu, muncullah ide segar yang diamanatkan Djarum untuk memajukan kebudayaan, khususnya dalam ranah pertunjukan.

Renita mulai memutar otak mencari gagasan cerdas agar bisa merangkul beragam kebudayaan Indonesia untuk bisa dinikmati publik. Salah satunya melalui seni pertunjukan. "Kenapa pertunjukan? Karena dalam suatu pertunjukanlah, berbagai macam kesenian terakomodir," paparnya.

Renita mulai bergabung di PT Djarum pada 2007. Awalnya dia ditugaskan sebagai Corporate Communication Manager hingga 2011. Pihak perusahaan saat itu tengah membuka sebuah program yang berfokus kepada pengembangan kearifan lokal dan budaya Indonesia. Renita dipercaya memegang kendali. Pihak perusahaan meminta dia untuk mengurus program tersebut.

Ibarat pribahasa pucuk dicinta ulam pun tiba, Renita tak menyia-nyiakan tawaran. Dia menyetujui untuk mengelola program Djarum Bakti Budaya yang dibangun pada 2011. Meskipun, pada 1990-an, PT Djarum sudah jauh-jauh hari memberikan sponsorship untuk acara-acara bertema kebudayaan. Tugas pertamanya waktu itu adalah meriset seluruh kesenian yang ada di Indonesia. Dia mulai melakukan pendekatan kepada sejumlah seniman dan kantung-kantung kesenian di seluruh negeri ini.

Pihak Djarum Foundation pun mulai memberikan sponsor untuk acara pertunjukan dari skala kecil hingga besar. Lambat laun, proposal ajuan kerja sama perhelatan seni pertunjukan seperti konser, drama atau pun tari berdatangan dan menumpuk di meja kantornya.

Merasa banyaknya pihak yang ingin dibantu dalam permasalahan biaya pertunjukan, pihaknya mulai selektif menerima tawaran. Setiap proposal masuk, seleksi terlebih dahulu kelayakannya. "Karena kami sadar, dana yang dikelola tidak gede-gede amat."

Sistem kerja sama yang dilakukan Djarum Foundation yaitu mensubsidi biaya pre produksi. Dia tahu betul biaya sebuah pertunjukan tidak murah. Di sinilah pihaknya membantu para kelompok seni mulai dari tahap promosi media hingga pertunjukan digelar. Pihak Djarum Foundation tidak mengambil sepersen pun dari laba yang diperoleh penyelenggara. "Kami murni membantu. Urusan laba dari hasil penjualan tiket, semuanya kembali kepada pihak penyelenggara," ujarnya.

Menapakai Karir

Sebetulnya, karir Renita yang berkaitan dengan kebudayaan, berawal saat dia menjadi Public Relation (PR) Officer Hotel Panghegar, Bandung pada 1993-1994. Di Hotel Panghegar, setiap hari dia dimanjakan oleh beragam pertunjukan seni Sunda. Maklum, hotel tersebut konon menjaga tradisi kesundaan bagi para tamunya. Di situlah jiwa keseniannya tertanam. Untuk itu, Renita tidak terlalu cemas jika perusahaannya saat ini mempercayakan dia mengelola program di bidang kebudayaan. "Mungkin sepertinya hidup saya 'dikutuk' untuk tidak jauh dari budaya," paparnya seraya tertawa lepas.

Perjalanan karir sebagai PR mulai membawa dirinya terus ingin mencoba hal baru. Selepas dari Hotel Panghegar, ibu dari Nadya Natasha dan Raisha Zahra itu menapaki karir di ASEAN Business Forum yang digagas pengusaha Abu Rizal Bakrie. Renita didapuk sebagai Liaison Officer pada 1994-1995 yang bertugas mengurus pertemuan para taipan se-ASEAN di Singapura. Tak lama kemudian, pada 1996 dia kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai Account Executive di MediaComm PR Communication selama setahun.

Boleh dibilang, sosok perempuan hobi masak ini menyukai tantangan. Begitu juga dengan pekerjaan, dia terus mencari pengalaman yang dirasa membuat dirinya tertantang. Iseng-iseng membaca lowongan pekerjaan di koran, pada 1997 dia memasukan lamaran untuk PT Delta Jakarta Tbk., sebuah perusahaan yang bergerak di minuman. Karir baru pun dia lakoni dengan penuh hati.

Di perusahaan ini adrenalinnya semakin terpacu. Dia merasa betul-betul tertantang mengelola perusahaan minuman berlakohol. Sebagai Key Account Manager, perlahan kinerjanya terus dibuktikan, sehingga pada 2001, dia diangkat menjadi Produk Manager minuman bir Carlsberg. “Orang bilang kan biasanya minuman alkohol selalu identik dengan lelaki, tetapi saya buktikan bahwa saya bisa,” paparnya.

Banyak pengalaman yang didapat saat perempuan lulusan Stamford College, Singapura, ini bergabung dengan PT Delta Jakarta Tbk. Pengalaman dan ilmu berharga mengenai dunia marketing, pelayanan, hingga brand management dia dapatkan selama 10 tahun di perusahaan tersebut. Sampai akhirnya dia sadar zona nyaman perlahan sudah mulai hilang dan harus mencari pekerjaan baru. “Akhirnya, di Djarum-lah saya menikmati pekerjaan sebenarnya.”

Pernah Tomboy

Mengenang masa kecil Renitasari sama saja dengan membuka kembali lembaran lama sebagai perempuan tomboy. Dengan penuh tawa yang memecah suasana, Direktur Program Bakti Budaya Djarum Fundation ini bercerita habis-habisan tentang pribadinya.

“Saya itu waktu masih duduk di SD hingga SMA suka bolos sekolah, berkelahi, main layangan dan… wah pokoknya beda banget sama sekarang ini. Sampai-sampai saya ‘dijebloskan’ ke pesantren sama orang tua,” ungkapnya.

Renita masih ingat betul saat beberapa kali keluar-masuk sekolah dari SMA satu ke SMA lain. Tak terhitung berapa kali pula pihak sekolah memanggil orangtuanya gara-gara dia suka bikin ulah di kelas, hingga dia dijuluki sebagai jagoan di sekolah.

Beruntung, sejak masuk salah satu pesantren di Tasikmalaya, Jawa Barat, pola pikirnya berubah. Banyak pelajaran yang didapat hingga perlahan dia mengubah sikap dan perilakunya.

Merasa dirinya lebih dewasa dan tidak ingin terus membebani orangtua, Renita serius melanjutkan pendidikan. Selepas lulus dari pesantren, dia terbang untuk kuliah mengambil jurusan Public Relations (PR), di Stamford College, Singapura. Pada 1990-an, jurusan PR memang tengah menjadi tren dan banyak dibutuhkan perusahaan.

Padahal sebelumnya, lanjut Renita, dirinya sangat tertarik di dunia Photography. Dia memandang menjadi fotografer memiliki kesan macho dan keren. Tetapi pihak orangtua melarang karena menganggap karir fotografer tidak akan berarti apa-apa untuk ke depannya.

“Dasar ya orangtua dulu mah suka menilai yang enggak-enggak. Sampai mereka bilang: Maneh teh rek jadi tukang foto keliling, make hayang jadi fotografer sagala [kamu itu mau jadi tukang foto keliling? Ngapain jadi fotografer?],” paparnya menirukan ucapan orangtuanya sambil tertawa lepas.

Namun akhirnya, Renita sadar dan bersyukur dengan apa yang dimilikinya saat ini. Terutama, keluarga yang mendukung dari mulai suami sampai kedua anaknya yang tidak mempermasalahkan karirnya sekarang.

Padahal, lanjutnya, berkarir yang banyak terlibat dengan kesenian terkadang menyita waktu untuk bersamaan dengan keluarga. “Tetapi saya beruntung masih bisa memanage waktu bagi anak-anak dan suami. Makanya, ketika memiliki kesempatan libur cukup, saya luangkan waktu sebaik-baiknya bagi keluarga,” paparnya.

Mengintip Joshua Pandelaki

Joshua Pandelaki dan saya di Markas Teater Koma Jakarta
Mungkin sebagian orang mengenal Joshua Pandelaki sebagai aktor yang kerap berperan di sinetron. Namun, lebih dari itu, karirnya sebagai aktor jauh malang melintang di atas panggung bersama Teater Koma. Seperti apa perjalanan karir pria ramah senyum ini? Wawancara ini dilakukan di studio Teater Koma bilangan Bintaro Jakarta. Berikut petikannya:

Bagaimana awal mula bergabung di Teater Koma?
Awal 1978 sanggar Teater Koma masih berada di kediaman orangtuanya Ratna istri Nano Riantiarno. Para seniman yang terlibat saat itu berasal dari latar belakang yang beragam dan bukan orang teater semua. Hanya saja karena tokohnnya Nano sama Ratna dari teater popular dan teater kecil, maka kedua unsur ini menjadi satu dan cocok. Teater Koma saat itu menjadi pionir teater modern Indonesia. Kita bisa mengelola penonton sehingga teater saat itu punya pasarnya sendiri.

Teater memang mesti hidup dari penontonnya. Seniman bukan hanya duduk di sanggar, menulis dan ngurusin undangan. Seniman juga mesti memikirkan bagaimana menarik penonton untuk hadir di setiap pertunjukan Teater Koma. Karena kesadaran itu, Teater Koma jadi produktif dalam berkarya. Memang strategi itu sudah dilakukan teater popular di bawah naungan Teguh Karya. Jadi dulu pada zaman Teguh Karya, teater sudah dipentaskan di hotel pada sekitar 1960-1970. Dan cara itu membekas sehingga diteruskan oleh Teater Koma.

Keterlibatan di Teater Koma, waktu itu saya main saat masih bujangan, sekitar era 1976-1977. Mas Nano sama Mba Ratna dulu belum menikah. Saya waktu itu main pada lakon “Maaf. Maaf. Maaf.” pada sekitar 1978.

Apa peran Anda pertama kali di Teater Koma?
Ketika bergabung di Koma, saya dulu masih di belakang panggung. Tidak terlibat langsung di atas panggung. Awalnya hanya mengurus perpustakaan, promo pertunjukan dan marketing untuk Koma. Misalnya, jika mau ada pertunjukan, saya bentuk tim dengan rekan lainnya. Setelah itu keliling memasang spanduk, poster iklan pertunjukan. Seperti itu saja kerjaannya.

Apa itu efektif?
Efeknya tentu saja ada, secara tidak langsung penyebaran poster membentuk komunitas penonton.  Sebagai contoh, dulu ada mahasiwa dari Bandung melakukan survey bahwa Teater Koma ternyata memiliki penonton sekitar 16.000 orang. Kebetulan waktu itu sudah ada internet mailing list yang ternyata efektif.  Dan itu menjadi sebagian pengelolaan penonton sehingga antara Teater Koma dan penonton memiliki sambung rasa. Pertunjukan Teater Koma paling tidak main selama 15 hari. Itu dilakukan karena adanya penonton. Mereka dengan sendirinya datang. Mereka ada yang bawa oleh oleh dan lain lain. Itu menyenangkan. Jadi kita terdorong untuk produktif terus menerus.

Lakon apa yang pertama kali Anda mainkan?
Saya pertama kali bermain pada lakon Pernikahan Darah karya Federico Garcia Lorca meskipun hanya berperan sedikit saja. Pengalaman yang didapat sangat berkesan. Ada juga perasaan bangga saat main bareng Rima Melati

Kapan keterlibatan Anda menjadi sutradara?
Karena saya suka berlama-lama di perpustakaan, saya jadi suka baca apapun yang ada. Sedikit-demi sedikit membawa saya menjadi pendamping sutradara dan ngurusin latihan. Setelah itu lama-lama saya menyukai divisi penyutradaraan dan tertarik di bidang directing. Setelah belajar lebih jauh, saya baru sadar ternyata penyutradaraan itu kompleks. Terutama tanggung jawab moral keseniannya. Di situlah kemudian saya terasah menjadi asisten sutradara. Sampai akhirnya naskah Raja Ubud menjadi lakon pertama yang saya sutradarai.

Bagaiamana perasaan Anda pertamakali  menyutradarai?
Awalnya memang sedikit gamang. Saya harus mengeksekusi konsep, produksi, sampai menentukan karakter pemain yang benar-benar cocok. Bahkan tanggung jawab kita ke produksi apakah pertunjukan akan laku atau tidak itu berada pada sutradara.

Karir keaktoran Anda didapat dari teater, film dan sinetron, mana yang Anda lebih sukai?
Saya melihat itu bukan persoalan mana yang paling saya sukai, tetapi ada hal lain yang sangat penting, yaitu ekspresi. Artinya ketika saya main di tiga media yang berbeda, maka kesadaran pertama adalah kesadaran ekspresi dan takaran. Maksudnya begini, secara teknikal ketika seseorang main di panggung, dia melakukan teknik yang berbeda, dan feelnya pasti terasa berbeda sebagai aktor dari masing-masing media yang dia perankan.

Apakah puncak peran seseorang ada di teater?
Beberapa aktor besar seperti Al Pacino, Robert de Nirro atau Dustin Hoffman memulai karir dari teater. Tapi tak lama kemudian, mereka banyak terlibat untuk film-film layar lebar. Dan peran mereka sangat berhasil. Namun tidak menutup kemungkinan, saya juga sering kecewa ketika aktor masuk sinetron. Meskipun ada yang sengaja masuk atau dicemplungin ke sinetron. Untuk itu saya berkewajiban mengingatkan dengan cara saya sendiri terlibat di sinetron.

Seorang aktor sejati baiknya main di peran apa?
Saya kira pilih-pilih peran seperti itu jangan dilakukan.

Apa penilaian Anda tentang aktor idealis?
Idealis itu artinya ukuran sebagai seniman. Misal, kala saya mau jadi aktor teater saja dan tidak bermain untuk yang lain, itu bukan idealis namanya, tetapi keputusan.

Apa yang Anda dapatkan selama 35 tahun bergelut di Teater Koma?
Belajar kehidupan. Hanya itu. Itu yang membuat kita tetap bertahan. Tetap cinta, dan kita terus menekuninya. Jika tidak, kita tidak bisa melayani kesenian itu sendiri.

Menurut Anda seorang aktor memang perlu finansial dari profesinya?
Prinsipnya begini, seni itu memanfaatkan apa yang ada. Maka jadilah bisnis itu, kalau saya sebagai aktor seni, saya mengelola apa yang saya miliki saya sebagai aktor. Itulah salah satunya yang membuat saya bertahan.

Menafsir Wayang di atas Kanvas

Agus Nuryanto dan para jurnalis di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki
Ridho Alloh terletak di bawah telapak kaki ibu. Peribahasa ini kerap terdengar dalam kultur masyarakat Islam. Inilah yang membuat pelukis asal Yogyakarta, Agus Nuryanto terinspirasi sebuah lukisan berjudul Restu Ibu.

Dalam lukisan Restu Ibu, enam malaikat bersayap tengah memperhatikan adegan seorang anak yang tengah sungkem terhadap ibunya. Tangan sang ibu memegang kepala dan punggung sang anak. Sementara sang anak duduk bersila memohon doa restu dengan penuh kesopanan.

Lukisan ini dibuat pada 2008 dalam medium akrilik di atas kanvas berukuran 150 x 150 cm. Karya ini merupakan satu dari sekian banyak lukisan yang paling disukai Agus selama bergelut dengan lukisan. Pesan yang ingin disampaikan begitu kuat. Pemilihan warna dibuat seapik mungkin. Agus seolah ingin memberikan kesempurnaan dengan apa yang ingin dilukisnya.

"Saya sangat jatuh cinta dengan lukisan ini. Boleh dibilang ini lukisan masterpice saya," ujarnya ketika berbincang pada pameran tunggalnya bertajuk The Spirit of Wayang belum lama ini.

Tampaknya, setiap lukisan yang dihasilkan sejak berkarir pada 1994 itu terinspirasi dari kisah sehari-hari. Agus juga terkadang menyisipkan kritik sosial pada lukisan yang dibuatnya. Ini bisa dilihat dari karya berjudul Chengho Return (100 x 100 cm, akrilik di atas kanvas, 2012).

Laksamana Chengho, seorang kaisar muslim Cina yang hidup pada era 1403-1424 itu sempat mampir ke Indonesia. Dengan sangat menohok, Agus memberikan penanda yang menyentil terhadap kondisi kekinian Indonesia. Dua tokoh pewayangan yang dia gambarkan sebagai masyarakat biasa tengah memegang bendera Merah Putih. Uniknya lagi, kedua wayang tersebut mengenakan pakaian modern.

Sementara latar belakang pada lukisan tersebut sengaja dibubuhkan ornamen gedung-gedung tinggi menjulang. Kondisi jalan yang tengah mereka gunakan berbeda dengan zaman dulu. Tak ada kerikil, tak ada bebatuan. "Di sini, Chengho saya gambarkan seolah tidak percaya dengan keadaan Indonesia masa kini," kata Agus berkisah.

Sentilan yang dikemukakan Agus melalui goresan kuasnya juga terlihat pada lukisan berjudul Pasti Jaya (100 x 100 cm, akrilik di atas kanvas, 2011). Lukisan ini sangat menarik perhatian. Seorang wayang tengah menunggangi burung Garuda, sebagai lambang negara Indonesia. Wayang tersebut tengah terbang di atas langit sambil menaburkan emas ke Bumi.

Uniknya, di atas langit tersebut sebagian pulau di Indonesia terlihat jelas, sehingga Agus ingin memberikan pesan bahwa Garuda yang ditunggangi diibaratkan sebagai kendaraan yang memberikan kemakmuran terhadap bangsa dan negara. Tentunya, Agus menyampaikan bahwa siapa saja yang menunggangi Garuda dengan baik akan membawa keberkahan bagi Indonesia.

Secara lembut dan penuh hati-hati, Agus menyampaikan kritikan terhadap pemimpin bangsa ini yang belum bisa mensejahterakan rakyat. Dalam pandangan pelukis, burung Garuda yang ada saat ini hanya simbol belaka. Semboyan yang ada di dalamnya belum berarti bagi kehidupan rakyat sepenuhnya.

Dalam pameran tunggal yang menampilkan sekitar 148 lukisan itu, ternyata Agus membubuhkan sebuah karya yang mampu mengocok perut. Lukisan berjudul Sedang On (100 x 110 cm, akrilik di atas kanvas, 2010) bercerita tentang seorang wayang yang dilanda rindu terhadap pasangan perempuannya.

Dua simbol hati pertanda cinta kedua lawan jenis hadir dalam goresan kecil di tengah kanvas. Ini menunjukkan jarak yang terlampau jauh antara wayang lelaki dan perempuan. Sementara wayang perempuan tengah berdiri dengan sama-sama merindukan sang kekasih. Simbol hati dalam lukisan ini merupakan jurang pemisah. Sehingga, pengunjung yang melihat secara detail akan mengerti bahwa kedua pasangan tersebut tengah saling berjauhan.

Lukisan Sedang On didominasi dengan warna merah. Agus sepertinya sadar betul memilih warna merah yang memiliki simbol berani dan tangguh. Dan, yang paling menandakan dari judul lukisan tersebut adalah jenis kelamin lelaki yang tegang sehingga pakaian yang digunakan terlihat menonjol.

Jika diperhatikan secara seksama, Agus Nuryanto merupakan seorang pelukis yang intens terhadap pewayangan. Maka tak heran jika setiap karyanya mengambil objek wayang. Dia mengibaratkan kehidupan pewayangan seperti halnya kehidupan manusia.

Dia sendiri mengaku sudah jatuh cinta terhadap dunia wayang sejak duduk di bangku sekolah dasar. Dia banyak dicekoki wayang purwo dan wayang beber. Kedua jenis wayang ini membuat inspirasinya terus mengalir dalam setiap goresan kuasnya. “Tetapi saya belum bisa membuat satu tokoh pewayangan. Wayang yang terdapat dalam setiap lukisan saya asumsikan hanya sebagai manusia biasa,” paparnya.

Niskala Cinta dan Ruang Kosong

Pengunjung memperhatikan lukisan Mas Padhik di Galeri Cipta Taman Ismail Marzuki
Apa relasi kata cinta dengan sosok para mantan pemimpin sebuah negara seperti Sukarno, Mahatma Gandhi, Abdurrahman Wahid dan Nelson Mandela? Bagi sebagian orang tentu akan langsung mencap mereka sebagai pejuang perdamaian dan hak asasi manusia bagi kehidupan dunia. Mereka adalah tokoh pembawa cinta. Cinta yang universal.

Maka tak heran jika pelukis Mas Padhik menuangkan gagasan keempat tokoh tersebut dalam sebuah lukisan. Dia ingin, apa yang telah diajarkan para pemimpin itu bisa diingat dan ditiru oleh generasi penerus bangsa.

Lukisan berjudul Orang-Orang Besar (140 x 140 cm, acrylic on canvas, 2012), merupakan salah satu dari 17 lukisan dalam pameran tunggalnya Niskala Cinta. Pameran ini digelar di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, pada 4-13 Oktober 2013. Tema cinta adalah semangat yang diusung Padhik dalam mendedahkan gagasannya.

Cinta, dalam pandangan berkesenian Padhik adalah ruang yang harus disampaikan ke khalayak. Dalam kehidupan, cinta senantiasa mengisi relung jiwa setiap insan. Dia meyakini, segala proses kehidupan tanpa didasari cinta akan berdampak buruk terhadap hasil yang dicapai. “Dalam pameran ini saya bercerita tentang cinta yang luas,” katanya. “Bukan cinta yang spesifik.”

Pada lukisan berjudul Adam dan Hawa (garis tengah : 210 cm, acrylic on canvas, 2012), Padhik dengan apik menafsirkan kisah manusia pertama. Tokoh Adam dan Hawa, sebagaimana dalam kisah yang diajarkan beberapa agama bercerita tentang proses manusia turun ke Bumi.

Dalam lukisan tersebut, sosok Adam tengah berdiri telanjang bulat tak jauh dari Hawa yang berbaring di atas batu. Sebuah apel merah tersimpan tepat di hadapan Hawa di bawah pohon terdapat di taman surga. Sementara sosok perempuan berekor ular ditafsirkan sebagai setan yang berbisik kepada Adam untuk mencicipi buah tersebut.

Uniknya, pada lukisan ini Padhik seolah mendobrak pakem mitos kisah Adam dan Hawa. Beberapa penanda yang berusaha dihilangkan adalah buah khuldi. Dalam mitos agama, buah khuldi menjadi penyebab diturunkannya Adam dan Hawa ke Bumi. Pemilihan objek dalam goresan Padhik justru menggantinya dengan buah apel yang jelas melawan arus kisah dalam mitos agama tersebut.

Selain itu, dia juga berani menampilkan sosok perempuan yang dianggap sebagai setan. Pemilihan sosok setan berekor ular merupakan tafsiran ekspresi seorang seniman. Dia menegaskan, lukisan Adam dan Hawa merupakan pelajaran menyikapi sebuah kehidupan yang mengawali proses cinta manusia. “Jika Adam tidak memakan buah itu, mungkin kita tidak akan berada di Bumi,” paparnya.

Lukisan lain berjudul Cinta yang Sunyi (122 x 122 cm, acrylic on canvas, 2013) menampilkan sosok Bunda Theresa, seorang misionaris cinta dan kasih dunia. Padhik ingin merekam jejak Bunda Theresa yang berjuang menolong warga miskin dunia. Lukisan tersebut menggambarkan lima orang perempuan tanpa wajah tengah memegang foto Bunda Theresa.

Pemilihan warna cokelat tua pada lukisan ini cukup mewakili judul lukisan. Kerutan wajah Bunda Theresa memberikan pesan kuat. Selama hidup, perjuangannya membela kaum miskin tak pernah goyah. Menjadi wajar jika Padhik memasukan lukisan ini dalam Niskala Cinta.

Tafsir cinta lain yang disampaikan pelukis kelahiran Bandar Lampung 1960 ini terdapat pada lukisan berjudul Bhinneka Tunggal Ika (150 x 300 cm, acrylic on canvas). Padhik berusaha mengkritik sistem pemerintahan yang terjadi saat ini. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang diusung seolah hanya slogan belaka. Dia mempertanyakan konsistensi dan makna semboyan tersebut

Lukisan menggambarkan sekumpulan orang berdiri di atas batu bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika. Seorang perempuan berdiri di tengah. Dia memiliki empat tangan yang tengah memegang alat musik dan wayang burung Garuda sebagai lambang negara. Sementara lainnya duduk dan berdiri sambil memainkan alat musik.

Padhik menjelaskan lukisan tersebut terlahir atas fenomena yang terjadi pada kondisi sosial di Indonesia. Menurutnya, Semboyan Bhinneka Tunggal Ika tidak berlaku untuk kondisi saat ini. Bhinneak Tunggal Ika yang berarti berbeda namun tetap satu tidak pernah terjadi. “Saya melihat arti cinta dari Bhinneka Tunggal Ika sudah tidak ada. Kekerasan terhadap suku, agama, ras bahkan kelompok masih saja terjadi.”

Kritik pedas lain yang digoreskan Padhik adalah mengenai kepastian hukum di Indonesia. Dalam lukisannya Timbang Menimbang (150 x 300 cm, acrylic on canvas), menggugat eksistensi para tokoh penegak hukum.

Jika dicermati lebih teliti, lukisan ini mirip Patung Liberty di New York, Amerika Serikat. Bedanya, jika Patung Liberty memegang obor pembebasan, sementara patung dalam lukisan karya Padhik memegang sebuah timbangan keadilan.

Menurutnya, hukum di Indonesia tengah mengalami ketimpangan besar. Negara ini, katanya, menjadi bobrok akibat sistem penegak hukum dipegang oleh orang salah. “Kita lihat berita terbaru, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) yang seharusnya menjadi pemegang kendali hukum justru malah ketangkap korupsi. Memalukan!”

Mas Padhik memang seniman yang konsisten berkarya dengan menampilkan ciri khas tersendiri. Sejak memamerkan karyanya pada 1990-an, konsistensi lukisannya membawa tema cinta dan ke-Indonesiaan. Dia bereksperimen untuk berkarya selepas menamatkan kuliah jurusan patung di STSRI/ASRI Yogyakarta 1980-1988.

Tak heran jika dalam karyanya selalu membawa unsur arca, patung atau bertema sejarah masa lalu. Bahkan pada 17 lukisan Niskala Cinta ini, basic dari setiap lukisan bertema arca dan patung. “Setiap pelukis memiliki ciri khas sendiri. Mungkin ciri khas saya ada pada arca,” katanya.

Karya lain dalam pameran tunggalnya seperti Konser Merpati (150 x 160 cm, acrylic on canvas), Tentang Cinta (100 cm x 150 cm, acrylic on canvas), Membaca Tanda-Tanda (110 x 110 cm, acrylic on canvas, 2013) dan yang lainnya juga mengangkat objek arca atau Buddha. Kesetiaanya menjadi pelukis menjadikan dirinya seorang seniman spesialis arca.